
Prass mengusap-usap matanya, dia fikir matanya tak berfungsi dengan baik karna semalam dia begadang. setelah mendekat wajah yang dia lihat tak kunjung berubah, masih saja seperti wajah Razik.
"Lo Razik?"
sambil memegang bahu Razik
"zik ini Lo kan?"
Prass mencubit kedua pipi Razik.
"duh sakit tau ngak"
Razik menepis tangan Prass.
"ya Allah Alhamdulillah, akhirnya Razik selesai juga bermeditasinya"
Rasa syukur Prass memang jujur terlihat dari wajahnya dan Razik juga menyadari itu.
"aduh...!!!"
Prass memegang keningnya yang di jitak Razik. meski pelan menurut Razik tetap saja meninggalkan rona kemerahan dikeningnya.
"ngak salah lagi, ini beneran Razik"
Razik hanya menyunggingkan senyumannya dan melewati Prass begitu saja.
"Lo mendingan pulang sana"
"emmm Razik"
Prass mendatangi Razik dengan tangan membentang siap untuk memeluk Razik namun segera ditangkisnya. dia mendorong Prass cukup kuat hingga Prass jatuh tepat di atas sofa. membenarkan duduknya siap-siap untuk mewawancarai Razik.
"Lo baik-baik aja kan?"
"ya seperti yang Lo liat"
prass menatapnya dengan teliti mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"kayaknya sih gitu, tapi kenapa lo tiba-tiba mau masuk kerja lagi?"
"ini bukan tiba-tiba, gue udah sering didatangi bos dan terakhir ini dia malah ngancam gue"
Prass membenarkan posisinya untuk mendengarkan cerita Razik lebih lanjut.
"dia bilang kalo gue ngak masuk juga dalam Minggu ini posisi gue bakalan diturunin kalo ngak bisa jadi gue bakalan di ganti"
mata Prass membulat, dia tidak menyangka Pak Mario bisa juga mengancam murid kesayangannya itu.
"wah pak Mario sungguh keren. pengen rasanya gue liat pak Mario marahin Lo"
"dasar teman bangsat"
Prass hanya cengir kuda.
"udah ah, kalo ladenin Lo nanti Ngak bakalan selesai-selesai, mending gue pulang"
"yaudah Sono pulang. tapi jangan belok kanan"
"ya.... liat nanti"
setelah memperlihatkan deretan gigi putihnya Prass menghilang dari balik pintu meninggalkan Razik dengan fikiran kusutnya.
Razik masih ingat jelas pesan dari Pak Mario saat menjenguknya kemaren.
"aku paham kondisi mu karna aku juga pernah merasakan hal yang sama hanya saja bedanya aku ditinggal mati sementara kamu masih bisa kamu cari. sejauh apapun dia pergi kamu harus tetap hidup dan melanjutkan kehidupan mu untuk memastikan kalian akan berjumpa lagi"
kalimat ini yang terus menamparnya bahwa penderitaannya tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan Pak Mario yang telah kehilangan istrinya untuk selama-lamanya.
"kamu justru harus lebih banyak menjejaki semua tempat karena dimana pun dia, dia pasti masih berada di bumi yang sama dengan mu"
__ADS_1
dan kalimat ini yang membuat Razik untuk bangkit lagi. Dia termakan dengan perkataan pak Mario membuat keinginannya untuk mencari Zia bangkit lagi.
Dan wanita ini, wanita ini selalu meruntuhkan semangatnya, bahkan senyum manisnya bagaikan belati untuk Razik.
"pagi"
sapa Syifa dengan senyum mengembangnya, dia terlihat ragu-ragu untuk mendekati Razik.
"aku bawakan sarapan untuk mu"
ada sebuah kotak sarapan di dalam Tote bag yang di genggam Syifa. sementara Razik hanya memandangnya dengan malas. Meskipun begitu Syifa tetap mendekatinya dan memberikan Tote bag itu kepada Razik. tetap saja Razik mengabaikannya, melihat itu Syifa hanya meletakkan Tote bag nya di tas meja.
"aku senang kamu kembali bekerja"
Razik masih menyibukkan dirinya dengan dokumen yang ada ditangannya. tentu saja Syifa sangat sedih dengan perlakuan yang telah diberikan Razik atas perjuangannya tadi pagi untuk memasakkan sarapan itu, namun bagaimanapun juga hati kecilnya menyadari itu semua hukuman untuknya. Syifa berbalik dan memilih pergi namun sebelum pergi Razik meninggalkan pesan untuknya.
"aku tidak ingin ada yang tahu tentang pertunangan itu"
**********
Benar kata Razik Prass belok kanan. memang sudah kebiasaannya selama satu bulan ini selalu menemui Maira dirumah sakit setiap paginya, entah itu atas sadar Maira atau tidak. seperti pagi ini Prass seakan tidak sabar untuk menemui Maira bahkan ia telah membeli sarapan untuk mereka berdua. karena ini masih jam 07:00, pasti masih ada kesempatan untuk mengajak Maira sarapan bersamanya.
"Sus saya boleh minta tolong panggilkan suster Maira"
"suster Maira?"
