9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
Adit


__ADS_3

Mendengar kedua orang tuanya cek Cok bukanlah hal asing untuk Adit. Bahkan melihat pipi bunda nya memar itu adalah hal yang biasa karna tempramen ayah Adit, pak Romi sangat buruk.


Dia sangat menyayangi Adit dan bundanya tapi dia pria yang ringan tangan. Dan yang paling buruk, dia pria yang suka terbakar dengan api cemburu.


Hari ini Adit tidak menyangka akan disambut cekcok lagi saat pulang kerumah. Adit berusaha mengabaikannya, tapi tidak lagi saat sang ayah mulai menampar bundanya. Suara cekcok berganti dengan suara pecahan kaca, semua barang-barang yang bisa di raih sang ayah mulai berhamburan bahkan terkadang sengaja diarahkan kepada bundanya. Ingin rasanya Adit meninggalkan rumah itu tapi ia sadar bisa saja akan ada hal buruk terjadi pada bundanya jika ia pergi sekarang.


"Mungkin jika Zia dan raziq kesini ayah akan berhenti" fikir Adit.


Dia berusaha menghubungi raziq tapi tidak ada jawabannya, pun dengan Syifa.


"Aku mohon angkatlah aku butuh kalian"


Tetap tidak ada yang mengangkat bahkan sekarang nomor keduanya tidak aktif lagi.


Raziq terduduk lesu. Dia merasa kecewa tapi mungkin kali ini dia tidak akan ikut campur.


Adit mengambil tasnya dan kunci motor nya kembali dia berniat untuk meninggalkan rumah itu namun saat Adit ingin keluar dari pintu dia terhenti.


"Mas, ukhuk mas lepaskan a aku mas"


"Bukankah kamu lebih baik mati. Aku sudah lelah melihat mu terus dirayu pria-pria itu"


Adit melepaskan tasnya dan langsung berlari ke dapur, benar saja bundanya tengah dicekek sang ayah saat ini.


"Ayahhhhh, lepasin bunda"


Adit berusaha melepaskan tangan ayahnya dari leher sang bunda tapi itu sia-sia, bahkan mungkin saat ini ayahnya sudah dirasuki setan. Tanpa fikir panjang Adit memukul ayahnya dengan botol. Tangan pak Romi terlepas dari leher bunda asih, hal itu membuat pak Romi marah kepada Adit dan sekarang sasarannya bukan lagi Bu asih tapi Adit. Meski bercucuran darah pak Romi masih terlalu kuat untuk dilawan oleh Adit.


Pak Romi menghujami Adit dengan pukulan bahkan dia melukai Adit dengan pecahan kaca yang ia raih.


Bu asih begitu tertekan, dia berusaha bangun sekuat tenaganya. Dia tidak ingin anaknya mati di tangan suaminya sendiri. Melihat pisau di pinggir meja sana bu asih tidak fikir panjang lagi, dia mengambil pisau itu dan menusuk suaminya dari belakang. Tentu saja tusukan itu tidak mampu lagi ditopang oleh tubuh pak Romi dan membuatnya jatuh.


Terlihat jelas ketakutan dari tangannya yang gemetar. Hatinya begitu perih, entah bagaimana ia akan menerima resiko ini.


"Haaaaaa Adit bangun nak, bunda mohon bangun sayang"


Adit berusaha membuka matanya, dia tersenyum pilu sebelum kehilangan kesadarannya.


*******


Bu asih ditahan oleh polisi karna terdakwa membunuh suaminya. sementara Adit, dia terbaring lemah di rumah sakit. Zia dan raziq yang menjaganya bergantian dan entah kenapa meski sering berpapasan namun tidak pernah ada percakapan diantara mereka.

__ADS_1


Zia memandang tubuh lemah itu. Wajah tampannya kini tertutupi dengan luka-luka memar. Terasa sakit saat Zia mengenang masa bahagia mereka.


"Maafin aku dit, maaf, maaf"


Zia terkejut saat sebuah tangan menyapu wajahnya nya. Ya Adit, dia sadar.


"Adit, kamu?"


Adit hanya mampu tersenyum.


"Alhamdulillah ya Allah, tunggu sebentar ya gua panggilin dokter"


Adit menahan Zia, Zia tersenyum dan melepaskan genggaman Adit.


