
Razik terbangun di saat mereka baru mulai merajut mimpi. badannya terasa lebih ringan karna panasnya sudah turun, infus juga sudah mengalir dari tadi sebagai pengganti amunisi energinya. dia melirik Prass yang bergulung di sofa.
"dia selalu ada saat gue jatuh tapi saat dia jatuh Zia yang selalu bersamanya dan gue selalu dijatuhkan oleh Zia"
batin Razik.
pandangannya beralih ke Syifa.
"dan lo, kenapa selalu ada saat gue jatuh. gue ngak bisa sepenuhnya salahin Lo atas semua ini karna gue sadar ini semua akibat atas sikap pecundang gue. maafin gue Syifa"
...*********...
Prass terbangun dan melihat kedua sahabatnya masih berkecimpung dalam dunia mimpi. dia melirik jam dinding dan langsung ketar-ketir karena jam terbangnya sebentar lagi. dan tentu saja ponselnya telah dibanjiri telepon oleh rekan kerjanya. Razik keluar dari apartemen Razik dengan buru-buru sehingga tidak menyadari pintu rumah Razik belum tertutup dengan baik.
Tidak lam setelah kepergian Prass ummi dan Abi telah ada di depan apartemen Razik.
"bi rumah Razik kok kebuk ya?"
ummi yang melihat pintu apartemen Razik yang terbuk merasa was-was, Abi juga demikian. takut kalau-kalau ada pencuri atau orang jahat yang masuk. Abi pasang badan dan membuka pintu apartemen Razik lebih lebar dan memperhatikan rumah Razik dengan teliti. tidak ada hal yang mencurigakan. Abi melihat ummi yang masih berdiri di luar, setelah dikode oleh Abi dan merasa aman barulah ummi masuk.
"aman kok mi?"
"Alhamdulillah"
Abi meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya pertanda mereka harus diam.
"kenapa bi?"
"ssstttt....kayak suara orang"
seketika bulu kuduk ummi meremang. ummi mengikuti Abi dari belakang dan menaiki anak tangga. perlahan mereka sudah ada di depan kamar Razik, belum sempat Abi mengetuknya tiba-tiba pintu sudah di buka.
ya sontak Abi dan ummi kaget seorang wanita keluar dari kamar anaknya. fikiran ummi dan Abi bahkan sudah berkeliaran kemana-mana.
begitu juga dengan Syifa, seketika tubuhnya menegang.
"siapa Syifa?"
Syifa melirik Razik dengan tatapan yang sulit diartikan. dia melepaskan daun pintu sehingga Razik bisa melihat dengan jelas keberadaan Ummi dan Abi.
tentu saja Razik juga syok melihat kedua orang tuanya sudah ada di depan kamarnya dan entah sejak kapan, entah apa yang mereka fikirkan tentangnya.
"turun kita harus bicara"
__ADS_1
kata Abi dengan tegas, seperti anak bebek yang mengekori induknya seperti itulah mereka.
Syifa bisa merasakan jari tangannya yang dingin karena takut untuk diadili Abi. sementara Razik merasa tidak peduli hukuman apa yang akan diberikan Abi, karna apapun itu harus ia terima sebagai sebuah konsekuensi dari perbuatannya sendiri. bahkan jika Razik berusaha untuk membela diri akan terasa percuma karena orang yang tengah emosi tidak kan pernah terima kenyataan lain di balik pandangannya.
mereka berdua berdiri menghadap ummi dan Abi seperti anak murid yang tengah menghadap kepala sekolah, begitulah mereka kini.
"ini suatu pembuktian bagi Abi kalau apa yang disampaikan Zia itu benar"
Abi meletakkan ponselnya di atas meja, di dalam ponsel itu terlihat sebuah Vidio Syifa dan Razik.
rasa malu menyeruak begitu saja di hati Syifa, pandangannya semakin tertunduk. sementara Razik langsung mengambil ponsel itu dan melihat pemgirimnya dan benar dugaan Razik bahwa dialah yang mengirim Vidio itu kepada Abi. hatinya semakin kecewa dan terluka. Zia trus membuatnya semakin terpojok, seakan-akan ingin menutup celah untuknya.
"kamu harus menikahi Syifa secepatnya"
Syifa dan Razik serentak mengangkat kepala mereka dan sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.
"kenapa aku tiba-tiba tidak menginginkan ini lagi. kenapa di saat tujuan ku hampir tercapai aku malah ingin berputar arah? Zia kembalilah jika tidak kamu akan menyes seumur hidup mu karna telah membiarkan ku menang"
batinnya seakan memiliki dua suara yang berbeda. satu sisi ini tujuannya dari awal dan hampir berhasil. disisi lain bukan kebencian dan hukuman yang di inginkan melainkan cinta.
