9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
kisah Maira


__ADS_3

seperti menyeberangi sebilah bambu, tadinya ada yang memegangi kedua tangannya sehingga dia tidak gamang melewati titisan ini, namun sekarang dia kehilangan itu. langkahnya begitu timpang, kakinya yang dulunya tegap kini terasa gemetaran. bahkan titisan ini seperti perjalanan yang tak berujung, terasa menyeramkan. Dilihatnya kiri kanan tidak ada seorangpun yang mampu menggantikan kedua orang tuanya dan saat ia ingin melihat kebawah tiba-tiba suara bisikan itu menyadarkannya, ternyata masih ada seseorang yang berdiri dibelakangnya.


"jangan lihat kebawah, teruskan pandangan mu kedepan"


karna wanita tua inilah dia tetap maju ke depan. karna wanita inilah yang membuatnya tetap terlihat tenang, meskipun rasa takut selalu merasuki hatinya, meski dunianya semakin kelam karna orang-orang yang selalu ingin ikut campur dalam kehidupan orang lain. ada orang yang terlihat ingin membantunya terus melangkah namun tidak satupun yang memggenggam tangannya dan tak sedikit pula mereka yang mentertawakan dan menekannya dengan penuh cacian.


"itu dia anak koruptor"


"eh ngak boleh ngomong gitu, kasian tau yang salah itu bapaknya bukan dia"


"Halah dia juga ikut nikmatin hasil kotor bapaknya kok"


bisikan itu tidak lagi asing untuknya, bahkan setiap hari itu adalah ulama kehidupannya.


untungnya tidak ada yang mengetahui berita itu disekolah, sehingga dengan topeng bahagia Maira tetap berangkat ke sekolah seperti biasanya dan melepasnya lagi saat pulang sekolah.


"Mai ayok"


"maaf syif gue ngak ikut deh"


"kenapa?"


dia melihat Syifa dan Zia yang tengah menunggu jawabannya.


"nenek lagi ngak enak badan, gue harus jagain nenek"


nenek Maira memang tidak pernah sehat semenjak mendengar berita buruk itu.


"kalo ngak kita temenin jagain nenek aja ya"


"eh ngak usah, ngak perlu repot-repot"


"ngak repot kok, kan syif?"


Syifa mengangguk mengiyakan ajakan Zia.


"eh ayok, pergi ngak nih"


Razik, Adit dan Prass sudah berdiri di depan pintu, tengah menunggu para cewek.


"udah kalian pergi aja, gue ngak papa kok"


bisik Maira


"beneran?"


Syifa memastikan kembali keputusan Maira. dia hanya mengangguk.


"yaudah deh, kita pergi ya"


"salam untuk nenek ya Mai semoga cepat sembuh kalo butuh apa-apa kabarin ya"


"iya nanti disalamin"


dalam hati kecil tentu sedih melihat kepergian teman-teman nya itu. dia juga ingin ikut dengan mereka, belajar dan bermain bersama seperti hari biasanya. tapi Maira harus menjaga neneknya, dia juga merasa tempat keramaian adalah phobia ya semenjak berita itu mulai menyebar. dia takut jika nanti ada yang mengetahui berita itu dan menyebarkannya di depan orang-orang membayangkannya saja sudah membuat ulu hatinya ngilu.

__ADS_1


Maira merasa ada seseorang dibelakangnya dan setiap dia menoleh tidak da diapun yang ia dapati dibelakangnya dan Maira menangkapnya saat ingin menyeberang, hampir saja ia tertabrak.


"huuuu kalo nyeberang itu pake mata dong"


Prass masih berdiri diam dengan wajah yang pucat pasi karna syok. Maira ynng melihat itu langsung menariknya kepinggir jalan.


"kamu ngak papa?"


"eh ummm iya aku, aku ngak papa"


"syukur deh, ayo kita cari tempat duduk"


Prass hanya mengangguk dan mengikuti Maira menuju sebuah bangku kosong di tengah taman yang tidak jauh dari jalan.


mereka masih membisu, sibuk dengan pandangannya masing-masing.


"Mai apa nenek baik-baik saja?"


"em ya Alhamdulillah keadaannya lebih baik dari kemaren"


"syukurlah. kalo butuh apa-apa jangan sungkan ya"


Maira menatap Prass dan mengiyakan permintaan Prass dengan anggukan.


Mereka kembali terdiam. Prass memang merasa ada yang salah dalam hubungan mereka tapi dia tidak tahu apa yang salah. sudah satu Minggu dia berusaha mencari kesalahan yang mungkin dia lakukan sehingga membuat hubungannya dengan Maira menjadi tidak baik-baik saja, namun tetap saja dia tidak tahu kesalahan apa yang telah dia lakukan.


"Mai kok rasanya sekarang susah banget ya bicara sama kamu"


memang benar yang dikatakan Prass, dia memang selalu menghindar dari Prass Karana rasa bersalahnya. karna rasa takutnya.


Prass menarik nafasnya frustasi


"bukan, maksud ku..."


