
ketiga gadis itu kini menatap hampa masa depan percintaannya. Setiap hati selalu ingin memiliki cintanya tapi tidak semua cinta bisa dimiliki oleh hati. bisa jadi Cinta yang saat ini kamu harapkan mencintai hati yang lain dan bisa jadi juga Cinta yang saat ini sangat ingin kamu lepas tengah berjuang untuk mempertahankan hati agar tidak lari lagi.
mereka tetap menjalankan rencan yang tadi mereka rancang, menghabiskna waktu bertiga untuk makan bareng dan nonton bareng. saat mereka bersama hanya tawa yang terdengar dan menepikan kehampaan yang tengah melanda hati. meski tawa itu terasa hambar namun saat ini itulah satu-satunya cara membuat hati agar tetap tenang.
dan sekarang mereka berpisah mencari ketenangan masing-masing. di saat sepi kehampaan itu mulai menyerang lagi.
setelah Maira dan Zia berpamitan kini tinggal Syifa sendiri di kamarnya. hatinya hampa saat mengingat tingkah aneh razik akhir-akhir ini. razik mulai menjauhinya dan terlihat tidak suka bersentuhan fisik dengannya. Dia juga selalu menghindar untuk bertemu dengan Syifa, bahkan razik mengatur jadwalnya agar tidak satu penerbangan dengan Syifa. dan tadi saat melihat ekspresi antara razik dan Zia dia curiga ada yang sedang terjadi diantara mereka berdua. begitu menyakitkan saat melihat orang yang kita cintai semakin sulit untuk dijangkau.
"kenapa dengan mu bi? kenapa begitu sulit untuk bertemu dengan mu? kenapa menghindari ku? apalagi yang salah kali ini? apa hati mu sudah kembali lagi kepadanya? kamu tega jika kamu meninggalkan ku setelah semua yang kita lewati. aku bukan tempat persinggahan mu zik? aku tidak ingin dianggap begitu. aku akan terus memiliki mu apapun yang terjadi"
*********
__ADS_1
Zia meninggalkan kamar inap Syifa dan memilih menginap di ruangannya. dia ingin sendiri saat ini, lebih tepatnya dia tidak sanggup untuk bersama Syifa. melihat Syifa membuatnya mengingat semua semua sakit yang diberikqn olehnya.
Zia menatap keluar jendela, melihat lampu pesawat diatas sana mengingatkannya kepada Razik. kehampaan yang menyerangnya saat tentang razik yang belum juga berani mengambil keputusan, keputusan yang sangat ingin dia dengar dan juga dia takuti.
"aku sangat ingin egois kali ini. tapi saat aku melihatnya aku juga merasa iba mas. dia juga wanita yang ingin dicintai seperti aku dan dia tentu tidak salah di sini. harusnya kamu mengambil langkah ini jauh sebelum kamu menerima ijab kabul atas diri ku mas. dengan begitu dia akan lebih cepat untuk move on dan aku menerima hak ku sejak dulu. atau aku yang mengiklaskan mu untuk terus membahagiakannya"
Zia berjalan menuju meja kerjanya dan menatap foto mereka saat menikah dulu.
***********
tadinya dia keluar bersama Zia tapi maira ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu dan lebih memilih menghirup udara segar di taman.
__ADS_1
di taman ini dia mengingat perlakuan Razik kepada sahabatnya, terlintas di hatinya rasa iri, ingin mendapatkan perlakuan yang sama dari orang yang berbeda.
senyum tipis tergambar di bibirnya, tapi senyuman itu untukenggambarkan betapa kecewanya ia atas harapannya sendiri terlebih lagi, kejadian tadi begitu memukulnya bahwa cinta pria yang dia kenal dulu mungkin sudah tidak sama lagi dengan cinta pria yang dia kenal saat ini.
"huh bodohnya aku masih mengharapkan cinta yang sudah lama kutinggalkan. jikapun dia mencintai orang lain, itu sudah wajar. toh cintanya kepada ku dulu bisa saja hanya cinta monyet semata. lagian siapa yang bisa tahan menunggu begitu lama. cinta tanpa kepastian itu seperti makan keju dalam hayalan. bukannya harapan yang terpenuhi justru keinginan untuk mendapatkannya malah semakin tinggi. lebih baik aku mengubur harapan ku dan melupakannya"
maira menatap langit dengan taburan bintang, berharap hidupnya kedepan secerah langit malam ini.
"berbahagialah Prass. jika kamu bahagia maka aku juga harus bisa bahagia. dan tolong jangan muncul lagi dihadapan ku, kita kembali seperti dulu, seperti orang asing yang tidak saling mengenal tapi pernah saling mencintai"
*********
__ADS_1