
Maira mempercepat langkahnya. ia merinding ditengah keramaian ini. meski tidak melihatnya dengan pasti tapi Maira bisa merasakan seseorang tengah mengikutinya, karma itu langkahnya ia pacu dengan cepat. bukan karna ia takut dengan orang jahat tapi ia lebih takut jika orang yang dicintainya yang melakukan itu. karena Maira berniat untuk mengulang langkahnya dan kali ini dia benar-benar berniat melepaskan cintanya seutuhnya.
"hai Mai"
langkah maira terhenti melihat Syifa telah berada di hadapannya, dia melambaikan tangan dengan Ramahnya kepada Maira serta senyumnya yg mengembang. menggambarkan begitu bahagianya ia bertemu dengan Maira di sini.
"hai"
dengan susah payah Maira tetap melukis senyumnya.
"ya hai...."
"gue panggil-panggil Lo dari tadi"
"oohhhh sorry gue ngak dengar"
"iya ya disiinjkan rame"
Maira hanya cengir kuda.
"kita ke kafe aja yuk"
"eh gue...."
"sebentar doang, yuk..."
Maira tadinya ingin menolak tapi Syifa sudah merebut kopernya dari tangannya jg''. Mau tidak mau Maira harus mengikutinya. Tanpa Syifa sadari sifatnya yang seperti inilah yang membuat Maira menjauh dari nya. Dia suka memaksakan kehendak tanpa memikirkan orang suka atau tidak. seperti yang dirasakan Maira saat ini, dia kesal tapi dia juga tidak bisa melarikan diri begitu saja dari Syifa. mau tidak mau dia tetap harus mengikuti kehendak Syifa.
Syifa bukannya tidak menyadari bahwa Maira begitu enggan untuk mengikutinya ke lain harus mengikuti kehendaknya dulu setelah itu baru ia nilai mereka suka atau tidak dengan caranya, jika mereka tetap tidak suka maka ia akan mencoba cara lain. begitulah Syifa dan sifatnya yang mampu membuat orang tidak nyaman dengannya.
"kamu lapar ngak Mai. mau aku pesanin makanan berat?"
"ngak usah. makanan ringan aja sama jus deh"
"jus mangga?"
Maira mengangguk. melihat Maira mengangguk membuat hatinya menjadi puas karena itu membuktikan bahwa ia masih mengingat kesukaan sahabatnya yang satu ini.
"oke, ini mbak"
setelah mencatat pesanan Syifa menyerahkannya kepada pelayan yang sedari tadi berdiri di samping Syifa.
"baik mbak. ditunggu ya mbaknya"
mereka hanya membalas mbaknya dengan anggukan dan juga senyuman.
"oh ya Lo mau kemana sih Mai kok bawa koper besar gini"
__ADS_1
"oh itu gue mau melakukan penelitian"
"ooww... Lo mau penelitian di rumah sakit mana?"
"konsepnya belum jelas fa, soalnya dosennya mau diskusi langsung"
"OOO gitu. Lo lama disini?"
"ngak juga sih. paling sebulan ini"
"sebulan ini? kan sekrang udah tanggal 28. 2 hari lagi juga udah ganti bulan"
"hehehe....."
Maira cengengesan mentertawakan jawabannya yang terdengar bodoh.
"eh maksud gue satu bulanan lah"
"ooohhh gitu. lama dong ya. nanti kalo gue flay kesini boleh dong kita main bareng"
Maira mengangguk ragu. sementara Syifa sudah tersenyum girang, berfikiran bahwa ia akan punya teman main dan percayalah beberapa rencana sudah terpancang indah di fikirannya.
Makanan datang menyelamatkan Maira dari pertanyaan-pertanyaan Syifa yang tidak kunjung habisnya. kini perhatiannya terbagi ke makanan yang ada dihadapan mereka sehingga ia tidak mengoceh lagi.
Syifa melirik jam tangannya dan dia menyadari bahwa waktu flay nya sebentar lagi.
"duh mampus gue...."
dengan buru-buru Syifa menelan makanannya dan menyempatkan diri untuk meminum minumannya.
"sorry Mai gue harus segera pergi"
"iya ngak papa, lanjut aja biar gue yang selesain billnya"
"sorry ya Mai"
Maira sebenarnya lega melihat Syifa pergi. karna dia juga ingin cepat meninggalkan tempat ini, namun melihat makanan yang ada dihadapannya rasanya mubasir jika ditinggalkan begitu saja. Maira menunda niatnya sebentar dan melahap makanan yang ada di hadapannya ini.
setelah kenyang ia jalankan niatnya yang tadi tertunda. Maira membayar bill makanannya, tadinya ia fikir dia bisa keluar begitu saja dari kafe ini dengan tenang namun saat ia menuju pintu masuk Prass telah berada disana. seketika Maira panik dan tertegun melihat Prass, untung ada yang menebaraknya dari belakang sehingga membuatnya tersadar.
