
Zia begitu setia memandangi maira yang menyantap lahap makanan yang ia bawakan. ya matanya tertuju kepada maira tapi mata itu kosong, menerawang entah kemana. maira yang melihat itu merasa kesepian, karna itu rasa usilnya pun kambuh.
prakkkk.....
Zia terperanjat kaget danemandang maira penuh tanda tanya.
"sorry..sorry....tadi gue liat ada nyamuk"
"nyamuk apanya, lo usilkan. jantung gue hampir copot tau ngak"
"kalo jantung lo copot mustahil lo hidup sekarang"
kata maira dengan sedikit berbisik tapi cukup jelas untuk Zia. maira mengabaikan pandangan kesal Zia dan melanjutkan makannya.
"ada apa lagi sih Zi?"
"gue tadi liat razik makan malam bareng temen-temen nya"
"ya habisnya lo ngak mau sih makan bareng dia, ya wajar dong dia makan malam bareng teman-teman nya"
"bareng Syifa"
maira berhenti mengunyah makanannya, mulutnya seakan enggan untuk mengunyah.
"tadi juga pas dibandara gue liat dia berpelukan dengan Syifa"
maira menelan paksa makanan yang dimulutnya, rasa makanan itu tiba-tiba menjadi hambar.
"apa razik masih cinta ya dengan Syifa? apa gue yang sebenarnya orang ketiga disini?"
"tanyain langsung ke raziknya Zi"
Zia terdiam, dari helaan nafasnya yang berat terlihat hatinya begitu sakit saat ini.
"Lo tau ngak zi selama gue putus sama dia hal yang paling gue sesali adalah menghindarinya. gue awalnya merasa berat untuk menemuinya dan menyatakan permasalahan yang ada karna, gue takut, gue takut kita terluka. akhirnya tanpa gue sadari gue menjadi terbiasa untuk menghindar. sekarang gue sadar justru karna gue menghindar makanya kita semakin terluka. luka itu terus berjalan tanpa ada jalan keluar dan tanpa ada akhirnya"
Zia menggenggam tangan maira. dia paham makna dari ungkapan sahabatnya itu.
saat keduanya saling menguatkan tiba-tiba handphone Zia berdering.
"ya halo. baik saya segera ke sana"
maira memandangi Zia dengan kepo tingkat tinggi
__ADS_1
"ada pasien, korban kecelakaan"
"oke"
maira langsung berdiri siap siaga dan mengikuti Zia ke IGD. sampainya disana Zia dan maira menjalani tugas masing-masing. Zia langsung disambut dan dibawa ke ranjang salah satu pasien. sambil berjalan suster menjelaskan kondisi pasien.
"untuk sementara tidak ada tanda-tanda luka parah dok. pasiennya juga sadar dan tekanan darahnya juga normal"
Zia mengangguk.
"maaf permisi kak saya cek sebentar"
pasien yang kesakitan hanya mengangguk sedikit.
"coba angkat kaki kanannya kak"
wanita itu mengikuti perintah Zia
"kaki kirinya"
wanita itu pun mengangkat kaki kirinya dan terlihat normal.
"tangan kanannya"
wanita itu meringis kesakitan. setelah memeriksanya, Zia memberikan catatan kepada suster, berisi obat yang akan diberikan untuk pasien.
"kakak istirahat dulu, sebentar lagi perawat akan memberikan kakak obat"
"saya ngak papa kan dok"
Zia tersenyum, untuk memberikan kehangatan kepada pasien.
"dugaan kami sementara tangan kanan kakak keseleo, magh kakak kambuh karna pengaruh syok pasca kecelakaan dan karna itu juga kakak sedikit demam. untungnya tidak da cidera serius dan Insya Allah jika semuanya baik-baik saja kakak bisa pulang dalam dua hari ini"
"terimakasih dok"
"sama-sama, saya permisi dulu"
wanita itu hanya tersenyum.
Zia meninggalkannya bersama suster yang mendampingi Zia.
"walinya ngak ikut sus?"
__ADS_1
"tadi ada suaminya dok, tapi tadi kita meminta wali untuk menyelesaikan urusan administrasi. karna pasiennya akan dirawat"
"oke, nanti kalo walinya datang beritahu saya supaya bisa saya jelaskan ke walinya"
"baik dok"
"o iya sus korban kecelakaannya berapa orang?"
"sepertinya empat orang dok tapi yang luka cukup parah hanya dua orang"
"terus yang dua orang lagi?"
"saya lihat para suami baik-baik saja dok, oh ya ada satu orang, ada luka ditangannya dan satunya lagi saya kurang perhatikan dok. soalnya tadi cukup heboh, suaminya pasien yang satu lagi histeris karna istrinya tidak sadarkan diri"
"o gitu. jangan lupa pesan saya ya sus"
sang suster hanya mengangguk. zia masih menunggu maira di meja resepsionis sambil menunggu wali pasien.
"gimana mai?"
"gue serahin ini ke dokter Kevin dulu ya"
Zia henya mengguk. tidak lama, maira datang menemui Zia lagi kali ini dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Lo kenapa Mai?"
"lo tau ngak yang di dalam itu siapa?"
maira menunjuk tirai sebagai pembatas antara satu pasien dengan pasien lainnya.
"Syifa Zi"
Zia menegang, bagaimanapun juga dia tetap merasa ada ikatan dengan nama itu. segala bentuk kekhawatiran menjalar di fikiran Zia.
"dok suami para pasien sudah datang"
terlihat dua pria yang mengikuti sang suster dari belakang.
"suaminya pasien yang satu lagi histeris karna istrinya tidak sadarkan diri"
melihat para pria itu Zia ingat kembali keterangan yang diberikan sang suster tadi.
Zia merasa begitu geram melihat pria yang dihadapannya ini. amarahnya begitu bergemuruh tapi tetap harus ia tahan, pada akhirnya setetes air mata mengalir dari celah mata Zia. pria itu menegang dan sang suster kebingungan, sementara maira menggenggam erat tangan Zia.
__ADS_1
karna bagaimanapun juga maira bisa merasakan yang tengah dirasakan Zia saat ini.