
"dia cantik"
Zia masih terbuai oleh mimpi.
Meskipun sudah sampai raziq tidak sampai hati untuk mengganggu tidur lelap Zia.
"Dia pasti kelelahan"
Tatapannya tidak lepas dari wajah Zia, dia terlihat begitu tenang saat tidur. Tidak ada cerocosan, tidak ada raut kesal juga amarah. yang ada hanya ketenangan, bahkan hati raziq ikut damai melihatnya.
Saat Zia melenguh dengan sigap raziq menekan klakson mobilnya.
"Hah, ada apa, kenapa?"
Kesadaran Zia yang belum sempurna membuatnya ngelantur dan seakan mengingat kembali kejadian yang pernah ia alami dulu.
"A aku....."
"Kenapa, ada apa?"
Zia sungguh tegang dia fikir telah terjadi sesuatu.
"Aku, aku cuma mau bilang kalo kita udah nyampe. Hahahaha"
Raziq tertawa puas dan turun dari mobil meninggalkan Zia. Tentu saja bukan raziq namanya kalo tidak membuat Zia kesal.
Jantung Zia masih berdebar kencang, dia masih berusaha mengatur nafasnya agar lebih tenang. Zia memperhatikan jaket yang ada di pangkuannya, sepertinya itu bukan miliknya.
"Kenapa belum turun? Sengaja ya nungguin aku bukain pintu"
"Idih apaan sih, tutup aja lagi biar aku yang buka sendiri"
Raziq mengerutkan keningnya kemudian membanting pintu mobil.
"Dasar nyebelin. Huh, tenang Zia, tenang"
Satu tangannya ia letakkan di dada dan satunya lagi naik turun mengikuti melodi pernafasannya.
Zia membuka pintu dan menyiapkan mentalnya untuk menghadapi orang-orang dirumah ini.
"Tunggu..."
Zia menahan raziq dengan menarik bagian belakang bajunya. Raziq berbalik dan menghadap Zia.
"Ini punya siapa?"
Raziq menatap lekat pada Zia.
"Tadinya itu buat pacar ku tapi aku kasihan melihat kamu kedinginan, makanya aku...."
"Ngak butuh"
Zia langsung melemparkan jaket itu ke raziq.
"Eh tunggu, kalo minjam itu tanggung jawab donk. Cuci dulu baru balikin"
Zia membulatkan mulutnya, tidak terima dengan yang baru saja raziq katakan.
"Kak ziaaaa....."
__ADS_1
Tiba-tiba Caca berlari kerah Zia dan memeluknya sangat erat. Caca adalah adik raziq, sebenarnya jarak mereka tidak terlalu jauh hanya beda dua tahun. Tapi Zia dan Caca sangat dekat sejak kecil karena mereka memang tumbuh bersama sebelum Zia kuliah dan pindah ke Jakarta.
"Aku kangennnnn banget sama kakak"
"Sama kakak juga, kangen banget sama kamu"
Caca melepaskan pelukannya. Terpancar kebahagiaan di wajah caca menandakan dia memang sangat merindukan Zia. Raziq hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.
"Waaaaahhhh ini kan barang branddid. Buat Caca ya kak?"
Zia melirik raziq, melihat ekspresi raziq Zia tersenyum jahil.
"Iya, ini buat kamu. Sengaja kakak pesanin sama mas raziq saat ke Paris kemaren"
"Masya Allah cantiknya. Sayang kak Zia"
Caca memeluk Zia lagi, dia terlihat sangat senang sementara raziq hanya bisa diam. Meski dia keberatan tidak enak juga untuk menolak keinginan caca, bisa jadi brave soalnya dan Zia tersenyum puas.
"Ummi kak Zia sama mas raziq udah datang"
Suara Caca yang menggema berhasil menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di dalam rumah itu.
Zia berniat mengikuti Caca kedalam rumah tapi raziq menarik tangan Zia dan kini wajah mereka begitu dekat, bahkan Zia bisa merasakan deru nafas raziq.
