9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
bulan madu hari ke 3


__ADS_3

Pandangannya masih tertunduk lesu, ukuran lantai terlihat lebih menarik dari pada wajah marah sang Ummi. Seribu kata terus Zia otak-atik di dalam fikirannya, berharap ada kata yang bisa ia gunakan untuk dijadikan sebagai alasan.


"Sudah berapa lama nak?"


Zia menggigit bibir bawahnya, tidak tau harus berkata apa.


"Apa kamu tidak mencintai raziq"


Zia mengangkat kepalanya dan menatap Ummi untuk sebentar kemudian ia tertunduk lagi. Siapa tau hatinya saat ini,bahkan dirinyapun sulit untuk mengerti arti dari kata cinta itu. Hati Zia bak diremas mendapatkan pertanyaan dari ummi, bibir tidak mampu lagi mewakili hatinya untuk bicara sehingga air matanya meleleh begitu saja. Zia menggigit bibirnya seakan menumpukan tekanan yang ia rasakan disana. Ummi yang melihat Zia begitu tertekan mendekatinya dan duduk di samping Zia. Perlahan sentuhan tangan ummi membuat rasa hangat di hati Zia.


"Sini sayang"


Ummi mengembangkan tangannya siap menjadi sandaran zia, dengan sigap Zia menghambur kedalam pelukan ummi, ia tumpahkan segala kesedihannya disana.


**********


Tadinya Zia ingin mencari raziq dan menceritakan semuanya. Tapi saat ia ingin ke kamar dia melihat ada Syifa disana. Dengan cepat Zia berputar arah.


Saat azan bergema Zia memilih untuk singgah di sana. sebuah tempat yang memanggilnya untuk mengadu. Ya memang benar tempat yang tepat untuk mengadu adalah kepadaNya.


"Ya Allah engkaulah yang menuliskan takdir ku. Kuatkan lah aku ya Allah, kuatkan aku untuk menjalani takdir ku apapun itu"


Lama Zia merenung di dalam mesjid bahkan sekarang waktu isya telah berlalu.


"Maaf mbak mengganggu, suami mbak menunggu di luar"


Zia terkejut mendengar berita dari gadis itu, dengan cepat dia keluar dan berusaha mencari raziq tapi tidak bertemu.


"Hai Zi"


Zia berbalik, wajah itu tidak asing baginya meski sudah sangat lama mereka tidak bertemu.


"Prass?"


Prass mengangguk.


"Maaf aku yang menyuruh wanita itu memanggil mu. Aku lihat ini sudah malam, kamu tidak kembali ke kamar mu Zi?"


Zia menghela nafasnya kecewa. Dia fikir Raziq benar-benar mencarinya.


"O iya sudah larut ternyata"


"Ayo barengan, bahaya juga kalau kamu berjalan sendiri'


Zia hanya tersenyum dan mengikuti langkah Pras.


"AW.."


"Kenapa zi?"


"Ada sesuatu yang masuk ke mata ku"


"Coba buka mata mu, supaya bisa ku lihat apa ada sesuatu disana"

__ADS_1


Zia berusaha membuka matanya perlahan.


"Ya buka pelan-pelan"


Ternyata memang ada serangga kecil disana.


"Iya Zi ada, tunggu ya"


Prass membuka kamera hp nya agar Zia bisa melihat serangga kecil yang ada dimatanya. Dengan perlahan Zia berusaha mengeluarkan serangga itu. Tapi tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang. Tarikan itu begitu kuat membuat mukena yang ditangan Zia jatuh di jalanan. Pras hanya bisa diam melihat kepergian mereka.


"Tunggu, siapa sih main tarik tangan orang?"


Rasa lapar membuat Zia sulit untuk berfikir.


"Lepas dong, sakit"


Pria itu berhenti dan melepaskan tangan zia. Zia terkejut menyadari pria yang menarik tangannya itu adalah suaminya sendiri. Melihat wajah itu rasa kesal menusuk hatinya. Dengan wajah kesal zia melewati razik begitu saja.


"Kamu mau kemana?"


Zia mengabaikan razik


"Jalan hotel kesana"


Zia berbalik dan memperhatikan telunjuk razik kearah jalan yang berlawanan dari posisinya saat ini. Razik tersenyum tipis melihat tingkah Zia. Sebenarnya dia sangat kesal karena dari tadi sore razik sudah panik mencari istrinya itu. Bahkan ponselnya ia tinggalkan di kamar sehingga membuat razik semakin kalang kabut. Dia memang bersama Syifa, tapi tetap saja fikirannya hanya kepada Zia. Dia hanya khawatir jika sesuatu terjadi pada Zia dan jika itu terjadi akan banyak orang yang akan menghakiminya.


"Setelah aku lelah mencari mu kamu mengabaikan ku begitu saja?"


"Hei Zi kamu itu istri ku, jika sesuatu terjadi sama kamu yang bakalan dituntut itu aku"


"Mulai hari ini aku ingin bertanggung jawab atas diri ku sendiri"


Razik seakan menangkap sesuatu yang janggal dari perkataan Zia. Razik menarik tangan Zia hingga membuatnya menabrak dada bidang razik. Tidak ada jarak diantara mereka, bahkan Zia bisa merasakan deru nafas razik.


