9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
kisah Maira 3


__ADS_3

Maira masih enggan untuk melihat mentari, dia masih mempercayai kalo hidupnya gelap. tidak sedikitpun dia ingin menerima cahaya yang ingin diberikan orang-orang kecuali satu orang.


"Mai lo belum mau keluar, beneran ngak mau ketemu sama gue? gue kangen tau Mai. udah satu Minggu Lo mengurung diri kayak gini, gue jadi khawatir"


sudah satu Minggu sejak kepergian neneknya Maira mengurung dirinya di rumahnya. bahkan para tetanggapun khawatir dengan keadaan Maira.


setelah mendengar langkah kaki Zia menjauh Maira kembali lagi ke kamarnya.


dia menatap langit-langit kamarnya dengan sendu, seakan langit-langit kamarnya seperti layar yang menayangkan ulang lukanya yang masih membasah.


BEBERAPA HARI YANG LALU


"nenek"


setelah dua hari koma pasca operasi akhirnya nenqek Maira membuka matanya. nenek masih terlihat linglung dan wajah mengkerut nya menggambarkan ia terkejut dengan rasa sakit yang harus ia tahan.


Maira langsung memanggil doter agar neneknya langsung diperiksa oleh dokter.


"Alhamdulillah ibu Rahmah sudah melewati masa kritisnya, tapi keadaan ibu Rahmah tidak bisa kita katakan membaik karna dia masih sangat lemah. karna itu sekarang lebih baik kita fokuskan untuk memulihkan daya tahan tubuhnya terlebih dahulu"


Maira hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan dari dokter.


setelah menerima resep obat yang dokter berikan Maira segera pergi menebusnya dan saat ia kembali Maira sungguh tidak menyangka akhirnya wanita yang ia nantikan kehadirannya kini ada di ruangan itu. Maira menahan dirinya untuk masuk, dibiarkannya ibu dan anak itu melepaskan rindu.


"bagaimana ibu bisa seperti ini?"


"ibu titip cucu ibu kepada mu Ros"


"ibu selalu memitipkan dia kepada ku tanpa mengerti aku bahkan lelah menghadapi kehidupan ku sendiri"


"dia anak mu juga"


"ya meskipun bukan aku yang melahirkannya tapi akhirnya akulah yang menanggung bebannya"


Maira merasa sulit mencerna kata-kata mamanya tapi cukup membuat dadanya sakit.


"bagaimana ibu bisa membantu mu meringankan beban mu nak?"


"juallah tanah ibu untuk ku, aku mohon bantulah aku untuk hidup"


"kenapa kamu tidak mengatakan semuanya kepada Maira"


"untuk apa? agar ia juga merasakan sakitnya. ibu saja cukup jadi beban untuknya, aku sungguh tidak sanggup jika harus melihat kedua pundaknya terbebani ibu"

__ADS_1


"aku tahu kau sangat mencintainya"


"ibu...,huhuhuk ibu...."


melihat wanita tua itu menyunggingkan senyumannya membuat mama Maira runtuh. kini ia benar-benar jatuh dalam pelukan wanita tua itu.


"ibu...apa yang harus aku lakukan tanpa ibu?"


"hiduplah dengan terbuka, ungkapkan semua isi hati mu, bagilah luka itu agar tidak melukai yang lainnya"


tangis Mama Maira kian pecah, ia seakan ingin mengadukan segala kesahnya.


Maira bahkan tidak tahu harus bagaimana menanggapi ibunya, bahkan hingga malam hari pun kata-kata itu terus menghantuinya.


"ya, meskipun bukan aku yang melahirkannya tapi pada akhirnya akulah yang menanggung bebannya"


"jika bukan dia yang melahirkan ku, lalu siapa yang melahirkan ku? kenapa Mama harus mengatakan itu? kenapa dia membuat ku merasa bukan anaknya"


Maira terus bertanya apa maksud dari kalimat yang dilontarkan mamanya itu.


"Mai kamu sudah tidur?"


lamunan Maira buyar saat neneknya menyapanya.


"belum nek"


"nenek butuh sesuatu?"


