
"pak kapten awas...."
Nampan yang berisi kopi panas itu langsung ditangkisnya, beruntung tidak mengenai badan Prass tapi tangannya tetap saja terluka. punggung tangannya kini melepuh karna terkena air panas. Pak wadio sebagai pelayan di sana merasa khawatir, dia tadi terpeleset sehingga kehilangan keseimbangan dan kopi di nampan itu hampir terjatuh.
para rekan kerja yang duduk bersamanya juga ikut panik, namun mereka hanya bisa melindungi diri sendiri.
"kapten ayok saya bawa ke klinik"
Prass mengangguk dan mengikuti Angga seorang pramugara yang akan satu penerbangan dengannya. Angga memacu mobil itu semampunya, dia bukanlah pengemudi yang handal sehingga meskipun sudah kencang menurutnya tetap saja pelan bagi Prass.
"kita kerumah sakit aja ya Nga"
"ke klinik aja kapten, dekat kok dari sini"
"kerumah sakit aja nga"
"kalo jam segini ngak ada dokter di rumah sakit kapten, kebanyakan dokter magang atau ngak dokter umum. apalagi kalau rumah sakit umum"
"ngak papa, yang penting ada perawatnya"
Angga masih terus saja menawar Prass, sementara Prass tetap teguh dengan pilihannya.
"di klinik ini dokternya cantik-cantik Lo kapten"
"dirumah sakit sana perawatnya jauh lebih cantik"
senyuman Prass mengembang seketika, wajah cantik itu kini telah membayang difikirannya.
"tapi jika lebih lama tangan kapten bisa lebih bengkak nanti"
"membayangkan dia saja tangan ku sudah sembuh"
"saking cantiknya ya kapten?"
"iya, eeehhhhh bukan. ah sudahlah yang penting sekarang kita ke rumah sakit"
"baiklah"
lenguh Angga frustasi karena bujuk rayunya tidak mampan untuk Prass.
luka Prass sudah di obati namun semua tidak berjalan sesuai keinginannya. bahkan ia tidak melihat Maira sedikitpun. Melainkan para perawat yang kini mengerumuninya di meja reseptionis. Tentu saja para perawat itu menggila, melihat Prass dengan seragamnya membuatnya seratus kali lebih tampan dari biasanya, namun pandangan Prass tidak akan pernah puas jik yang dicarinya tidak kelihatan.
"kapten kenapa sampai terluka?"
mereka langsung bisa mengenali pekerjaan Prass hanya dari seragamnya.
"ah itu, tadi tidak sengaja ketumpahan air panas"
"aduh kasihan sekali"
rengek salah seorang perawat yang berdiri paling dekat dengan Prass. Prass hanya tersenyum simpul.
"ada yang kenal dengan Maira?"
"suster Maira?"
ucap salah seorang perawat yang mengerumuninya.
"ha iya"
"dia tadi pergi dengan dokter Kevin"
"ohhhh, jadi dia sedang tidak ada dirumah sakit"
Prass sedikit kecewa karena yang dia cari ternyata tidak ada disini.
"maaf sus bisa serahkan resep obat yang harus kami tebus?"
ingin rasanya Angga membawa kaptennya itu pergi dari sini, karna Prass pun terlihat terganggu oleh mereka.
"tunggu sebentar pak"
perawat itu memandang Angga tidak suka.
"jangan terburu-buru pak. kita bisa ngobrol dulu"
__ADS_1
Angga yang tadinya di samping Prass digeser perlahan oleh para perawat.
"maaf para suster yang cantik kita sangat ingin mengobrol dengan suster-suster semua tapi kita juga ada jadwal yang harus di kejar"
Prass angkat bicara karena memang sudah tidak nyaman dikelilingi para gadis ini.
"tangan kapten masih terluka tidak seharusnya bekerja sekarang"
perawat itu memegang tangan Prass yang di perban dan memandangnya dengan iba.
tiba-tiba seorang wanita menerobos perkumpulan itu dan mengambil alih tangan Prass dan tentu kini perawat itu tersingkirkan dari samping Prass.
"kamu siapa?"
"saya? saya Maira"
tentu saja mereka mengenal Maira, karena Maira termasuk perawat senior dirumah sakit itu dan juga perawat yang sering menjadi buah bibir para dokter. bukan hanya karna cantiknya tapi juga karena telatennya saat bekerja.
"lalu kenapa kalau kamu Maira"
"saya calon istrinya"
mereka kaget mendengar pengakuan Maira begitupun dengan Prass.
"Aamiin"
spontan kata itu keluar dari mulut Prass dengan penuh semangat, sehingga seluruh mata kini tertuju padanya.
"maksud saya, smga kita bisa langsung...ke..jenjang pernikahan. iya itu...kan sayang"
"haha, iya semoga".
mereka tidak terlihat seperti pasangan yang sesungguhnya.
"nanti kalau kita menikah. saya akan undang kalian semua"
para wanita itu patah hati secara bersamaan. kini mereka tidak tertarik lagi dengan Prass dan memilih mundur alon-alon.
