
Sudah 3 kali Razik menghubungi Prass tapi tak kunjung di angkat. tidak selang berapa lama Prass menghubunginya kembali dengan sigap Razik langsung mengangkatnya.
"bagaimana?"
"maaf, belum ketemu. gue udah tanya Maira dan juga staf rumah sakit yang lainnya tapi tetap tidak ada yang tahu. gue juga udah kerumahnya dan Zia tetap ngak disini"
seperti frustasinya Prass seperti itulah frustasinya Razik mendengar kabar dari sahabatnya itu.
seketika badannya melemah, jalannya terasa buntu dan kini dia bingung harus mencari Zia kemana.
"Zia kamu kemana? aku mohon kembalilah"
Razik terus melihat foto di galerinya. tiba-tiba sebuah foto seakan memberikan titik terang untuknya.
"Adit"
gumam Razik sambil berfikir. dengan cepat Razik mengambil kunci mobilnya dan menuju tempat yang tengah ia fikirkan. sepanjang jalan Razik berdo'a agar bertemu dengan Zia disana. Tempat itu biasanya tempat pelarian Zia. kali ini dia juga berharap Zia ada disana.
ya tempat itu adalah panti asuhan yang membesarkan Adit.
Razik masih berjalan sempoyongan, mencari seseorang yang mungkin ia kenali.
"Razik?"
dan dia menemukannya, wanita paruh baya yang mereka panggil dengan sebutan bunda, ibu Adit.
"bunda?"
Razik menyalaminya, bunda yang merasa tangannya panas merasa khawatir.
"hei kamu...."
bunda menyeka kening Razik dengan punggung tangannya.
"dengan?"
terlihat jelas dari raut wajahnya kekhawatiran bterhadap Razik.
Razik hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
"cuman sedikit bunda"
"sedikit. panas begini sedikit?!"
Razik menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"sini duduk dulu"
Razik mengikuti titah bunda dan duduk di bangku kayu yang ada di bawah pohon rindang di depan panti asuhan itu.
"apa yang membawa mu kesini malam-malam begini?"
"uumm ini bunda Razik mau tanya barangkali Zia ada disini atau pernah kesini dua hari yang lalu"
__ADS_1
"tidak. tidak ada"
pupus sudah harapan Razik.
"memangnya ada apa dengan Zia kenapa kalian mencari Zia?"
kening Razik mengerut. kalian, siapa lagi yang mencari Zia kesini selain dia?
"kalian?"
"iya. Syifa juga mencari Zia kesini"
"Syifa?"
"iya Syifa. Itu dia masih ada di dalam"
bunda menunjuk ke teras panti. terlihat dia bermain dengan anak-anak panti.
"UM maaf bunda apa bisa Razik bicara dengan Syifa sebentar?"
"iya bisa. sebentar ya bunda panggilan Syifa nya"
tidak lama Razik menunggu, Syifa sudah ada di hadapannya. Syifa berjalan dengan perlahan, seperti maling ditangkap pemiliknya seperti itulah Syifa menatap Razik saat ini. dia tidak ingin membuat Razik marah lagi. tp mau bagaimana lagi tatapan kebencian sudah terlanjur tertanam di mata Razik.
"apalagi yang ingin kamu lakukan?"
"aku...."
rasa bersalah membuat Syifa grogi untuk berhadapan dengan Razik.
"cuman apa?"
Razik berdiri dengan tatapan tajamnya membuat Syifa semakin merasa terpojok.
"cuman mau memastikan agar aku dan Zia tidak bisa bertemu lagi, iya?"
Syifa menggeleng. Tentu Syifa bukanlah orang yang mau ditindas dan dia tidak tahan dengan pandangan buruk.
"stop semua tuduhan mu ya Razik. aku cuman ingin menebus rasa bersalah ku dengan menemukan Zia makanya aku datang kesini. seperti kamu yang berfikir mungkin Zia ada disini makanya aku juga kesini. Tapi ternyata kita sama-sama kecewa"
"kecewa"
Razik tertawa miris mendengar perkataan Syifa, sungguh tidak satu katapun yang bisa Razik percaya.
