9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
takut kehilangan


__ADS_3

sebuah pesan di layar handphone nya memberikan kebahagiaan. bahkan senyumnya mekar melihat pesan yang tertera disana.


"aku tadi coba menghubungi kamu tapi ngak diangkat. aku cuman mau bilang aku pulang pagi ini. sampai jumpa di rumah nanti malam"


rasa rindu itu semakin meluap, seiring waktu yang semakin dekat dengan perjumpaan. rasanya tidak sabar menunggu hari semakin menua dan berjumpa dengan malam.


"hai"


Zia terperanjat kaget saat maira memukul bahunya.


"duh Maimunah bikin gue kaget aja tau ngak"


maira malah tersenyum puas, melihat ekspresi kesal Zia yang menggemaskan.


"senang Lo ya"


"ya gue ngak ada niat. Lo nya aja badan disini fikiran ntah kemana"


Zia hanya mendengus kesal.


"oh iya kemaren sore Syifa udah bisa pulang. dia nitip salam buat lo"


"eh bukannya dia seharusnya pulang hari ini ya?"


"harusnya sih gitu tapi dia ada jadwal penting hari ini. ya karna kondisinya pun membaik dokter ngizinin dia pulang"


Zia manggut-manggut mendengarkan cerita Maira.


"Lo ngantar dia kan?"


"ngak, tadi katanya ada teman yang jemput"


"o gitu, ya semoga deh dia baik-baik saja"


"udah jangan difikirin, sekarang tolong fikirin perut gue yang keroncong dong"


cacing-cacing diperut Maira memang sudah memberontak sejak tadi.


"oke"


Maira dan Zia ikut memenuhi kantin rumah sakit. tidak terlalu rame karna sekarang bukan jadwalnya sarapan pagi dan juga bukan waktu untuk makan siang. tapi bagi mereka sarapan di jam sepuluh pagi itu sudah menjadi hal biasa, karna bagi tim kesehatan bukan waktu yang penting tapi kesempatan lah yang memang harus digunakan sebaiknya-baiknya.


seperti saat ini.


"Zi habis ini mau langsung pulang?"


"rencananya sih gitu tapi mas Razik pulang malam ini"


mendengar hal itu wajah Maira menjadi muram.


"yah cepat banget sih dia pulangnya"


hanya senyuman yang bisa Zia lemparkan. dia juga masih merindukan waktu bersama Maira tapi rasa rindunya terhadap Razik jauh lebih besar.


"kan kita masih bisa jumpa tiap hari Mai"


"beda momen dong"


"maaf mbak ini pesanannya"


Ayu anak dari pak Mat yang mengelola kantin ini merasa ragu-ragu untuk mengganggu perdebatan mereka berdua.


"oh iya yu, silahkan"


Ayu menyusun nasi goreng dan minuman sesuai dengan pesanan, sehingga meja yang dihadapan mereka kini telah penuh. setelah selesai Ayu meninggalkan mereka lagi, masih dengan suasana yang tidak bersahabat.

__ADS_1


Zia merasa digelitiki melihat Maira yang cemberut.


"ayo my Bestie makan dulu, hari ini waktu gue cuman buat lo"


raut wajah Maira mulai berubah.


"beneran?"


Zia mengangguk pasti


"belanja?"


Zia mengangguk mengiyakan, membuat ekspresi Maira berubah drastis.


"nonton?"


Zia mengangguk lagi dan senyuman maira semakin melebar.


"plus spa gimana?"


tawar Zia. tentu berhasil membuat pelangi maira kembali bersinar, wajah cemberutnya telah hilang dan hanya sebuah senyuman yang masih melekat di wajah mungil tapi chabi itu.


"oke"


dengan penuh semangat Maira langsung menyantap makanannya. Zia berniat untuk menghamburkan uangnya untuk Maira hari ini, dia hanya merasa paham rindu yang melanda Maira. akhir-akhir ini mereka memang sangat jarang menghabiskan waktu kecuali dalam urusan pekerjaan. karna itu hari ini dia ingin melepaskan bebannya bersama Maira.


melihat Maira makan dengan lahap membuat perut Zia ikut keroncongan. dia langsung menyantap nasi goreng yang ada dihadapannya itu. sambil makan Zia menatap layar televisi ynag ada dihadapannya.


"sebuah kecelakaan pesawat terjadi di Bandara internasional Haneda di Tokyo, kecelakaan itu terjadi akibat lapangan landasan pacu yang licin sehingga menyebabkan......"


zia tidak sanggup lagi menelan makanannya. Tanpa perintah kakinya langsung bergerak. Maira yang melihat itu ikut bergerak untuk mengejar Zia.


"Ayu ini uangnya ya, Zi tungguin gue"


karna maira terkenal dengan pelari yang handal membuatnya mudah untuk mengejar Zia.


Zia mengabaikan Maira dan terus berjalan. yang ada dibenaknya saat ini hanyalah menemui Razik, suaminya.


