Akhir Cinta Pertamaku

Akhir Cinta Pertamaku
61. Kaset Nasyidnya


__ADS_3

Santi yang udah pamit pulang pun, langsung berjalan kaki menuju ke jalan raya. Di tengah jalan, pas didepan gerbang sekolah, Santi melihat sosok yang dia kenal. Yah yang dilihat oleh Santi adalah Jaswari. Dia sedang ada di depan warung yang ada di seberang gerbang sekolah.


Jaswari yang udah membayar jajanannya, pas melihat ke arah Santi berada merasa kaget dan senang. Jaswari pun menunggu Santi di depan warung, sampe Santi berada tepat di dekat Jaswari, baru menyapa Santi. "Hai San, apa kabar," sapa Jaswari tersenyum. "Assalamu'alaikum Jas, alhamdulillah baik. Kalau ketemu tuh biasakan ucap salam Jas," saut Santi mengingatkan Jaswari. Yang diingatkan cuma nyengir dan garuk tengkuknya yang gak gatal.


"Kamu lagi ngapain San di sini?" tanya Jaswari penasaran. "Aku abis dari rumah Pak Jaji Jas, di suruh Bapakku," jawab Santi. "Memang di suruh ngapain ke rumah Pak Jaji?" tanya Jaswari lagi. Santi tertawa pelan melihat Jaswari yang penasaran. "Iih ditanya kok malah ketawa sih," ucap Jaswari heran. "Hehee abis kamu dari tadi nanya aku terus kayak wartawan aja, aku disuruh nganterin dukuh sama pala kebetulan lagi panen di kebun," tutur Santi.


"Wah enak dong di rumah kamu banyak buah, aku juga mau kalau dibagi buahnya," ucap Jaswari. Sebenarnya Jaswari gak bener2 ingin tapi hanya ingin tau reaksi Santi mau jawab apa kalau ngomong seperti itu. "Pastinya enak dong Jas, manis lagi buahnya, kalau kamu mau main ke rumah aja nanti aku bagi," jawab Santi. "Eh iya kamu kok masih di sekolah sih, memangnya belum pulang jam segini?" tanya Santi yang baru enggeh ini udah jam pulang sekolah.


"Biasa San, lagi pada ngumpul di rumah Rifa. Mampir yuk, ada Nurul juga kok," jawab Jaswari. "Gimana ya..." ucap Santi ragu. "Udah ikut aja nanti kan pulangnya bisa bareng aku," jawab Jaswari nyengir. "Yeeh itu mah kamu yang modus dong Jas," saut Santi menepuk lengan Jaswari. "Ayolah, aku kan masih pengen ngobrol sama kamu," rayu Jaswari. "Ck, iya deh iya aku ikut kamu mampir ke rumah Rifa," saut Santi. Jaswari pun tersenyum lebar.

__ADS_1


Santi pun akhirnya ikut Jaswari ke rumah Rifa. Dan tentu saja sesampenya di rumah Rifa, semua yang ada di dalam pada rame melihat siapa yang datang. "Assalamu'alaikum semuanya.." sapa Santi. "Waalaikumussalam, wah ternyata ada tamu teman-teman. Ayo San, masuk!" jawab Rifa. "Rif ini titipannya dan uang kembaliannya ada di dalam kantong," jelas Jaswari. Rifa mengangguk tanda mengerti. "Wih pulang dari warung bawa Santi, pantes aja lama. Kamu ke warung beli minum apa ke rumah Santi Jas," ledek Uus. "Sirik aja kamu Us," saut Jaswari mencebikkan bibirnya. Yang lain pada tertawa.


"San, kok bisa bareng Jaswari sih?" tanya Nurul. Santi menarik napas pelan. "Aku gak sengaja ketemu dia tadi di warung. Soalnya aku tadi abis dari rumah Pak Jaji ada perlu di suruh Bapak aku, Nuur," tutur Santi. "Ouh gitu ya, kirain aku kalian janjian ketemu di sini, hihihi.." saut Nurul. Santi geleng-geleng kepala mendengar perkataan Nurul. "Heran aku tuh sama kamu bawaan curiga aja kalau aku ketemu Jaswari," protes Santi. "Hehee, bukannya curiga San, tapi memang belakangan ini kalian selalu aja bertemu dan itu gak sengaja pula," tutur Nurul.


