
Alarm hp ynag berbunyi membuyarkan mimpi Zia. Dia membuka matanya dengan malas. Namun saat matanya terbuka dia melihat pria yang tak asing baginya dengan jarak yang sangat dekat.
"Aaaaaa......."
Zia mendorong razik sepenuh kekuatannya membuat raziq berguling dan jatuh kelantai.
"AA..AW duhhh.... Zia"
Zia menarik selimutnya, menutupi seluruh tubuhnya.
"Kamu ngapain?"
"Lo aku seharusnya yang nanya, kamu kenapa?"
Raziq mengerutkan keningnya melihat tingkah Zia yang merugikannya pagi ini. Melihat Zia yang terlihat ketakutan raziq terduduk lemah.
"Kenpa?"
Zia semakin takut melihat ekspresi raziq.
"Maaf"
Zia mengartikan maaf raziq dengan menyeramkan. Dia meremas selimutnya seakan menyalurkan ketakutannya.
"Tapikan zi kita suami istri yang sah kita tidak melakukan dosa"
Zia merasa kecut mendengar pengakuan raziq, yang bahkan dia sendiri tidak menyadarinya. Zia memeluk kakinya kemudian membenamkan wajahnya di sana.
Raziq berdiri dan mendekati Zia, dia mengelus-elus rambut lembut Zia.
"Zia istri ku hanya dengan kita tidur seranjang. Kita tidaklah melakukan hal yang salah"
Zia mengangkat kepalanya dan memandang raziq yang tengah mengulum senyum.
"Kamu fikir apa? Aku melakukannya. Ayolah zi kamu tidak semenarik itu untuk membuat ku lupa diri"
Dasar raziq, dia selalu berhasil menyakiti Zia dengan kata-kata nya.
Zia mengambil bantal dan melemparkannya kearah raziq yang berlari menuju kamar mandi. Meski sudah di kamar mandi raziq masih saja menikmati tawanya.
Zia tersenyum miris.
"Ah aku memang tidak semenarik itu karna kamu tidak mencintai ku"
*********
Untuk hari yang kedua mereka setia ditemani seorang tourget yang ganteng tapi tidak mengalahkan kegantengan raziq. Hari ini mereka disuguhkan dengan perjalanan kepulau dan menikmati indahnya lautan.
__ADS_1
Mereka terlihat begitu menikmati perjalanannya dan moment yang seharusnya untuk pasangan yang saling mencintai, bukan mereka.
"Mas kita kembali jam berapa?"
Kata raziq yang mulai lelah dengan perjalannya.
"Mas dan mbak tidak mau menginap disini?"
Zia dan raziq saling tatap.
"Ah tidak kita menginap di hotel yang kemaren saja"
"Apa tidak apa-apa karna hotel disini sudah kita booking sesuai pesanannya"
"Ngk ppa mas, batalin aja"
Sebenarnya ada kekecewaan di hati zia mendengar ungkapan raziq. Entah karna ia sudah dihipnotis tempat ini dan tidak ingin meninggalkannya atau ada hal lain.
"Baik mas jika itu keinginan mas dan mbak. Tapi kita harus kembali lebih awal, karna kapalnya berangkat siang ini"
" O iya ngak papa mas"
Zia mengangguk berat.
Seperti biasa selama perjalanan mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Raziq sibuk dengan korannya. Zia sibuk denga ponselnya, karna itulah perjalanan mereka terkesan membosankan.
Zia menghela nafasnya lelah. Dia bosan menatap layar handphone nya kini ia tujukan pandangannya pada langit biru. Dia terus menonton dua ekor burung yang tengah kejar-kejaran di udara.
"Uhum... Langitnya indah"
"Tapi entah kenapa terasa hampa"
Zia melirik raziq
"Mungkin karna kamu merindukan orang lain"
Raziq merasa tertampar dan melihat Zia. Ya raziq memang merindukan Syifa.
"Karna setiap tempat akan terasa indah jika dipandang dengan cinta"
ungkap Zia dengan makna tersirat.
Zia kembali menatap langit biru disana tapi sepasang burung itu telah menghilang.
********
"Sayang"
__ADS_1
Zia langsung putar arah mendengar panggilan seseorang terhadap raziq.
"Eh hai"
Raziq berusaha mencari Zia yang tadiengikutinya di belakang tapi Zia begitu gesit untuk menghilang.
"Kamu kok disini sayang?"
"Penerbangan kita kesini hari ini dan aku kembali terbang lagi lusa"
"O gitu"
Bertambah sudah beban raziq.
"Gimana bro liburannya?"
"Prass lo ikutan kesini?"
"Lah kalo gue ngak ikutan pesawatnya siapa yang bawa?"
Prasetyo nunggraha, dia selalu dipanggil pras. Sahabat baik raziq sejak mulai SMA. Waktu SMA raziq dan Zia bertemu banyak teman dan diantara mereka ada Maira, Syifa, Prasetyo dan juga Adit. Sayangnya persahabatan mereka hanya sebentar karna melibatkan perasaan di dalamnya. Bahkan persahabatan Zia dan raziq yang dipupuk semenjak kecil pun ikut hancur.
"sayang kamar kamu dimana?"
"OOO kamar ku, kamar ku. Sayang biar aku yang pesankan kamarnya ya, kamu duduk disini aja"
Syifa hanya manggut dengan titah raziq.
"Sayang kamar di lantai atas udah penuh jadi aku pesanin kamar yang ada aja, ngk papa kan?"
"Iya ngak papa, ke kamar ku dulu ya"
"Eh hati2 yg belum mahrom ngak boleh berduaan"
Pras menimpali
"Kamu ikut aja biar kita ngak berdua"
Razik menyadari kebenaran yang dikatakan parss
"Boleh"
Terlihat jelas rasa tidak suka di wajah Syifa. Tentu saja tidak suka yang tengah dilanda rindu dengan kekasihnya.
*******
"Sayang......"
__ADS_1
Zia berbalik mendengar seseorang memanggil raziq, dia berusaha agar tidak terlihat oleh Syifa. Belum melangkah jauh Zia dihentikan oleh seseorang. Bak tertangkap basah, Zia merasa mati kutu karna melihat ummi berada dihadapannya saat ini. Firasatnya berkata ummi sudah tau kedok mereka. Ummi berusaha menarik tangan Zia untuk menemui raziq tapi zia menolak dan berasaha menahan ummi.
Seperti disidang seperti itulah yang dirasakan Zia yang kini duduk berhadapan dengan ummi di kafe hotel itu.