Akhir Cinta Pertamaku

Akhir Cinta Pertamaku
112. Lebaran Iedul Adha Di Parungkuda


__ADS_3

Satu Bulan kemudian.....


Santi dan Hidayat serta anak-anak rencananya akan pergi ke Sukabumi besok pagi, jadi siang ini Santi sedang sibuk merapikan apa saja yang akan dibawa ke sana. Idhul Adha tahun ini, Hidayat akan melaksanakan qurban di Parungkuda. Sedikit informasi, Parungkuda itu adalah tempat tinggal Pak Ustadz yang suka rutin mengisi pengajian di keluarga Saeroji. Karena selama ini Pak Ustadz udah lama mengajar ngaji di keluarga Hidayat, jadi Pak ustazd sendiri udah dianggap keluarga oleh keluarga Saeroji.


Bukan cuma Hidayat yang qurban sebenarnya, tapi ibunya Hidayat yaitu Bu Sumiati juga qurban tahun ini. Jadi hewan qurban yang akan di sembelih nanti di Parungkuda adalah 2 ekor kambing. Asla, Alisya dan Shiddiq sangat antusias sekali ketika mendengar akan pergi ke Parungkuda. Terutama Shiddiq, karena dia akan ketemu temannya di sana. Ya Shiddiq sangat dekat dengan anak dari Pak Ustadz Rizki, karena Shiddiq dan anaknya Pak ustadz itu seumuran.


Setelah mempunyai anak, Santi dan Hidayat memutuskan anak-anaknya memanggil mereka berdua dengan sebutan Ummi dan Abah. Kenapa memilih panggilan itu, karena menurut Santi itu panggilan yang sangat enak didengar. Dan tentunya di keluarga besar Saeroji belum ada yang memakai panggilan itu. Kalau Santi sendiri memanggil Hidayat dengan sebutan Mas, karena menurut Santi keluarga suaminya itu adalah asalnya dari Jawa. Jadi Mas itu sebutan yang pas buat Hidayat.


Setelah berkutat selama setengah jam dengan barang yang akan dibawa, akhirnya selesai juga preparenya. Dan rencananya besok Santi dan keluarga akan berangkat abis sholat Shubuh, biar nanti gak terkena macet di jalan. "Gimana Mi, udah selesai belum rapihin bajunya?" tanya Hidayat sama Santi. "Udah Mas, obat-obatan juga udah dimasukan ke tas," saut Santi. "Ya udah kalau udah selesai, mas mau ke rumah ibu dulu mau bilang kita akan pergi besok pagi," tutur Hidayat. "Ouh iya, sendiri ke rumah Ibunya?" kepo Santi. "Gak Mi, tadi katanya Shiddiq mau ikut, ini lagi nyari orangnya dari tad kok gak keliatan," ucap Hidayat. "Paling lagi main mobil-mobilan kali di ruang ngaji Mas," saut Santi. "Ouh iya udah mas liat dulu deh," ucap Hidayat yang langsung melihat Shiddiq di ruang ngaji.

__ADS_1


Setelah ada di ruang ngaji, Hidayat melihat anaknya Shiddiq sedang asyik bermain. "Wah anak Abah lagi main di sini ternyata, katanya mau ikut Abah ke rumah Mbah Uti jadi gak nih," ucap Hidayat. Shiddiq yang lagi asyik bermain, langsung berhenti. "Jadi dong Bah, sebentar ya aku rapihkan mainku dulu Bah, tunggu ya jangan di tinggal," saut Shiddiq. "Iya Abah tunggu, jangan lama-lama beresin mainannya, Abah tunggu di luar ya," ucap Hidayat yang langsung pergi ke luar rumah. Shiddiq pun cepat-cepat rapihin mainannya, karena takut di tinggal Abahnya.


Keesokan hari.....


Santi sekeluarga terlihat baru menyelesaikan sholat Shubuh berjamaahnya di mushola rumah. "Alhamdulillah, hari ini kita masih bisa sholat berjamaah," ucap Hidayat kepada semuanya. "Ya udah kalian siap-siap gih, bentar lagi juga om Harun datang, jadi kita bisa langsung berangkat," ucap Hidayat lagi. Setelah Hidayat bicara seperti itu, anak-anak semua langsung siap-siap, Asla dan Alisya langsung mengambil kerudung dan jaket, Begitu pun dengan Shiddiq dia memakai topi dan membawa jaket. Karena di Parungkuda udaranya sangat dingin, jadi jaket gak boleh ketinggalan. Setelah menunggu beberapa saat om Harun pun datang menjemput. Dan mereka pun langsung meluncur berangkat ke Parungkuda.