"Nah iya tuh aku setuju sama Nurul, kalian bisa kebetulan gitu, perasaan dari kemarin kalian berdua kalau ketemu kebetulan mulu sih heran aku," cerosos Uus. "Itu berarti mereka berdua jodoh Us," celetuk Sugeng. Jaswari mendengar celotehan teman-temannya hanya tersenyum aja sambil memandang ke arah Santi. "Eh Jas, mata dikondisikan tuh, dari tadi ngeliatin Santi mulu," ledek Dewi. Jaswari yang tertangkap basah sedang melihat Santi diam-diam pun mengalihkan matanya ke arah lain. Santi yang melihat itu cuma bisa geleng-geleng kepala.


Setelah beberapa lama, film yang di tonton pun selesai. Santi tersadar bahwa dia udah kelamaan, pasti Bapaknya akan menginterogasi dia ketika udah sampe di rumah. "Teman-teman kayaknya aku pulang duluan ya, soalnya tadi aku pamit sama Bapakku langsung pulang kalau udah urusan ke Pak Jaji selesai," tutur Santi sedikit panik. "Bareng aku aja San, aku juga mau pulang," jawab Jaswari. Mendengar hal itu yang lainnya cuma geleng-geleng kepala. Mereka udah hafal kalau udah ada Santi pasti Jaswari selalu gak mau jauh-jauh. Dan Santi hanya bisa pasrah mengikuti kemauan Jaswari.


Lalu Santi pun pulang, dan Jaswari menyusul dibelakangnya. Setelah mereka berdua berada di luar rumah Rifa, Santi baru bicara. "Kamu kenapa pulang bareng aku Jas, kan gak enak sama yang lain," tutur Santi. "Gak apa-apa, mereka juga paham pasti San, kamu gak usah merasa gak enak gitu," saut Jaswari santai. Santi mengambil napas panjang, percuma berdebat sama Jaswari kalau dia udah punya mau. "Ya udah kalau memang seperti itu Jas," akhirnya Santi gak bahas itu lagi.

__ADS_1


Jaswari lalu memegang tangan Santi tanpa permisi. Santi yang merasa tangannya di pegang pun bereaksi. "Jas, kamu tuh ya bisa gak jalannya gak pegangan tangan kayak gini, aku kan udah bilang aku gak mau," protes Santi. "Yaelah San, cuma pegang doang gak apa-apa kali, lagian bentar paling sampe kita naik angkot doang," elak Jaswari. "Kamu tuh ya kalau dibilangin, ada aja jawabannya," saut Santi kesel.


Jaswari yang melihat muka Santi bete pun mengalihkan pembicaraan. "Kata Nurul kemarin pas libur kamu beli kaset nasyid ya?" tanya Jaswari. "Iya," jawab Santi singkat karena masih kesel sama Jaswari yang gak mau melepas pegangan tangannya. "Aku juga suka denger lagu nasyid, soalnya di rumah ada kasetnya tapi cuma satu sih," tutur Jaswari. "Kamu punya kaset apa memangnya?" tanya Santi yang udah mulai kepancing dan udah mulai lupa sama rasa kesalnya itu. Jaswari tersenyum melihat Santi yang udah gak bete lagi.


"Aku punya kaset nasyid S***a San, kamu kemarin beli kaset apa memangnya?" jawab Jaswari dan nanya balik ke Santi. "Aku kemarin beli kaset R****n Jas," jawab Santi tersenyum tipis. "Boleh gak kita tukeran kaset, aku belum denger lagu-lagunya R****n," saut Jaswari. "Boleh aja sih, tapi kasetnya lagi di pinjem sama Nurul," ucap Santi. "Ouh gitu, ya udah nanti aja pinjemnya abis Nurul deh," saut Jaswari. "Kalau mau kamu nanti bilang sama Nurul aja biar kasetnya langsung Nurul yang ngasih," jawab Santi.


Jaswari tersenyum, bukan karena diperbolehkan minjem kaset tapi Santi udah mau ngomong panjang, itu artinya keselnya udah hilang. "Oke nanti aku bilang sama Nurul," saut Jaswari. Santi pun mengangguk dan tersenyum manis.


Gak kerasa mereka udah berada di pinggir jalan raya, tepatnya di halte. Tangan Jaswari masih setia memegang tangan Santi. Pasrah itulah Santi sekarang hihihi. "Percuma aku protes dari tadi, gak bakalan dia denger," batin Santi sambil melihat ke arah tangannya yang di pegang Jaswari.

__ADS_1


Gak lama angkot yang ditunggu pun datang, dan mereka berdua pun naik ke dalam angkot tersebut. Dan otomatis pegangan tangan Jaswari terlepas, Santi pun merasa senang dan lega. "Akhirnya tanganku di lepas juga," ucap Santi pelan.


bersambung.....


__ADS_2