9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
rindu


__ADS_3

pagi ini dia terbangun ketika tangannya tidak mampu meraihyang ia cari. saat membuka mata Zia tetap tidak menemukan Razik disampingnya. dengan malas ia mencarinya ke kamar mandi tapi malah menemukan secarik memo, tertempel pada cermin kamar mandi.


"aku tau kamu kehilangan, tapi aku tidak ada di kamar mandi. mandilah, aku tunggu di meja makan"


Zia merasa aneh dan langsung turun kemeja makan, bahkan dia juga tidak menemukan Razik disana melainkan buk sum yang tengah sibuk menata makanan di meja makan.


"benar dugaan bibik, buk dokter akan bangun jam segini"


"ah bibik bisa aja"


Zia masih berusaha mencari seseorang yang sangat ingin ia temui pagi ini.


"bapak udah pergi kerja buk"


"hah, kok ngak bangunin saya sih?"


"katanya ngak boleh dibangunin, kasihan, soalnya non baru tidur habis subuh tadi"


Zia tersenyum simpul. ada desiran hangat dihatinya saat razik begitu memperhatikannya.


"ayo makan non, ini semua buatan sang kapten lo"


"serius bik"


Zia memandang bik sum penuh selidik, seakan tidak percaya dengan perkataan buk sum.


"serius, bibik yang ngadon dia yang goreng. kan sama aja dia yang masak"


"yeeeee....itumah namanya bantuin bibik, kan resepnya bibik yang bikin bukan dia"


bibik tertawa puas saat candaannya disambut hangat oleh Zia. Zia mengambil posisinya.


"ayok makan bareng bik"


"bibik ngak tahan kalo makannya nunggu matahari terbit, jadi udah sarapan duluan. maaf ya non"


"hahahaha bibik bisa aja. iya ngak papa bik"


buk sum pamit dan meninggalkan Zia yang sangat antusias untuk menikmati nasi goreng buatan suaminya itu. saat membuka apiringnya dia malah menemukan sebuah memo lagi serta sebatang mawar yang sengaja disembunyikan di bawah piring.


"belum mandikan???? paling ngak udah Cici muka dong..!!!! dan pastinya nyariin aku ya. maaf ya istriku tercinta aku berangkat kerja duluan. sarapan yang banyak ya, semuanya jatah kamu jadi harus dihabisin. love you"


"eeemmmm love you to"


kata Zia dengan rengekan manjanya.


"kamu kok sweet banget sih pagi ini. kan aku jd ngak bisa marah lagi"


Zia tiba-tiba begitu merindukan suaminya. masalah semalam seakan sirna ditelan kebahagiaannya pagi ini. bahkan niat merajuknya pun telah hilang.


************


Zia tersenyum memandang sebuah kertas memo yang ada ditangannya. dia hanya mengingat perlakuan manis Razik. tanpa sadar seseorang telah masuk keruangannya dan langsung merampas kertas memo itu.


"wah surat cinta"

__ADS_1


sebelum maira sempat membacanya Zia sudah merebutnya kembali.


"ih resek banget sih"


Zia langsung menyimpannya dengan aman agar tidak direbutkan kembali oleh maira.


"apaan sih pake rahasia-rahasia an segala"


Zia hanya tersenyum manis.


"gimana sama dokter Kevin"


"asik banget, gue kayak belajar hal baru gitu sama dokter Kevin. dia profesional banget"


"bagus dong, tapi lo harus jaga-jaga sikap. ntar dokter kevinnya bosen lagi liat lo terus"


"iya nih kayaknya......"


TOK...TOK.....


saat Zia dan maira asik berbincang, seseorang mengetuk pintu ruangan Zia membuat perhatian keduanya teralih kepadanya. Zia berdiri dan menyambutnya dengan antusias.


"eh kapten. sini masuk"


Zia menarik sebuah kursi di depan maira, menyuruh Prass untuk duduk disana. maira melirik Zia dengan tajam namun ia abaikan karna disini ancaman maira tidak berlaku untuknya.


"bagaimana Prass"


"sedikit nyeri tapi ya tidak terlalu mengganggu"


Zia mengangguk paham.


"tapikan sekarang jam is...."


"suster maira..."


"baik dok"


mau tidak mau maira harus mengikuti perintah Zia. karna Zia yang berkuasa disini. seiring dengan deringan teleponnya, Zia menghilang meninggalkan mereka berdua disana.


"kamu sengaja?"


maira duduk disamping prass dan membuka perbannya.


"ngak"


maira menatap Prass curiga.


"serius, lihat ini..!!!"


Prass memperlihatkan pesan teks yang ia kirim kepada zia.


Prass: Zi lo hari ini praktek ngak?


^^^zia: praktek Prass, tapi nanti^^^

__ADS_1


^^^ya jam 12:30. harus on time.^^^


Prass: memang ada praktek jam segitu?


^^^Zia: ada khusus buat lo.^^^


^^^ingat ya harus ontime.^^^


Prass: oke deh


maira merasa kesal karena sengaja dikerjai oleh Zia.


"aku juga korban disini"


maira hanya diam dan fokus dengan luka Prass. Prass menatap maira dengan pilu, dia sangat merindukan maira yang ia kenal dulu.


"jangan menatap ku seperti itu!"


"siapa dokter Kevin?"


maira hanya diam dan menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.


"gebetan?"


pertanyaan Prass masih saja diabaikan oleh maira, dia sibuk membereskan peralatan yang tadi ia gunakan.


"pacar?"


sebenarnya maira mulai tidak suka dengan pertanyaan Prass yang terdengar ikut campur. Prass berdiri dan menghampiri maira yang tengah sibuk menyusun peralatan kedalam lemari.


"atau...."


"calon suami"


kata maira dengan tatapan tegasnya, tanpa memikirkan ungkapan itu justru menyesakkan untuk Prass.


"memangnya kamu siapa ikut campur dalam hidup ku?"


seketika Prass menjadi orang asing untuk maira. dia menatap maira penuh iba, bahkan keberadaannya di sisi maira seakan tidak ada artinya lagi. Prass tersenyum pahit dan menghela nafasnya yang berat.


"masa lalu yang pernah mengambil bagian di dalam hidup mu"


kini tatapan keduanya beradu seakan saling mencari makna.


"paling tidak lepaskan aku dulu dari bayangan masa lalu mu sebelum kamu memulainya dengan orang lain, sehingga aku tidak merasa dikhianati"


tatapan Prass sungguh dalam sehingga mampu menggoyahkan pagar hati maira. dia gugup karena masih melihat cinta di dalam mata pria itu, bahkan senyuman yang ditinggalkan Prass sebelum dia pergi terasa menyakitkan. maira mengejar Prass keluar, untungnya Prass belum jauh.


" tunggu"


Prass berhenti dan berbalik.


"ini resep obatnya ketinggalan dan datanglah hari Minggu ini"


"Prass mengambil secarik kertas yang diberikan oleh maira.

__ADS_1


"terimakasih"


maira merasa menyesal telah menyakiti hati Prass. seharusnya kesempatan ini ia gunakan untuk menyelesaikan kisah masa lalunya.


__ADS_2