9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
merajut cinta


__ADS_3

Ditatapnya wajah yang tenang itu lekat-lekat seakan tidak ingin berpaling sedikitpun. Sudah satu Minggu setelah kepulangan mereka dari bulan madu, selama itu pula hubungan rumah tangga mereka semakin membaik. Bahkan sekarang mereka sudah memutuskan untuk tidur seranjang.


Sebenarnya dia tidak tau apa yang membuat pria dihadapannya ini mau mengalah dan berusaha memperbaiki semuanya. Bukan cinta pastinya, karna Zia tau Razik masih sangat mencintai Syifa. Namun untuk kali ini Zia ingin egois dalam mempertahankan keluarganya.


"Maaf zik, aku hanya ingin keluarga kita baik-baik saja"


Zia tersenyum miris mengingat dirinya telah menyerahkan hidupnya untuk pria yang tidak mencintainya.


Kumandang azan subuh membuat Zia tersadar dari rasa sedihnya.


"Mas, mas bangun udah subuh"


Razik hanya mengeluh manja, kemudian memejamkan matanya kembali.


Zia tersenyum dan mencoba cara ampuhnya. Zia berbicara dengan lembut tepat di dekat telinga razik.


"Assalamualaikum hubbi, udah subuh ayo bangun ntar ketinggalan berkah subuhnya Lo"


Razik tersenyum mendengar bisikan lembut dari Zia, seakan penuh cinta di dalamnya. Melihat razik yang masih menutup matanya dengan rapat membuat Zia mendengus kesal.


"Ku hitung sampai lima Lo kalo nggak bangun juga aku bawain air kesini"


Razik tersenyum geli mendengar ancaman Zia.


"1, 2, 3, 4, 5"


Razik masih saja menutup matanya, membuat Zia semakin kesal. Zia yang tadinya berencana ingin bangkit dari kasur kembali terbaring karna razik menariknya dengan kuat dan memeluknya dengan erat. Jantung Zia berdegup dengan kencang, fikirannya mulai berkelana kemana-mana. Zia begitu bahagia bisa melihat wajah ini dengan sangat dekat, bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya, dia bisa sedekat ini dengan razik. Sang pemilik wajah itu membuka matanya jantung Zia berdetak semakin kencang, apalagi saat razik melontarkan senyuman kepadanya.


"Apa mengusili ku begitu membahagiakan untuk mu?"


Razik menatap Zia penuh arti dan tiba-tiba razik mencium *i**r Zia dengan cepat, ah Zia seperti es yang mencair, meleleh.


"Kamu begitu imut jika sedang kesal"


Zia hanya terdiam, dia masih terpaku dengan perbuatan razik kepadanya. Razik semakin mendekat dengan Zia dan saat tangan razik ingin bermain liar Zia menghentikannya.


"Sudah subuh sayang kita harus sholat"


Razik hanya tersenyum dan mengangguk patuh.


Ini bukanlah pertama kalinya untuk mereka sholat berjamaah, namun setiap kali Zia diimamii oleh razik ia selalu meneteskan air mata. Dia begitu haru dengan rencana Allah dalam menyatukan mereka, sementara razik merasa disaat seperti inilah dia menyadari betapa beruntungnya dia memiliki Zia, karna dengan Zia dia selalu menyadari betapa Allah begitu menyayanginya sehingga mengirimkan Zia untuknya. Bersama Zia membuat razik semakin dekat dengan yang Maha Kuasa.


********


Razik terhenti saat menuruni anak tangga, dia memperhatikan wanita yang tengah asik menata meja makan disana.


"Siapa ya, ngak mungkin dong bik nah ramping banget soalnya. Lagian stylenya juga terlalu keren buat bik nah" batin razik tidak bisa mengenali wanita itu karna dari tadi dia hanya melihatnya dari belakang.


"Maaf pembantu baru ya"

__ADS_1


Zia berbalik dengan kesal mendengar pertanyaan suaminya itu. Razik yang melihat Zia membuat mulutnya menganga.


"Iya tuan saya pembantu anda yang siap melayani"


"Duuuhhh sayang, bukan gitu. Masya Allah cantiknya. Kamu kok tiba-tiba pakai hijab"


Zia tersipu malu mendengar pujian razik. Entah mengapa ada rasa bangga di hati razik melihat istrinya itu berhijab.


