
"kenapa aku tidak puas dengan semua yang kudapatkan? apa karna terlalu mudah mendapatkannya. Rumah tangga Razik dan Zia memang hancur seperti yang aku harapkan namun ternyata luka yang membekas karnanya juga melukai hati ku. Aku fikir mereka tidak akan runtuh semudah ini, karena aku kira cinta Zia lebih besar dari pada cinta ku. tapi kenapa dia begitu mudah menyakiti Razik? ah....... luka Razik justru lebih melukai ku karna aku yang memberikan pisau untuk menggoreskan luka itu"
Syifa menjambak rambutnya sendiri. rasa penyesalan yang dalam justru membuat kebahagiaan yang seharusnya ada malah terasa hambar.
"dan sekarang kenapa aku yang harus mengikuti perintah Zia? seharusnya aku yang berkuasa dicerita ini. apa sebenarnya yang coba Zia permainkan?"
Syifa melirik handphone nya yang berdering.
"bagaimana hasilnya?"
^^^"tidak ada yang bisa kudapatkan. jejaknya begitu rapi, dia singgah di banyak tempat Minggu itu. saya rasa dia memang sengaja melakukan itu agar jejaknya tidak bisa di baca"^^^
jawaban pria itu justru membuat Zia semakin kesak Syifa menggenggam handphone nya dengan penuh emosi.
"aku ngak bisa cuman ngandelin dia aja"
matanya memancarkan kegelisahan.
...*******************...
"siapa lagi kali ini"
batin Maira. akhir-akhir ini begitu banyak yang mencarinya. Bahkan Prass hampir tiap hari menemuinya. Razik juga beberapa Minggu yang lalu selalu saja membuntutinya. bukannya Maira tidak tahu kenapa mereka semua sangat penasaran dengan kehidupannya sekarang, dia tahu pasti tentunya itu semua karena Zia. ya mereka fikir Maira akan menunjukkan jalan untuk menemui Zia. tapi semua itu nihil, tidak sedikitpun ada jalan yang bisa Maira tunjukkan.
"Mai...Mai..."
"eh ya?
"dia menunggu mu di kafe meja no 8"
"oh oke. terimakasih ya Elsa"
Elsa mengangguk dan berlalu meninggalkan Maira yang masih berusaha menebak siapa wanita yang mencarinya itu.
dan tentu wanita itu sesuai dengan perkiraannya, karena memang hanya dia yang belum pernah menemui Maira semenjak kehilangan Zia.
Syifa melambai kearah Maira, namun tatapan Maira terlihat begitu hambar. Hatinya tidak lagi bisa memaklumi kesalahan Syifa. meskipun begitu dia tidak ingin Amarahnya terlihat kentara, mau tidak mau Maira memaksakan bibirnya untuk menyunggingkan sebuah senyuman."
"hai..."
Sapa Syifa dengan semangat.
"hai"
namun jawaban Maira tetaplah seadanya.
"kamu mau pesan apa?"
Syifa memanggil pelayan dengan lambaiannya.
setelah menerima pesanan sang pelayan pergi meninggalkan mereka berdua.
"kamu tambah kurus Mai"
"iya, aku lagi sibuk nyelesain study ku"
"kamu beralih ke kedokteran ya?"
"ehum, begitulah"
__ADS_1
"kenapa ngak dari dulu aja?"
Maira tersenyum berat, dia lupa yang tahu persis tentang kehidupannya hanya Zia. meskipun Syifa adalah sahabat pertama kali baginya tapi ternyata hanya Zia yang mampu menampungnya di setiap keadaan, bahkan sampai saat ini.
"kamu nggak bakalan percayakan kalo aku bilang aku ngak sanggup secara finansial"
"aku tahu berita tentang kebangkrutan keluarga mu tapi masa sih om dan Tante ngak ada tabungan untuk itu"
Maira tersenyum miris, begitu sederhana Syifa menganggap penderitaannya.
"hum ya, aku ngak mungkin semiskin itu"
"benar kan"
Syifa tersenyum lega karena yang difikirkan nya sesuai dengan yang ia dengar.
"heran deh, akhir-akhir ini banyak banget yang nyariin aku"
"dan aku salah satunya kan?"
Syifa menunjuk dirinya sendiri
"iya dan mungkin juga dengan alasan yang sama?"
"aku rasa begitu"
"jika memang iya. kamu ngak bakalan dapatin apa yang kamu inginkan, sama seperti mereka"
"kenapa?"
Maira hanya tersenyum.
