9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
bayang-bayang zia


__ADS_3

Dia sudah sampai di depan rumah yang ia tuju. Tidak ada satupun yang mendampinginya karena memang Syifa bersal dari keluarga broken home terlebih lagi keluarga besarnya berada di luar negri, keluarganya yang di Indonesia hanya keluarga dari ibunya dan semenjak ibu dan ayahnya bercerai Maira telah jauh dari keluarga besar ibunya. bukan tanpa alasan melainkan cinta ibu dan ayahnya adalah cinta yang terlarang karena itulah mudah bagi mereka untuk menghapus Syifa dari keluarga besar ibunya apalagi setelah ibunya meninggal sepuluh tahun silam.


Syifa menghembuskan nafas beratnya beberapa kali, bukan karena ia grogi tapi hati kecilnya seakan berontak dengan keputusan yang akan ia jalani. Belum selesai Syifa menginstal mentalnya Razik sudah mengetok kaca mobil. Dengan terpaksa Syifa menurunkan kaca mobilnya.


"ayo turun"


Tanpa persetujuan darinya Razik telah membuka kan pintu mobil untuk Sifa, agar ia segera turun. mau tidak mau Syifa harus mengikuti kehendak Razik.


Dia turun dan benar saja dugaannya dia telah ditunggu oleh keluarga Razik. Dengan kaku ia menyalami Ummi dan juga Caca.


"Abi dan Ummi sudah berbicara dengan papi mu dan semuanya sudah oke. mereka akan kesini saat menjelang pernikahan nanti"


Syifa tertunduk, sebenarnya ada rasa malu dihatinya, ia malu karena ayahnya sendiri dengan mudahnya menyerahkannya kepada keluarga pria yang bahkan tidak pernah ia temui sama sekali.


"besok kita laksanakan acara pertunangannya bersamaan dengan acara akekahnya Rasya"


terlihat jelas tidak ada raut bahagia di rumah itu.


"bagaimana ca? biasakan kita selipkan acara pertunangan kakak mu di acara akekahnya Rasya?"


Caca mengangguk berat. hati kecilnya sungguh berontak dan tidak terima jika kakaknya menghantikan Zia dengan perempuan lain.


"ummi atur aja bagaimana bagusnya. Caca mau ke kamar dulu liat Rasya"


Caca lebih memilih untuk pergi dari pada nanti ia tak mampu membendung amarahnya.


setelah kepergian Caca yang lainpun ikut menyusul mengikuti jejak Caca.


sekarang tinggal Ummi dan Syifa yang berada di ruang tamu. ada rasa was-was di hati Syifa karna dia tahu betul Ummi tidak menyukainya.


"maaf jika penyambutan di keluarga ini tidak begitu menyenangkan. saya harap kamu bisa paham itu"


Syifa hanya mengangguk, tentu dia paham kenapa keluarga ini seakan menyudutkannya dan memandangnya dengan kebencian. dan sekarang dia juga paham ternyata menggantikan Zia tidaklah semudah itu karna bukan hanya merebut hati Razik juga harus meluluhkan hati keluarganya.


"saya juga sedang berusaha untuk menerima mu. karna itu tolong jangan terlalu memaksakan diri, biarkan kami menerima mu seiring berjalannya waktu"


hanya anggukan, hanya itu respon terbaik yang bisa dia lakukan.


"kamu tau apa yang dikatakan Zia?"

__ADS_1


Syifa mengengkat kepalanya dan memandang Ummi dengan penuh penasaran.


"dia bilang pada saya untuk memberi mu cinta layaknya seorang ibu yang mencintai anaknya dan dia juga menceritakan semua tentang mu dan hubungan mu dengan Razik sebelum mereka menikah"


Syifa tertunduk lagi. ia benci Zia karna masih saja sok baik di depan calon mertua nya ini dan dia benci dirinya sendiri karena selalu menyakiti Zia.


"saya bisa paham dengan semua luka yang kamu alami tapi tetap saja saya tidak bisa membenarkan cara mu"


Syifa masih saja terdiam, dia bahkan takut untuk mengeluarkan sepatah katapun. karna dia takut kata yang dia keluarkan bisa saja jadi bumerang untuknya.


"sudahlah. lebih baik sekarang kamu istirahat. Mia tolong bawa kakaknya ke asrama ya"


seorang santri yang baru saja datang mengingatkannya bahwa Syifa perlu istirahat. Mia adalah salah satu kepala asrama santri Wati di pondok ini. untuk mencegah fitnah Syifa akan menginap di asrama para santri Wati. Mia mengangguk dan mengajak Syifa ikut bersamanya.