Prass memusatkan perhatiannya kepada Maira, ditatapnya wanita disampingnya ini lekat-lekat. Tatapan Prass berhasil membuat Maira tidak nyaman, sehingga perhatiannya kini terpusat ke pada parss. kini tatapan keduanya beradu.


"aku tahu kamu sebenarnya sadar kerenggangan diantara kita. aku tidak tahu apa kerenggangan ini karna kesalahan ku atau memang sengaja untuk direnggangkan. Tapi apapun itu aku berharap kamu masih mencintai ku Mai, karna aku masih sangat mencintai mu"


kata-kata Prass terus menyudutkan Maira. membuat hatinya kian berat. Dia tentu tidak bisa berbagi lukanya dengan Prass dan belum tentu juga Prass Mau menerima lukanya begitu saja karena lukanya ini juga luka bagi keluarga Prass. Bagaimana mungkin anak seorang koruptor dari kantor ayahnya sendiri bisa diterima dengan tangan terbuka. Bukankah lebih baik Maira sadar diri sejak awal.


"kerenggangan itu karna cinta yang semakin memudar Prass"


Prass sungguh tidak menyangka dengan ungkapan Maira.


"lebih baik kerenggangan ini kita teruskan hingga akhirnya kita menjadi orang asing nantinya"


Maira berdiri dan menyandang tasnya kembali. Prass yang tidak bisa terima keputusan Maira masih terdiam lesu ditempatnya.


"tapi kenapa Mai?"


Maira enggan untuk menjawab pertanyaan Prass dan berbalik begitu saja.


"Mai paling tidak katakan kepada ku alasannya"


tidak sedikitpun Maira menoleh dia tetap lurus ke depan.

__ADS_1


"Mai....Mai....."


Prass bahkan tidak peduli berbagai pasang mata menatapnya dengan ekspresi yang beragam. ada yang menatapnya iba, ada yang menatapnya kesal dan ada juga yang mentertawakan ya. namun ia tidak peduli dengan semua itu. Prass sungguh tidak terima dengan semu yang ia dapatkan hari ini dan dia berjanji tidak akan pernah melepaskan Maira sampai Maira benar-benar memberitahukan alasannya meninggalkannya.


***********


Dia masih menikmati lukanya di tengah pematang sawah, neneknya terkenal dengan juragan tanah di kampungnya karena memiliki banyak tanah dan juga sawah. Tapi hanya satu sawah yang benar-benar dikelola oleh neneknya, yaitu tempatnya menikmati angin saat ini. setelah senja hampir tiba barulah Maira berniat untuk kembali kerumah. meski gerimis Maira tetap menembus jalanan karena senja baru saja berlalu. Dengan badan yang mulai menggigil kedinginan Maira langsung menerobos masuk kerumah. Saat mau menuju kamar barulah Maira sadar ada yg aneh dirumahnya, pintu masih terbuka lebar bahkan jendela juga tidak ada da yang ditutup. tidak seperti nenek biasanya yang tidak membiarkan pintu dan jendela terbuka lebar seperti ini, karna akan banyak takhayul yang akan ia ceritakan jika itu terjadi.


"nek....."


panggilan Maira tidak disahuti oleh siapapun, bahkan


"mbak sa"


Maira juga memanggil mbak bisa, seseorang yang biasa membantu nenek dirumah tapi tetap saja tidak ada jawaban.


"nek......nenek dimana?"


Maira mulai menelusuri rumahnya dan alangkah terkejutnya ia saat mendapati sang nenek tidaj sadarkan diri di lantai dapur.


"nek, ya Allah... nek bangun nek"


Maira berusaha setenang mungkin.


"nekkk, tolong.......tolong......"


suara Maira ternyata mampu menembus dinding rumah tetangga, sehingga pak Anton tetangga rumahnya langsung datang menghampirinya.


"assalamualaikum"


mendengar suara itu membuat hati Maira sedikit lega.


"wa'alaikum salam, masuk saja pak. tolong bantu saya pak"


Pak Anton langsung masuk dan membantu Maira mengangkat sang nenek. dan ternyata tetangga yang lain juga mulai berdatangan.


"pak buk titip neneknm saya panggil dokter sebentar"


tanpa ada persetujuan dari merek Maira langsung menghambur keluar. dia berlari sekencang yang ia mampu menuju rumah Zia. Rumah mereka cukup jauh tapi hanya Mami Zia yang ia ingat untuk saat ini.


"pak...."


"eh neng Maira"


pak satpam langsung membukakan pagar untuk Maira.


"maaf pak Mami ada?"


"OOO ibuk, mereka tadi makan malam di luar neng"


langit pun ikut bergemuruh seperti bergemuruh ya hati Maira saat ini. hujan semakin deras, dengan wajah lesunya Maira berbalik dengan tangan kosong.


"nek....."


hatinya pilu saat mengingat ia pulang dengan tangan kosong. yang dia khawatirkan saat ini adalah neneknya. Bagaimana nasib neneknya jika tidak diobati segera

__ADS_1


__ADS_2