"wah kayaknya makanannya enak"
Maira berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka. dan tentu Syifa tidak akan puas dengan tingkah Maira kali ini.
"lalu kenapa kamu begitu tenang saat sahabat mu itu menghilang tanpa jejak"
"karna aku percaya dia akan baik-baik saja tanpa ku dan aku yakin nanti ada masanya dia akan menemui ku dan menjelaskan semuanya"
Maira menyantap makanannya dengan lahap.
"kamu tau kenapa dia menghilang begini?"
"kamu lebih tahu itu kan?!"
Syifa menarik nafasnya berat, dia mulai sadar dia tidak lagi memahami sahabatnya ini. atau mungkin memang tidak ada lagi persahabatan diantara mereka.
"aku mohon katakan kepada ku dimana dia Mai"
Maira berhenti mengunyah makanannya dan menatap Syifa dengan amarah yang terpancar dari netranya.
"buat apa?"
Syifa berusaha memikirkan jawaban yang terbaik tapi langsung disela oleh Maira.
"untuk menyakitinya lebih dalam lagi?"
"Mai, aku rasa Zia memperalat ku dan memang ini yang dia inginkan"
__ADS_1
"ini yang dia inginkan?"
Amarahnya terasa digelitiki mendengar jawaban Syifa.
"maksud kamu berpisah dengan suaminya itu yang dia inginkan? menghancurkan cinta yang dengan susah payah ia pertahankan, itu yang dia inginkan? wah kamu gila Syif"
Syifa terdiam, maksud perkataannya ditanggapi salah oleh Maira.
"bukan, bukan itu maksud ku...."
"itu bukan yang dia inginkan tapi yang kamu inginkan"
"bukan...maksud ku ya tadinya aku memang mengharapkan itu tapi...."
"tapi apa? kamu kurang puas dengan belati yang kamu tusukkan itu terlalu dangkal. ya, mungkin belati yang kamu tusukkan saat ini terlihat dangkal tapi tidak akan pernah bisa hilang. jangankan menghilangkan bekasnya, bahkan belati itu tidak akan pernah mampu kamu cabut"
Syifa bahkan tidak mampu lagi menatap Maira. Hatinya pun kian sesak saat ia semakin memahami kata-kata Maira.
"sehingga kamu tidak akan pernah bisa mengobati lukanya"
Maira meningglkan Syifa yang tengah tertampar dengan setiap kata yang Maira ucapkan, begitupun dengannya, bahkan Maira sendiri begitu tertampar, karna dengan perkataannya tadi dia juga membayangkan posisi Zia saat ini. Zia mungkin membutuhkan pelukannya meskipun tidak pernah dia katakan.
"Zia kuatlah, aku akan mendatangi mu secepatnya"
Maira menghapus air mata yang sempat mengalir di pipinya.
"Mai....."
"mendengar namanya dipanggil Maira berbalik dan mendapatkan wajah Reihan yang tersenyum lebar kerahnya. sepertinya dia memiliki hari yang cerah.
"aku ada kabar baik"
"apa?"
Maira menanggapinya dengan malas.
"kamu tau, pengajuan mu sudah diterima"
Maira kaget bukan Main, dia berusaha menetralkan rasa senangnya.
"wah berarti seminggu lagi kamu bakalan ninggalin aku dong"
"ya Allah Alhamdulillah"
"kamu senang?"
"ya tentu, kan ini yang aku inginkan"
"aku juga"
kening Maiira mengerut, tidak paham kenapa Reihan ikut senang dengan kepindahannya.
"karna kapten itu tidak akan sering menemui mu lagi"
dia berlalu begitu saja meninggalkan Maira setelah mengucapkan kalimat itu, tanpa bertanggung jawab sedikitpun atas beban Maira saat ini. Tadinya dia senang karena bisa segera menemui Zia, tapi Reihan malah mengingatkannya tentang perasaan yang mungkin akan dia kubur lagi, harapan yang tidak pernah mungkin terwujud lagi dan dia akan meninggalkan Prass dan cintanya untuk yang kedua kalinya.
saat fikirannya dipenuhi oleh Prass, Maira seakan melihat wajah Prass. Dia mengikuti pria itu, jalannya yang begitu cepat membuat Maira semakin kesulitan mengikutinya. saat Maira ingin memanggilnya tiba-tiba seseorang malah berlari kearah Prass dan memeluknya begitu erat.
sakit, tentu saja Maira sangat sakit melihat hal itu dan dia merasa keputusan itulah yang terbaik saat ini
__ADS_1