"inikah yang kamu harapkan? apa benar jalan untuk kita sudah tertutup? kamu tau pasti jikapun itu terwujud batin ku tidak akan pernah berhenti mengharapkan mu kembali dan siksaan seperti itukah yang ingin kamu berikan untuk ku?"
batin Razik terus mengutuk dirinya sendiri karna rasa bersalahnya. disaat perintah dari Abi terucap hanya Zia yang melintas di hati dan fikiran mereka.
"baiklah"
"tapi Razik ingin menemukan Zia dulu dan meminta izinnya"
"semakin lama kamu menundanya akan semakin membuka aib keluarga kita"
Razik semakin geram karna ummi dan Abi pun sudah menuduhnya menghamili Syifa, tapi buat apalagi kata pembelaan jika mereka terus menutup telinga dan meyakini apa yang ingin mereka percayai.
"baiklah silahkan ummi dan ummi aturkan"
sementara bagi Syifa ini malah membuatnya terlihat sebagai wanita yang jahat. Syifa memegang perutnya dan berfikir untuk mengatakan yang sebenarnya.
"aku....."
mereka semua melihat Syifa yang tertunduk malu.
"aku sebenarnya..."
Syifa ragu sekaligus takut untuk membuat Razik terluka sekali lagi.
__ADS_1
"aku...."
"datanglah Minggu depan ke rumah, ajak Syifa kita akan membahas ini bersama"
Razik hanya mengangguk berat. sementara Syifa seakan tidak memiliki kesempatan untuk mengungkapkannya.
"Syifa bisa bicara dengan ummi sebentar?"
belum sempat Syifa mengangguk Ummi sudah berlalu dan menuju balkon dan Syifa hanya menguntitnya dari belakang. Syifa begitu ciut saat Ummi menatapnya dengan tajam. karna dia tau dia salah makanya dia merasa takut dan merasa semua keadaan ini adalah tanggung jawabnya, itulah kenapa Syifa merasa takut saat dihadapan ummi dengan tatapan tajam itu.
"ummi..."
"apapun yang kamu fikirkan lebih baik kamu urungkan"
Syifa melirik Ummi tidak mengerti.
"cukup kamu ikuti kata-kata Zia jika kamu tidak ingin memperumit keadaan lagi dan dengan begitu kamu juga bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan"
Syifa tidak mengerti ini sebuah dukungan kah atau sebuah ancaman untuknya.
"atau kamu ingin kehilangan semuanya dan tidak akan ada lagi yang melirik mu"
Kali ini Syifa paham ini adalah sebuah pilihan yang memiliki resiko.
terlihat jelas rasa tidak suka diwajah Ummi dan Syifaoun dapat merasakan itu. bahkan Syifa tidak mampu berkutik dihadapan Ummi.
Ummi meninggalkannya tanpa peduli rumitnya fikiran Syifa saat ini.
"Abi ayo pulang"
Abi hanya manggut dan mengikuti ummi dari belakang. begitupun dengan Syifa, tadinya dia berniat pergi tapi setelah ia perhatikan saku celana Razik terlihat sedikit berbeda. dia mendekati Razik dan mengangkat tangan kirinya yang sedari tadi bersembunyi di balik saku celana. dan benar dugaan Syifa tangannya dari tadi berdarah, itu semua karna Razik langsung menarik infusnya tanpa tau caranya. supaya tidak diketahui ummi dan Abi Razik sengaja memasukkan tangannya ke dalam saku. dengan kesalnya Syifa mengobati luka Razizk dan Razik hanya membiarkannya.
"bagaimana kamu membiarkan diri mu terluka seperti ini"
"karna hati ku sangat terluka jadi luka kecil ini bukanlah apa-apa"
Syifa menghentikan tangannya yang tadinya sibuk membalut tangan Razik.
"jikapun hati mu terluka itu bukanlah akhir dari kehidupan mu"
"ini akhirnya, hidup ku sudah berakhir. hidup ku sudah dibawa Zia kemanapun dia pergi. sekarang aku hanya boneka mu dan keluarga ku"
Syifa merasa terkejut saat mengetahui begitu terlukanya Razik karna ulahnya.
__ADS_1
ulahnya?
benarkah semua luka Razik itu karena dia. jika saja Zia tidak pergi tentu saja Razik tidak akan seterluka ini. bahkan sekarang ia merasa menjadi boneka Zia. apa sebenarnya yang coba Zia lakukan, ah tidak ada yang tahu, bahkan saat ini semua orang berharap Zia akan kembali.