"Apa maksud mu?"


Zia membalas tatapan tajam razik, ingin rasanya dia ungkapkan segala beban dihatinya.


Suara dering ponsel razik merusak suasana hati Zia, dia tersenyum sinis.


"Bahkan disaat seperti ini dia masih saja mengganggu" batin Zia.


Razik melepaskan genggamannya di tangan Zia, namun tatapannya masih saja tajam menatap Zia.


"Angkatlah, siapa tau pacar mu sedang merindukan mu. Jangan pedulikan aku lagi. Aku akan baik-baik saja"


Zia meninggalkan razik, entah kenapa ada rasa perih dihatinya. Ternyata dinomorduakan itu begitu menyakitkan. Untuk pertama kalinya dalam memepertahankan hubungan ini Zia meneteskan air mata.


Sejak tadi Zia berusaha membujuk hatinya agar bisa tenang. Namun membayangkan rumah tangganya yang akan hancur, membayangkan kecewanya kedua orang tua mereka membuat hati Zia begitu perih.


Di saat seperti ini dia tidak tau lagi harus mengadu kepada siapa, rasanya tidak ada kekuatan yang bisa ia jadikan tempat bersandar. Disaat itu juga Zia sadar hanya satu tempatnya bergantung.


Dengan hati yang layu Zia menuju kamar mandi untuk berwudhu untuk melaksanakan sholat sunat. Dalam sholatnya Zia merasa ada dorongan dalam dirinya agar menangis sepuasnya seakan ada tempat ternyaman untuknya bersandar, sehingga perasaan sedih itu tumpah begitu saja. Segala harapan dan keinginannya Zia tumpahkan dalam doanya, berharap ada satu harapan yang diijabah oleh Allah.

__ADS_1


"Zi buka pintunya"


Suara pintu yang digedor dengan keras membuat Zia terperanjat kaget.


"Iya tunggu"


"Zi aku mohon, cepat buka pintunya"


Zia tidak sempat lagi membuka mukrnanya dan segera membuka pintu. Dia dapatkan razik disana dengan keadaan kacau.


"Ya ampun kamu kenapa"


Raziq mengabaikan pertanyaan Zia dan langsung masuk kedalam kamar.


"Zik kamu mabuk?"


Razik hanya menggeleng dan terus membuka kancing bajunya. Zia begitu histeris melihat leher razik dihujani dengan ciuman.


"Apa yang sudah kamu lakukan"


Zia menampar razik dan menghujani dada razik dengan pukulan tak berdayanya.


"Kenapa kamu melakukan itu mas. Aku sudah lelah dengan semua ini, aku ingin pergi dari hidup mu sekarang juga"


Zia mengambil kopernya dan mulai mengemasi baju-baju nya. Razik paham apa yang ada di fikiran Zia, tapi saat ini dia membutuhkan Zia untuk menyelamatkan dirinya. Deru nafasnya semakin memburu dan gairahnya semakin panas. Seperti singa yang siap menerkam,seperti itulah razik melihat Zia saat ini.


Razik memeluk Zia dari belakang.


"Aku mohon jangan tinggalkan aku, selamatkan aku kali ini Zi"


Zia bahkan tidak bisa mengartikan isi hatinya saat ini.


"Lepaskan aku"


Zia melepaskan pelukan razik dan berbalik melihat razik yang terlihat aneh malam ini.


"Zi percayalah aku tidak pernah berniat melakukan hal kotor itu. Tapi jika aku melakukannya dengan mu malam ini maka itu bukanlah hal yang kotor bukan"


Zia mengerutkan keningnya.


"Apa ma....."


Razik langsung m**u**t bibir Zia. Ada desiran aneh di hati Zia.


"Zi Syifa memasukkan obat perangsang kedalam minuman ku, membuat ku kacau begini. Dia berusaha menjebak ku dengan ***** ku"


Zia mendengarkan penjelasan razik dan itu membuatnya paham dengan keadaan razik saat ini. Perlahan razik melepaskan mukena yang Zia kenakan.


"Meski ***** ku begitu memburu tapi akal sehat ku masih bisa ku pakai sehingga aku mengingat mu. Dan aku rasa yang pantas atas ini semua itu kamu. Aku memang pria jahat yang selalu menyakiti mu tapi aku bukanlah pria bejat yang mengenyampingkan dosa. Jika kamu Sudi selamatkan aku kali ini Zi. Untuk pertama kalinya aku meminta hak ku"


Sungguh hati Zia begitu berkecamuk. Tapi tentu dia menyadari bahwa atas dirinya ada hak razik yang harus dia penuhi, jika tidak dosa yang mungkin saja bisa dilakukan razik juga akan menjadi tanggung jawabnya.


Zia mengangguk pertanda dia setuju. Razik tersenyum puas dan mulai bermain panas dengan Zia. Gelapnya malam menjadi saksi dua hati yang mulai menanam bibit cinta. Entah cinta itu mampu untuk terus tumbuh dan semakin berkembang. Atau justru akan layu dan mati...

__ADS_1


__ADS_2