"Zi lo tenang dulu"


Maira membentangkan tanagannya berusaha menghentikan langkah Zia, tapi itu percuma dia tidak melihat hambatan sedikitpun di hadapannya.


"ZIA...."


"apalagi sih Mai?"


suara mereka meninggi, menggema memenuhi ruang parkiran yang tertutup.


"Lo tenang dulu"


"suami gue Mai..."


Zia tidak mampu lagi mengungkapkan ketakutannya saat ini dan Maira paham bukan saatnya meminta Zia untuk tenang. Maira merogoh saku Zia dan mendapatkan kunci mobilnya disana.


"oke, sekarang Lo ikut gue"


"kemana"


Air mata Zia menggambarkan segala ketakutan, penyesalan, kerinduan semua rasa yang menyakitkan bercampur menyerang batinnya.


"bandara, cuman disana kita bisa dapat informasi"


Maira membukakan pintu mobil untuk Zia, Zia hanya menurut dan masuk kedalam mobil.


"Lo coba hubungi Razik lagi"

__ADS_1


dengan tangan gemetaran zia mencari nomor razik dan menghubunginya. Air mata Zia semakin deras menggambarkan kekhawatirannya yang semakin besar. Maira melirik Zia.


"nomornya ngak aktif"


"coba hubungi Prass"


Maira semakin memacu laju mobilnya. tidak butuh waktu lama untuk sampai kebandara. sementara Prass tidak kunjung mengangkat panggilan Zia. mereka sebenarnya bingung harus pergi kemana untuk mencari informasi tentang razik kemana, terlebih lagi bandara sudah ramai dikunjungi para orang tua atau kerabat mereka yang berada di pesawat kecelakaan.


"Zia itu bukannya Prass?"


Maira menunjuk Prass yang lewat dari pintu yang berlawanan dari arah mereka berdiri saat ini . Zia yang tidak sabaran langsung mengejar Prass, namun langkahnya terhenti saat satpam menghalanginya untuk melewati pintu tersebut.


"maaf bu, ibu tidak bisa lewat dari sini. pintu ini khusus untuk...."


belum sempat sang satpam melanjutkan perkataannya Zia mendorong satpam tersebut hingga jatuh dan langsung mengejar Prass.


"Prass....."


Zia berusaha memanggil Prass."


tolong jangan membuat keributan Bu, ibu silahkan pergi"


satpam yang tadi mengejar Zia lagi dan membujuknya untuk segera pergi.


"pak tolong kami sedang mencari teman kami"


Maira berusaha menjelaskan.


"ibu bisa hubungi dia di luar dan menyuruhnya untuk menemui nya di luar atau ibu beritahu saya namanya nanti saya akan menyuruhnya untuk menghubungi ibu"


saat maira dan satpam itu berseteru, Zia melanjutkan langkahnya untuk menemui Prass. tidak jauh dari tempatnya sebelumnya dia melihat Prass memasuki sebuah ruangan yang tertulis "staff only" yang berarti ruangan ini khusus untuk para staff. tapi Zia tidak peduli sedikitpun dengan hal itu.


"maaf anda siapa, ada perlu apa kesini?"


salah seorang staff disana berusaha menghentikan Zia. sepertinya dia salah satu pilot yang bekerja di bandara itu. zia mengabaikan pertanyaannya dan ingin menerobos masuk, namun segera dihentikan olehnya.


"maaf nyonya anda tidak bisa masuk sembarangan. satpam kemana sih. kenapa orang-orang bisa masuk dengan leluasa. hei pak satpam"


Zia berusaha melepaskan cengkeramannya, tapi kekuatan pria itu lebih besar darinya. ditambah lagi dua orang satpam telah datang untuk membantunya.


"tolong biarkan saya bertemu dengan Prass, tolong"


"maaf nyonya anda tidak boleh sembarangan masuk kesini. tolong selesaikan masalah pribadi anda di luar"


"tolong saya mohon, saya ingin tahu informasi tentang suami saya, saya mohon"


para satpam masih memegangi Zia dengan eratnya, sementara pria itu menatapnya aneh. dia menganggap Zia hanyalah salah satu keluarga atau kerabat dari penumpang pesawat yang mengalami kecelakaan pagi ini.


"saya istri pilotnya pak, saya istri Razik, saya hanya ingin tahu keadaannya"


pria itu semakin menatapnya aneh karena yang dia tahu Razik belum menikah.


"pak bawa ibuny keluar"


Zia meronta dan terus memanggil Pras d gs, berharap Prass segera keluar.


"prasss...prassss, ini aku Zia...bantu aku Prass....Prass"


Prass yang merasa namanya dipanggil segera keluar dan terkejut saat mengetahui Zia yang menyebabkan keributan tersebut.


"maaf pak lepaskan dia, dia keluarga saya dan dia istri dari salah satu pilot kita"


mereka melepaskan Zia atas perintah Prass. Maira yang baru datang langsung menghampiri Zia.


"Prass Razik....?"

__ADS_1


Prass terdiam, namun kekalutan terlihat jelas dari wajahnya.


__ADS_2