9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
orang ketiga


__ADS_3

Orang ketiga selalu tau caranya merusak suasana, tapi terkadang orang ketiga tidak bisa disalahkan atas sebuah kesalahan yang tidak ia pahami. Karna tidak akan pernah ada yang ketiga jika cinta itu seutuhnya milik dia yang dicintai.


Seperti Syifa saat ini, ia tidak tahu sedikitpun jika dia menjadi orang ketiga di dalam hubungan suci razik dan Zia, yang dia tau Razik miliknya dan memang seharusnya dia mendapatkan perhatian dari Razik. Karna itu dia sangat kesal melihat orang yg hadir untuknya malam ini bukanlah kekasihnya tapi Maira.


"Kenapa ekspresi Lo gitu?"


Syifa hanya tersenyum, kentara sekali ekspresi tidak sukanya melihat kehadiran maira.


"Masuk Mai"


Maira mengangguk dan mengikuti titah Syifa.


"Lo mau minum apa?"


"Ngak usah repot-repot gue kesini mau ngobatin lu kok"


"Ngobatin?"


"Iya, Razik yang nyuruh gue kesini. katanya lo sakit"


Syifa begitu sakit mendengar keterangan Maira, tentu saja dia hanya menginginkan perhatian yang sederhana dari orang yang dia cintai. Tapi itu tidak ia dapatkan lagi selama satu Minggu ini. Jelas terlihat Razik begitu menghindarinya bahkan tidak ada lagi jadwal penerbangannya dengan Razik.


"Lo sakit apa, sini gue periksa tensi lo dulu"


"Sakit hati"


Maira mengernyit tidak paham.


"Gue ngak sakit, tadinya gue cuman pengen razik kesini"


"Terus kenapa Lo harus bohong, tinggal suruh aja kan gampang"


"Gue juga ngak paham kenapa begitu sulit membuat dia hadir di depan gue saat ini"


Maira tersenyum tipis, disatu sisi dia bahagia melihat perubahan Razik tapi disisi lain dia juga kasihan melihat Syifa Karana bagaimanapun Syifa juga sahabatnya.


"Yaudahdeh lupain aja, btw kita udah lama ya ngak ketemu"


"Iya nih, udah berapa tahun ya"


"Berapa ya, sejak lulus SMA kan"


"Lo sih perginya ngak bilang-bilang"


"Huh Lo pahamilah Mai kan waktu itu kita menyelamatkan diri masing-masing jadi menurut gue bagus juga kalo gue niru Lo"


Maira hanya tersenyum pahit. Benar Maira juga meninggalkan mereka tanpa pamit. Kehilangan Adit menjadi awal perpecahan mereka, benar kata Syifa mereka menyelamatkan diri masing-masing.


"Semua kenangan hangat kita hancur begitu saja hanya karna satu kejadian dan hanya karna satu orang"


"Hanya karna satu orang? Maksud Lo?"


Maira bukan tidak paham maksud Syifa tapi dia hanya ingin memastikan.


"Lo paham maksud gue mai"


Syifa tersenyum kepada maira berharap temannya yang satu ini tidak memperjelas ya lagi.


"Bukan cuman satu orang syif tapi kita semua. Perpecahan ini karna kita semua. Karna ketidak jujuran dan keegoisan kita semu"


Pandangan Syifa begitu sinis, dia sungguh tidak setuju dengan pendapat maira. Tidak ingin berdebat Syifa hanya tersenyum licik.


"Lihat Lo dan gue juga terpecah gara-gara dia. Heran deh gue kenapa sih lo suka banget nempel sama dia. Dipelet apa sih?"

__ADS_1


Maira hanya geleng kepala, malas untuk berdebat dengan teman yang sudah tidak ia pahami lagi.


"Kayaknya Lo udah sehat deh, gue pamit ya banyak pasien yang lebih membutuhkan gue dirumah sakit"


Tanpa persetujuan Syifa maira meninggalkan rumah itu dengan rasa kesalnya. Begitupun Syifa yang ditinggalkan. Tadinya ia begitu senang bisa bertemu lagi dengan maira, bagaimanapun juga dulunya maira dan Syifa sangat dekat. Mereka berteman sejak kecil seperti halnya Zia dan razik, tapi sayang persahabatan mereka pudar seiring berjalannya waktu.


********


Kini sapu tangan yang ditangannya sudah basah oleh air mata. Rasanya dia bukan dirinya lagi, tidak biasanya Zia menangis seperti ini. Biasanya air matanya tidak akan keluar jika ditempat ramai, bahkan menyakitkan sekalipun, namun akhir-akhir ini emosinya begitu labil apalagi jika itu menyangkut razik.


Zia memandang pria yang tengah jongkok dihadapannya itu.


"Mas ngak capek?


Razik tersenyum, kemudian menggeleng perlahan.


"Kenapa harus jongkok disitu? Duduk disini aja"


Zia menampar bangku yang disampingnya namun malah ditolak dengan gelengan Razik.


