
Brtttttttrriiiinggggg
Bagaikan diselamatkan, seperti itulah yang dirasakan oleh Zia. Dadanya terasa sesak seakan beberapa menit yang lalu udara tidak hinggap di paru-paru nya.
"Mimpi itu lagi"
Dia berusaha mengumpulkan semangatnya untuk bisa beranjak dari tempat tidur. Setelah kakinya menginjakkan lantai semua aktifitas yang membosankan itu akan terulang lagi. Mandi, makan melewati jalanan yang macet, hingga akhirnya ia berujung di sini.
Ya sebuah rumah sakit tempat nya mengabdikan diri. Orang tua Zia mewarisi bisnis nenek dan kakeknya yaitu pembisnis handal perhotelan, namun tidak untuk Zia. Ia lebih tertarik seperti maminya yang mengabdikan diri di bidang kesehatan. Untungnya orang tua Zia bukanlah orang tua diktator, sehingga Zia bisa dengan bebas memilih yang ia sukai.
Gayanya yang sederhana namun tetap terlihat modis membuat orang-orang terpesona. Wajahnya yang proposional dan hidung mancungnya membuatnya tidak perlu repot untuk make over wajahnya. Zia terlihat sebagai wanita hangat, ceria dan selalu positif dalam masalah yang ia hadapi. Tapi tidak ada yang menyangka Zia wanita yang tegas kepada dirinya sendiri, hebat dalam menyimpan masalah dan dia bukan lah wanita yang mudah baperan.
"Pagi dokter Zia"
Begitulah orang-orang menyapanya. Zia sangat disegani karna papa Zia sengaja membeli saham untuknya di rumah sakit ini. Meskipun begitu Zia tidak ingin sewenang-wenang dan menjalani karirnya dari bawah, dia memulainya sebagai dokter umum. Karna memang itulah lulusan yang baru ia dapatkan saat ini, ya paling tidak sampai ia lulus S2 nanti.
TING....
Mr. Kapten: jangan lupa jam 3 sore ini.
Zia menarik nafasnya dalam-dalam seakan ada tekanan batin dari pesan yang ia terima.
Dia mengambil sebuah foto yang selalu ia simpan di dalam leci meja kerjanya. Ada gambaran kisah pahit di dalam foto itu, tapi siapa sangka harapan pun ia siratkan dalamnya. Meski sekarang harapan itu terasa semakin tinggi, akan sulit untuk ia gapai.
"Rasanya sudah lama aku tidak dijahili oleh mu"
Zia berbicara pada foto yang ia pegang.
TING
Mr. Kapten: aku jemput jam 3
Zia menutup mulutnya yang membulat sempurna.
Me: jangan
Mr. Kapten: kenapa?
Me: aku bisa sendiri
Mr. Kapten: baiklah aku tunggu di parkiran jam 3
Me: aku bilang tidak perlu
Mr. Kapten: jangan terlambat 1 detikpun, kalo ngak kamu bakalan tau resikonya
Zia menatap layar ponselnya frustasi.
"Dokter Zia kita bisa mulai"
Zia tersenyum lalu mengangguk.
"Oke, data pasiennya mana Mai?"
Maira, seorang juru rawat yang menjadi asisten Zia dan juga sahabat dekatnya. Zia sengaja menjadikan maira sebagai asistennya, menurutnya itu akan lebih nyaman dan menyenangkan.
__ADS_1
Sudah lebih dari 30 orang yang berlalu lalang masuk ke ruangan Zia untuk di cek dan diberikan obat atau rawatan selanjutnya.
"Masih banyak mai?"
"Em empat lagi kok zi, kenapa?"
"Gue harus pulang cepat hari ini, soalnya mau kebandung"
"Yah liburnya di Bandung dong"
Zia mengangguk dan mengikuti ekspresi sedih yang di pancarkan maira.
"Kali ini aja, soalnya adik ipar gue mau nikahan. Jadi kali ini gue lama liburnya"
"Berapa hari zi?"
