
maira masih melihat dari kejauhan drama dari kedua sahabatnya itu, kehangatan itu menyentuhnya sehingga tanpa ia sadari bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman. namun tidak bisa dipungkiri ada rasa cemburu dihatinya, dia juga mengharapkan hal yang sama dari orang yang berbeda.
dia mengharapkan cinta dari pria yang masih ia cintai.
maira memghela nafasnya dengan frustasi, frustasi karena lelahnya menunggu. dia sadar dialah yang seharusnya memulai tapi namanya wanita tetap ingin selalu dikejar dan dibujuk rayu.
"Mai tolong bantuin gue ya"
maira langsung meraih namapan yang diberikan pria itu.
"ngapain Bim?"
"kamar naratama nomor dua, ganti infus"
kata Bima sambil terus berlari kecil, terlihat dari ekspresi dan tangan yang selalu melekat pada perutnya menggambarkan ia tengah kebelet. Maira hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Bima. Bima perawat ynag paling banyak masalah dan paling banyak tingkahnya dirumah sakit ini tapi, kalau tidak ada dia bakalan sepi kayak kuburan. baginya mintak tolong dan menolong adalah sebuah kewajiban. jika bisa dimintai tolong maka dia akan menolong lebih dari apa yang dia dapatkan, begitulah moto hidupnya.
Maira menuju ruangan yang tadi dikatakan oleh Bima.
"kok nomor kamarnya rasnya ngak asing ya?"
batin Zia. dia terus berjalan sambil berfikir kenapa ruangan itu terasa familiar untuknya.
miara sudah sampai di depan pintu kamar mengetuknya.
"silahkan masuk"
pertanda Maira boleh memasuki ruangan itu.
"selamat malam"
setelah masuk maira langsung sadar apa yang harus dia lakukan. maira cukup terkejut melihat darah yang sudah naik lebih dari sejengkal dan itu mungkin efek dari infus yang sudah habis.
"maaf atas kesalahan yang telah kami lakukan Bu"
wanita itu tersenyum.
"ngak papa suster santai aja, lagian ini bukan sepenuhnya kesalahan dari pihak rumah sakit. tadi perawat yang satu lagi sudah mengingatkan saya untuk mengganti infus. tapi saya tolok dan memintanya untuk menunggu sebentar lagi, akhirnya ya, begini"
maira mengikuti pandangan perempuan itu ynag tertuju pada selang infus yang sudah dialiri darah.
"baiklah saya akan ganti selang infusnya tapi, sebaiknya infusnya di tanagannya yang satunya lagi"
"o oke, tapi suster maira bisa bicara santai saja dengan saya"
"ya?"
maira cukup terkejut mendengar itu, seketika dia terpesona dengan sikap dan paras wanita itu.
"panggil saya naila, saya yang kemaren satu kecelakaan dengan Syifa"
__ADS_1
"o..oooo....ya aku ingat, pnatasan terasa femiliar"
keduanya saling melempar senyum.
ditengah keramah tamahan mereka Prass menyelonong masuk merusak suasana hati maira.
"hai sayang aku bawain bunga kesukaan kamu, biar kamunya cepat sembuh. begitu pesan da...rii...."
Prass terdiam saat menyadari ada maira di ruangan itu. seketika suasana terasa kikuk. maira yang merasa panas karna rasa cemburunya dan Naila yang merasa tidak enak karena omongan Prass yang sembarangan sementara Prass berusaha menetralkan ekspresinya.
"ukhumm...aku jadi lupa tugas ku, maaf"
Maira membasahi kapas dengan alkohol.
"ya ampun sayang selangnya kok berdarah sih?"
kening Naila berkerut tidak mengerti dengan sikap Prass malam ini.
"maaf atas kelalaian kami pak, infusnya tadi habis jadi...."
"astaga, kalian kemana aja? kenapa sampai lalai terhadap tugas dan tanggung jawab seperti ini, ya ampun sayang pasti sakit ya?"
maira sangat ingin membantah Prass dengan suara lantang, terlebih lagi baginya dia tidak bersalah.
"udah deh jangan di perpanjang Prass"
"eh mas"
maira melepaskan infus Naila dengan cekatan dan memasang infus yang baru.
"sakit ngak sayang"
"ngak papa kok mas sakit sedikit"
sungguh maira merasa terbakar diruangan ini. ingin rasanya dia menjambak-jmabak rambut Pras dan memakinya sepenuh hatinya. Prass yang sadar ditatap dengan tajam oleh maira merasa menang dan semakin semangat menghidupkan api cemburu ynag sudah terlanjur berkobar.
"kenap sus?"
"mas kalo mau gagguin kerjaan saya lebih baik keluar aja deh"
"lho memangnya saya ngapain"
"mas berisik"
"masa sih, bener sayang"
Naila mengangguk dengan senyuman tipis yang tergambar di bibir manisnya.
"sedikit"
__ADS_1
"oke, saya diam dan akan memantau dari sana"
dia menunjuk sebuah sofa yang ada di sudut ruangan itu dan memilih memantau dari sana. maira berusaha mengabaikan keberadaan Prass tapi sayang jantungnya tau ada ynag mendebarkan disekitarnya. pekerjaan yang bisa ia kerjakan dengan mudah dan cepat justru sangat sulit baginya sekarang, keberadaan Prass sungguh mengganggu konsentrasinya. butuh dua kali tusukan agar bisa memasang infusnya dengan benar.
"sudah selesai. maaf atas kesalahan saya. saya permisi"
"ngak papa Mai, makasih ya"
dia hanya membalasnya dengan senyuman dan meninggalkan kamar itu tanpa menoleh kearah Prass sedikitpun.
setelah Maira pergi Prass tersenyum puas, ada kebahagiaan tersendiri baginya melihat ekspresi cemburu maira. begitupun Naila yang mengerti maksud Prass, dia senang bisa membantu sahabatnya itu.
"senang?!"
senyuman Pras semakin lebar.
"aaahhh semangat gue buat ngejar dia semakin membara"
"perjuangin deh. dia gadis yang baik dan cantik"
Maira memang gadis yang cantik bahkan tanpa dandanan. dia terbiasa dengan gaya sederhananya dan hanya berdandan jika memang sudah diharuskan.
"ya dia cantik. wanita tercantik setelah bunda"
"yeeee itukan menurut lo"
"ya iya kalo menurut Dika pasti beda lagi. tadi dia nyuruh gue buat ngasih bunga ini untuk wanita tercantik menurut dia dan katanya. hai sayang aku bawain bunga kesukaan kamu supaya kamu cepat sembuh. gitu"
Naila menyambut buket bunga itu dengan senang hati. tentu saja dengan senang hati karna yang memberikan adalah dia yang dihati. terlebih lagi pesan yang disampaikan Prass membuatnya semakin kesemsem sama Dika, pacarnya.
"makasih, i love you...."
"buat gue?"
"bukan buat Dika nya"
Perasaan senang Prass terus tergambar diwajahnya bahkan setelah beberapa jma berlalupun senyuman nya tak kunjung pudar.
"Lo ngapain senyam senyum ngak jelas gitu?"
Razik heran melihat sahabatnya yang satu ini. beberapa jma yang lalu saat mereka ingin berangkat kerumah sakit wajahnya seperti malam tak berbintang dan sekarang baru berpisah bebepa jam dengannya ekspresi Prass seperti orang yang baru saja menang undian.
"bunga di taman gue mekar bro"
razik tidak paham kabar baik apa yang diterima oleh Prass sehingga membuat senyumnya mengembang begitu.
"ngak ngerti gue"
Prass tetap dengan senyumannya
__ADS_1