
Perasaan Zia membawanya ketempat ini, tempat yang mengandung kenangan terindah dan kenangan terburuknya. Tempat yang menjadi awal dan akhir dari persahabatan mereka. Tempat yang ingin ia benci tapi selalu dirinduinya.
Melewati gerbang itu Zia mengingat awal ia melangkah disini.
Flashback on
Tiiiitttt.....
"Zia.... ayo....."
Tiiiitttt
"Iya sebentar, berisik bangat sih"
Zia menghampiri dua pria yang sedari tadi heboh di depan rumahnya.
"Ayok go"
Hari ini, hari pertama mereka memasuki dunia SMA. Sekolah sudah ramai dengan siswa siswi yang penuh semangat. Terlihat jelas dari senyum mereka yang terus mengembang.
"Gue ngak sabar liat cewek-cewek cantik"
Zia melirik sinis pada Razik
"Gue juga"
Lirikan Zia beralih pada Adit. Dengan kesalnya di mencubit pinggang kedua pria itu.
"Aaa aaawwww...."
Keduanya mengaduh kesakitan.
"Dasar mata keranjang"
Zia berlalu meninggalkan mereka berdua dan mencaritahu dimana kelas mereka. Mereka melewati hari yang baru dengan momen yang baru. Tapi diantara mereka bertiga Zia merasa risih karena selalu dipandang sinis oleh orang-orang. Bahkan seiring berjalannya waktu pandangan itu berubah jadi gunjingan, dia menjadi tidak nyaman untuk pergi ke sekolah. Bahkan sesekali mereka menyindirnya dan merasa tersisih sendiri, apalagi jika Adit dan Razik punya kesibukan, seperti hari ini. Hari ini Adit dan Razik menghadiri rapat klub bola, mereka berdua memutuskan untuk ikut ekstra kurikuler olahraga, mau tidak mau Zia harus ditinggalkan sendirian.
"O ini siswi aneh itu"
Kata seseorang yang tengah berdiri disamping Zia, dia tidak begitu kenal dengan keempat wanita itu sepertinya bukan dari lokalnya atau mungkin seorang kakak senior. Zia cukup merasa tersinggung tapi ia abaikan dan memilih meninggalkan baksonya yang masih banyak.
"Eh tunggu..."
Zia berhenti dan melirik kebelakang.
"Ini botol minum Lo ketinggalan"
Zia tersenyum dan menghampiri mereka lagi, saat ingin meraihnya wanita itu malah membuka tutup botol minum Zia dan menyiramkannya pada rok Zia.
"UPSss.. sorry kepeleset dari tangan gue"
Mereka berempat tersenyum puas tanpa menyadari betapa kesalnya Zia. Wajah Zia sudah merah padam, tapi ia berusaha menahan karna Zia sadar dia akan kalah jika melawan mereka sekarang.
"Rok Lo basah ya, mau gue pinjamin rok ngak"
"Emangnya dia mau make rok Lo, ngak biasa deh kayaknya. Diakan cewek kampung"
Mendengar tawa mereka, amarah Zia semakin memuncak, rasanya dia ingin menangis sekencang-kencangnya. Dari pada meladeni mereka Zia lebih memilih pergi sebagai pengecut kali ini. Dia tidak ingin menjadi pertunjukan mereka lagi, terlalu banyak yang menikmati tanpa berniat menolongnya sedikitpun. Zia dibenci hanya karna dia memakai seragam berbeda dari yang lainnya, semua siswi memakai rok pendek, sementara Zia memakai rok panjang. Bukannya dia ingin terlihat berbeda tapi itulah syarat yang diajukan mami agar ia diperbolehkan masuk sekolah umum. Karna awalnya setelah tamat SMP Zia berjanji akan masuk pesantren tapi Zia mengingkarinya lagi.
Selama perjalanan dari kantin ke kelasnya Zia merasa selalu dipandang sinis oleh setiap siswa, bagaimana tidak roknya yang basah menjadi perhatian setiap orang, bahkan guru.
"Zia kamu kenapa?"
Zia hanya mengabaikan dan terus berjalan. Saat pintu kelasnya terlihat Zia merasa lega dia hanya ingin segera duduk di kursinya karna baginya hanya kursinya yang menjadi tempatnya saat ini. Karna buru-buru Zia menabrak teman sekelasnya yang tengah memegang miniatur hasil tugas kelompok mereka. Siswi itu bernama Mia yang terkenal bermulut pedas. Matanya begitu tajam menatap Zia, entah kata apa yang akan ia ungkapkan untuk Zia.
"Maaf"
"Maaf?"
Zia terdiam, karna tekanan yang dia rasakan beberapa hari ini membuat mentalnya melemah.
"Lo fikir dengan kata maaf bisa mengembalikan miniatur kelompok kita, hah?"
