
Pria itu tersenyum puas melihat kegelisahan Zia.
"Kamu"
"Jangan terlambat, maka kamu akan terima akibatnya"
"Tapikan......"
Zia melihat jam tangannya dan benar saja dia belum terlambat sama sekali dan masih ada waktu 5 menit lagi sebelum jam 15:00.
"Ya masih ada waktu 5 menit lagi. "Terussss.....KENAPA MASIH KESINI?"
Terlihat jelas kekesalan diwajah Zia.
"Karna kamu pasti akan terlambat"
"Hah, sabar Zia"
Zia mengibas-ngibaskan tangannya, seakan udara di ruangan itu naik 180 derjat. Yang paling menyebalkan adalah senyuman pria itu.
"Saya rasa kamu benar-benar sakit, lebih baik sekarang kita berikan sebuah suntikan"
Zia mengeluarkan sebuah suntikan dan mengisinya dengan cairan. Zia sengaja memamerkannya di depan pria itu. Bagai melihat hantu, badannya menegang. Keringat dingin bercucuran dan segala kekerenannya kini telah musnah.
"Sembunyikan suntiknya Zia"
"Ayolah pak kapten, masa suntikan kecil kayak gini aja takut"
"Aaaaa jangan, aku mohon Zia jangan dekatkan benda itu kepada ku"
"Wah hahahaha masa sama benda kayak gini aja takut"
"Kalau tidak akan ku teriakkan siapa aku. Zia aku ini kan....."
Zia langsung melemparkan suntik yang ada ditangannya kesembarang arah dan menutup mulut pria itu.
Kini keduanya satu sama. Masih terlihat ketegangan dan kekesalan di wajah keduanya.
Pria itu mendekat, perlahan di melepaskan jas dokter Zia. Dan melemparkannya ke kursi. Dia menarik ikat rambut Zia, membuat rambutnya tergerai indah, berjalan ke belakang Zia dan memegang bahu Zia sambil berbisik.
"Kita bisa pergi sekarang dokter Zia?"
Zia mengayunkan sikunya ke belakang tepat mengenai perut raziq.
"Awwww, sial"
Zia berbalik kebelakang sambil tersenyum puas.
Selama melewati lorong rumah sakit mereka berdua menjadi sorotan, bukan lebih tepatnya sang kapten mencuri perhatian setiap wanita yang dilewatinya. Tentu saja itu membuat Zia merasa kesal dan sedikit terkalahkan.
"Maaf dokter Risa saya izin pulang duluan hari ini"
Zia harus minta izin terlebih dahulu di meja piket agar dokter Risa sebagai dokter umum bisa menggantikan nya. Zia malah terabaikan dengan keberadaan pria itu.
__ADS_1
"Wah ada oppa-oppa Korea" dokter risa
"Malaikat, ganteng banget" dokter kiki
"Pak kapten pesawatnya kesasar ya" dokter lina
Sementara dua dokter ganteng lainnya memandang iri pada pria itu.
Sudah Zia duga ini akan terjadi. Dia memutar bola matanya malas.
"Zia dia siapa?" Kata dokter lina penasaran
Zia melirik pria itu yang tengah tersenyum puas kearahnya.
"Sepupu" kata Zia malas. raziq cukup terkejut dengan jawaban Zia.
"Wah ganteng banget, buat aku donk"
Dokter kiki berlari mendekati Zia dan menunjukkan wajah memelas nya.
"Minta nomor sama alamat rumahnya donk zi"
Zia melepas nafasnya kasar dan tersenyum paksa.
"Boleh"
Zia merogoh sakunya dan ingin mengambil handphone nya tapi segera dihentikan oleh raziq.
"Ziaaa...."
"Kita udah terlambat, ayo. Dokter-dokter cantik saya pinjam dokter Zia nya ya"
"Yaaahhhhh"
Kata mereka serentak.
Pria itu langsung menarik tangan Zia dan meninggalkan dokter-dokter centil itu.
Kini mereka malah cek Cok di dalam mobil.
"Kamu apa-apaan sih?"
"Salah sendiri, sok-sok an tebar pesona"
"Aku ngak tebar pesona memang ganteng dari Sononya"
"Idih amit-amit, ini nih kenapa pakai seragam pilot segala"
"Kan aku baru selesai kerja"
"Ah biasanya juga ganti baju dulu. Trusss kenapa sekarang ngak diganti bajunya"
"Kan aku......"
__ADS_1
Pria itu kehabisan kata-kata, karna dia memang sengaja tidak Mengganti seragamnya, dan membuat Zia sedikit kepanasan.
"Apa?"
Terlihat jelas raut kemenangan di wajah Zia karna sang kapten tidak mampu mencari alasan.
"Ah udahlah, Capek berantem sama kamu. Lebih baik kita berangkat"
Zia tersenyum puas.
"Tolong perbaiki wajah mu, seperti wajah orang sakit"
Zia mengambil kaca dan meneliti setiap centi wajahnya.
"Iya ya, baik kapten raziq"
Untuk sesaat suasananya begitu hening, yang terdengar hanya suara dentuman musik. Bukan raziq namanya jika membiarkan Zia merasa tenang.
Senyuman itu menandakan ia punya rencana horor untuk Zia.
Raziq menginjak pedal gasnya membuat laju mobil semakin kencang dan melewati mobil yang di depannya. Tidak lama hanya lima menit raziq langsung merem nya dengan mendadak, untung jalanannya cukup sepi sehingga tidak membahayakan mereka.
Raziq menarik nafasnya, menunggu reaksi Zia.
"RAZIiiiiiiiiiqqqqq......."
Perut raziq sungguh digelitik. Dia tidak lagi sanggup menahan tawa melihat wajah Zia yang belepotan lipstik. Raziq sungguh kejam.
"Hahahaha........"
Raziq memegang perutnya yang menegang, sementara Zia sudah merah padam menahan amarahnya. tiba-tiba raziq menaruh tangannya di kedua pipi Zia dan menarik wajah Zia lebih dekat, raziq memperhatikan wajah itu dengan teliti.
"Cantik"
kening Zia mengerut mendengar kata yang baru saja diucapkan raziq.
"kayak badut, hahahahhahaa.........aduh, duh perut ku, perut ku sakit"
Amarah Zia semakin memuncak. Dia tidak tahan lagi melihat raziq yang mentertawakannya.
"Ngak lucu" teriak Zia
Hal ini sudah biasa bagi Zia, tapi tetap saja rasa kesalnya selalu memuncak saat raziq menjahilinya.
"Keluar..."
Raziq terdiam
"Kenapa? Hahahaha"
Dia masih saja dengan tawanya, sementara Zia sudah ber api-api dengan amarahnya. Zia memukul-mukul raziq untuk melampiaskan amarahnya. Meski hanya dengan tangan cukup membuat raziq merasa kesakitan.
"Aku bilang keluarrrrrrrrr"
__ADS_1
"Awwww ya oke. O K E. Aku paham. Sekarang berdandan lah dengan cantik"
Masih terlihat senyuman jahil raziq sebelum meninggalkan Zia di dalam mobil.