"Cuman sebentar kok, tunggu ya gua bakalan kesini lagi bareng dokternya"


Adit masih saja tersenyum.


Zia datang dengan seorang dokter, dia sangat bahagia dengan kesadaran Adit. Setelah dua hari, akhirnya ada harapan Adit akan sembuh, itu yang difikirkan Zia.


Tapi sayang takdir berkata lain. Dokter menggelengkan kepalanya, pertanda ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Maaf dek tapi teman adek sudah tidak ada lagi, kami turut berduka cita"


"Adiiiiittt, tidak mungkin. Tadi dia masih tersenyum pada ku. Adiiittt"


FLASH BACK OF


*********


Angin sepoi-sepoi terasa menusuk ke hati mereka. Wanita itu, rasa bersalah terhadap wanita itu masih membebani. Dia melewati banyak luka. Bahkan dia tidak bisa melihat anaknya untuk yang terakhir kalinya hanya untuk sebuah pembelaan yang dianggap kesalahan.


"Cobalah untuk berbicara dengan bunda, mungkin itu bisa membuat hati mu sedikit lebih tenang. Seperti yang kurasakan"


Raziq masih menatap Bu asih dengan rasa bersalahnya.


Zia meninggalkan raziq dan menemui wanita itu. Tidak lama Bu asih kini ada dihadapan raziq.


"Kata Zia kamu ingin bertemu dengan ku"


Terasa begitu canggung bagi raziq.

__ADS_1


Dia tidak mengenali ku? Mungkin karena sudah lama tidak bertemu


Raziq mengangguk, Bu asih memperhatikan raziq, rasanya wajah itu terasa familiar.


"Kamu, terasa begitu akrab tapi kamu siapa ya"


"Bunda"


Panggilan itu membuatnya mengingat segalanya tentang Adit, tentang anaknya. Air mata Bu asih mengalir seketika, rasa rindu yang begitu mencekat membuatnya tak mampu bicara.


Raziq merasa air mata itu karna dia, dia yang menyebabkan segalanya. Dia begitu menyalahkan dirinya sendiri.


Raziq berlutut dihadapan Bu asih.


"Maafkan raziq bunda. Maafkan raziq"


Bua sih langsung menyuruh raziq untuk berdiri dan mengajaknya untuk duduk.


"Raziq nak tidak ada yang perlu dimaafkan, ini sudah takdirnya"


"Tapi kalau saja raziq mengangkat telefon Adit waktu itu mungkin ini tidak akan terjadi"


"Raziq ini sudah janjian Adit. Bunda mohon jangan menyalahkan diri mu. Tidak baik menyesali sesuatu diatas kepergian seseorang. Itu akan membuat nya bersedih"


Entah kenapa mendengar perkataan itu justru membuatnya semakin sakit,  dia merasa akan lebih baik jika Bu sih memarahinya saat ini. Raziq bersimpuh di hadapan Bu asih dan tak dapat membendung air matanya lagi.


"Bunda lebih baik bunda marah sama raziq, maki raziq bunda, keluarkan semua duka yang membebani bunda selama ini,  itu semua karna aku, aku yang tidak memberikan kesempatan kepada takdir untuk membuat Adit sedikit bahagia"


"Bunda marah? Ya tentu saja. Bunda marah, sedih, kesal bahkan bunda hampir stress tapi apa gunanya itu semua. Bunda yakin Adit tidak ingin semua ini setelah pengorbanan yang dia lakukan. Bunda juga paham sebenarnya kamu tidak hanya merasa bersalah dengan bunda"


Raziq menatap Bu asih frustasi.


"Sini duduk lah"


Raziq kembali duduk di samping Bu asih.


"Nak bunda sudah memaafkan mu dan kamu tau kehadiran mu hari ini mengobati rindu bunda pada adit dan  sebelum kamu mau orang lain memaafkan mu cobalah untuk memaafkan diri mu terlebih dahulu"


Bu asih menggenggam tangan raziq begitu erat menyalurkan kekuatan untuk raziq.


"Jujurlah pada hati mu dan jujurlah kepadanya. Minta maaflah itu bukanlah hal yang buruk"

__ADS_1


Bu asih dan raziq menatap wanita di ujung sana. Wanita yang sama-sama memiliki arti untuk mereka, ya dia Zia.


__ADS_2