9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
rasa yang tersimpan


__ADS_3

semakin hari hubungan Zia dan Razik semakin hangat. meski masih ada duri di hubungan mereka, mereka ingin mencoba menghadapi dan saling mempercayai. bahkan razik sudah lupa masih terikat dengan Syifa, hanya saja setiap berangkat kerja dia akan bertemu dengan Syifa dan menyadari bahwa masih ada hubungan yang harus ia putuskan antara dia dan Syifa.


seperti hari ini, dia begitu lelah untuk menghindari Syifa dan ternyata cukup sulit, terlebih lagi Syifa berada di satu penerbangan dengannya.


bahkan panggilan sayang dari Syifa terasa asing untuk Razik. begitupun dengan rangkulan hanya membuat razik semakin berdosa terhadap zia.


"Syifa lepaskan"


"sayang aku begitu merindukan mu"


"Syifa lepaskan, banyak orang"


"kamu aneh, orang-orang kan tau kalo kita pacaran, apa masalahnya?"


Syifa masih memeluk razik dengan erat, sementara razik semakin risih dilihat orang-orang. beberapa karyawan yang tau akan menganggap mereka seet dan merasa iri namun banyak diantaranya yang memandang sinis seakan mereka merusak pemandangan disekitar. tiba-tiba razik memandang Prass dengan semiringah, seakan Prass adalah malaikat penolongnya.


"bantuin gue?"


katanya dengan suara yang tertahan. Prass menaikkan alisnya tidak mampu mencerna maksud razik. razik menunjuk Syifa yang memeluknya.


"please.." razik mengatakan itu tanpa suara.


Prass tersenyum simpul, dia sadar temannya ini sedang kesusahan.


"ekhm..."


Syifa melepaskan pelukannya dan melirik kesamping kanannya. setelah menyadara suara itu berasal dari Prass dia kembali memeluk razik. razik yang tadi merasa lega kembali sesak.


"syifa kenapa ngak Lo angkat aja raziknya kepesawat?"


Syifa tersenyum lebar seakan ada sesuatu yang menyenangkan difikirkannya


"wah lo pintar jg ternyata. kenapa Lo ngak tukar jam terbang aja sama Razik?"


mata Razik membulat sempurna dan memandang Prass dengan sangarnya.


"iya kan sayang"

__ADS_1


"ah...ha hah..."


razik menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


"Lo gila ya, ini 15 menit lagi mau berangkat. harusnya kita udah ada di pesawat. ayok cepat"


Prass menarik tangan Syifa dengan paksa. meski dia ingin bersama razik dia tetap tidak bisa melawan perintah Prass karna bagaimana pun juga Prass masih atasannya.


Prass bernafas lega, tapi itu hanya sebentar. saat dia berbalik dia telah mendapati Zia yang memandangnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Zia mendekati razik dan terlihat ada senyuman yang dipaksakan diwajahnya.


"aku sudah lama menunggu mu di parkiran, karna tidak sabar makanya aku mencari mu kesini"


razik mengangguk, dia bahkan tidak tau harus menjawab apa. razik hanya takut jika Zia melihat kejadian tadi.


"besok-besok tolong jangan membuat ku menunggu terlalu lama, itu sangat melelahkan"


"maaf"


"pada akhirnya hanya itu yang bisa kamu katakan"


Zia mengatakannya dengan lirih, meskipun begitu razik masih bisa mendengarnya. razik mengikuti Zia menuju parkiran. bisa dibaca dengan jelas ada raut kesedihan diwajah Zia, razik berfikir Zia memang melihat kejadian tadi. untuk beberapa saat suasana di dalam mobil itu terasa sunyi, hingga akhirnya ponsel Zia berdering.


"..........."


"mas Razik? ada ni disamping Zia. ummi mau bicara sama mas Razik?"


"............"


"o begitu, iya ummi nanti Zia sampaikan sama mas Razik"


"........."


"iya ummi. ummi sehat-sehat ya, assalamualaikum"


razik melirik zia, wajahnya penuh tanda tanya.


"ummi, nyuruh kita kerumah dalam waktu dekat"

__ADS_1


"kenapa? ada masalah"


Zia menggeleng dan menghembuskan nafasnya dengan berat.


"kenapa Zi?"


"keluarga mau bahas pernikahan kita"


"OOO oke"


razik tersenyum lebar, seketika wajahnya terlihat cerah.


"bagaimana kalau hari Minggu"


Zia seakan enggan untuk menjawab pernyataan razik.


"Zi?"


"Minggu aku piket zik"


razik mulai menyadari memang ada hal yang mengganggu Zia. terlihat jelas Zia tengah marah kepadanya bahkan kata maspun hilang dari panggilannya.


"yaudah kita cari waktu yang tepat nanti"


Zia hanya mengguk lesu


"tolong antar aku kerumah sakit"


"kamu masih kerja"


"iya, mungkin aku ada acara makan malam dengan para dokter"


"makan malam?"


Zia mengangguk.


hati Razik terasa sesak melihat Zia tanpa ada membahas rencana yang disusunnya tadi pagi. razik memandang ponselnya yang berisikan chat Zia tadi pagi dengan hati yang perih.

__ADS_1


"assalamualaikum mas. happy birthday suami ku. entah aku harus bahagia karna umur mu bertambah atau sedih karna waktu mu bersama ku akan berkurang. yang terpenting aku bersyukur bisa kenal dan bersama mu dalam waktu yang panjang. aku hanya ingin memberitahu mu aku bahagia bersama mu. dan tentu saja aku akan selalu mendoakan mu"


"o iya mas nanti malam kita makan malam ya. pokoknya ngak da alasan lembur. untuk mensyukuri persahabatan yang Allah atur untuk kita"


__ADS_2