Dia juga sadar itu salahnya, dia hanya menunduk, baginya lantai lebih indah saat ini.
"Dasar cewek culun ngak tau diri. Kalo penampilan Lo terlihat bodoh, paling ngak o**k Lo jangan bodoh dong. Kalo jalan itu liat kedepan jangan cuman nyelonong doang. Makanya kalo make baju itu ngak usah berlebihan biar pandangan Lo ngak keganggu"
Semakin banyak kata yang dikeluarkan oleh nya semakin banyak beban yang menimpa hati Zia. Apalagi beberapa siswa iku memprofokator dan banyak juga yang menikmati, mereka tersenyum puas melihat Zia dimaki begitu lugas di hadapan orang banyak, tapi ada juga yang kasihan dan tidak terima.
__ADS_1
"Atau Lo mau gw tunjukkin gimana caranya berpakaian yang bagus?"
"Tunjukkin aja mi"
Siswa lain memprofokator
"Kalo ada yang mau ngasih gue gunting, bakalan gue tunjukkin"
Seseorang datang dengan membawa gunting dan menyerahkannya kepada Mia. Melihat Mia yang menunduk dan meraih roknya Zia merasa tidak bisa terima. Dia berusaha melawan tapi tiba-tiba ditahan dari belakang. Dengan sigap Mia menggunting rok Zia sampai lutut. Melihat roknya yang digunting Zia tidak mampu lagi membendung air matanya, bukan iba melihat roknya yang semakin pendek tapi malu karena merasa ditelanjangi oleh temannya sendiri. Zia memang tidak memakai hijab, tapi sedari kecil Zia tidak terbiasa untuk memperlihatkan kakinya dan hari ini dengan seenaknya seseorang mempertontonkan auratnya kepada orang ramai.
"Cantik kan"
Zia menatap tajam pada Mia. Tentunya para pria akan tersenyum puas dan bahagia, tapi beberapa siswi mulai iba.
"Kenapa Lo diam aja hah?"
"Mungkin karna para suaminya ngak ada kali"
Timpal seorang siswa.
"Mentalnya jadi ciut karna ditinggal para pangeran kayaknya"
Gelak tawa mereka menjadi horor untuk Zia, dia merasa benci dengan momen ini.
"Kemana para suami Lo? Atau perlu gue gunting lebih pendek supaya para suami Lo datang ha?"
Para siswa semakin semangat menghasut Mia, miapun semakin terdorong, dia berniat untuk mengunting rok Zia sampai paha. namun segera dihentikan oleh seorang siswi. Para siswa yang tertawapun kini terdiam karena dipandang tajam olehnya. Dia begitu disegani khususnya oleh para pria, karna dia begitu cantik dan terkenal kaya disekolhnya.
"Lo jangan ikut campur ya"
"Jika martabat seorang wanita dilecehkan gue sebagai wanita ngak bakalan tinggal diam"
"Banyak omong lo. Emangnya gue melecehkan siapa?"
"Lo ngak sadar ya, Lo itu udah melecehkan diri Lo sendiri sebagai wanita"
Maira tersenyum puas melihat Sahabatnya tidak tinggal diam. Syifa mengkode Maira untuk membantu Zia.
"Kenapa Lo megangin Zia kayak tahanan gitu? Ayo lepas"
"Zia Lo ngak papa?"
"Mai dia ngak papa?"
Maira menggeleng tidak tahu, mereka yang menyadari Zia tidak baik-baik saja menjadi khawatir. Pandangan Zia terlihat kosong ia seperti tidak di dalam dirinya.
"Lo liat, lo fikir lo bakalan baik-baik aja setelah apa yang udah Lo lakuin? Lo fikir orang tuanya bakalan diam aja? Lo tau ngak siapa orang tuanya? Dia itu anak pengusaha kaya di Indonesia, dia anak orang kaya cuy. Sementara lo? Lo fikir dengan orang tua Lo yang PNS mampu melawan orang tuanya. Makanya jangan lawan beruang yang lagi tenang, bakalan di cakar Lo nanti"
Mia yang menyadari status sosial yang berbeda diantara mereka membuatnya semakin takut. dan yang lainnya mulai bercuit seperti segerombolan burung yang di lempar batu, mereka kira Zia hanyalah seorang anak kampung yang miskin, hingga bisa memperlakukannya seenaknya.
"Diiiammm... Lo bisa diam ngak huh?"
Mia menyodorkan gunting yang dipegangnya kearah Syifa, Syifa yang menyadari hal bahaya tengah ditudingkan kepadanya merasa terancam. Mia semakin mendekati Syifa dan terus menyodorkan gunting itu kearahnya, Seketika kelas menjadi tegang. Untungnya seorang siswa langsung mencegat Mia dan berusaha mengambil gunting itu dari tangannya. Mendengar kelas yang semakin rame, menarik siswa lain untuk mendatangi kelas itu. Adit dan Razik yang melihat langsung berlari menghampiri kelas mereka.
