
sebuah senyuman terus menghiasi wajah tampan Razik, para wanita yang ia lewati terpesona dengan senyumannya bahkan ada juga yang kebingungan melihat tingkah Razik yang terlihat ber bunga-bunga. bagaimana tidak, bagi rekan kerja Razik dia adalah pria tampan yang pelit dengan senyuman terlebih lagi dengan perempuan. satu-satunya perempuan yang bisa membuatnya sebahagia ini adalah Syifa, sekarang tempat itu telah digantikan dengan Zia.
Tapi bukan berarti semua sudah selesai, karna masalah tetap lah masalah jika belum di selesaikan. Dan masalah cinta bukanlah masalah se simple itu untuk di abaikan.
"sayang...."
handphone Razik terjatuh dari genggamannya saat seorang perempuan berusaha menggandeng tangan Razik. Dia terkejut saat
ia dapat mengetahui perempuan itu adalah Syifa. Razik bahkan tidak menyadari sudah dua bulan lebih Syifa menghilang dari kehidupannya dan sekarang dia tiba-tiba kembali dengan tingkah anehnya.
"lepasin...."
Razik berusaha melepaskan tangan Syifa, namun tidak semudah itu seakan ia tidak ingin dan tidak akan melepaskan Razik.
"kamu ngak kangen sama aku? udah lama Lo kita ngak ketemu"
"apa-apaan sih. lepasin"
"uuummmm ngak mau...."
Syifa terus menggelayut manja di lengan Razik.
"lepasin Syifa, nanti orang-orang salah paham"
Razik mulai risih saat menyadari beberapa pasang mata memandangi mereka.
"biarin, Kitakan sering kayak gini. orang-orang juga tahu kalau kita pacaran"
"kamu gila ya"
Suara Razik meninggi, dia sudah hilang kesabaran menghadapi Syifa. dengan sepenuh kekuatannya Razik akhirnya berhasil melepaskan genggaman Syifa.
Dia meninggalkannya dengan penuh kekesalan. Syifa hanya tersenyum licik melihat punggung Razik yang semakin menjauh.
"ooowhhh jadi kamu beneran mau ninggalin aku? oke, kita lihat nanti kamu bakalan bisa ninggalin aku atau ngak. aku akan melakukan segala cara buat dapatin kamu"
...***************...
Razik semakin pusing dengan tingkah Syifa yang semakin gila. semakin hari tingkahnya semakin aneh. Dua hari yang lalu Syifa memasuki mobilnya tanpa izin.
Flash back on
"yok sayang kita pulang"
Razik yang baru ingin menghidupkan mobilnya langsung terdiam.
"apalagi yang akan dia lakukan kali ini?"
batin Razik.
__ADS_1
"kok masih diam aja, ayo dong kita pulang. aku pengen istirahat, capek banget nih"
Razik menarik nafasnya berat, dia berusaha memikirkan cara apa yang bisa dia pakai untuk mengusir Syifa dari mobilnya.
"ayo dong sayang, liat aku keringatan nih"
Syifa membuka satu kancing bajunya memperlihatkan dada putihnya yang mempesona. Razik menelan salivanya dan cepat-cepat mengalihkan perhatian. tanpa fikir panjang Razik langsung keluar dari mobilnya, Syifa yang melihat itu juga ikut keluar dan mengekor Razik.
"Razik...."
Syifa berhasil meraih tangan Razik dan menghentikan langkahnya namun segera ditepis olehnya.
"apalagi yang kau inginkan?"
"seharusnya aku yang bertanya, kamu ingin aku bagaimana supaya bisa memperbaiki hubungan kita lagi?"
Razik menatap tajam Syifa.
"move on Syifa, hubungan kita sudah berakhir"
"tidak semudah itu"
"aku sudah punya istri....."
suara Razik meninggi.
"istri yang kau nikahi secara terpaksa"
"sekarang aku mencintainya"
seperti sembilu, kata-kata yang baru saja di ungkapkan Razik seperti sembilu yang mengiris hati Syifa, dia mengangkat kepalanya dan menatap Razik tajam seakan meminta kepastian bahwa itu memang keluar dari mulut Razik. Razik mendekat dan mengatakannya sekali lagi dengan sangat tegas.
