9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
pertemuan


__ADS_3

meski tengah asik merangkai bunga dia bisa merasakan ada pasang mata yang tengah menatapnya. Instingnya berkata ada seseorang di belakangnya. untuk memenuhi rasa penasarannya dia berbalik dan benar saja ada seseorang disana. mungkin karena langit yang sudah gelap membuat jarak pandangnya menyempit. dia penasaran siapa yang berdiri diam diujung sana. semakin dia perhatikan dia semakin sadar siapa wanita itu, hingga akhirnya ia putuskan untuk mendekati wanita itu terlebih dahulu. mereka lang dung berpelukan berharap kerinduan ini segera sirna.


"Maira"


"ziii...."


Maira membalas pelukannya dengan erat. Rasa rindu bukannya menghilang malah makin mencekam.


"aku merindukan mu"


"aku juga"


balas Maira. cukup lama mereka saling mendekap hingga akhirnya Zia melepaskan pelukannya. Entah apa makna air mata itu saat ini, entah itu rasa rindu yang telah terpuaskan atau rasa bersalah yang saling mencekam hati, atau mungkin rasa sakit yang tak mampu lagi diungkapkan dengan kata-kata. Entahlah. Hanya hati mereka yang tau persis rasa apa yang membuat air mata itu mengalir dengan begitu derasnya.


" kita masuk?!"


Maira hanya mengangguk dan mengikuti Zia dari belakang.


"mami, Dedi, coba lihat siapa yang datang"


Maira melontarkan senyum tulusnya kepada mami dan Dedi zia, di hampirinya keduanya.


"Maira"


Mami menarik Maira kedalam pelukannya. melihat Maira membuatnya ingat dengan beban yang tengah ia tanggung saat ini. Bukan tanpa alasan Mami hanya menganggapnya sebagai salah satu sandaran terkuatnya, ia ingin berbagi lukanya dengan Maira seperti yang dahulu ia lakukan untuk Maira. seperti saat Maira begitu rapuh ia bentangkan tangannya untuk sahabat anaknya itu, dia sediakan bahu yang nyaman untuk Maira bersandar dan saat ini Mami Zia berharap Maira mampu menjadi sandarannya.


"Mai rindu sama mami"


"Mami juga merindukan mu nak"


Maira mengangguk dan menghapus punggung mami dengan pelan dan penuh kasih sayang. melihat dua wanita itu membuat dedi ikut terhanyut. dia menyeka air matanya sebelum ada yang melihat. meski tanpa ia sadari Zia memperhatikannya sedari tadi.


"assalamualaikum"


ucap mereka bertiga hampir serentak. tentu perhatian orang-orang langsung tertuju kepada mereka yang baru saja datang.


"wa'alaikum salam"


jawaban mereka berempat pun hampir serentak. hanya Maira yang tidak tahu mereka siapa sementara Zia menyambut mereka dengan hangat begitupun dengan Ummi dan Dedi zia. Mereka masuk dan menempatkan diri seperti tuan rumah bukan layaknya seorang tamu.


"saya langsung ke kamar ya Ma, Pa. Om, Tante"


Zia mengikuti pria itu. Wajahnya begitu familiar untuk Maira, hanya saja dia tidak ingin langsung menyimpulkan tanpa bertanya.


pria dan wanita paruh baya itu, memandang Maira penasaran.


"o ini Maira sahabat Zia yang sering diceritakannya mbak"


"oooo Maira, Masya Allah akhirnya aku bertemu dengan mu juga"


Maira hanya tersenyum canggung. dia bahkan tidak tahu wanita ini siapa, tapi tingkah nya seakan begitu merindukan Maira.


"kamu tau Maira Tante ini teman baik ibumu"


Maira terdiam, dadanya sesak ketika mengingat ibunya.


"kamu sangat mirip dengannya. kamu cantik"

__ADS_1


bahkan kalimat itu bukanlah pujian bagi Maira. dia tidak ingin terlihat sama dengan ibunya.


"terimakasih kasih"


meskipun begitu Maira tetap harus tersenyum untuk menghargai pujian wanita ini.


"aku sungguh minta maaf karena tidak ada di saat kalian terpuruk. aku berusaha untuk mencari keberadaan kalian tapi baru sekarang aku menemukan ibu mu"


"aku bahkan tidak tahu dimana mereka sekarang"


batin Maira.


sementara wanita paruh baya itu tidak mampu membendung air matanya.