"Aku mau melihat wajah cantik kamu yang lagi nangis"


"Ih mas apa-apa an sih"


Kata-kata razik sungguh mampu mendamaikan hati Zia. Perlahan senyuman Zia mulai muncul, Razikpun sedikit melihat senyumannya. Razik mengambil sapu tangan yang ada ditangan Zia, dia menghapus pelan pipi chabi Zia dengan penuh makna.


"Sudah jangan menangis lagi, nanti hati ku terluka"


"Hati ku sudah terluka dari dulu mas"


Kata-kata itu spontan keluar dari bibir Zia, bukan hanya Razik bahkan Zia sendiri terkejut mendengar pernyataannya. Razik hanya mengangguk, dia juga paham Zia sudah lama terluka karna dia.


"Maafin aku Zi"


"Kenapa kamu datang mas, kenapa kamu tidak pergi saja menemui dia?"


"Kenapa mas? Harusnya kamu mengabaikan aku seperti biasanya, tinggalkan aku sendiri mas. Supaya aku tidak salah paham dan tidak berharap banyak dari mu"


"Berharap lah Zi, aku akan berusaha mewujudkannya. Aku tidak bisa mengabaikan mu lagi"


"Kenapa?"


"Karna kamu istri ku"


Diakui sebagai seorang istri sudah lama didambakan Zia. Dan hari ini Zia mendapatkannya. Setelah Zia tenang razik mengajaknya untuk pulang. Ingin rasanya Zia berjalan dengan sangat pelan agar genggaman razik tidak lepas, namun sayang segera tangan razik di tariknya dari genggaman Zia karna handphone nya kembali berdering. Zia mengeluh kesal. Karna razik sudah membukakan pintu modul, Zia lebih memilih razik di dalam mobil.


Razik yang telah selesai menerima panggilan itu baru menyadari bahwa istrinya tidak ada dibekngnya lagi. Razik membuka pintu mobilnya, tapi tidak bisa.


"Kok ngak bisa ya? Terus Zia kemana? Aku fikir dia masuk kedalam mobil"


Razik mencoba menerawang kaca berharap dapat melihat jika ada Zia di dalam tapi sayang dia lupa kalau kaca mobilnya tidak tembus pandang.


Zia yang di dalam hanya mengulum senyum, menurutnya ini momen yang tepat baginya untuk balas dendam dengan kejahilan razik.


"Ah Zia kemana sih? Awas aja kalo nanti ketemu ngak ku lepas-lanpas"


Razik mulai bingung campur kesal.


Melihat ponselnya razik baru sadar bahwa ia bisa saja menghubungi Zia. Benar saja Razik menghubunginya, Zia yang melihat ponselnya berdering bingung harus menjawab apa


"Halo ***....."


"Zi kamu dimana sih sayang?"

__ADS_1


"Assalamualaikum"


Razik mendengus kesal, dia yakin istrinya ini sengaja mengejeknya.


"Wa'alaikum salam,kamu Dimana?"


Zia mengulum senyum, rasa kasihan membuatnya tidak tega jika mengerjai razik lebih lama. Zia akhirnya membuka kunci mobil sehingga pintu mobil bisa di buka.


"Aku disini"


Razik kaget saat melihat Zia membuka mobil, melihat itu razik paham kalau dia sudah dikerjai istrinya.


"Kamu nakal ya udah berani ngerjain aku"


"Aku belajar dari kamu mas"


Keduanya begitu menikmati candaan mereka.


"Tadi ummi nel0on aku"


"O jadi yang nelpon kamu tidak ummi"


Razik mengangguk, mengiyakan.


"Kamu fikir siapa?"


"Bukan siapa-siapa"


Pipi Zia merona.


"Hayo ngaku, kamu cemburu ya?"


"Eh enggak kok?"


"Yakin? Cowok sekeren aku memang pantas kok dicemburui"


Zia tersenyum cemooh kearah razik. Memang tidak salah yang dimakannya tapi tetap saja tingkat percaya dirinya kenapa bisa begitu tinggi.


"Terus mas ummi bilang apa?"


"Ummi nyuruh kita datang kerumah"


"Kapan?"


"Besok, tapi kok ada yang aneh ya?"


"Aneh kenapa mas?"


Razik terlihat begitu berfikir, hal apa yang menggu umminya.


"Ummi kok kayak marah ya?"


Zia ikut berfikir, dia hanya menduga tapi hatinya begitu berkata mungkin hal laren yang membuat ummi marah.


"Kita kesana sekarang aja, gimana Zi?"


"Apa ngak papa mas? Sebentar lagi mau magrib lo. Mas ngak mau mandi dulu?"


Razik tersenyum, ternyata benar perempuan itu lebih memiliki banyak pertimbangan dari pada laki-laki. Razik menyentuh kepala Zia dengan lembut, serasa penuh kasih sayang.


"Benar zi, ah ternyata wanita itu memang sangat diperlukan di dalam hidup seorang pria"


Zia Tersenyum penuh makna.

__ADS_1


"Ayo kita pulang"


Zia mengangguk dengan senyuman yang masih mengembang.


__ADS_2