9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
tidak seharusnya berharap


__ADS_3

Mereka masih saling berpelukan, seperti teletabis. Maira selalu bisa menjadi pendengar yang baik untuk Zia. Dia hebat dalam menasehati tapi tidak untuk dirinya sendiri. Bahkan dia gagal dengan kisah cintanya dan kegagalan itu membuahkan luka yang masih berdarah sampai hari ini. Orang yang paling paham lukanya maira adalah Zia, tapi Zia tau betul sahabatnya yang satu ini paling tidak suka dikasihani. Maira lebih suka memendamnya dari pada harus mengobatinya, itulah kesalahannya sampai saat ini. Kesalahan yang membuat dia terus menutup hati terhadap pria.


"Lalu kamu Mai, bagaimana dengan kebahagiaan mu?"


"Kebahagiaan ku?"


Maira melepaskan pelukannya dan pura-pura tidak mengerti.


"Ya kebahagiaan mu, kamu Pasti paham maksud ku"


Maira tersenyum berat dan sedikit menggeleng. Entah gelengan itu pertanda ia tidak tau atau maira sungguh tidak ingin membahasnya lagi.


"Kalian itu sebenarnya tidak jauh hanya saja enggan untuk saling bertemu. Ayolah jangan saling menghindar seperti ini, luka dihati kalian masing-masing itu harus disembuhkan"


Terlihat jelas rasa tidak suka diwajah maira, seperti itulah ekspresinya setiap kali Zia membahas masalah hatinya, karna itulah Zia sangat jarang membahas hal ini.


"Permisi dokter ada yang ingin bertemu dengan dokter Zia"


Maira menarik nafasnya lega.


"Siapa?"


"Seorang pria dok"


"Suruh masuk aja"


Putus maira. Tentu dia ingin seseorang menyelamatkannya saat ini. Suster masih memandang ragu sampai akhirnya Zia menganggukkan pertanda ia setuju. Tidak lama setelah suster itu pamit pria yang mencari Zia pun muncul. Zia dan maira cukup terkejut dengan kehadirannya.


Dia terlihat keren dengan baju kasualnya. Wajah tampannya tidak luntur sama sekali meskipun seragam pilotnya telah ia lepas.


"Katamu, kamu hanya punya jadwal praktek setengah hari"


Zia hanya mengangguk, sementara maira memberikan senyuman yang sulit diartikan.


"Aku ingin menjemput mu dan mengajak mu makan diluar"


Zia semakin bingung karna untuk pertama kalinya razik menyisihkan waktu di akhir pekannya untuk Zia.


"Wooowww akhirnya kalian menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya"


Maira menepuk tangannya dengan penuh semangat, bahkan ia lebih semangat dari pada sahabatnya itu. Binar dimatanya itu menunjukkan betapa ia sangat bahagia melihat hubungan sepasang suami istri itu.


"Apaan sih"


Kata Zia canggung.


"Boleh aku bawa sahabat mu ini Mai?"


"Oh ya tentu, tapi dengan satu syarat"


Razik dan Zia melirik maira penasaran.


"pastikan dia selalu bahagia"


"Oh ya pasti. Itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab ku"


Maira memberikan jempol untuk jawaban razik. Entah itu sebuah lelucon untuk razik, tapi bagi Zia itu sebuah janji yang ingin dipercayai oleh Zia.


Dia melirik razik dengan hati yang berdebar, senyuman pria itu terasa begitu indah untuknya.


"Ayo dokter Zia"


Zia tersenyum simpul saat razik menggenggam tangannya. Pipi Zia yang merona membuat maira yakin kalau sahabatnya itu sedang bahagia saat ini.


Banyak mata yang tertuju kepada razik dan Zia, tidak ada yang salah pada mereka hanya saja genggaman tangan mereka yang begitu erat membuat para jomblo menjadi cemburu. Memang tidak ada yang berani mendekati Zia sampai saat ini tapi bukan berarti tidak ada yang menyukainya. Beberapa dokter ataupun perawat yang lajang selalu mengincar Zia. Bukan hanya karna dia kaya ataupun cantik tapi sifat dan agamanya juga baik, hanya saja sifat dingin dan cueknya membuat para pria enggan untuk mendekatinya, mereka merasa sulit untuk menggapai Zia. terlebih lagi Zia memang cukup tertutup terhadap pria.

__ADS_1


"Hai dokter Zia"


Zia hanya tersenyum dan sedikit mengangguk.


Dokter Sem seorang dokter spesialis kandungan, dia salah satu dokter lajang yang selalu mengincar Zia, tapi ya begitulah Zia dia tidak akan terlalu menanggapi pria. Anggap saja razik beruntung dilirik oleh Zia. tiba-tiba Zia merasa nuansa di dalam lift begitu horor. tatapan tajam razik dan juga lirikan penuh tanda tanya dokter Sem membuatnya merasa kikuk.


"Mau pergi makan siang?"


"Iya"


Jawab razik dengan senyum mengembangnya tapi menurut dokter Sam ada kejahilan disana.


"Mau makan dimana DOKTER ZIA?"


Dokter Sam sengaja menekan nama Zia disana berharap Zia yang menjawabnya, Zia sadari itu dan berniat untuk menjawabnya tapi langsung dipotong oleh razik.


"Belum tau"


Tentu dengan sikap sok imutnya, Zia tersenyum geli melihat sikap razik. Lain halnya dengan dokter Sam yang semakin kesal melihat tingkah razik, menurutnya itu justru menjengkelkan.


