9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
pesan cinta


__ADS_3

Zia disambut dengan senyuman ketika masuk kedalam ruangan itu. senyuman yang selalu membuatnya merasa tidak sendiri. bahkan disaat terburuknya senyuman kedua wanita itu yang menjadi penyokongnya untuk terus bangkit.


"hai buk dokter, cuman mau berdiri disana?"


Zia tersenyum saat Syifa membuyarkan lamunannya.


"mikirin apa sih Zi?"


hanya gelengan yang didapatkan maira, namun tatapan kedua wanita itu terlihat tidak puas.


"ngak gue... ingat aja waktu kita dulu sering main"


Syifa dan maira ikut tersenyum. tiba-tiba rasa rindu merundung hati mereka.


"jadi kangennnnn"


rengek maira


"iya aku juga"


Syifa menimpali, namun ada tersirat rasa bersalah dihatinya.


"kangen momennya ya?"


Zia memilih duduk di kasur pasien. keduanya mengangguk setuju.


"yaudah malam ini gue nginep deh"


"gue juga"


timpal zia menyambut rasa semangat maira.


"oke"


Syifa menemukan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk sebuah bulatan. ketiganya terlihat begitu bahagia.


malam ini mereka ingin menghabiskan waktu bersama untuk mengobati rindu terhadap masa lalu.


"jadi malam ini kita mau ngapain?"


Syifa menunggu saran dari teman-teman nya, terlihat Zia dan maira berfikir keras untuk mendapatkan ide.


"makan-makan"


usul maira


"nonton Drakor"


tambah Zia


"setuju"


syifa menyepakati, kemudia gelak tawa mereka pecah seketika.


Zia dan maira meninggalkan Syifa sebentar untuk membeli makanan dan kembali dengan tangan yang penuh oleh tentengan. kedua wanita itu begitu penuh semangat untuk menemui sahabatnya, bagi mereka inilah saatnya untuk memperbaiki hubungan yang pernah rusak.


"Syifa Lo liat kita mau......"


suasana itu rusak karena kehadiran seorang pria. suasana tiba-tiba menegang tapi tidak untuk Syifa, justru ini yang dia harapkan. Syifa bergelayut manja di lengan razik.


"apa perlu kita panggil Prass biar lengkap?"


maira semakin menegang mendengar nama itu. mata Razik dan Zia beradu seakan ada komunikasi di dalamnya.


"hei kenapa pada diam?"


"hum kayaknya kita ganggu. apa perlu kita keluar?"


maira berusaha mencairkan suasana.


"ngak usaha. gue juga harus pergi soalnya gue ada jadwal penerbangan malam ini"


razik berusaha melepaskan cengkraman Syifa.


"ooohhh gitu.okeh"


maira sungguh merasa canggung dengan suasana ini.


"yah padahal kan aku masih kangen"

__ADS_1


rengek Syifa, sungguh dia tidak tau betapa mendidihnya darah Zia mendengar hal itu. maira meletakkan jinjingannya dan mengambil jinjingan Zia lalu meletakkannya di atas meja yang ada disamping kasur Syifa.


"lebih baik kita keluar"


maira menarik paksa Zia keluar. dia tidak ingin Zia akan semakin terluka jika berada disana lebih lama.


Zia merasa dadanya sesak seakan dikhianati. kejadian ini sungguh menyadarkannya jika razik belum miliknya seutuhnya, seakan Syifa lebih berkuasa atas suaminya sendiri.


maira bingung harus membawa Zia kemana dan pada akhirnya mereka berhenti di taman rumah sakit. Zia ikut berhenti saat maira berhenti melangkah. dilihatnya sahabatnya itu hanya diam dengan menggenggam tangannya erat.


"gue muak dengan keadaan ini Mai"


Zia melepaskan genggamannya dan berbalik arah ingin menemui Syifa, namun segera dihentikan oleh maira.


"Lo mau kemana?"