...**********...


"mas bahagia?"


Razik terdiam, matanya sibuk memperhatikan genangan air yang tenang itu.


"mas jawab Caca, mas bahagia?"


Razik masih saja diam. pertanyaan itu sungguh rasanya tidak pantas di ajukan kepadanya saat ini.


Caca memaksa Razik untuk memandangnya.


"hati mas sudah hilang ca. yang sekarang tinggal hanya jasad. entah itu bahagia atau sedih aku tidak bisa lagi merasakannya"


Caca ikut terpukul melihat kondisi Razik saat ini. benar katanya, dia hanya seperti mayat hidup yang menyerah dengan keinginan dan impiannya.


"aku hanya menjalankan takdir ku dan saat ini seperti inilah takdir yang Allah berikan untuk mas mu dek"


Caca tidak kuat membendung air matanya. Dia memeluk Razik dengan erat. terlihat jelas kehampaan di mata Razik menggambarkan betapa lelahnya batinnya saat ini.


Caca juga sudah menyaksikan bagaimana kakaknya selama satu bulan ini. Dia tidak lagi dia yang dulu, Razik lebih suka mengurung dirinya di kamar, makan hanya untuk sekedar bertahan hidup dan bahkan ia pernah ingin mengakhiri hidupnya. Hingga akhirnya Abi memusatkan perhatiannya kepada Razik, Abi selalu mengingatkan Razik untuk sholat ke mesjid, memastikan Razik untuk mengikuti kajian setiap harinya bahkan tak jarang Abi tidur di kamar Razik untuk membangunkannya sholat di sepertiga malam. perlahan Razik terlihat lebih iklas dengan kehidupannya saat ini. meskipun hatinya masih hampa. luka yang diberikan Caca sangat menampar psikis Razik, karna itu Ummi memperingati mereka untuk lebih menyokong Razik bukannya menyudutkan atau menyalahkannya. Bahkan saat Razik memutuskan untuk menikahi Syifa Ummi hanya bisa menerima keputusannya tanpa bertanya apa alasannya menerima perjodohan itu.


Caca melepaskan pelukannya dan pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Tidak lama setelah kepergian Caca, Syifa mendatanginya, karna dari tadi Syifa berada tidak jauh dari tempat itu.


mendengar percakapan mereka membuat Syifa semakin tidak berarti, karna Razik sendiri sudah tidak menganggapnya berarti.

__ADS_1


"hai..."


Razik tetap diam, dia hanya sibuk dengan fikirannya.


"kamu semakin kurus"


"iya"


"apa kamu se sakit itu ditinggalkannya?"


batin Syifa. ia pandangi pria yang ia cintai itu lekat-lekat. entah ia harus menyesal atau mensyukuri keadaan ini, yang pasti Syifa tak mampu lagi untuk mundur dan juga terasa sulit untuk lanjut.


"katakan jika memang ada yang ingin kamu katakan"


Razik bisa menyadari Syifa memandanginya sedari tadi.


"kenapa kamu mau menikahi ku jika memang aku tidak ada lagi di hati mu?"


"karna anak yang ada di dalam kandungan mu"


Syifa memegang perutnya yang masih rata.


"dan karna luka ini aku paham luka yang kamu alami dulu saat aku meninggalkan mu"


Razik mengalihkan pandangannya ke Syifa seketika pandangan mereka beradu. meskipun Syifa tidak lagi menempati hatinya tapi ia juga tidak membencinya. karna berkat luka yang Zia berikan Razik tidak bisa membenci Syifa begitu saja.


Syifa tersenyum berat, terlihat jelas senyuman itu hanyalah senyuman yang dipaksakan.


"dan aku ingin memenuhi keinginan Zia, aku tidak ingin pengorbanannya sia-sia begitu saja. aku tahu salah satu alasannya meninggalkan ku agar aku bisa menikah dengan mu dan sekarang akan aku penuhi itu"


Syifa terdiam, kemanapun dia pergi orang-orang dirumah ini hanya akan menceritakan tentang Zia. bahkan dia akan selalu di bayang-bayangi dengan nama Zia.


"aku pergi dulu"


tentu Syifa merasa sakit karna dia semakin menyadari bahwa Razik memang tidak pernah menjadi miliknya. baik itu dulu maupun sekarang.


"aku antar"


"tidak perlu"

__ADS_1


"udah ikut aja. kamu tidak tahu lokasi ini dengan baik"


Razik menuntunnya di depan, dengan wajah cemberutnya Syifa mengikuti Razik dari belakang.


__ADS_2