"Aku mencintainya. Aku sangat mencintainya"
Flash back off
"mas"
"ya?"
lamunan Razik buyar
"ada masalah?"
Razik terdiam, seketika dia sempat berfikir untuk memberitahu Zia tingkah Syifa yang semakin aneh namun ia urungkan kembali. bukan karna tidak ingin berbagi tapi kondisi Zia akhir-akhir ini sangat lemah. dia sering sakit dan mudah lelah dan dia sungguh tidak ingin menambah beban Zia lagi. akhirnya Razik hanya menggeleng.
"yakin?"
"iya sayang yakin"
__ADS_1
Zia hanya mengangguk, meskipun begitu dia tetap curiga Razik tengah ada masalah, hanya saja dia tidak bisa memaksa suaminya itu untuk berbicara.
"yaudah, kalo gitu makanannya jangan di anggurin aja dong"
"oh iya"
masakan Zia seperti pupuk bagi cinta Razik, hatinya selalu berdebar dan dipenuhi rasa syukur saat ia bisa memakan masakan istrinya. dia bersyukur tidak melanjutkan rencana bodohnya dulu.
"tapi mas mobil mas dimana?"
Razik hampir lupa mobilnya telah ia tinggalkan di bandara karna begitu kesal dengan tingkah Syifa.
"oh itu, mobilnya kemaren mogok jadi aku tinggalin di bandara"
"o gitu. yaudah aku antarin aja ya mas"
"oke, habis ini kita berangkat bareng ya"
Zia mengangguk mengiyakan ajakan Razik. dia semakin semangat mengunyah makanannya, karna Zia selalu mendambakan ini, mengantar atau diantar kerja oleh suaminya.
seperti yang mereka rencanakan, Zia mengantar Razik ke bandara. Dia selalu bangga melihat Razik memakai seragamnya seperti Razik yang bangga melihat Zia saat melakukan pekerjaannya.
seperti jatuh cinta kembali, begitulah yang mereka rasakan. berat baginya untuk meninggalkan Zia bahkan sedetikpun.
"Lo.....kenapa masih diam, ayo sana nantimas terlambat lagi"
Razik tersenyum, dia sadar dirinya tengah dimabuk cinta saat ini.
"oke aku pergi, dah"
Razik melambaikan tangannya dan dibalas dengan lambaian oleh Zia, kemudian ia melangkah menjauh. tapi tiba-tiba langkahnya terhenti dan berbalik lagi, dia masih mendapati Zia di belakangnya dan masih dengan senyum manisnya. Razik melambaikan tangannya lagi, Zia masih saja membalas lambaian itu. dua langkah setelahnya Razik berbalik lagi, ah begitu berat magnet cinta diantara keduanya, Zia tersenyum lebar melihat Razik yang bertingkah aneh dan manja pagi ini. zia membalas lambaian tangannya dengan pengusiran. Zia menggunakan tangannya untuk menyuruh Razik pergi tapi tetap saja Razik tidak ingin berbalik. Akhirnya Zia yang mengambil keputusan dan berbalik,
saat ingin memasuki mobilnya, tiba-tiba Razik sudah memeluknya dari belakang. Zia ingin berbalik tapi ditahan oleh Razik.
"biarkan aku memeluk mu sebentar saja"
"tapi mas"
"lima menit, hanya lima menit"
Zia mengurungkan niatnya untuk melepaskan pelukan Razik.
"sayang"
"ummm..."
"kamu masih ingatkan yang aku katakan?"
Zia berfikir, kata-kata mana yang harus dia ingat.
__ADS_1
"aku tidak akan pernah meninggalkan mu, meskipun kamu berusaha untuk menjauh. bahkan jika kamu berpaling, aku akan terus mengejar mu dan meyakinkan mu. kecuali jika kamu terluka saat bersama ku, maka aku akan mengiklaskan mu dengan orang yang bisa membuat mu bahagi"
Zia tertegun mendengar ucapan Razik, seakan suaminya itu bisa membaca niatnya.