"Sebenarnya sejak bunda memberikan kado hijab hari itu hati ku mulai tergugah untuk memakai hijab tapi mulai mantap hari ini. Gimana mas boleh ngak?"


"Boleh donk, bagus malahan"


Razik tersenyum bangga sedangkan Zia masih tersipu malu. Razik mencium kening Zia dengan penuh kebanggaan.


"Aku bangga sama kamu"


Senyuman Zia mengembang, begitulah wanita sederhana hanya perlu dipuji saat ia melakukan kebaikan maka ia akan merasa hal itu menjadi dorongan untuknya agar bisa lebih baik.


"Ayok makan mas"


Razik langsung duduk dan membiarkan Zia melayaninya.


Hari ini dia semakin menyadari statusnya yang telah menjadi seorang suami.


Dan hari ini Zia pun semakin ingin menjalankan perannya menjadi seorang istri.


************


Zia yang sedari tadi melamun terperanjat kaget dengan kehadiran maira yang tiba-tiba.


"Ahhh Masya Allah siape nih"


Maira memegang kedua pipi Zia dan menelitinya.


"Aduh Mai, siape lagi kalo bukan sahabat lu"


Maira menutup mulutnya yang mangap.


"Masya Allah zia, gue seneng banget liat Lo berubah kayak gini"


Zia membalas pelukan sahabatnya itu.


"Iya gue juga. Lagiankan gue ngecontohnya dari lu"


Maira memang sudah memakai hijab dari kecil, dia dibesarkan di dalam keluarga yang religius dan berhasil menanamkan agama dihati maira.


"Ciiieeeee ada yang lagi bahagia nih kayaknya, bulan madunya lancar ya?"


"Apaan sih?"

__ADS_1


"Cerita donggg....."


"Oke gue cerita"


Maira mengambil posisi duduk terbaiknya dan duduk menghadap Zia.


"Jadi gue sama razik mutusin buat menjalani rumah tangga yang sebenarnya"


"What? Maksud Lo? Gue, gue ngak paham"


Zia menarik nafasnya berusaha agar lebih sabar menghadapi sahabatnya ini.


"Iya gue sama razik udah mutusin buat jadi suami istri yang sebenarnya"


"Jadi Lo udah penuhi kewajiban Lo sebagai seorang istri"


Zia mengangguk. Maira menutup mulutnya yang mengap karna syok.


"Jadi sebenarnya....."


Zia menceritakan secara garis besar kejadian yang telah membuat razik khilaf.


"Astaga Zi, sampe segitunya si Syifa"


Zia lebih memilih untuk tersenyum.


"Tapi Zi Lo yakin razik bakalan lepasin Syifa?"


"Ya gue beri dia waktu sebulan ini buat ngelesaiin hubungan dia sama Syifa"


"Kalo ngak selesai gimana?"


"Mungkin gue yang ngalah"


"Lo gila ya"


Maira merasa tidak terima dengan sifat Zia yang begitu pengecut. Dia tidak ingin sahabatnya itu terus mengalah dengan keadaan.


"Ya mau gimana lagi mai. Kalo memang kebahagiaan razik itu sama Syifa berarti gue dong yang harus menyingkir"


"Terus kebahagiaan Lo gimana, sementara semuanya udah direnggut sama dia. Sampai kapan sih Lo harus ngalah terus zi?"


"Ini bukan masalah ego Mai, tapi ini tentang hati. Hati itu terkadang di luar kendali manusia karna itu takdir dari Allah. Paling tidak ya dia berusaha dulu bareng gue tapi kalo memang Allah bilang hatinya dia cuman buat Syifa, gue bisa apa"


Maira menarik nafasnya yang berat. Dia menggenggam tangan Zia seakan menyalurkan kekuatan untuk sahabatnya itu.


"Apapun keputusan Lo, Lo harus ingat zi gue selalu ada di belakang Lo"


"Pasti mai"

__ADS_1


Memang selalu maira yang menjadi sandaran Zia kala sesuatu membuatnya jatuh dan di saat semuanya menjatuhkannya maira tetap berada di belakangnya. karna itulah persahabatan mereka bertahan sampai saat ini.


__ADS_2