
Mimpi yang indah berlalu begitu saja. Mimpi yang aneh tapi terasa indah baginya. Mimpi yang membekas kan senyuman di bibirnya saat ia tersadar.
"Bisa-bisa nya aku bermimpi begitu"
Batin razik.
Razik berbalik dan berharap melihat wajah yang tadi mampir ke alam bawah sadarnya. Tapi sayang yang ia temukan hanya bantal guling yang sudah tidak bertuan.
"Kemana dia?, Zi...."
Tidak ada jawaban. Razik melirik jam, masih sangat dini untuk keluar.
"Mungkin dia mandi" batinnya.
"Zi kamu di kamar mandi kan?"
Masih tidak ada jawaban. Perlahan rasa khawatir menyusup kedalam hatinya.
"Kenapa akhir-akhir ini kamu suka sekali menghilang Zi?"
Razik bangkit dari ranjangnya dan terkejut saat melihat dirinya tidak dibalut benang sehelai pun. Dengan sigap razik menarik selimut untuk membalut dirinya.
"Astaga apa yang sudah terjadi, apa Zia memperkosa ku?"
Bisa-bisa nya dia memikirkan hal sebodoh itu. Seluruh badannya terasa tegang, dia berfikir keras untuk mengingat yang terjadi semalam. Badannya lebih tegang saat beberapa memori muncul menyadarkannya.
"Jadi...ah sial jadi itu bukan mimpi"
Dia tersadar kerja gila yang dia lakukan semalam bukanlah mimpi melainkan keinginannya yang harus di penuhi oleh Zia. Entah apa yang ia rasakan saat ini, yang pasti ia takut hal itu menyakiti Zia.
Razik membersihkan dirinya dan setelahnya melaksanakan sholat subuh. Setelah memenuhi kewajibannya razik bergegas untuk mencari Zia.
Meski Zia bukan wanita yang berhijab razik tau betul Zia seorang yang religius, tidak sekalipun Zia meninggalkan sholat fardhunya bahkan sholat sunat pun ia lakukan sebisanya. Karna itu razik berusaha mencari Zia di mesjid dekat hotel yang mereka tempati, tapi tetap saja tidak ia dapati Zia disana. Razik berusaha mencari Zia di sekitar hotel, bahkan ia bertanya kepada resepsionis jika ada Zia menyewa kamar tapi tetap tidak ada petunjuk yang bisa ia temukan.
Tanpa ia sadari, razik sudah berkeliling selama 3 jam tanpa menghasilkan apapun.
"Zi kamu kemana sih?"
Razik menghela nafasnya penuh frustasi.
"Hei bro"
"Eh ya hai"
Prass bisa merasakan kegundahan dari wajah sahabatnya itu.
"Lo mau berangkat lagi ya?"
Dengan pakaian lengkap ala pilot razik bisa tau kemana sahabatnya ini akan pergi.
"Iya nih, berkat Lo jadwal gue Minggu ini padat banget"
"Maklumlah pengantin baru"
"Iya deh, nanti juga bakalan ada masanya lo yang diposisi gue"
"Iya pastinya"
Razik tetap tersenyum berusaha menyembunyikan kegundahannya.
"O ya have fun ya bareng Zia, soalnya Syifa juga bakalan ikut gue hari ini. Kita balik ke Jakarta"
Razik hanya mengangguk.
"Oke deh gue pergi dulu, ntar telat lagi"
"Oke hati-hati ya, o ya titip Syifa"
"Owalah masih aja mikirin Syifa"
Razik hanya tersenyum pahit, benar kata Prass saat istrinya hilang begini masih saja dia peduli dengan pacarnya, ah razik baru menyadari dirinya ternyata bukanlah suami yang baik.
"Kapten razik..."
Razik terkejut saat Prass kembali berdiri dihadapannya.
"Lapor, saya tadi berpapasan dengan istri anda saat ingin pulang dari mesjid. Katanya dia ingin menenangkan dirinya dengan merasakan angin laut sambil menikmati indahnya pemandangan saat terbitnya fajar"
Prass melapor layaknya seorang angkatan kepada atasannya, sebenarnya ada rasa geli di hati razik tapi ditepikan oleh rasa leganya.