"gue pengen bilang ke dia kalau Razik itu suami gue"


"jangan bertindak disaat Lo marah Zi"


"gue capek Mai terus dinomor duakan. bahkan dihadapan dia gue seakan ngak ada hak, seakan gue yang jadi nomor dua disini. siapa sebenarnya istrinya razik?"


maira menghela nafas frustasi. tidak ada yang bisa dilakukannya selain memeluk Zia.


"ya elo"


maira ikut sedih melihat Zia menangis. yang dia tau Zia bukanlah wanita gegabah dan cengeng. mungkin batin Zia memang sudah lelah, begitulah persepsinya.


"lepasin gue Mai, jika memang razik ngak bisa buat mengakhiri nya biar gue yang bantu dia. gue ngak bisa terus menahan ini, gue capek. lepas Mai"


dengan sedikit perjuangan akhirnya Zia bisa melepaskan pelukan maira. maira begitu gusar melihat Zia yang semakin menjauh darinya. untungnya razik datang dengan cepat untuk menghentikan langkah Zia. Zia bisa melihat razik datang dengan langkah tegapnya dan langsung memeluk Zia dengan erat.


"lepasin"


"biarkan seperti ini sebentar saja dan rasakan bahwa aku memang milik mu"


maira merasa bersyukur razik datang tepat waktu. melihat pasangan ini membuatnya iri dan memilih untuk menghilang dari sana.


Zia memang sangat membutuhkan kehangatan razik saat ini tapi egonya menolak. Zia begitu berusaha untuk melepaskan pelukan razik, merasakan itu razik mengalah dan melepaskan pelukannya. ditatapnya kedua mata Zia, Zia tentu tidak ingin mengalah dan membalas tatapan itu dengan tajam.


"sudah ku katakan zik, aku tidak memaksa mu untuk memilih ku"


"tidak ada pilihan Zi. kamu milik ku dan takdir menentukan itu"


"kamu istri ku dan kamu punya hak atas diri ku"


Zia meringis dan lelah dengan segala bujukan yang razik katakan.


"itu yang kamu katakan tapi tidak dengan kenyataannya. bahkan dihadapannya aku seakan tidak berarti"


"aku tadi kesini ingin menemui mu. aku ingin pamit empat hari ini aku akan penerbangan keluar negri. ini pengalaman baru untuk ku dan tentu aku tidak ingin melewatkannya selagi ada kesempatan"


"pergilah"


razik begitu kecewa hanya mendengar kata itu dari Zia, bahkan Zia seakan tidak ingin tahu dia akan pergi kemana. meski dia paham kenapa Zia bersikap seperti itu tapi tetap saja hatinya terluka karna berharap lebih.


"baiklah"


meski berat meninggalkan Zia tapi dia harus tetap pergi dan mungkin saat ini mereka memang butuh jarak untuk bisa meredam egoisnya.


melihat razik menghilang membuat penyesalan di hatinya.


"baiklah, cuman itu. ngak ada romantisnya, dikit aja"


gerutu Zia


"gue juga bego bangat sih. pergilah. ummm ya ampun empat hari itu waktu yang lama. gue ngak ganya lagi dia mau kemana, ya Allah jaga dia"


Zia mengomel sendiri melepas kegelisahan dihatinya. merasakan ponselnya yang bergetar dia menghentikan gerutuannya dan melihat pesan dari Razik yang baru saja ia terima.


"maafin aku ya Zi atas kejadian hari ini. tadinya aku pengen jujur sama Syifa tapi tiba-tiba kalian datang, akhirnya aku gagal lagi"


"aku laki-laki pengecut ya. maaf ya suami mu ini sangat pengecut"


"selama aku pergi aku mohon kamu sehat-sehat ya, jaga diri baik-baik dan kamu nginep dirumah maira aja biar ngak kesepian dan aku juga bisa lebih tenang"


**********


berkali-kali razik berfikir untuk putar balik dan menemui Zia, berkali-kali juga dia menahan langkahnya kembali dan mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"baiklah, astaga gue kayak bawahan yang sedang mengikuti perintah atasannya aja"


batin razik menggerutu.