"ah tidak, nenek hanya ingin mendengar suara mu. kamu berbaringlah"


mendengar itu Maira kembali berbaring di sofa. sudah satu Minggu ini Maira tidur di sofa untuk menemani neneknya dirumah sakit.


"kamu tau Mai terkadang hal yang terlihat jahat itu belum tentu jahat"


Maira sungguh tidak mengerti maksud neneknya.


"bisa saja tindakan seseorang melukai kita tapi sebenarnya dibalik itu dia hanya berusaha menghindari luka yang lebih menyakitkan untuk kita"


sungguh Maira tidak begitu mendengarkan neneknya dia tengah sibuk memikirkan kata-kata Mamanya tadi.


"apapun yang terjadi jangan pernah membenci mama ya Mai"


ingin rasanya Maira membantah setelah sekian luka yang diberikan Mamanya tapi neneknya malah melarangnya untuk membenci mamanya. Namun ia telan kembali luka itu agar tidak menyakiti neneknya juga.

__ADS_1


"iya nek"


setelah diam sesaat Maira baru terfikir untuk menanyakannya langsung apa maksud dari kata-kata Mamanya.


"hum nek...."


Namun saat Maira bangun dan melihat neneknya, neneknya sudah terlelap. Maira memutuskan mengurungkan niatnya. ditatapnya wajah renta itu, terlihat begitu tenang.


"kenapa wajah nenek begitu berseri malam ini?" batinnya. Maira menelan rasa ingin tahunya kedalam mimpi.


Saat ia terbuai dengan mimpi nya Maira terusik dengan suara nyaring yang terdengar familiar. Dia langsung membuka matanya dan alangkah syoknya Maira saat para suster dan dokter juga berhamburan memasuki ruangan neneknya. Segala keahlian mereka kerahkan, mereka mencoba ini dan itu hingga akhirnya keadaan menyuruh mereka berhenti dan sang dokter pun mengumumkan kepasrahannya.


"pada hari ini Jum'at 28 Maret 2016 ibu Rahma Sari saya nyatakan meninggal dunia"


langit Maira bergemuruh, hujannya bukannya reda malah menjadi badai. bahkan tempatnya berpijak kini terasa lunak.


Maira masih mematung, dia masih duduk di Sofa dan memandangi tubuh kaku sang nenek. seakan sarafnya tidak mampu menjangkau hatinya untuk membentuk sebuah ekspresi yang seharusnya ia keluarkan.


Saat Ummi Razik datang dokter dan suster pun meninggalkan ruangan itu. Ummi lebih terpukul melihat keadaan Maira, sebagai psikolog dia mengarti betul Maira tengah syok dengan kepergian neneknya.


"Mai.."


ummi menghampiri Maira, namun tatapannya masih sama, masih kosong tanpa makna. melihat Maira hati Ummi sakit, dia takut Maira nanti ikut jatuh dengan kepergian neneknya.


"Maira lihat Ummi.."


tidak sedikitpun pandangan Maira berpaling, risaat seperti ini seharusnya dia di hangatkan oleh seseorang yang ia cintai. disaat itulah Zia hadir bersama keluarganya.


"Mai......"


"peluk dia sayang...."


tanpa ragu Zia langsung memeluk Maira dengan erat, sangat erat.


"Mai aku tau ini sakit, tapi kamu masih ada aku. ada aku Mai.."


seakan dapat sengatan listrik Maira bisa merasakan rasa sakitnya menjalar ke seluruh urat syarafnya. dia menangis sejadi-jadinya dan diikuti oleh semua orang yang ada di dalam ruangan itu, terlebih lagi Ummi Razik.


"ya Allah aku sungguh takut za dia tadi mengikuti neneknya"


"husst mbak ngak boleh bicara kayak gitu"


Ummi mengungkapkan kekhawatirannya kepada mami Zia.

__ADS_1


"eeeh kamu ngak liat aja gimana ekspresinya tadi, ya Allah......."


"iya ya mbak, dia pasti ngerasa sakit banget karna dia juga lagi ngak baik sama ibunya. pokoknya kita harus berikan dia kasih sayang supaya Maira ngak ngerasa sendirian. Aku siap jadi ibunya jika ibunya benar-benar tidak menginginkannya lagi"


__ADS_2