"Kamu siapa sih"


Kata dokter Sam dengan wajah kesalnya.


"Saya?"


Tanya razik dengan polosnya


"Iya kamu?"


"Saya seseorang yang spesial untuknya"


Ada rasa puas dihati razik melihat ekspresi kekalahan di wajah pria itu. Sementara Zia berusaha mengulum senyumnya melihat tingkah kekanakan diantara kedua pria ini.


"Ayo sayang liftnya sudah terbuka"


"Permisi dokter Sem"


Dokter Sem hanya terpaku melihat kepergian keduanya, hatinya begitu perih seakan cintanya kini dipisahkan oleh seseorang.


Dari lobi hingga parkiran Zia merasa bangga melihat wajah cemburu razik. Dia terus tersenyum bahagia melihat wajah cemburu suaminya itu.


"Kenapa senyum-senyum?"


Kata razik dengan wajah kesalnya.


Zia masih saja memandangi razik yang sibuk memasang safety belt nya.


"Kenapa sih?"


"Mas cemburu ya?"


"Aku? Cemburu? Huh enggak"


Zia masih saja tersenyum


"Aku ngak cemburu kok"


Kata razik lagi ingin menegaskan


"Iya deh iya"


Razik terus mengemudikan stirya tapi tetap tidak bisa fokus dengan tuduhannya Zia.


"Aku beneran ngak cemburu kok"

__ADS_1


Zia hanya mengangguk dengan wajah mengejeknya.


"Buat apa juga aku cemburu. Ingat Lo ya aku ngak cemburu"


"Iya mas"


Zia hanya mengiyakan karna tidak ingin berdebat dengan suaminya yang tidak mau kalah ini. Namun razik tetap tidak puas dia masih berusaha ingin menegaskan namun langsung dipotong oleh Zia.


"Iya mas aku percaya kamu ngak cemburu. Sekarang fokus sama jalannya ya"


Razik menarik nafasnya kesal.


*************


Setelah melewati jalanan yang padat dan beberapa lantai mall ini Zia akhirnya bisa mengisi perutnya yang kosong. Selama perjalanan sampai makanannya habis Zia terus bertanya kenapa razik malah membawanya ketempat ini.


"Gimana makanannya? Enak?"


Zia mengangguk


"Iya mas tau aja selera ku"


"Iya donk, kalo ngak sia-sia aja aku kenal sama kamu seumur hidup"


"Seumur hidup?"


Kening Zia tampak mengernyit


"Iya aku kan kenal kamu mulai zaman orok sampai zamannya kita bobrok"


Zia tersenyum geli sesaat kemudian ia tersenyum miris. Entah apa yang di fikirkannya.


"Hingga zaman goblok nya kan?"


"Hum?"


Razik menatap Zia tidak mengerti, senyumannya yang tadi terlihat begitu bahagia mulai memudar. Kenangan pahit membuat kenangan dulu yang indah terasa hambar. Keduanya saling menatap tidak mengerti. Tidak mengerti jalan hidup seperti apa yang sedang mereka hadapi dan yang akan mereka hadapi nanti.


Seketika suara dering handphone razik membuat pandangannya teralihkan. Razik segera mengangkatnya dan Zia tentu tau siapa wanita yang diberi panggilan "honey" tersebut. Sekilas ada rasa tidak terima dihati Zia, bahkan dari panggilannya saja menggambarkan betapa berartinya wanita itu untuk razik. Namun Zia tidak bisa dengan posesif melarang razik untuk tidak berhubungan dengannya, karna Zia juga sudah berjanji akan memberinya waktu selama satu bulan.


"Ya hai, Syifa kamu kenapa?"


"........."


"Kamu sakit? Udah minum obat?"


"........"


"Oke kamu istirahat dulu nanti aku kesana, oke"


Mata Zia membulat seketika, ah ya dia cemburu lagi-lagi rasa memiliki ini tidak bisa dia kuasai tapi apalah daya jika yang didapatkan saat ini belum bisa dimiliki seutuhnya.


"Oke bay"


Razik mengakhiri panggilannya dan melirik Zia dengan rasa bersalah.


"Kenapa Syifa sakit ya?"


"Iya nih. Sebentar ya Zi aku ke toilet dulu"


Zia hanya mengangguk. Tadinya Zia berfikir razik tidak benar-benar meninggalkannya tapi dia sudah menunggunya cukup lama dan razik tidak juga kembali. Beberapa meja disekelilingnya sudah mulai bertukar pelanggan. Zia menarik nafasnya dengan berat dan perih, ada luka disana.


"Kamu benar-benar meninggalkan aku zik"


Dengan berat hati Zia meninggalkan restoran. Zia tidak lagi sanggup untuk berjalan dadanya yang sesak membuat kakinya menjadi lemas. Zia memutuskan untuk berhenti di kursi santai yang disediakan di plataran mall. Dia berusaha sekuat mungkin menahan air matanya, beberapa kali dia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya kasar.

__ADS_1


Tiba-tiba seseorang datang mengulurkan sebuah sapu tangan untuknya. Zia sangat kaget saat ia mengangkat kepalanya, tapi pria itu malah tersenyum, senyumannya itu malah membuat hati Zia semakin sesak, dia tidak mampu lagi membendung air matanya. Zia sungguh menumpahkan kekesalan yang ia bendung sejak tadi.


__ADS_2