
kamu tau air yang tenang tapi riuh di dalamnya, itu danau. Razik juga menyerupai danau, dia memiliki ekspresi yang tenang sehingga tidak ada yang bisa memahami kegelisahan dan ketakutan di dalam hatinya saat ini. bahkan jalanan terlihat datar malam ini, sehingga mobil itu ia pacu begitu kencang. untungnya maut tidak pernah mau singgah sehingga hanya ada kata hampir dalam kecelakaan.
Firasat Razik semakin memburuk, karna dia sendiri tidak yakin Zia akan menerima penjelasannya begitu saja. Dan benar kata Syifa hati perempuan jika sudah hancur akan sulit ditebak keputusan apa yang akan dia ambil. untuk pertama kalinya Razik merasa takut untuk kehilangan Zia.
sesampainya dirumah Razik langsung menelusuri rumah dan mencari keberadaan Zia tidak lama Razik dapati istrinya itu tengah memasak di dapur.
"Hai sayang, kamu udah pulang?"
seketika sesak di dada Razik mereda. Dia melepaskan senyuman yang hangat kepada Zia.
"iya"
Razik mengekor Zia ke meja makan.
"kamu mandi dulu ya, habis itu kita makan bareng. aku masak makanan kesukaan kamu lo"
Razik memeluk Zia dengan erat. Zia berbalik dan membalas pelukan Razik, setelah Razik mencium pucuk kepala Zia diapun melepaskan pelukannya dan meninggalkan Zia untuk pergi mandi.
Razik begitu lega, malam ini mereka justru begitu hangat, tidak ada hal yang mencurigakan dari Zia. karna itu Razik berfikir Syifa mungkin tidak benar-benar mengirimkan Vidio itu kapada Zia.
Setelah selesai makan Zia menghampiri Razik ke kamar, disana terlihat ia tengah membaca buku dengan khidmatnya.
"mas"
"ya"
Razik menghentikan aktivitasnya dan beralih memandang Zia, Razik sedikit was-was karna hatinya sampai saat ini belum tenang.
Zia menyerahkan handphone nya kepada Razik, saat Razik meraih ponsel itu hatinya berdebar tidak menentu seakan firasat buruk terus membisikkan ketakutan di dalam hatinha. dan memang benar, ketakutannya kini terjadi, Rasa was-was nya menjadi kenyataan. Razik memandang Zia dan menggenggam tangan Zia erat, seakan tidak ingin melepasnya.
"sayang"
"aku mau kamu menjadi pria yang bertanggung jawab mas"
__ADS_1
kening Razik menggerut, dia tidak mampu memahami maksud kalimat Zia.
"maksud kamu?"
"dia hamil mas"
"ngak"
Razik sungguh tidak bisa percaya yang baru saja diungkapkan Zia, karna Syifa bahkan tidak membahas hal itu dengannya tadi.
"kamu harus jadi seorang ayah yang bertanggung jawab. dan lindungi anak mu agar tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang telah kamu lakukan mas"
"NGAK....."
suara Razik meninggi, dia tidak bisa terima tuduhan Zia karna dia tahu betul tidak pernah melakukan hubungan terkutuk itu bersama Syifa.
Razik terlihat hancur dan bingung, dia bisa saja menyangkalnya tapi Vidio itu akan menjerumuskannya kepada tuduhan yang bahkan tidak dia lakukan. Rasa frustasi menekannya saat Zia terlihat begitu serius dengan ucapannya. Zia menyeka air matanya yang jatuh, air mata yang menggambarkan betapa kecewanya ia terhada suaminya itu. dan air mata yang membuat pukulan keras di hati Razik. Melihat Zia menyeka air matanya membuat hati Razik hancur. Razik berlutut di hadapan Zia, menggenggam erat tangan istrinya itu dan menetap ya dengan penuh harap.
"sungguh aku tidak pernah melakukan itu kepadanya dan kalaupun dia hamil itu bukan anak ku. percaya kepada ku, aku mohon"
"sayang aku mohon percaya pada ku"
Zia masih saja mengalihkan pandangannya. Razik membenamkan wajahnya di pangkuan Zia, gamis Zia yang mulai basah menandakan air mata Razik yang terus mengalir.
"aku tidak mampu lagi memahami mu mas"
Razik mengangkat kepalanya dan menatap Zia.
"aku tidak ingin terluka lagi"
Razik menggeleng, seakan ia tahu arah kalimat yang akan dikeluarkan Zia.
"ceraikan aku mas"
__ADS_1
"ngak sayang"
lepaskan aku"
"aku tidak akan pernah melepaskan mu"
"jangan siksa aku lagi"
"ngak, huhu...ngak aku mohon percaya kepada ku zi"
"jadilah pria yang bertanggung jawab"
"ngak zi...."
Zia berdiri dan berusaha melepaskan genggaman Razik dengan paksa.
"aku mohon sayang jangan tinggalkan aku...."
Zia terus melepaskan genggaman Razik dan ingin pergi entah itu hanya untuk menenangkan pikiran atau memang tidak ingin kembali lagi, entahlah.
"Zia dengar, aku melarang mu untuk keluar dari kamar ini"
seketika Zia terhenti dan berbalik.
"izinkan aku pergi mas. hati ku merasa dicabik-cabik saat melihat mu. izinkan aku untuk menenangkan hati ku"
seketika ia sadar bahwa luka Zia saat ini karna kesalahannya, untuk apa dia membuat Zia tertekan dengan berat Razik menganggukkan kepalanya, melihat itu Zia langsung bergegas meninggalkan Razik.
"sungguh aku ikhlas ya Allah, aku izinkan dia pergi tapi aku mohon kembalikan dia kepada ku lagi. pergilah Zia tenangkan hati mu, tapi ingat aku disini selalu menunggu mu"
zia masih terdiam di balik daun pintu dan masih bisa mendengar ucapan Razik juga tangisannya yang tak kunjung reda.
Berat bagi Zia untuk meninggalkan Razik, tapi juga menyakitkan untuknya tetap berada disampingnya malam ini dan bahkan mungkin untuk esok dan juga lusa. dan dia tidak tahu pasti kapan luka itu akan sembuh atau mungkin akan terus menganga? entahlah. Entah bisa hati ini tenang dan mengiklaskan segalanya atau justru mengikuti egonya?
__ADS_1
bahkan ia tidak tahu kemana dia harus pergi sekarang.