"Kamu kenapa sih?"
"Aku kenapa?
"Jaketnya kenapa kamu berikan buat Caca?"
Zia mengalihkan tatapannya karna tatapan mata raziq terlihat menyeramkan.
"Kamu cemburu?"
Zia mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti kenapa kapten yang ada di depannya ini sangat tidak paham dengan hati perempuan.
"Wah anak-anak ummi...."
Raziq langsung melepaskan tangan Zia dan terlihat ada kecanggungan diantara mereka berdua. Ummi adalah orang yang sangat peka, dengan melihat wajah saja dia bisa paham kondisi hati seseorang, karna ummi memang berprofesi sebagai dokter psikolog.
"Ada apa ini?"
"Ah tidak ada apa-apa ummi"
Zia tersenyum dan mengangguk mengiyakan perkataan raziq, tapi tetap saja ummi masih menatap mereka curiga.
"Sayang...."
"Mammi...."
Mami Zia merubah suasana menjadi lebih santai. Zia memeluk maminya dengan lega, maminya menyelamatkan mereka kali ini. Setelah memeluk sang mami Zia menjabat tangan ummi dan memeluknya seperti orang tuanya sendiri.
"Ayolah ummi kita tidak apa-apa, hanya ada kesalahpahaman kecil"
Ummi mengeratkan pelukannya dan tersenyum lega. Begitulah orang tua selalu ingin tau tentang anak-anak nya.
"Kenapa, ada apa?"
Mami menjadi ricuh merasa ketinggalan.
__ADS_1
"Ngak papa kok mi"
Kini raziq ikut menjawab. Dia tersenyum dan menyalami mami setelah menyalam ummi
"Pokoknya pasangan favorit mami ngak boleh ricuh, tapi bertengkar dikit boleh lah ya"
"Itu bumbunya kan mi?" Timpal raziq.
"Hahahaha iya. Tapi jangan sering2 juga"
Tawa mereka pecah, kini ketegangan itu sudah hilang.
"Yaudah, kita masuk yok"
Mereka mengikuti ummi. Di dalam sana mereka dapati pria-pria hebat, Abi dan Dedi.
"Dedi"
Zia memeluk dedinya, melepaskan semua kerinduan di hatinya. Sudah cukup lama mereka tidak berkumpul seperti ini.
"Aduh anak Dedi masih manja aja, malu tuh sama suami"
"Biarin aja, Zia kangen sama Dedi"
Raziq tersenyum, sisi manja Zia tidak pernah ia dapatkan. Selama disisinya Zia adalah wanita yang kuat dan dewasa. Bahkan ketika sakit pun Zia lebih suka menyusahkan Tifa dari pada dirinya.
"Kakak sih habis nikah sama mas raziq langsung pindah ke Jakarta kan jadi jarang pulang"
"Ya kan tempat istri di samping suaminya dek"
"Betul itu. Nanti kalo Caca nikah bakalan ninggalin Abi sama ummi juga kok"
"Ah abiiii..... Caca ngak mau"
Caca menghampiri abinya dan memeluknya. Semua orang tertawa melihat tingkah Caca.
"Kalo ngak mau ya ngak usah nikah"
Caca menjulurkan lidahnya membalas ejekan raziq. Keluarga yang bahagia dan hangat itulah yang terpancar di keluarga itu.
"Ummi bikin minum dulu ya"
"Eh ummi Zia aja ya"
"Jangan. Zia kan masih capek"
"Biarin aja mbak, zianya mau jadi mantu yang baik tuh" kata ummi memberi ruang.
"Emmm yaudah deh"
Zia tersenyum tulus.
"Eh Zi aku teh nya dibikin jahe ya soalnya perut ku gembung nih"
Melihat ekspresi Zia yang menegang membuat raziq jadi paham kesalahan yang sudah dia lakukan.
Mati gue
Raziq mengutuk dirinya sendiri.
__ADS_1