
Maira mulai tersadar dari mimpinya, matanya mulai mencari tahu mereka ada dimana. Meski dia terlihat sedikit kaget melihat Prass ada disampingnya Maira tetap berusaha mengendalikannya.
"kita diman?"
"dirumah mu!"
"rumah ku?'
Maira menunjuk dirinya sendiri dan dibalas anggukan oleh Prass. Dia berusaha mengenali tempat ini dengan melihat sekeliling dari balik kaca mobil. Agar terlihat lebih jelas Maira menurunkan kaca mobilnya. Ada rasa perih di dadanya saat menyadari tempat itu, terlihat jelas kesedihan di wajah Maira bahkan air matanya tak dapat ia bendung. Melihat Maira yang menyeka air matanya membuat Prass heran, sejuta pertanyaan mengisi kepalanya.
"ini bukan rumah ku lagi"
Prass mengernyit.
"sejak nenek meninggal rumah ini juga ikut meninggalkan ku"
Prass semakin berdebar, ada rasa kesal, sedih dan juga benci menekan hatinya.
"rumahnya sudah di jual?".
Maira mengangguk.
"kenapa?"
"karena memang harus di jual"
Prass semakin kesal mendengar jawaban maira, karena jawaban itu tidak mampu menjawab rasa ingin tahunya.
"ternyata aku memang bukan siapa-siapa untuk mu"
Maira terenyuh mendengar kekecewaan Prass. ingin rasanya ia bantah tapi dia sudah terlanjur mendorong Prass semakin jauh. egonya begitu tinggi untuk sedikit menunduk dan meminta maaf atas kesalahan dulu.
"hum, kita memang tidak punya hubungan apa-apa"
bukan itu yang ingin Prass dengar. tentu dia masih mengharapkan Maira sedikit melunak dan menerimanya. bahkan sampai saat ini Prass tidak tahu apa alasan Maira meninggalkannya dulu dan juga dia tidak tahu kenapa Maira begitu menutup diri darinya, bahkan tidak ada kesempatan sedikit pun untuknya.
"kenapa mengajak ku kesini?"
tidak ada jawaban dari Prass dan Maira bisa paham keadaan ini. beginilah Prass jika ia marah, dia akan bungkam hingga amarah di dadanya mereda. Prass menginjak pedal gasnya dan membawa Maira kerumah Razik.
"kita ngapain disini?"
Prass masih bungkam dan turun dari mobilnya. Maira hanya mengikutinya dan langsung disambut oleh Caca adiknya Razik. Caca menyambutnya dengan pelukan dan juga air mata yang tak dapat lagi dibendungnya.
"hai dek"
Caca masih menangis dan sesegukan. melihat itu Prass meninggalkan mereka berdua.
"hei kenapa?"
Maira melepaskan pelukan Caca dan melihatnya penuh teliti. Caca berusaha menguasai emosinya dan menyeka air matanya. Maira memperhatikan sekelilingnya, terlihat beberapa karangan bunga terut berbahagia dan dia simpulkan bukan acara ini yang membuat hati Caca terluka.
__ADS_1
"acara ini harusnya bukan untuk ditangisi kan?"
Caca mengangguk.
"lantas kenapa?"
"kak Razik kak. kak Razik mau menikah lagi"
"hah....."
pantas saja Caca begitu syok bahkan Mairapun sangat terpukul mendengar itu. sosok Zia langsung melintas di fikirannya.
"harusnya ini hari bahagia ku atas akekahnya Rasya tapi kenapa harus ada acara pertunangannya mas Razik tanpa persetujuan ku. kak Mai aku harus bagaimana?"
Maira menekan Rasa sesaknya dan memaksakan sebuah senyuman untuk Caca. di pegangnya bahu Caca untuk sekedar menguatkan.
" harus bagaimana lagi dek, ini pilihan mereka. kita hanya bisa memberikan masukan dan nasehat, selebihnya itu keputusan mereka dan adek sebagai saudaranya harus tetap mendukung apapun keputusannya Razik"
"iihhh kakak sama aja sama Ummi jawabannya"
Maira tersenyum berat.
"karna ini kehidupan mereka, hum!?"
Maira mengangguk paham.
"yaudah masuk kak"
"tenang kak. kak Prass udah pesanin gaun buat kakak kok. ganti yok"
ada rasa lega dihatinya, ternyata Prass membawanya dengan persiapan yang baik.
Benar kata Caca harusnya hari ini hari yang membahagiakan tapi acara pertunangan Prass membuat kebahagiaan seakan penuh duka yang seharusnya layak untuk ditangisi. Hanya Syifa dan Razik yang tersenyum yang lainnya hanya bungkam dan sibuk bertengkar dengan fikirannya Masing-masing.