"Laporan diterima, terimakasih"
Dan dengan bodohnya razik ikut meladeni tingkah konyol Prass.
Razik memanglah atasan Prass jika di dunia kerja, tapi dia sangat tidak suka jika hal itu dibawa-bawa saat berada di luar. Karna itu Prass seringkali memanggil razik dengan sebutan pak kapten dan tentunya itu akan berhasil membuat razik kesal. Prass tidak menyangka kali ini keusilannya diterima dengan rasa bahagia. Dia tersenyum melihat sahabatnya tadi begitu meladeninya.
__ADS_1
"Semoga kalian selalu bersama"
Batin Prass dan meninggalkan lobi hotel.
*********
Setelah lelah berlarian di tepi pantai razik akhirnya menemukan wajah yang ia cari dari tadi, ada rasa lega dihatinya.
Dia memandang Zia yang duduk di bangku santai di bawah payung pantai, entah kenapa Zia masih mengenakan mukenahnya. Dia terlihat begitu menikmati angin pantai yang terus menyapanya dengan lembut. Dan sesekali Zia terlihat menyeka pipinya, membuat hati razik seperti tertusuk.
"Aku mungkin telah menyakitinya" batin razik.
Zia begitu terkejut saat sinar mentari di halangi oleh tubuh kekar itu. Sungguh sejak dia bangun dia terus berfikir, harus bagaimana ia menghadapi razik?.
"Boleh aku duduk?"
Zia hanya mengangguk. Zia berusaha menetralkan hatinya, beberapakali Zia menarik nafasnya dalam-dalam.
Untuk beberapa menit mereka sibuk dengan fikiran masing-masing, yang terdengar hanya deburan ombak yang terus memecahkan keheningan.
"Zi aku salah, aku minta maaf. Aku sungguh sangat menyesal telah menyakiti mu. Kamu memang berhak marah karna itu marahlah zi"
Zia menguatkan hatinya untuk melihat wajah razik dan memaksakan senyuman untuk terbit dari bibirnya.
"Kamu tau dari siapa aku disini"
Razik merasa bodoh saat Zia menolak untuk membahas masalah mereka yang semalam.
"Dari Prass"
"Oooo Prass"
Zia menggangguk dan melempar kembali pandangannya pada deburan ombak.
Dengan sedikit pemaksaan razik mencekam kedua bahu Zia agar Zia mau memandangnya untuk waktu yang lebih lama. Agar ia bisa memaknai luka yang tergambar di mata Zia.
"Maaf kan aku Zi"
Kalimat itu sungguh menyakiti hati Zia, bukan itu yang ingin di dengarnya dari razik. Tanpa mampu membendung, air mata Zia meleleh begitu saja.
"Kenapa? Untuk apa?"
Razik terdiam, dia bahkan tidak tau pasti kenapa dan untuk apa dia minta maaf.
"Kenapa kamu minta maaf atas hak yang memang seharusnya aku berikan dari dulu?"
"Kenapa zik?"
Razik masih membisu, memikirkan dasar permintaan maafnya
"Karna kamu merasa telah berdosa meniduri istri mu padahal hati mu untuk wanita lain?"
Razik terkejut saat mendengar hal itu yang difikirkan oleh Zia, yang bahkan tidak terpikirkan sedikitpun olehnya. "Karna kamu merasa kamu telah menodai ku karna pada akhirnya aku akan kamu lepaskan begitu? Atau kamu takut jika nanti bibit yang kamu tanamkan tumbuh tapi kamu tidak mampu untuk tetap bertahan, begitu mas? Atau"
"CUKUP ziiii...."
Razik tidak tahan dengan tuduhan Zia padanya.
"Aku minta maaf karena aku takut telah menyakiti mu, aku merasa aku telah memaksakan kehendak ku padamu padahal mungkin kamu belum siap, aku hanya memikirkan perasaan mu"
Zia tersenyum sinis mendengar penjelasan razik.
