
Pagi harinya Santi dan keluarga mempersiapkan segala sesuatunya agar acara hitbah hari ini berjalan lancar. Acaranya akan dimulai sekitar jam 9 pagi, masih ada 3 jam lagi untuk bersiap-siap. Tiba-tiba Pak Kuswandi memanggilnya ke dalam kamar. “San, ke sini sebentar Bapak mau bicara..!!” kata Pak Kuswandi terlihat serius. “Ya Pak, ada apa..?” tanya Santi. “Bapak ingin menyampaikan sesuatu..” kata Pak Kuswandi. “Sebenarnya Bapak beberapa hari yang lalu menerima surat dari seseorang, tapi karena Bapak khawatir ini akan mengganggu proses hitbahmu makanya bapak baru memberikan surat ini ke kamu hari ini..!!” ucap Pak Kuswandi.
“Ini surat dari temanmu, maaf Bapak udah membacanya kemarin...” kata Pak Kuswandi. Santi pun menerima surat dari Bapaknya itu. Setelah memberikan surat tersebut, Pak Kuswandi langsung keluar kamar Santi. Setelah dibuka ternyata surat itu dari Jaswari, “Ya Allah...apa yang sedang engkau perlihatkan ini...” Santi menjerit dalam hati dan tak sadar menitikkan air mata. Benar-benar hal yang tak terpikirkan oleh Santi akan ada kabar disaat semua udah diputuskan. “Bagaimana aku mau ke sana, sedangkan aku udah mau dilamar orang...” Santi terlihat sedih. “Kenapa Jas, suratmu datang tak tepat waktu..jika suratmu sampai langsung kepadaku mungkin....” ucap Santi dalam hati. “Aku gak mungkin datang ke rumahmu saat ini, karena hari ini aku udah mau dihitbah orang...” kata Santi pasrah dalam sedihnya.
Santi masih bingung dengan surat itu, entah dari mana datangnya dan siapa yang menyampaikan surat itu, Santi gak tau. Tau-tau udah ada di tangan Pak Kuswandi Bapaknya sendiri dan dibaca pula. “Ya Allah...aku gak tau apa
pendapat Bapak tentang Jaswari jika isi suratnya seperti ini..!” kata Santi ngomong sendiri. “Aku sendiri masih kaget dengan surat ini...terus apa artinya istikhorohku selama seminggu ini..” ucap Santi lagi. “Apa aku salah mengartikannnya...” Santi merasa tak berdaya.
Dengan perasaan yang tak menentu Santi mencoba menetralkan perasaannya dan bersikap biasa saja ketika nanti di depan semua orang. Karena keluarga yang akan melamar Santi udah sampai. Santi melihat keluarga yang akan
__ADS_1
melamarnya dari kaca jendela kamarnya. Kebetulan jendela kamarnya besar, jadi Santi dengan leluasa bisa melihat mereka dari dalam kamar. Santi masih di dalam kamar ketika Hidayat dan keluarganya masuk dan mulai membicarakan tujuan mereka datang ke rumah Santi. Dan Santi baru dipersilahkan bergabung ke ruang tamu
setelah pihak keluarga Hidayat bertanya tentang kesediaan Santi dihitbah oleh Hidayat anak pertama mereka.
“Jadi bagaimana Pak Kuswandi, apakah lamaran kami di terima?” Kata Pak Ustadz Yana berbicara mewakili keluarga Saeroji. Saeroji adalah Bapak dari Hidayat sendiri. “Kalau saya selaku orang tua pasti menerima apalagi ini adalah niat baik, tapi untuk memastikannya kita tanya langsung saja sama anak saya Santi.” tutur Pak Kuswandi. “Bu, coba tolong panggilkan Santi, suruh dia bergabung ke sini.” Pinta Pak Kuswandi ke Bu Eka istrinya. Bu Eka pun langsung menuju ke kamar Santi untuk memanggil anak bungsunya itu.
Tak lama kemudian Santi dan Bu eka pun datang ke ruang tamu. Dan Santi langsung duduk dekat Pak Kuswandi. Tanpa basa basi Pak Kuswandi pun langsung bertanya kepada anaknya perihal jawaban lamaran dari keluarga Saeroji. “Gimana San, mereka kesini mau melamarmu nak, apa kamu mau menerima lamaran Nak Hidayat?” tanya Pak Kuswandi dengan lembut kepada Santi anaknya. Santi menarik napas dalam-dalam baru dia menjawab pertanyaan dari bapaknya. “Dengan mengucap Bismillah, saya terima lamaran dari Keluarga Mas Hidayat,” tutur Santi dengan suara pelan.