"Razik gue nyari Lo dari tadi"
Razik melihat raut kekhawatiran diwajah siswi itu.
"Zia, dia...."
Belum sempat mendengar penjelasan siswi itu, Adit dan Razik langsung menembus kerumunan dan mendapati Zia yang terduduk lemas masih dengan keadaan yang tidak terbaca.
"Zia kenapa?"
"Zia, dia tadi..."
Melihat Razik yang emosi membuat maira menjadi gugup.
"Siapa yang berani menyakiti Zia?"
Razik semakin heboh karna tidak juga mendapat jawaban.
"Tidak ada gunanya lo emosi, lebih baik kita membantunya sekarang"
Kata Syifa dengan bijaknya.
"Zia, Lo dengar gue"
__ADS_1
Adit berusaha untuk menyadarkan Zia, dia pernah melihat bundanya mengalami hal ini. Meski tidak tahu betul tapi dia sadar kalo Zia sedang tidak baik-baik saja. Adit menutupi kaki Syifa dengan jaketnya, kemudian menyenderkan Zia di dadanya dan menepuk bahu Zia dengan lembut.
"Zia ada gue, tenanglah lo akan baik-baik saja. Tenanglah Zia, gue janji ngak bakalan ada yang mengganggu Lo lagi"
Seketika Zia melemas dan menutup matanya.
"Apa dia pingsan?"
Mendengar pertanyaan maira membuat Syifa dan Razik ikut memandang Adit, Adit mengangguk.
"Razik hubungi ummi, Zia akan butuh ummi"
Razik menuruti perintah Adit dan membiarkan Adit membawa Zia ke ruang UKS
***********
"Gue dengar Lo tadi bantuin Zia ya. Makasih ya"
"Gue merasa bersalah karena udah biarin Zia mengalami ini"
Syifa memandang ruangan yang tertutup itu. di dalam sana hanya ada Zia, ummi Razik dan guru serta dokter yang bertugas.
"Gue juga merasa bersalah karena udah biarin Zia sendirian disaat begini"
timpal maira. mata mereka mengikuti pandangan Syifa berharap pintu itu segera terbuka.
"Gue juga"
Timpal Razik.
"Oh kenalin nama gue Adit dan ini Razik"
Razik tersenyum membalas senyuman Syifa.
"Gue Syifa dan itu Maira"
Syifa menunjuk maira yang tengah membersihkan luka seorang siswa.
"Dan gue pras"
Mereka saling melepar senyum saat ini, ini awal perkenalan mereka, diawali dengan tragedi yang akan selalu diingat oleh Zia.
"Tangan Lo kenapa"
"Mia tadi ngamuk lagi dan narik guntingnya dari genggaman gue jadinya gini deh"
Pras memperlihatkan luka sayatan ditelapak tangannya.
semuanya kembali tegang saat pintu UKS terbuka.
"kalian sebaiknya kembali ke kelas, soal zianka biar kami yang menemani"
mereka hanya mengangguk patuh.
***********
Zia benar-benar mengalami tekanan batin hari itu, bahkan tidurnya tidak tenang selama beberapa bulan, kejadian hari itu ternyata sangat membekas hingga kedalam bawah sadarnya. Atas bantuan ummi Zia bisa sembuh dengan cepat ditambah lagi pada sahabatnya terus mendampinginya. Sejak hari itu mereka sering menghabiskan waktu bersama, bahkan Syifa dan Maira selalu menginap dirumah Zia sampai sakitnya dinyatakan sembuh oleh ummi. Waktu mempertemukan mereka dan membantu mengikat persahaban mereka. Ummi hanya meminta Zia menerima semuanya dengan iklas dan memaafkannya, dengan begitu kejadian itu menjadi hal berharga untuk Zia.
Fash back off
Zia tersenyum mengingat kejadian itu, dulu Syifa orang yang sangat perhatian kepadanya namun seiring berjalannya waktu Syifa berubah dan menciptakan jarak diantara mereka. Zia terus menelusuri sekolah dan akhirnya berhenti di sebuah ruangan. Pintu ruangan itu terbuka, dia sungguh terkejut melihat orang yang berada di dalam sana.
"Zia?"
Zia tersenyum.
Mereka memutuskan menikmati suasana sekolah dari sudut taman sekolah.
"Aku baru aja mau jemput kamu tapi kita malah ketemu disini"
"Aku tadi bosan dirumah jadi mau keliling dan taunya melihat gerbang sekolah jadi yaudah mampir disini aja, rindu dengan tempat ini"
Razik memandang Zia dengan pandangan yang sulit diartikan.
"kamu merindukannya? apa begitu susahenggantikan dia di dalam hati mu Zi?"
batin razik
__ADS_1