9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
hati yang sakit


__ADS_3

sinar mentari memaksanya untuk membuka mata. kepala nya yang berat membuat matanya malas untuk menatap matahari yang mulai meninggi.


"umhhh..."


lenguh Razik sambil memegang kepalanya yang pusing.


"kamu sudah bangun sayang"


mendengar suara wanita membuat Razik ingin segera membuka matanya, seketika Rasa sakit itu hilang tapi sirna begitu saja saat ia tahu itu bukanlah wanita yang dia harapkan.


"gimana perut kamu masih sakit?"


saat tangan Syifa mendekat Razik langsung menepisnya. Rasa cinta yang dulu dimiliki Razik untuknya sudah digantikan oleh Zia dan karna tingkahnya sendiri rasa kecewa itu memprovokasi Razik untuk membencinya. Syifa tentu kecewa dengan perlakuan yang diterimanya setelah dua hari ini dia merawat Razik dengan sepenuh hatinya.


"KELUAR..."


Melihat wajah Syifa justru membuat Razik semakin sakit.


"aku udah masak bubur nih. kamu makan dulu ya....."


dia tepiskan bubur yang di sodorkan Syifa sehingga terjatuh dan berserakan di lantai....


"aku bilang keluar. aku ngak mau melihat wajah kamu lagi. KELUAR....."


Hati Syifa semakin sakit. saat cinta yang ia harapkan semakin melihatnya justru semakin tidak menginginkannya. Dengan kecewanya Syifa pergi meninggalkan Razik dan saat ia ingin keluar dari rumah ia berpapasan dengan Prass. Belum sempat Prass bertanya Syifa sudah menghilang dari hadapannya, bahkan saat Prass berusah memanggilnya dia tetap mengabaikan dan terus melangkah menjauh. melihat Syifa yang terlihat sedih membuat Prass berfikir keras, apa sebenarnya yang terjadi selama dia pergi. belum sempat menemukan jawabannya perhatian Razik langsung dicuri dengan suara teriakan Razik dari dalam kamarnya.


Prass segera menghampiri Razik dan dia dapati kamar yang berantakan, juga bubur yang tumpah melengkapi betapa kotornya kamar Prass saat ini. seperti halnya Razik yang juga terlihat berantakan, ada emosi serta juga keputus asaan di matanya saat Prass menatap netranya. Prass memang belum tahu apa permasalahan Razik dengan Zia, bahkan sampai saat ini dia belum bisa menghubungi Zia dan tidak tahu dimana keberadaannya.


Dua hari yang lalu dia dihubungi oleh Syifa dan memintanya untuk membukakan kunci Rumah Razik. karna Syifa yakin Prass pasti tahu kunci Rumah Razik.


Setelah mereka membuka Rumah Razik, mereka dapati ia tidak sadarkan diri di lantai kamar, badannya panas dan kamarnya persis seperti hari ini, berantakan.


prass memasuki kamar dan duduk di sofa tepat di hadapan Razik.


"kayaknya Lo udah sembuh, sampai sanggup berantakin semua ini"


Razik tidak menggubris. tentu saja dia belum sembuh, wajah pucatnya menggambarkan betapa sakitnya fisik saat ini dan juga wajah nya mengukir kepedihannya saat ini. Namun lagi-lagi Razik ingin menghancurkan handphone yang ada ditangannya, untungnya berhasil ditahan oleh Prass. Dia langsung menyambut ayunan tangan Razik dan mendorongnya hingga terbaring lemas di kasur. Prass mengambil ponsel itu dan membenarkan posisi Razik dan menyelimutinya.


"Lo diam, tidur aja"


Razik menarik selimut nya dengan kesal, seperti seorang anak yang kesal terhadap maknya.


Prass memandang kondisi kamar ini dengan berat. kemudian memulai membersihkannya disertai omelan yang tiada hentinya. seperti mak-mak yang marah kepada anaknya, seperti itulah Prass saat ini.


"huh, Lo sih enak tinggal ngancurin. nah gue capek tau ngebersihinnya. walupun nih kamar besarnya ngak seberapa tetap aja capek. untung Lo lagi sakit kalo ngak Lo udah gue karungin sekalian"

__ADS_1


hanya helaan nafas Razik yang terdengar. namun di lubuk hatinya dia menyesal telah merepotkan Prass.


"kalo marah ya marah aja, ngak usah lampiasin ke perabot rumah. emang tabungan Lo banyak?"


Prass melirik Razik yang juga tengah menatapnya.


"kalopun banyak mending lo tabung buat nikah, naik haji. kalo ngak kasih ke gue aja"


"iya ntar gue gaji lo tapi kerjanya pake tangan jangan pake mulut"


Prass meliriknya dengan tajam. nyali Razik ciut dengan tatapan tajam Prass. Dia mengatupkan kedua bibirnya dan menguncinya.