"sudahkah Syifa, sudah muak dengan permainan mu"
ada rasa sakit di hati Syifa saat dia sadar kepercayaan untuknya sudah tidak ada lagi. Rasa sesak di dadanya hanya mampu ia telan karna semua yang ia peroleh saat ini adalah hasil perbuatannya sendiri.
Tiba-tiba Razik merasakan pusing dan mual, hampir saja tubuhnya amruk, Syifa yang menyadari itu langsung menopang Razik.
"kamu ngak papa?"
Razik masih saja jual mahal dan melepaskan tangan syifa dari lengannya.
__ADS_1
"lepas"
dia berjalan sempoyongan ke arah mobilnya. Syifa yang melihat itu tentu tidak tinggal diam dan langsung menghampiri Razik. Tanpa persetujuan dari Razik dia memasukkan Razik ke kursi penumpang dan membawanya untuk pulang. kini ia tidak mampu lagi untuk menolak pertolongan dari Syifa. kepalanya yang pusing menandakan badannya yang semakin lemah.
Syifa langsung menghubungi Prass karena yakin dia pasti butuh bantuan saat ini.
Prass: halo
Syifa : halo, Prass Lo dimana?
Prass : gue masih di Bandung. kenapa?
Syifa : dibandung? astaga gue butuh bantuan Lo sekarang.
Prass : ada apa? Zia ketemu?
Syifa : ini bukan tentang Zia. tapi Razik.
Prass : kenapa dengannya?
Syifa : tadi gue ketemu Razik di panti asuhan, trus tiba-tiba dia hampir pingsan gitu. gue harus bawa dia ke rumah sakit ya?
Prass : jangan. kerumah aja biar lebih gampang ngerawatnya. Lo jalan aja ke apartemen nya Razik nanti gue nyusul. ini gue juga udah mau nyampai di Jakarta kok ya!
Syifa : oke
Syifa langsung menancap gas mobil Razik menuju apartemen nya. tapi sayang dia bukanlah pengemudi yang handal sehingga cukup memakan waktu baginya untuk sampai ke rumah.
sampainya di Apartemen Razik Prass memang sudah menunggu di sana. Tidak disangka dia sampai lebih dulu dagi pada Syifa.
"Razik mana?"
Syifa menunjuk bangku penumpang dan segera di buka oleh Prass.
Prass langsung menggendongnya di punggungnya. Untung badan Razik proporsional sehingga tidak sulit bagi Prass untuk membawanya ke lantai atas.
tidak lama setelah mereka membringkan Razik di kamar, dokter langsung datang karena sudah di hubungi oleh Prass sebelumnya. Razik di berikan infus dan suntikan dan juga beberapa obatan yang harus dia minum.
"demamnya tinggi, perutnya juga kosong. usahakan untuk memaksanya makan nanti dan jangan lupa untuk mengompres nya supaya panasnya mereda"
"terima kasih dok"
Prass mengantar dokter itu sampai ke depan.
Malam ini Syifa dan Prass kembali menjaga Razik. Prass tidur di sofa kamar sementara Syifa duduk di samping ranjang Razik. bahkan dia tidak tahu kapan dia tertidur hanya saja dia terbangun saat mendengar lenguhan dari Razik. dan saat Syifa bangun dia juga tidak dapat melihat Prass di sofa, Syifa jadi bingung menghadapi RaziK. dia takut kalau-kalau Razik bertambah marah kepadanya. Tapi ternyata di luar dugaan.
"terima kasih"
Syifa mengulum senyumnya.
"iya sama-sama. kamu makan dulu ya biar aku cari makan ke bawah"
Razik hanya mengangguk.
__ADS_1
Syifa mengambil dompetnya dan berniat untuk mencari orang yang menjual bubur di kafe bawah tapi saat dia membuka pintu kamar sudah ada dua orang yang melihatnya dengan mata yang tajam. keduanya terlihat syok, bahkan wanita itu terduduk lemas di sofa.