"Sudahlah mas, tidak usah peduli padaku seperti biasanya. Pergilah mungkin pacar mu telah merindukan mu"
razik paham Zia mungkin tidak pernah merasa keberatan dengan hubungannya selama ini, tapi jika sudah seperti ini banyak kemungkinan yang terjadi dan membuatnya akan terjebak bersama razik. Razik merasa harus memikirkan perasaan Zia mulai saat ini.
Razik kini berlutut di hadapan Zia membuat Zia merasa heran dengan tingkah suaminya ini.
"Aku minta maaf atas semua kesalahan ku selama ini. Hari ini aku ingin memperbaiki semuanya. Izinkan aku untuk mencintai mu dan aku berharap kamu mengajariku untuk itu"
Ada desiran hangat dihati Zia mendengar ungkapan razik.
"Aku ingin menjadi suami mu yang baik, aku ingin kita memulai rumah tangga yang sesungguhnya."
Zia masih saja terdiam.
"Aku mohon zi, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita"
"Baiklah tapi aku punya 9 permintaan"
Razik berfikir mungkin permintaan Zia bersangkutan dengan Syifa. Tapi dia harus berusaha menembus kesalahannya.
"Katakan"
"Pertama aku ingin aku menjadi prioritas mu setelah ummi"
__ADS_1
Razik mengangguk pertanda ia setuju.
"Kedua kamu harus sadar dengan tanggung jawab mu sebagai seorang suami"
"Hak ku juga bukan"
Zia tertegun mendengar pernyataan razik.
"Ya"
"Yes..." Razik mengepalkan tangannya seakan mendapatkan kemenangan.
"Ketiga aku ingin kita mengumumkan status perkawinan kita"
"Maksud mu melaksanakan resepsi?"
Zia mengangguk.
Razik terdiam, tentunya dia memikirkan Syifa dan Zia tau itu.
"Baiklah tapi beri aku waktu satu bulan untuk menyelesaikannya"
"Baiklah, keempat kamu tidak boleh menemui Syifa lagi"
"Bagaimana aku menyelesaikan semuanya jika tidak menemuinya?"
"Baiklah tapi harus dengan persetujuan ku"
Razik menggangguk pasrah
"Kelima luangkan waktu mu dengan ku paling tidak sehari dalam seminggu"
"Bahkan seluruh waktu ku sekarang menjadi hak mu Zi"
"Kamu mau berhenti menjadi pilot dan terus mengekor ku"
"Tentu tidak"
Kata razik merasa kalah
"Keenam izinkan aku mulai berkelana kemana-mana.
"Maksud ku untuk mengurus mu, bukan untuk itu"
Razik tersenyum malu pada fikiran kotornya.
"Ketujuh?"
"Ketujuh tinggalkan aku jika kamu sudah tidak mampu untuk mencoba menerima ini semua"
Ada rasa tidak terima dihati razik mendengar permintaan Zia.
"Kedelapan jangan pernah keluarga kita tahu tentang hubungan mu dengan Syifa, jika itu terjadi kamu tanggung akibatnya sendiri"
Razik mengangguk dengan berat.
"Sembilan?"
"Sembilan...."
Ada satu permintaan yang tidak mampu Zia ungkapkan, karna juga akan sulit bagi razik.
"Itu aja"
"Ngak jadi sembilan dong?"
",Iya cukup delapan"
"Kamu yakin?"
Zia mengangguk dengan berat
"Baiklah kalau begitu aku akan berusaha untuk mengikuti permintaan mu yang delapan itu"
"Semoga berhasil"
"Tapi Zi..."
"Kenapa?"
"Apa aku sudah boleh berdiri? Kaki ku sakit ini"
"Siapa suruh berlutut disana"
"Ngak ada sih"
__ADS_1
Razik berdiri dengan kesal melihat Zia yang tidak peduli dengan usahanya. Razik berdiri kemudian memeluk Zia. Zia yang dipeluk tiba-tiba oleh razik membuatnya terkejut dan menegang. Lagi-lagi jantungnya berpacu dengan cepat.