Akhir Cinta Pertamaku

Akhir Cinta Pertamaku
111. Tegar


__ADS_3

Setelah mengakhiri chat nya dengan Santi, Jaswari pun bergegas menuju ke kamar pasien. Dia mau menemani kembali Erni yang sedang melakukan cuci darah. Sesampainya di kamar, ternyata Erni sedang memejamkan matanya. Jaswari pun masuk perlahan takut mengganggu istrinya. Karena pas masuk ke sana, suster sedang ada di sana, Jaswari pun bertanya. “Sus, bagaimana apakah ada kendala pas tadi melakukan tidakan kepada istri saya?” tanya Jaswari. “Alhamdulillah Pak tidak ada, sampai sekarang prosesnya lancar.” tutur suster jaga. “Dan sebentar lagi juga selesai pak, kalau mau menunggu di sini silahkan Pak,” jelas suster jaganya kepada Jaswari.


Setelah mendapat ijin dari suster jaga, Jaswari pun menunggu istrinya di kamar pasien. Dan gak lama  Erni pun terbangun, membuka matanya. Sebenarnya Erni gak tidur, dia hanya pura-pura tidur. Dia gak mau melihat Jaswari khawatir ketika dia sedang melakukan cuci darah. Karena memang rasanya tidak enak dan tidak nyaman, rasanya sakit. “Aa udah balik dari mushola ya, maaf aku gak tau tadi aku ketiduran,” tutur Erni setelah membuka matanya. “Ah iya Er, udah dari tadi, malah tadi sempet nanya ke suster jaga,” saut Jaswari. “Gimana apakah yang sekarang berasa sakit Er?” tanya Jaswari terlihat khawatir. “Gak Aa, gak begitu sakit kayak yang kemarin. Walaupun ada sedikit tapi masih bisa ditahan rasa sakitnya,” jawab Erni dengan suara lirih tapi masih terdengar oleh Jaswari. “Maafin aku ya Er, sampai sekarang aku belum bisa bahagiain kamu. Mudah-mudahan kamu cepat sembuh dan kita bisa berkumpul kayak dulu lagi,” ucap Jaswari kepada Erni. “Aamiin Aa, mudah-mudahan.” Saut Erni sambil tersenyum simpul.


Beberapa menit kemudian proses cuci darah pun selesai, Jaswari lalu pamit ke Erni untuk mengurus administrasinya dulu. Setelah selesai mengurus administrasinya, Jaswari langsung kembali ke kamar lagi dan mengajak Erni pulang ke rumah. Hari ini jalanan alhamdulillah gak macet, jadi Jaswari dan Erni udah sampe di rumah. “Alhamdulillah, kita udah sampe di rumah Er,” ujar Jaswari kepada istrinya. “Ya Aa, alhamdulillah ya hari ini tumben jalanan lancar. Aku mau langsung istirahat aja Aa,” saut Erni pada Jaswari. “Ya, ayo aku antar ke kamar.” Ucap Jaswari. “makasih ya Aa, hari ini aku sangat cape sekali,” ucap Erni lirih hampir tidak terdengar oleh Jaswari. Sesampainya di dalam kamar, Jaswari pun membaringkan Erni di kasur king size miliknya.


Dengan telaten Jaswari mengelap badan istrinya dan mengganti baju Erni sebelum dia tidur. “ah udah selesai, kamu sekarang udah boleh istirahat, kalau udah di slap kan segar dan enak,” tutur Jaswari. “Ya Aa makasih, maafin aku ya selalu aja merepotkan Aa,” saut Erni sedih. “Eh jangan bicara seperti itu Er, kamu adalah istri aku, jadi sepatutnya aku memperhatikan dan mengurus kamu,” ujar Jaswari lembut. “Ya udah kamu istirahat dulu ya, aku mau nelpon kakakmu biar Zahra diantar pulang ke sini,” jelas Jaswari. Karena tadi pas mereka berdua pergi ke rumah sakit, Zahra di titipkan di rumah neneknya.