"hutang gue lunas ya"
"masih ada satu lagi"
"apa?"
"traktirannya. aku kemaren traktir kamu makan siabg. sekarang traktir juga dong"
Prass memang tidak akan melepaskannya Dengan mudah.
"pak ini obatnya sudah saya tebus"
"terima kasih"
Angga tiba-tiba muncul di hadapan mereka, dia memandang Maira dengan penasaran tapi setelah melihat genggaman Prass yang begitu erat seakan membuat rasa penasarannya terjawab.
"ternyata ini perawat cantik yang bapak bilang itu"
pipi Maira memerah mendengar kalimat Angga. dan sekarang Angga bisa paham kenapa Prass bisa langsung sembuh hanya dengan bertemu perawat ini.
"Angga kamu duluan aja ya, saya nanti biar diantar calon istri saya"
Angga mengangguk patuh. Namun Angga bukanlah anak polos yang tidak akan memanfaatkan kesempatan.
"wah kapten luar biasa"
Prass terlanjur tersanjung dengan pujian Angga.
"selama ini aku kira kapten tidak tertarik dengan wanita. supaya suster tau ya, tidak ada satupun wanita yang ia terima di hidupnya semuanya di tepis begitu saja. tidak......"
kini tidak lagi, kata-kata Angga siap menghancurkan reputasinya di depan Maira. karna itu sebelum benar-benar hancur dia segera menghentikan Angga. Prass langsung menarik tangan Angga agar menjauh dari Maira.
Maira tersenyum bangga mendengar kata-kata Angga, serasa menjadikannya seseorang yang spesial untuk Prass.
setelah Angga melambai kepadanya Prass pun berbalik dan menghampiri Maira.
"ayok"
__ADS_1
Maira hanya menuruti keinginan Prass. kali ini mereka makan di luar lingkungan rumah sakit. bukan di cafe hanya makanan pinggir jalan yang ada di dekat taman kota.
"kamu yakin mau makan disini?"
Maira hanya mengangguk pertanda dia mantap dengan pilihannya.
"memangnya kenapa?"
"ngak papa"
Prass menemui akang somasi nya dan memesan menu yang akan mereka santap.
"bang somainya dua. satu ngak pake cabe ya bg dan minumnya..."
Prass melirik Maira dan Maira hanya diam berharap Prass masih ingat minuman yang biasa dia pesan dulu saat mereka masih pacaran.
"satu teh es dan satu lagi jeruk peras gulanya sedikit dan esnya sedang ya kang"
Maira tersenyum puas karena Prass masih mengingatnya.
"oke siap kapten"
Prass juga ikut tersenyum melihat semangat si penjual somai itu. terlebih lagi dia bisa mengenali seragam Prass.
tidak butuh waktu lama satu per satu pesanan mereka sudah tersusun di atas meja dan mereka siap menyantapnya.
"lo sering banget ya kerumah sakit akhir-akhir ini?"
"mungkin karena daya tarik di rumah sakit itu kencang kali ya"
Prass melirik Maira yang terlihat sedikit tersipu.
"ya bisa jadi sih, habisnya banyak wanita-wanita cantik yang siap rayuin lo setiap kesana, apalagi kalo kesana pake seragam kayak gini"
Prass tersenyum karena mencium bau kecemburuan disana.
"tapi wanita cuek itu lebih menarik"
Ingin rasanya Maira mempertebal telinganya tapi sayang perlahan hatinya mulai luluh dan ini yang dia takutkan.
"jangan terluka lagi supaya kita tidak bertemu lagi"
"kenapa? kamu takut jika aku terluka"
"ngak. gue cuman ngak mau ketemu Lo lagi"
"kalo kamu ngak mau ketemu aku di rumah sakit, gimana kalau kita ketemunya di luar?"
Maira menetap Prass kesal karena merasa di permainkan dan Prass tau maksud dari setiap kalimat yang diucapkan Maira tapi dia sungguh tidak ingin memahamianya.
"bahkan jika diluarpun gue tetap ngak mau"
Prass menghentikan aktivitas makannya dan menatap Maira dengan tulus.
"kenapa, emang kamu ada hutang sama aku?"
Maira terdiam.
"ada ya? makanya kamu takut bertemu lagi dengan ku?!"
"emang ada ya?"
Maira menatao Prass penasaran, karna dia tidak paham kiasan apa yang tengah dimainkan oleh Prass.
"ada"
"apa?"
"hutang perasaan"
Tiba-tiba makanan Maira terasa hambar seperti gambarnya hatinya saat ini.
"jika memang ingin mengakhiri sebuah hubungan maka akhiri dengan benar, jik tidak dia akan terasa seperti hutang. saat berjumpa dengannya kamu akan merasa sesak dan tidak enak. jangankan untuk berteman lagi bahkan menyapanya pun akan sulit"
"lalu bagaimana gue bisa ngelunasin itu?"
__ADS_1
"penjelasan. aku cuman butuh penjelasan kamu mai. aku mau kamu jelasin kenapa kamu pergi begitu aja dan kenapa kamu harus jadi orang asing saat kita jumpa lagi. kenapa Mai?"