Zia memperlihatkan 3 jarinya, pertanda ia akan libur selama 3 hari ini.
"Maaf sus ini ada satu pasien lagi"
Maira melirik Zia meminta persetujuan. Menurutnya itu hanya satu tidak akan lama, Zia mengangguk dan menyetujui.
TING.......
Mr. Kapten: INGAT JANGAN TERLAMBAT
*******
Pri itu tidak berhenti tersenyum melihat ponselnya. Dia bahkan tidak sadar kini menjadi pusat perhatian para wanita.
"Sus mau tanya, kalau mau berobat ke dokter umum dimana ya?"
"Sus"
"Eh ehm ya, di disana"
"Haaa ketemu. Makasih ya sus"
Pria itu langsung menuju ruangan yang ditunjukkan oleh suster.
"Sus tolong saya, saya butuh obat"
Suster itu melongo, seperti melihat pangeran di siang bolong.
"sus"
"ha Ya, apa yang bisa saya bantu?"
"Saya harus bertemu dokter sekarang juga"
"Tidak bisa tuan, karna anda harus antri terlebih dahulu"
"Ow, berapa lama lagi saya harus menunggu?"
"4 nomor lagi tuan"
__ADS_1
"Wah masih lama. Apa tidak bisa saya yang duluan?"
"Em bagaimana ya?"
Pria itu memasang wajah memelas nya nan imut. Hampir saja sang suster terperdaya. Seketika wajah garang sang dokter menghanguskan pesona pria itu.
"Aduh di pakai pelet apa sih. Maaf tuan tidak bisa, anda harus antri karna itu sudah kebijakan rumah sakit ini"
"Ow baiklah"
Pria itu berbalik namun segera dihentikan oleh suster, di tersenyum.
Apa suster itu berubah fikiran?
"Maaf tuan anda mau kemana"
"Menunggu"
Pria itu menunjuk kursi tunggu Yang ada di depannya.
"Kita harus lakukan pengecekan terlebih dahulu"
"Ya tentu"
Pria itu mengikuti arahan sang suster. di duduk dan di pasangkan alat pengukur tensi untuk mencek tensi terlebih dahulu dan mendengarkan keluh kesah dari pasien.
"Tensinya normal. Coba anda ceritakan sedikit gejala yang anda alami tuan"
"Ekhm"
Pria itu memperbaiki posisi duduknya dan menarik nafasnya dalam-dalam.
"Begini ya sus, saya tadi baik-baik saja, terus tiba-tiba ada yang bikin saya kesal dan ngak tau kenapa saya merasa dada saya sempit, gelisah dan pengen marah banget. Rasa marah itu malah membuat kerja lambung saya meningkat dan sekarang perut saya sakit banget. Terus saya harus gimana nih sus?"
Suster mengira pria ini mungkin salah masuk rumah sakit, malah ganteng lagi.
"Suster aja bingung kan, apalagi saya. Makanya biarin saya ketemu dokter nya aja langsung ya!"
Suster itu menyeringai dan menggelengkan kepalanya.
"Ngak bisa tuan"
Si pria hanya menghela nafas, frustasi.
Orang ini benaran sakit, sakit jiwa. Malah pakai seragam lagi. Dia dapat seragamnya dari mana ya?
Batin suster.
"Sus"
"Hem ya? Oh ya saya rasa pemeriksaannya sudah cukup. Mohon ditunggu ya"
Pria itu berdiri dan meninggalkan sang suster. Dia tersenyum tipis terlihat kepuasan di wajahnya telah mengerjai suster malang itu. Tidak lama untuk menunggu namanya di panggil juga.
"Muhammad Rizki Al Raziq"
__ADS_1
Pri itu berdiri dan dengan percaya dirinya memasuki ruangan sang dokter. Saat ia masuk membuat dokter cantik itu menegang.
"Kamu......!!!???"