Razik berbalik dan membiarkan Prass dengan kicauan di mulutnya. bahkan itu bagaikan senandung penghantar tidur untuk Razik.


cukup lama ia terbuai dalam mimpi hingga cacing-cacing di perutnya menyuruhnya untuk bangun. Razik membuka matanya dan hal yang pertama ia ingat setiap kali membuka mata adalah kenyataan bahwa saat ini Zia tidak ada disampingnya dan mungkin tidak akan lagi. Rasa laparnya seakan hilang seketika. meskipun baru dua hari dilanda demam wajahnua sudah terlihat tirus. tidak ada lagi makanan yang terlihat enak, bahkan lidahnya tidak mampu lagi memerintahkan otak untuk mengatakan makanan itu enak. ia makan hanya untuk sekedar bertahan hidup.


Prass datang dengan sebuah nampan yang berisi bubur dan air putih, juga beberapa pil obat yang harus Razik minum.


"gue ngak mau ada drama ya. gue cuman pengen lo makan bubur ini buat ngisi perut dan untuk bertahan hidup terus minum obat ini. Lo harus sembuh supaya sanggup terjun ke dunia perang. karna dunia tidak akan memandang orang yang meminta belas kasihan"


Razik sedikit tersindir dengan kata-kata Prass tapi setelah ia cerna perkataan Prass benar juga. seperti keinginan Prass Razik memakan buburnya meski hanya beberapa suap dan meminum obat yang telah di sediakan Prass. Prass yang memperhatikannya hanya tersenyum puas, dia tidak perlu lagi memikirkan cara untuk membuat Razik untuk mau menelan bubur itu. setelah Razik selesai dengan rutinitasnya, Prass memberanikan diri untuk meminta jawaban atas rasa penasarannya selama dua hari ini.


"ekhm....."


Razik melirik Prass yang tengah duduk di sofa samping ranjangnya.


Razik menghela nafasnya berat dan mengambil handphone nya. setelah memutar sebuah Vidio Razik memperlihatkannya kepada Prass. sontak wajah Prass menjadi tegang dan sekarang dia paham situasi apa yang tengah dihadapi sahabatnya ini, juga kenapa Razik bersikap seperti itu kepada Syifa.


setelah Vidio itu selesai Prass memandang Razik.


"Zia ngak salah"


"ya tentu dia ngak salah. gue aja kalau jadi Zia udah ngak mau liat muka lo"


Razik menngangguk dan menelan pahit-0@hit kata-kata Prass.


"tapi gue juga ngak sepenuhnya salah dan Zia tahu itu"


Prass melirik Razik dengan ragu.


"Lo nggak percaya sama gue?"


Prass tetap dengan diamnya. dia biarkan Razik memberikan pembelaan atas dirinya.


"Lo ingat waktu kita lagi bulan madu di Bali?"

__ADS_1


Prass mengangguk


"kejadiannya waktu itu dan Syifa sengaja memasukkan obat perangsang di minuman gue. ya memang gue hampir khilaf tapi sumpah, hanya Allah yang tahu gue langsung ingat Zia dan itulah kali pertama gue meminta hak kepada Zia dan disaat itu juga gue sadar kalo gue mencintai dia. sue sangat mencintainya"


Prass terdiam, seketika dia ingat saat bertemu dengan Zia hari itu, waktu itu dini hari. Zia terlihat sedih dan mata yang sembab tapi wajahnya fress dan mukenanya di belakang basah.


"oke gue percaya sama lo"


Razik terkejut dan seakan mendapat amunisi semangat.


"sekarang rencana lo apa?"


"gue mau cari Zia. bagaimanapun gue ngak mau ngelepasin dia"


"orang tua lo udah tahu soal ini?"


"kayaknya belum, soalnya masih aman-aman aja"


"oke, bagus kalo kayak gitu. gue bantu lo buat nyari Zia"


"makasih bro. Lo selalu bantuin gue saat gue butuh"


"alah lebay Lo"


"kita berangkat sekarang"


Razik langsung berdiri dengan tegapnya, seakan-akan bukan dia yang terbaring sakit di atas Ranjang itu semenjak dua hari yang lalu.


"ngak. untuk hari ini lo istirahat dulu dan besok baru kita nyari Zia"


"gue ngak bakalan tambah sembuh kalopun istirahat disini"


"iya gue paham. biar gue yang nyari Zia hari ini"


"yaudah kita bagi...."


"ngak. dengarkan gue atau gue ngak mau bantuin lo"


Razik terdiam, tentu dia harus menurut dengan Prass kali ini karna dia butuh bantuan soibnya itu.


"bagus"


ucap Prass saat Razik kembali berbaring di atas ranjang.


"gue pergi dulu nyari istri lo. jadi anak baik"

__ADS_1


Razik hanya memandang kesal kepergian Prass


__ADS_2