"Tante sungguh prihatin dengan kondisi ibu mu. tante.."


Maira juga tidak kuat membendung air matanya melihat wanita paruh baya itu terisak.


"Mama sudah ya, kita istirahat ya"


entah sejak kapan Zia dan pria itu berdiri dibelakangnya.


"sini biar Tante yang bawa mama ke kamar"


pria itu hanya mengangguk dan mempercayakan Mamanya kepada mami Zia. sementara kedua suami itu memang sudah menghilang dari tadi. sekarang tinggal Zia, maira dan pria itu di ruang tengah. pria itu duduk di sofa seberang mereka, dia hanya memperhatikan Zia yang memeluk sahabatnya itu dengan erat.


"sudah Mai, kuatkan hati mu"


kata-kata Zia itu membuat Maira sadar, dia bahkan tidak mengerti apa yang membuatnya menangis dan begitu terluka saat ini. Zia melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Maira.


"kamu ada aku Mai"


"iya gue kuat kok"


kini sudah ada senyuman di wajah keduanya membuat pria itu sedikit lebih lega.


"udah dramanya?"


mendengar suara pria itu membuat Maira dan Zia sadar bahwa ada orang lain di ruangan itu.


"Di dia..."


"iya dia dokter Sem."


mulut Maira membulat sempurna.


"Lo masih kenal gue kan?"


"ya kenal dong."


dokter Sem hanya tersenyum menanggapi pengakuan Maira.


"ooo jadi yang Lo ceritain ke gue itu dokter Sem"


Zia mengangguk membenarkan kesimpulan Maira.


"ampun Mai, kenapa Lo ngak bilang dari awal. kan gue bisa sedikit lebih tenang"

__ADS_1


"gue ragu sih"


Zia menatap Maira dengan sinis..


"iya serius"


"masa? bukannya lo bakalan lebih kesal lagi sama gue?"


"ya paling ngak gue juga udah tahu keahliannya dokter Sem dibidang ini"


"Lo yakin percaya sama gue?"


dokter Sem yang sedari tadi hanya mendengarkan perdebatan mereka ingin ikut mericuh.


"ya iya. kompak ya berdua"


mereka berdua hanya saling melemparkan senyuman.


"oke, gue juga percaya sama Lo. karna itu malam ini gue bakalan lebih tenang ninggalin Zia, Karana udah ada Lo yang nemenin dia"


"oke aman"


Maira langsung menerima tugas yang diberikan oleh dokter Sem.


"gue pergi dulu"


dokter Sem meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.


"apa rencana lo"


"ya seperti yang gue bilang. gue bakalan nemenin Lo sambil nyelesain studi gue disini"


"bukan itu maksud gue"


"terus?"


"orang tua Lo mai"


maira hanya memutar bola matanya malas. dia memang selalu enggan jika berbicara tentang keluarganya.


"udahlah zi....."


"ngak. kali ini gue mohon dengerin gue"


Maira masih terlihat enggan untuk mendengarkan Zia dan meskipun Zia mengetahui itu untuk kali ini dia tidak akan memperdulikannya.


"Lo selama ini cuman menyimpulkan dari sudut pandang Lo aja. coba deh Lo temui mereka dan dengarkan ceritanya dari sudut pandang mereka .."


"apa lagi yang harus gue tanyain zi! alasan mereka ninggalin gue sendirian atau alasan mereka yang ngak datang kepemakamannya nenek? iya itu?"


Zia terdiam.


"Mereka biarin gue sendirian menghadapi cacian orang-orang Zi, sementara mereka


menghilang entah kemana. bahkan kabar duka nenek tidak sedikitpun menggerakkan hatinya untuk melihat jasad terakhir ibunya. gue harus memahami apa lagi?"


dada Maira terasa sesak. seketika rasa bersalah menghantui Zia, dia merasa seakan membuat luka Maira terkuak lagi. Mami yang sedari tadi memperhatikan keduanya langsung menghampiri dan mengelus lembut kepala Maira. Maira langsung memeluk Mami. sejak musibah itu mami Zialah yang menjadi tempat sandaran bagi Maira.

__ADS_1


"Maira ibu Sem ingin berbicara dengan mu"


sebenarnya dia enggan untuk berbicara dengan wanita paruh baya itu karna memang suasana hatinya tidak baik saat ini tapi demi menghargai mami dia harus menemui ibu Sem.


__ADS_2