
senyumnya mengembang saat berhasil menemukan yang ia cari. diantara keramaian itu terlihat seseorang melambai kepadanya, sebagai pertanda bahwa yang ia cari berada disana. Zia menyelip diantara meja para penghuni cafe hingga ia bisa sampai di meja pria yang sangat ia rindui itu.
sekarang jam makan siang, tak heran jika kafe, kantin ataupun rumah makan, bahkan warung nasi yang ada disekitar rumah sakit terisi penuh. namun biasanya kafe rumah sakit lebih sering di isi oleh para staf rumah sakit. karena letaknya yang berada di lantai atas membuatnya sulit untuk ditemukan, apalagi bagi mereka yang baru dirumah sakit ini.
lain halnya dengan kantin rumah sakit, kantin justru lebih sering dihuni oleh para wali atau juga pasien yang ingin berobat dirumah sakit ini. karena tempatnya menyediakan banyak hal dan karna itu juga Zia lebih suka mengunjungi kantin dari pada kafe, tapi hari ini Razik memaksanya untuk makan di sini.
"udah pesan makanan?"
razik menggeleng
"belum, kan nungguin kamu"
"baguslah, kita makan dibawah aja yuk"
"disini aja Zi, aku udah laper nih"
"yaudah deh"
Zia pasrah, bahkan sekarang perutnya lebih keroncongan dari pada Razik.
"o iya Zi, Prass gimana lukanya?"
"umm, Prass...aku suruh maira buat gantiin perbannya"
"maira?"
Zia mengangguk. razik senyum-senyum, membayangkan kekakuan sahabatnya itu.
"wah kira-kira gimana ya hatinya Prass sekarang?"
"entahlah, tapi aku yakin mereka sebenarnya masih menyimpan rasa. lihat aja Prass masih setia dengan kesendiriannya dan maira juga gitu. feeling ku bilang alasan mereka sama, yaitu masih mengharapkan kisah masa lalu bersemi kembali"
Razik sangat suka jika Zia mengoceh seperti sekarang. dulu Zia selalu menceritakan hal kecil kepada razik dan hal itu yang membuatnya merasa berharga disisi Zia. Namun semenjak tragedi Adit terjadi keduanya saling menutupi hati dan hidup dengan jalannya masing-masing.
Zia berhenti berbicara karena sadar tengah ditatap oleh suaminya itu.
__ADS_1
"kenapa mas?"
"aku suka saat kamu bercerita segala hal. aku menjadi sedikit lebih berarti"
Zia tersenyum penuh makna. kata-kata Razik menyadarkannya, bahkan ia merindukan Zia yang dulu. mereka saling melempar senyum. seketika hanya suara musik yang terdengar, hingga pelayan kafe membawakan makanan yang mereka pesan. ini yang paling ditunggu Zia, makanan. perut keroncong ya mengatakan ia harus makan sekarang.
"pelan-pelan"
"laper banget dari tadi mas"
razik menggeleng. bahkan ia melewatkan masa pacaran yang penuh dengan menjaga imeg. Zia tidak pernah menjadi gadis malu-malu seperti gadis lainnya saat ingin menemui pacarnya.
"makan mas"
"ah iya"
mereka melahap makanan itu hingga ludes. wajar saja harga makanan di kafe ini mahal, memang kualitas sesuai harga.
"mas Syifa udah sadar Lo"
terlihat dari wajah razik bahwa ia penasaran dengan kondisi syifaa. tapi ia tahan.
razik hanya manggut-manggut. bagaimana pun setiap mendengar nama Syifa mengingatkannya jika Zia sering terluka karna nama itu.
"ayok aku antar keruangan mu"
Zia mengikuti razik keluar dari kafe. hari ini dia ingin sedikit memahami razik. dia tidak bisa mengabaikan perasaan razik begitu saja terhadap Syifa.
"hari ini aku lembur ya jd pulangnya agak lama"
"iya mas ngak papa, aku juga jaga malam kok. dan mungkin nanti malam aku gantian jagain Syifa. soalnya malam ini maira ngak masuk"
razik mengangguk. entah kenapa hatinya terasa berat mendengar kebaikan istrinya itu.
"oke"
__ADS_1
katanya lesu.
"kayaknya Syifa bakalan baik-baik aja mas soalnya ngak ada tu gejala yang menandakan adanya cidera yang serius"
razik hanya diam. dia terus melangkah menelusuri rumah sakit menuju ruangan istrinya dan diikuti oleh zia. namun Razik semakin tidak suka mendengar Zia menyebutkan nama Syifa.
"tapikan aku kadang kasihan deh sama Syifa. dia kayaknya kesepian bangat. saat sakit kayak gini pun ngak ada keluarga yang mendampingi, ya meskipun sakitnya ngak parah sih. tapikan tetap aja butuh teman, ya kan mas. mas kamu jenguk..."
razik berhenti dan menatap Zia. Zia pun ikut berhenti dan menangkap netra razik. Razik menarik nafasnya dalam-dalam, terdengar kegelisahan dari deru nafasnya yang berat. melihat ekspresi razik tiba-tiba Zia merasa bersalah terus mengungkit tentang keadaan Syifa.
"aku...emm aku fikir mas ingin..."
Zia menggigit bibir bawahnya, karna ekspresi razik jelas mengatakan ia bersalah.
"aku kesini bukan untuk melihat Syifa tapi karna aku merindukan mu"
"maaf mas"
Zia masih tertunduk. hatinya lebih tenang memandang lantai dari pada wajah razik yang kesal karena tingkahnya.
"udah ya, kita ngak usah bahas Syifa lagi"
"tapi mas...."
"Ziaaa"
razik frustasi.
"maaasss.... aku bukannya ingin menyudutkan mu. aku tahu dan aku paham kamu merasa bersalah dengan Syifa. karna itu temui dia dan minta maaf, jadilah laki-laki yang bertanggung jawab. ya?"
razik melempar pandangannya dan tidak bisa menerima tawaran Zia. Zia meraih tangan Razik dan berusaha meredam amarah dan kegelisahan suaminya itu.
"kamu itu milik ku. dan ini pengikatnya"
Zia memakaikan jam tangan yang ia berikan saat ulang tahun razik kemaren. karna razik buru-buru dan suasana yang begitu kacau membuatnya lupa membawa kado dari zia.
__ADS_1
"aku memang tidak suka melihat mas dekat dengan dia, tapi aku jauh lebih tidak suka melihat pria yang tidak bisa bertanggung jawab atas kesalahan nya. pergilah, temui dia. bagaimanapun juga baginya hubungan kalian itu masih ada. jangan membuatnya lebih terpuruk lagi. pria hebat itu pria yang berani menghadapi masalahnya bukannya lari dan terus bersembunyi"
kata-kata Zia seperti tamparan dan juga penyejuk untuknya. razik membelai lembut pipi zia. menatap wajah cantik yang ada dihadapannya ini membuatnya sadar, mungkin kedepannya dia akan lebih sering luluh dan mengalah dengan wanita ini. razik tersenyum dan mengangguk pasrah.