"aku harus bagaimana?"
batin Maira
toilet, kata yang tertera disanaa terlihat sebagai tempat persembunyian baginya. Maira berusaha mengontrol dirinya dengan tenang sehingga tidak dicurigai.
"tenang Maira, santai"
__ADS_1
dia berjalan layaknya orang biasa dan benar saja prass tidak menyadarinya. tapi sekarang bagaimana ia bisa kelar dari tempat ini? Maira memutar otakna, hingga ia terfikir kan sesuat
Maira membuka kopernya dan berusaha merias dirinya agar terlihat berbeda dan tentunya jika ingin menyamar lebih baik membuat wajah kita lebih jelek agar diabaikan oleh orang-orang.
Maira juga memakai bajunya tiga lapis agar terlihat lebih gemuk dan menebalkan bagian- perutnya hingga terlihat seperti wanita hamil. Dengan begini Prass tidak akan menyadari keberadaan nya, apalagi jika ia memakai cadar. Maira tersenyum sendiri melihat dirinya di dalam cermin.
"hai kamu siapa"
Maira tersenyum puas melihat dirinya yang begitu berbeda di cermin. setelah mengemasi barang-barang nya Maira keluar dengan gaya santainya. meskipun ia was-was Maira berusaha tampak natural sehingga tidak dicurigai oleh Prass. Benar saja Prass bahkan tidak meliriknya sedikitpun dan sibuk mengobrol dengan temannya. Maira menarik nafasnya lega. dia percepat langkahnya untuk meninggalkan tempat ini.
"taksi. taksi......."
di luar bandara sudah bising dengan kendaraan yang berlalu-lalang dan juga para penumpang yang asik melepaskan rindunya kepada keluarga yang datang menjemput mereka, ada juga para rombongan yang terlihat asik menikmati perjalanan mereka. sementara Maira dia sibuk mencari taksi yang bisa ia tumpangi untuk membawanya menuju tempat yang ingin ia tuju saat ni
"nona mencari taksi"
Maira melirik pria itu, dia cukup tampan untuk jadi supir taksi.
"i i iya"
"maaf nona, boleh saya yang antarkan? tadi ada yang pesan taksi online saya tapi setelah saya sampai disini malah dibatalkan"
Maira menatap iba kepada pria itu , hati kecilnya mengatakan supir taksi ini bukanlah orang jahat.
"baiklah"
setuju Maira.
pria itu terlihat begitu bersyukur, Mairapun ikut senang.
"silahkan nona"
sang supir membukkan pintu untuk Maira, serasa seperti tuan putri yang tengah dijemput oleh pangeran. Dia lupa bagaimana kondisinya saat ini, bahkan mungkin mksh taksi itu hanya menganggapnya sebagai seorang wanita hamil yang harus ia bantu.
Saat melihat dirinya di kaca Maira hampir saja berteriak, ia segera membungkam mulutnya sendiri dengan tangannya.
"ada yang bisa saya bantu nona?"
"tidak ada mas. jalan aja mas"
Dia hanya merelakan nasib nya hari ini. sopir taksi ini sungguh malang melihat penampilan terburuknya , Dalam hati Maira terus mengutuk Prass.
*********
setelah berbenah di hotel. malamnya Maira langsung check out dan menuju alamat yang dikirimkan dr. Aisyah kepadanya. butuh waktu dua jam untuk Maira supaya sampai di tempat itu.
sesampainya disana Maira terpaku melihat wanita yang ia rindukan itu. Rasa rindu membuat waktu penantiannya terasa begitu panjang. tidak ada perubahan dari wanita yang ia rindukan mlmnmmasih tetap sama hanya saja badannya yang semakin berisi membuat pipinya semakin gembul namun kecantikannya masih saja mampu mempesona Maira.
__ADS_1
Maira masih terpaku ditempatnya berdiri, hingga wanita itu berbalik dan tentu saj ia juga sama terkejutnya dengan Maira. Dia mendekati Maira dengan langkah yang cepat dan memeluk Maira dengan sangat erat begitu pula Maira yang sama rindunya dengannya.
itulah perjumpaan dua wanita yang saling merindukan itu