Setelah acara utama selesai, para tamu yang ada di rumah Santi lanjut berbincang-bincang ringan dengan Pak Kuswandi dan Kakaknya Santi paling tua, dia Kak Asep. Santi pun terlihat sedang bicara dengan Hidayat ditemani oleh sahabatnya Widi. “Ouh ya San, boleh gak saya bicara empat mata dengan Santi secara pribadi?” tanya Hidayat mengawali percakapannya dengan Santi. “Tentu boleh mas, saya tak keberatan, silahkan mas mau nanya apa pada saya.” Tutur Santi, dan saat itu Widi duduk menemani Santi. “Tapi saya mau bicara empat mata San,” Hidayat mengulangi perkataannya sambil melirik kearah Widi. Santi paham apa maksud Hidayat.
__ADS_1
“Tidak apa-apa Mas, dia sahabat saya dan dia bisa dipercaya,” jawab Santi sambil merangkul bahu Widi. “Jadi mas bisa bertanya, dan pasti saya akan menjawabnya,” tegas Santi. “Ouh baiklah kalau begitu. Hal pertama yang mau saya tanyakan adalah soal lamaran ini, saya tanya lagi ke Santi apa Santi bersedia menjadi Istri saya?” tanya Hidayat memastikan. “Mas tak usah khawatir, saya udah jawab bersedia, insya Allah tak ada yang memaksa saya untuk menerima lamaran dari Mas,” jelas Santi meyakinkan Hidayat. “Oke syukur kalau begitu. Saya lanjut ke pertanyaan kedua, apa Santi mau menerima saya apa adanya dengan apa yang saya punya sekarang?” Hidayat bertanya lagi ke Santi.
“Bismilillah, saya menerima dan mau hidup bersama mas apa adanya.” Tidak ada keraguan dalam jawaban Santi. “Alhamdulillah kalau begitu, sekarang saya lega udah mengutarakannya, terimakasih ya San,” ujar Hidayat. “Ya sama-sama Mas, saya juga berterimakasih. Saya hanya minta ijin dari mas, nanti ketika kita udah menikah, Mas ijinkan saya untuk tetap mengikuti pengajian yang selama ini udah saya ikutin sejak SMA.” Santi menjelaskan dengan hati-hati. “Untuk masalah itu saya gak keberatan, asal Santi bisa membagi waktu.” Tutur Hidayat. “Alhamdulillah kalau mas mengijinkannya, dan saya juga lega udah mengutarakannya kepada Mas,” ucap Santi dengan perasaan lega.
Alhamdulillah acara hari ini berjalan lancar, dan lamarannya pun diterima dan udah disepakati hari pernikahannya kapan. Santi sedikit lega dengan selesainya acara hari ini. Pernikahan Santi dan Hidayat akan dilaksanakan setelah wisudanya Santi, yaitu sebulan dari sekarang. Keluarga Saeroji pun pamit pulang, dengan membawa kabar gembira buat keluarga di sana.
Entah apa yang akan dipikirkan oleh Jaswari ketika kabar ini sampai ke telinganya. Santi sangat-sangat sedih memikirkan hal itu. Tapi mau gimana lagi, Santi gak bisa berbuat apa-apa. Andai waktu bisa diputar dan Santi yang menerima surat dari Jaswari itu mungkin rasa sedih ini gak akan dirasakan Santi. "Maafkan aku Jas, aku gak tau kalau kau menungguku sampai sekarang, maafkan aku yang terlambat menyadarinya, aku berdoa semoga kau akan menemukan kebahagianmu selain aku," doa Santi dalam hati.
# # #
__ADS_1
Di lain tempat, Jaswari berharap surat yang dia kirim ke Santi, akan sampai pada orangnya. Tapi harapan Jaswari tidak terkabul, Jaswari tidak tau kalau suratnya malah di terima oleh bapaknya Santi, malah yang lebih gawat surat itu dibaca Bapaknya Santi dan ditahan. Santi belum tau kalau ada surat untuknya dari Jaswari. “Ya Allah apa yang aku lakukan ini sudah tepat, apa suratnya udah dibaca oleh Santi?” Jaswari ngomong sendiri. “Sungguh aku baru sadar kalau perasaanku selama ini ternyata bukan cinta monyet saja tapi lebih dari itu, aku udah benar-benar cinta sama Santi,” gumam Jaswari dalam hati.
Bersambung......