
Terkadang kita butuh alasan untuk disakiti karna di buang tanpa alasan lebih menyakitkan dari pada ditinggalkan karna sebuah kesalahan. Bahkan Prass tidak pernah bisa lepas dari dunia putih abu-abu nya. Dia masih terjebak dengan cinta nya dimasa itu, sabab itulah sampai hari ini Prass tidak mampu melirik cinta yang lain. Baginya dia dan Zia masih terpaut dengan perasaan yang sama.
Dan kemaren ia seakan menemukan sebuah celah atas jawaban untuk pertanyaannya. hatinya semakin resah dan keingin tahuan terus mengusik hatinya. kali ini Prass tidak akan pernah melepaskan Maira sedikitpun.
tok.....tok....tok....
seseorang mengetuk kaca mobilnya membuat lamunannya buyar seketika. Prass menurunkan kaca mobilnya, terlihat sebuah wajah lelah menyambutnya dengan ekspresi kesal.
Pras memang memaksa Maira untuk menemuinya. tadinya dia fikir Maira benar-benar akan menolak permintaannya itu, ternyata Maira tidak benar-benar membencinya. karna itulah Prass selalu percaya bahwa Maira masih mencintainya.
"kenapa lagi sih Prass, gue capek banget nih"
"Lo ada acara hari ini?"
"ada"
Prass mengernyit seketika ada rasa kecewa dihatinya.
"tidur. gue pengen tidur. gue capek banget semalaman ngak tidur"
Prass mengulum senyumnya, rasa kecewanya disembuhkan dengan cepat.
"yaudah masuk"
"Lo mau nganter gue pulang?"
Prass mengangguk.
setelah menimbang-nimbang akhirnya Maira membiarkan Prass mengantarnya pulang.
"Mai aku mau ngajak kamu ke Bandung"
Prass sudah bersiap mendapatkan penolakan dari Maira tapi ia tidak mendapatkan itu dan tidak di iyakan juga.
"gimana mai?"
Prass melirik Maira berharap mendapatkannya tapi sayang ia justruebih dulu di buai mimpi. dia hanya bisa tersenyum melihat wanita yang dia cintai itu tengah Lena di dalam tidurnya.
"kata orang diam itu pertanda iya. berarti kamu setuju ya"
seperti yang dia katakan dia akan mengajak Maira kebandung dan bahkan sampai di Bandung pun Zia masih lelap dalam tidurnya. Prass hanya membiarkannya karna dia tidak sampai hati membangunkan Maira. ditatap nya lekat-lekat wajah Ayu Maira.
"apa sebenarnya yang kamu sembunyikan Mai?"
Prass mengingat kejadian kemaren.
...**************...
Flash back on
baru sampai dirumah sakit dia sudah menemukan yang dia cari. Maira berjalan dengan cepat seakan ada yang ia kejar bahkan ia mengabaikan Prass yang menyapanya. melihat ekspresi Maira Prass bisa menyimpulkan ada sesuatu yang mengganggu hatinya. karna itu Prass mengikuti Maira dari belakang.
jejak Maira membawanya ke cafe rumah sakit. ternyata Maira menemui Syifa. Prass semakin penasaran kenapa ekspresi Maira sampai tidak menyenangkan begitu, apa mereka bertengkar?
dia berusaha untuk duduk di dekat mereka berdua sehingga Prass bisa mendengar percakapan mereka. mungkin dengan begitu dia bisa tahu permasalahan yang dihadapi Zia. dan tentu dia mendapatkan yang dia inginkan bahkan lebih dari itu.
"hai..."
"hai"
"kamu mau pesan apa?"
setelah melayani mSyifa dan Maira pelayan itu beralih ke meja Prass yang tepat berada di belakang Maira.
"kamu tambah kurus Mai"
__ADS_1
"benar dia tambah kurus saja"
batin Prass
"iya, aku lagi sibuk nyelesain study ku"
"kamu beralih ke kedokteran ya?"
"ehum, begitulah"
"wah dia memang wanita yang penuh ambisi"
Pras mengulum senyumnya, saat menyadari Maira yang ia cintai saat ini berbeda dengan Maira yang dulu.
"kenapa ngak dari dulu aja?"
"kamu nggak bakalan percayakan kalo aku bilang aku ngak sanggup secara finansial"
"aku tahu berita tentang kebangkrutan keluarga mu tapi masa sih om dan Tante ngak ada tabungan untuk itu"
"bangkrut. maksudnya?"
Prass bertanya pada dirinya sendiri.
"hum ya, aku ngak mungkin semiskin itu"
"benar kan"
"miskin? bangkrut? apa-apaan ini?
ingin rasanya Prass bertanya langsung kepada Maira tapi ia urungkan karena dia tahu Maira tidak akan menjawabnya.