Setelah menempuh perjalanan selama hampir 3 jam, akhirnya Santi sekeluarga sampe juga di Parungkuda. Shiddiq yang udah gak sabar ingin ketemu sama sohibnya, langsung lari setelah keluar dari mobil. Santi yang melihat tingkah Shiddiq cuma bisa geleng-geleng kepala. Santi sangat tau kalau anak bungsunya ini sangat dekat dengan anak Pak ustadz Rizki yang bungsu. Karena mereka itu seumuran hanya beda beberapa hari.


Keesokan hari...

__ADS_1


Santi sekeluarga udah terlihat rapi, dengan memegang perlengkapan sholat. Ya Hari ini adalah Hari Raya Iedul Adha, jadi mereka semua mau sholat Ied di mesjid dekat rumah. "Diq, nanti sholatnya jangan jauh-jauh dari Abah ya, kan sekarang mah banyak orang yang sholat Ied di mesjid," Santi mengingatkan anaknya. "Siap Ummi, aku nanti sholatnya deket Abah," saut Shiddiq. Imam mesjid udah naik ke mimbar, itu berarti sholat Ied akan segera di mulai. Semua yang ada di mesjid pun langsung berdiri dan merapihkan shafnya.


Setelah beberapa lama, sholat Ied pun udah selesai. Santi Asla dan Alisya pun pulang duluan ke rumah, karena Hidayat terlihat sedang ngobrol serius dengan Pak ustadz Rizki. Sesampainya di rumah, Santi langsung ke dapur untuk menyiapkan makanan yang udah di masak. Ya kemarin siang Santi udah masak sayur nangka dan sambel goreng kentang. Labi asyik menyiapkan makanan, Bu Murli datang menghampiri Santi. "Assalamualaikum Bu," seru Bu Murli. "Waalaikumussalam, wah Bu Mur ada apa Bu..." tanya Santi. "Ini Bu, nyobain ketupat sama rendang, Bu Santi kan gak bikin ketupat dan rendang," saut Bu Murli. "Waah makasih ya Bu jadi ngerepotin nih," ucap Santi tersenyum. "Hehee gak lah bu, ya udah saya balik dulu, mau nyiapin makan buat Pak Rizki biar makan dulu sebelum nyembelih kambing," ucap Bu Murli. "Ouh ya Bu, eh tapi nyembelih kambingnya jam berapa ya bu?" tanya Santi penasaran. "Kayak ya sih jam 9an, soalnya yang bantu nyembelih juga belum datang terus juga kambingnya juga baru datang jam 8," tutur Bu Murli. Santi manggut-manggut, Bu Murli pun pulang ke rumahnya yang letaknya di samping rumah Santi.


Setelah jam 9, penyembelihan hewan qurban pun di mulai. Yang menyembelih kambingnya langsung sama Pak ustadz Rizki di antu ileh beberapa orang yang memegang kambingnya. "Mas, Shiddiq kemana kok gak keliatan sih?" tanya Santi ke Hidayat. "Tadi lagi di kamar mandi Mi," saut Hidayat. "Ouh, tapi dia udah tau kan kambingnya mau disembelih?" tanya Santi lagi. "Udah makanya dia ke sini, kan dari tadi ada di rumah pak Rizki," jawab Hidayat. Santi manggut-manggut.


"Ummii...udah di mulai belum nyembelihnya?" seru Shiddiq ketika sampai di teras rumah. Ya nyembelih kambingnya dilakukan di halaman rumah Santi. "Udah Diq, tuh liat saja, Faiq juga lagi liat tuh," saut Santi. Ya Faiq itu sohibnya Shiddiq anaknya Pak ustadz Rizki. "Ouh iya bener kata ummi, ya udah aku ke sana ya mau liat sama Faiq," ucap Shiddiq. Santi pun menganggukkan kepala.


Setelah beberapa jam, penyembelihan kambing sekaligus memotong jadi bagian-bagian kecil untuk dibagi-bagikan kepada warga sekitar udah selesai. Dan ini udah masuk waktu Dhuhur, jadi pembagian dagingnya nanti sesudah sholat Dhuhur. "Mi, Abah mau ke mesjid dulu ya," ucap Hidayat. Santi mengangguk.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2