Maira tidak tahan harus berlama-lama di acara ini karna itu dia fikir lebih baik mencari udara segar keluar dan ada satu tempat yang sangat ingin ia tuju.
ya sekolahnya dulu dan di dalam sekolah ini ada sebuah sudut yang menjadi tempat favorit nya, yaitu di belakang perpustakaan yang dipenuhi oleh pohon-pohon yang rindang. Maira menelusuri pohon-pohon itu dan kini pohon-pohon nya semakin menjulang tinggi.
Ada satu pohon yang sangat ingin ia lihat namun Maira mulai lupa pohon yang mana.
"pohon yang ini"
Maira terperanjat mendengar sebuah suara dari balik pohon di seberang sana.
"pohon yang ini"
ulang Prass meyakinkan Maira.
di lihatnya pohon itu mencari sesuatu yang mengikatnya di sana. terlihat tulisan I LOVE YOU, sebuah kalimat yang sengaja di ukir oleh Prass untuk maira dulu. melihat itu mengingatkannya betapa lebay dan kekanakannya mereka. pohon ini menjadi saksi hidup kehidupan cinta mereka semasa SMA karna mereka banyak menghabiskan waktu di bawah pohon ini.
"aku merindukan masa itu"
__ADS_1
lirih Maira sambil menghembuskan nafas beratnya. lebih tepatnya ia merindukan Prass saat menjadi kekasihnya dulu.
"masa bisa saja di ulang jika orangnya masih sama"
"karna itu aku merindukan masa itu. orang-orang nya sudah banyak berubah. bahkan sekarang malah saling menghancurkan"
Prass menarik nafasnya dalam-dalam. benar kata Maira mereka saat ini sangat berbeda dengan mereka yang dulu. bahkan mereka sanggup saling menyakiti demi ego yang terlalu tinggi.
"begitupun dengan mu Mai"
Maira terdiam
"kamu banyak berubah"
"namanya juga manusia, jejak kehidupan akan mempres kita mengikuti kisah yang kita alami"
"lalu hati? bagaimana dengan hati? apa hati mu juga sudah ikut berubah?"
Maira merasa tercekat. tentu hati tidak bisa berubah semudah itu.
"bagaimana dengan hati mu?"
Prass berdiri dihadapan Maira namun pandangannya masih terlempar kearah yang lain.
"Mai?"
"hum..."
"bagaimana dengan hati mu? sudah berubah kah?"
kini pandangannya tertunduk, seakan rasa sakit didadanya begitu menggebu. mendengar pertanyaan Prass saja sudah membuat hatinya begitu perih apalagi harus memandang wajahnya, Maira sungguh tidak sanggup.
"tatap aku Mai. katakan pada ku bahwa hati mu sudah berubah, maka aku akan mengiklaskan mu"
setiap kata yang diucapkan Prass seperti mata pisau yang terus mencabik-cabik hatinya. Maira sibuk berdamai dengan hatinya agar tidak terpancing dengan kata-kata Prass. untuk menghindari luka yang lebih dalam, Maira memilih untuk pergi meninggalkan Prass.
"pergilah Mai. larilah. kamu memang pintar dalam hal ini"
langkah Maira terhenti. Prass hanya mencermini punggung Maira tanpa menyadari di balik punggung itu ada wajah yang tengah disirami air mata.
"tapi ketahuilah, masalah yang kamu tinggalkan tidak akan pernah selesai melainkan menjadi luka untuk seseorang"
untuk sesaat hanya hembusan angin yang berbicara.
"dan kamu tau Mai, sejauh apapun kamu lari kamu tidak akan pernah lepas dari masalah ini"
seketika Maira merasa tertekan, seakan ada ancaman baru untuknya. dengan menekan hatinya, Maira berbalik dan berdiri dengan tegap di hadapan Prass. Prass yang melihat itu hanya bisa terdiam.
"hati ku sudah berubah. AKU TIDAK LAGI MENCINTAI MU. AKU TIDAK MENCINTAI MU. perjalanan membuat hati ku berubah dan kini AKU MENCINTAI ORANG LAIN. Aku mohon lepaskan aku dari masa lalu mu Prass dan tinggalkan aku dengan kehidupan ku."
setelah membela dirinya Maira pergi meninggalkan Prass yang tengah terdiam kaku di bawah pohon rindang itu. kini kata-kata Maira yang menyakitinya, bahkan Prass hampir lupa caranya untuk bernafas. dadanya begitu sesak karna hatinya kini begitu terluka
__ADS_1