"heran deh, akhir-akhir ini banyak banget yang nyariin aku"
"dan aku salah satunya kan?"
Prass membatin sendiri.
"iya dan mungkin juga dengan alasan yang sama?"
"aku rasa begitu"
"alasan ku berbeda Mai. aku hanya merindukan mu"
"jika memang iya. kamu ngak bakalan dapatin apa yang kamu inginkan, sama seperti mereka"
"kenapa?"
"wah kayaknya makanannya enak"
Prass tersenyum mendengar Maira yang berusaha mengalihkan pembicaraannya dengan Syifa.
"kebiasaan memang sulit dirubah"
"lalu kenapa kamu begitu tenang saat sahabat mu itu menghilang tanpa jejak"
"karna aku percaya dia akan baik-baik saja tanpa ku dan aku yakin nanti ada masanya dia akan menemui ku dan menjelaskan semuanya"
"kamu tau kenapa dia menghilang begini?"
"kamu lebih tahu itu kan?!"
Prass bisa merasakan hangatnya Susana diantar mereka berdua
"aku mohon katakan kepada ku dimana dia Mai"
__ADS_1
"buat apa?untuk menyakitinya lebih dalam lagi?"
"Mai, aku rasa Zia memperalat ku dan memang ini yang dia inginkan"
"ini yang dia inginkan?"
"maksud kamu berpisah dengan suaminya itu yang dia inginkan? menghancurkan cinta yang dengan susah payah ia pertahankan, itu yang dia inginkan? wah kamu gila Syif"
"kenapa Maira begitu emosi?"
"bukan, bukan itu maksud ku...."
"itu bukan yang dia inginkan tapi yang kamu inginkan"
"bukan...maksud ku ya tadinya aku memang mengharapkan itu tapi...."
"tapi apa? kamu kurang puas dengan belati yang kamu tusukkan itu terlalu dangkal. ya, mungkin belati yang kamu tusukkan saat ini terlihat dangkal tapi tidak akan pernah bisa hilang. jangankan menghilangkan bekasnya, bahkan belati itu tidak akan pernah mampu kamu cabut"
"sehingga kamu tidak akan pernah bisa mengobati lukanya"
sekarang Prass tahu kenapa Maira terlihat kesal dari tadi. tentunya dia sudah tahu permasalahan ini dari awal.
"tapi dia tahu dari siapa?"
Prass langsung mengikuti Maira yang keluar dari cafe, sekilas dia bisa melihat Syifa yang tengah sedih dengan sikap Maira yang tidak sedikitpun berpihak padanya.
"Zia kuatlah, aku akan mendatangi mu secepatnya"
Prass yang tidak jauh berada dibelakangnya masih mampu mendengar apa yang di ucapkan oleh Maira. tanda tanya baru muncul di benak Prass.
"Mai....."
Prass langsung menarik topinya hingga menutupi wajahnya. berpura-pura tengah menelpon seseorang.
"aku ada kabar baik"
"apa?"
Prass mengikuti mereka dari belakang dengan penuh hati-hati.
"kamu tau, pengajuan mu sudah diterima"
Prass sangat geram melihat Maira tersenyum bahagia ke arah pria itu.
"wah berarti seminggu lagi kamu bakalan ninggalin aku dong"
"ya Allah Alhamdulillah"
"kamu senang?"
"ya tentu, kan ini yang aku inginkan"
"aku juga"
"apalagi yang Maira rencanakan"
"karna kapten itu tidak akan sering menemui mu lagi"
Prass dan Maira sama2 terdiam. sama2 kalut dengan pemikirannya masing-masing. Pras tidak mengerti pengajuan apa yang dimaksudkan Reihan tapi dan kenapa sampai Prass tidak bisa lagi mengunjunginya. semakin Prass memikirkannya, semakin ia mengerti maksud kata-kata pria itu.
"kamu akan menghilang lagi kan? tidak...! kali ini tidak akan ku biarkan kamu pergi begitu saja"
saat Prass ingin berbalik Maira juga ikut berbalik sehingga ia bisa mengenali Prass. Prass mungkin tidak menyadari Maira melihatnya karena ia sibuk dengan fikirannya. Prass hanya berjalan terus menuju pintu keluar, seakan rumah sakit ini tidak nyaman untuk nya.
langkahnya terhenti ketika melihat Syifa di hadapannya.
__ADS_1
"kamu ngapain disini"
SYifa yang merasa tengah tertekan langsung memeluk Prass. ia begitu kaget melihat Syifa yang langsung memeluknya. perlahan Prass mencoba menenangkan Syifa dan melepaskan pelukannya.