"apa gue temuin dia lagi aja ya"


razik berbalik


"ah ngak, ngak"


razik berhenti dan berbalik lagi.


"seharusnya gue bisa sedikit lebih romantis dong, ah payah banget sih gue sebagai laki-laki"


setelah beberapa langkah dia berbalik arah lagi.


"salah siapa cuek duluan. lagian dia kayaknya ngak peduli jg. ah bodo amat"


meski langkahnya terlihat tegap tapi hatinya sungguh bimbang saat ini.


"ngak boleh berbalik"


razik terus melangkah pasti menuju pintu keluar rumah sakit.


"kok gue ngerasa dipanggil ya?"


batin razik.


"ah ngak mungkin itu pasti cuman perasaan gue aja. pokoknya ngak boleh berbalik"


razik terus melangkah maju.


"tapi kok suaranya makin jelas ya? kayak suara....ah ngak mungkin. ampun razik baru jg ketemu beberapa menit yang lalu masa udah kangen aja. pake halu lagi duh....ngak boleh, ngak boleh melirik sedikitpun"


langkah kakinya samakin cepat, seakan tengah dikejar hantu. bagaikan di rem, langkah kakinya berhenti saat dering ponselnya berbunyi. terlihat di layar ponselnya nama yang memanggil "wife" dengan sigap razik mengangkatnya.


"halo"


"hah...hah...hah....."


kening razik menggeryit


"mas kamu......sengaja..mau...ngerjain aku?"


Zia berbicara seakan kehabisan nafas, suaranya terdengar terengah-engah.


"ngerjain? maksudnya?"


seseorang menarik lengan baju razik. ia terkejut melihat Zia yang penuh keringat berdiri lesu dibelakangnya. Zia masih berusaha mengatur nafasnya


"kamu ngapain jalannya cepat banget. aku tu ngejar kamu dari tadi tau ngak. mana lift nya rusak lagi. aku lari-lari dari taman atas kesini. ya ampun mas, tenaga ku terkuras habis malam ini gara-gara kamu"


razik tersenyum bahagia. penderitaan Zia justru menjadi kebahagiaan untuknya.


"malah senyum lagi"


senyuman razik justru melebar dan melihatkan deretan gigi rapinya.


"maaf tapi aku justru senang mendengar ini"


"bahagia fiatas penderitaan orang lain. emang ya kamu tu jahilnya ngak pernah hilang"


razik menarik Zia kedalam pelukannya. Zia menegang, dan merasa mereka malah jadi tontonan bagi orang-orang disekitar.


"sebentar aja, aku mau ngisi ulang tenaga kamu. lagian kamu sih pake sok jual mahal tadi kan dapat karma."


"ih udah ah, malah disumpahin"


razik mengusap lembut kepala Zia. keduanya saling menyalurkan cinta dari hangatnya tatapan mata. Tapi momen seperti ini tidak seru jik tidak ada pengganggu. Prass membunyikan klakson mobilnya dengan kuat membuat keduanya terperanjat kaget.


"pergilah"


"cuman itu?"


Zia hanya tersenyum simpul dan mengangguk membuat razik merasa kecewa l, dia fikir akan mendapatkan hal yang istimewa dari Zia. dan tentu saja dia akan mendapatkannya, saat razik mulai melangkah Zia menahannya dan menghambur kedalam pelukan razik sambil berbisik.


"hubbi pastikan kembali dengan selamat. ini bukan permintaan tapi perintah dari istri mu karna setiao kamu mengarungi angkasa nyawa ku juga ikut terbawa dan aku ingin nyawa ku kembali dengan sempurna. ingat itu"


razik tersenyum puas mendengar bisikan Zia.

__ADS_1


"kirimkan jadwal penerbangannya nanti agar aku tau kamu menapaki tempat mana saja. oke!"


Zia menutup pesannya dengan sebuah kecupan lembut di pipi razik dan meninggalkannya begitu saja, tanpa bertanggung jawab atas debaran yang ia timbulkan.


__ADS_2