
Zia masih terus menepaki jalanan, menjauh dari tempat pertemuannya dengan Syifa. Ia bahkan tidak tau tujuannya selanjutnya, malas untuk kembali kerumah meski hanya untuk mengambil mobil ataupun uangnya.
Zia menatap luasnya air yang mengalir di bawah jembatan ini. Fikirannya seakan mengikuti arus sungai yang tak brujung
Tiiiiiiittttt......
Klakson mobil yang begitu keras mengejutkan Zia.
"Ziaaaa lo, Lo jangan lakuin itu ya gue mohon"
Maira turun dari mobilnya dan langsung memeluk Zia dari belakang
"Tenangkan fikiran Lo dan gue ada disini. Gue tau hidup lo memang berat tapi bukan begini cara penyelesaiannya"
Zia bingung apa sebenarnya yang di fikirkan sahabatnya ini.
"Apaan sih?"
pelukan Zia begitu erat hingga sulit bagi Zia untuk melepaskannya.
"Jangan, ngak lo pokoknya ngak boleh jauh-jauh dari gue. Gue ngak mau kehilangan Lo"
"Lo apaan sih?"
dengan bersusah payah akhirnya pelukan maira lepas juga. zia meletakkan tangannya di kening maira.
"Ngak panas"
"Lo tu yang kenapa"
"Gue? Lah gue emangnya kenapa?"
"Ya lo kenapa sampe mau bunuh diri segala"
mendengar tuduhanaira yang tak beralasan membuat maira kesal juga geli.
"Siapa juga yang mau bunuh diri Maimunah?"
Suara Zia naik satu oktaf melepaskan kekesalannya pada maira. Maira memang teman Zia yang paling suka berfikir di luar jendela.
"Lo kan yang mau bunuh diri"
"Emang ada gue tulis surat wasiat?"
Maira menggeleng
"Ada gue nangis-nangis sambil bilang gue ngak mau hidup lagi?"
Maira menggeleng
"Emang ada raziq selingkuh di depan gue?"
__ADS_1
Maira menggeleng lagi.
Eh tunggu,raziqkan memang selingkuh di depan gue.
Terlintas di ingatan Zia kejadian yang baru saja ia alami. Kalau di dalam sinetron dia udah jadi istri yang menyedihkan.
Bodoh amat, dia mau selingkuh, mau nikah lagi. Emang gue pikirin yang penting nanti dia ngasih gue harta Gono gini yang gede.
Zia tersenyum licik.
"Terus kenap Lo ngambil kesimpulan ngak jelas kayak gitu huh"
Maira tersenyum bingung. Dia baru sadar ternyata dia berimajinasi yang menyeramkan. ini efek dia nonton drama tadi
"Lagian nih ya kalo gue mau bunuh diri ngak mungkin gue bunuh diri ditempat yang rame kayak gini Maimunah"
Zia dan maira melihat sekitar, mereka Baru sadar ternyata mereka menjadi pusat perhatian orang-orang.
"Iya juga ya"
Kata maira dengan wajah polosnya
"Ya ampun gue kok bisa ya punya teman kayak gini"
Zia menampar jidatnya.
********
"Huh kayaknya gue memang harus segera bercerai deh sama raziq"
Maira terdiam, dia merasa tercekat dengan pernyataan Zia.
"Kenapa?"
"Karna gue benci di nomor duakan"
"Raziq masih dengan cinta gelapnya?"
Zia tersenyum berat.
"Dia bakalan terus bersama cintanya karna itu kami harus bercerai supaya gue bisa nemuin cinta gue juga"
"Lo yakin bisa nemuin cinta yang baru?"
Zia menarik nafasnya berat.
"Kayaknya. Paling ngak semoga Allah mempertemukan gue dengan orang yang mencintai gue"
Maira menggenggam tangan Zia.
"Gue yakin itu ada"
__ADS_1
Sekarang mereka hanya saling melempar senyum, senyuman yang saling menguatkan.
"Bang gue borong baksonya ya. Di bungkus"
Abang baksonya tersenyum lebar, rasanya permintaan Zia seperti sebuah keberuntungan.
"Wah senyuman abangnya manis banget"
Zia menampar bahu maira, dia mulai meracau yang tidak jelas.
"Duh zia, tangan Lo ya kebiasaan"
Maira mengelus bahunya yang panas karna tamparan Zia
"Eh tunggu bakso sebanyak itu buat apa?"
"Gue pengen kepanti"
"Ow..."
Maira mengangguk-angguk burung.
"Bang kita tunggu di mobil aja ya"
"Siap neng"
"Bang dibungkus sama Abang nya bisa?"
Kan benar maira akan menggila lagi. Zia langsung menutup mulut maira dan menyeretnya kedalam mobil.
"Maaf ya bang teman aku memang gitu, gesrek dikit"
Maira masih saja tersenyum genit. Lagian neng Zia ngak tau aja bang baksonya malah seneng dirayu sama si maira yang manis.
Setelah pesanan Zia di muat oleh Abang bakso sekarang mereka menuju panti asuhan piara bunda.
Panti asuhan yang mengandung banyak cerita di masa lalu.
Zia dan maira disambut senang oleh anak-anak panti. Bagi mereka kedatangan Zia seperti kedatangan kakak mereka sendiri. Karna zia sudah menjadi bagian dari rumah ini.
"Zia"
Zia mengalihkan pandangan kepada suara yang memanggilnya.
"Bunda"
Air matanya meleleh begitu saja. Ada rasa yang menggebu di hatinya, rasa rindu. Ya rindu yang sudah lama tertahan dan luka yang mendalam.
Zia melepaskan pelukannya memandang wajah wanita paruh baya itu lekat-lekat.
"Zia Adit"
__ADS_1
Zia mengangguk seakan paham luka apa yang diceritakan oleh air mata.