Prass mengangguk. terlihat suster itu tengah kebingungan.
"bukannya suster Maira sudah pindah?"
"pindah?"
Prass memastikan dan anggukan suster itu memastikan keraguannya.
"kapan sus?"
"berarti benar dugaanku waktu itu"
batin Prass.
"dia pindah kemana sus?"
"kurang tau mas, coba mas tanyakan ke reseptionis"
"terimakasih sus"
suster itu hanya mengangguk dan berlaku meninggalkan Prass. seperti yang diperintahkan suster yang tadi Prass pergi ke meja resepsionis.
"ada yang bisa saya bantu?"
sambut sang suster dengan ramahnya.
"saya ingin tahu info tentang suster Maira"
"maaf anda siapanya?"
"saya calon suaminya"
tanpa ragu Prass mengakui dirinya sebagai calon suaminya Maira
"maaf tuan kami tidak bisa membagi informasi kecuali kepada anggota keluarga yang bersangkutan"
"saya akan menjadi anggota keluarganya jika suster memberitahu saya"
"maaf tuan saya tidak bisa memberitahu anda. itu sudah kebijakan dari rumah sakit ini karena ibu Maira sendiri meminta datanya di Privasi kan"
"lalu bagaimana dengan pernikahan saya nona?"
Prass berusaha memelas membuat sang suster terlihat iba.
__ADS_1
"sayang kenapa kamu pergi hanya karna kesalah pahaman seperti itu hu hu hu...."
melihat sang suster yang ikut sedih Prass membuat dramanya lebih dramatis.
"suster tolong saya jika tidak, pernikahan kami bisa batal. jika batal bagaimana dengan ibu saya yang tengah sakit-sakitan? saya tidak mau ibu saya pergi hanya karna cinta saya yang gagal"
sang suster sudah termakan omongan prass terlihat matanya yang berkaca-kaca tapi dia seorang yang teguh pendirian, sangat cocok dengan pekerjaannya.
"maaf tuan saya bisa dikeluarkan dari pekerjaan saya jika melanggar aturan"
"tidak akan ada yang tahu karna saya tidak akan memberi tahu siapapun"
terlihat sang suster mulai ragu.
"sudah hentikan sandiwara mu karna itu bisa saja merusak pekerjaan seseorang"
Prass mengalihkan pandangannya ke samping tempat sumber suara yang berkicau. terlihat Reihan berdiri dengan santainya.
"jangan ikut campur"
"sebagai sesama karyawan rumah sakit ini gue harus ikut campur"
suster merasa Reihan sebagai penyelamatnya saat ini.
"ikut gue. tidak ada larangan bagi gue untuk memberitahu siapapun"
meski lirikan Prass curiga dia tetap mengikuti Reihan. Reihan membawa Razik ke taman rumah sakit. dia berjalan dengan cepat tanpa menunggu Prass yang masih tertinggal di belakang dan dia menutup pintu liftnya tanpa menunggu Prass masuk hingga Prass masih tertinggal di luar. sebelum pintu lift benar-benar tertutup Reihan masih menyempatkan memberikan senyuman lebarnya untuk Prass sambil menunjuk lantai atas. setelah melihat lantai yang dituju Reihan Prass langsung berlari melalui tangga darurat.
"awas saja jika dia main-main, ngak bakalan gue biarin dia hidup tenang"
hanya dua lantai dan itu cukup membuat dia ngos-ngosan. sampainya di atas Reihan sudah menunggunya di bangku taman, Reihan melambaikan tangan kepada Prass.
"Lo mau main-main Sam gue?"
"ngak. katanya seorang pilot itu harus punya fisik yang kuat jd gue pengen nguji itu doang"
"sekarang beritahu gue dimana Maira kalo ngak Lo bakalan benar-benar tahu kalo seorang pilot juga punya amarah yang tinggi"
"oooooo....slow bro, duduk dulu dan tahan diri"
"beritahu gue sekarang, Maira ada dimana?!"
kesabaran Prass sudah di ujung, dia memegangi kerah baju Reihan dengan geram.
"dia kembali ke orang tuanya.
Prass terdiam, dia memutar otaknya dimana kemungkinan orang tuanya berada.
"Bali?"
Reihan mengangguk dengan tatapan kosongnya.
"rumah sakit apa?"
Reihan mengangkat bahunya pertanda dia sendiri pun tidak tahu rumah sakit yang mana yang dituju Maira saat ini.
"seperti yang di bilang reseptionis tadi datanya private bahkan bokap gue aja sebagai pemegang saham dia ngak tahu. tapi kemaren waktu gue tanya dia kenapa mau pindah, katanya dia mau kembali ke orang tuanya"
Prass hanya mengangguk. dia cukup puas mendapatkan arah larinya Maira.
"oke. tahanan you"
setelah mengatakan itu Prass pergi begitu saja.
"gue harap kali ini kisah kalian yang dulu ngak terulang lagi"
Reihan menatap bunga yang bermekaran di dalam pot sana, dua terbayang penik mata Maira saat memandangi bunga itu
"ini cara gue mencintai lo mai"
__ADS_1