__ADS_1


Jaswari pun keluar dari kamar, dia langsung menelpon seseorang. Lalu Jaswari pun kembali ke kamarnya untuk mengambil baju ganti. Karena dia mau mandi, badannya terasa lengket dan pegal. Mungkin dengan mandi badannya akan terasa segar kembali. Dia melihat ke arah Erni, sebelum mengambil bajunya dilemari. Erni terlihat sedang memejamkan mata, entah dia tidur apa tidak Jaswari gak tahu. Jaswari pun menuju ke kamar mandi, yang berada di dalam kamarnya.


Setelah beberapa lama, Jaswari pun udah selesai dan udah memakai baju. “Ya Allah, semoga apa yang aku alami ini, segera berakhir. Aku gak tega liat istriku erni terus-terusan merasakan sakit,” doa Jaswari dalam hati. Lama Jaswari lama termenung duduk didekat istrinya. Lalu dia pun beranjak keluar kamar, membiarkan Erni istrinya beristirahat di kamar.


# # #


Seminggu kemudian.....

__ADS_1


Karena hari ini hari Minggu, biasanya Santi dan Hidayat juga anak-anaknya suka jalan pagi disekitar rumah. Dan sekarang mereka semua udah ada di luar rumah, untuk berangkat jalan pagi. "Ayah, hari ini kita jalan paginya ke jalan raya saja ya, kan seru bisa liat banyak mobil," seru Shiddiq. "Kamu tuh ya setiap saat yang di pikirin cuma mobil saja," gerutu Asla. "Yeeh gak apa-apa lah kan aku suka mobil Kak," saut Shiddiq. "Udah-udah gak usah ribut, ya hari ini kita jalan paginya ke jalan raya," selah Hidayat menghentikan keributan kecil anak-anaknya.


Sesuai permintaan Shiddiq, jalan pagi hari ini rtenya ke jalan raya. Karena masih pagi belum banyak mobil yang lalu lalang, dan udaranya pun masih sejuk. Ketika sampai di jalan raya, Shiddiq sangat antusias sekali melihat mobil yang sesekali lewat. "Wah ayah, ada bis tuh Yah, warnanya biru bagus banget Yah," ucap Shiddiq kegirangan. "Ya Allah biasa saja kali, kan memang udah pernah liat bis juga Diq," ledek Alis. "Yeeh biarin saja kan aku suka bis, kalau Kak Alis gak suka ya gak usah liat bisnya lah," sewot Shiddiq. Santi dan Hidayat melihat tingkah anak-anaknya cuma geleng-geleng kepala.


"Kita pulang yah, udah siang tuh, matahari juga udah keliatan, lagian jalanan udah mulai ramai," tutur Santi yang udah merasa pegal berjalan dari tadi. "Ya udah Bun, tapi nanti di jalan kalau ada warung kue, mampir beli kue dulu ya Bun," pinta Shiddiq. "Kebiasaan deh kamu Diq, kalau bis jalan pagi pasti minta beli kue," protes Asla. "Biarin dong Kak, kan gak tiap hari ini, ya kan Yah," saut Shiddiq minta persetujuan ayahnya. "Ya udah nanti kita mampir beli kue, tapi ingat ya berbagi dengan kakaknya gak boleh serakah, Bunda gak suka," ucap Santi mengingatkan Shiddiq. "Iya Bun, nanti aku berbagi sama kakak," saut Shiddiq mengangguk.


Sesuai kesepakatan maka setelah jalan pagi, mereka pun mampir ke toko kue dulu baru setelah itu pulang ke rumah. Setelah sampe di rumah, Santi langsung pergi ke kamar mandi karena tadi pas jalan pagi badannya keringetan, makanya sekarang dia mau mandi. Begitupun dengan yang lainnya, mandi di kamar mandi bergantian. Setelah selesai mandi dan pada bersih wangi semuanya, mereka ngumpul di ruang tengah untuk makan kue yang di beli tadi toko kue.

__ADS_1


"Kuenya enak Bun, nanti kalau kita lewat situ beli lagi ya Bun, bolehkan!" ucap Asla. "Hmm...tadi kayaknya ada yang protes gak mau mapir ke toko kue, tapi sekarang minta beli kue lagi," ledek Hidayat ke anak sulungnya itu. "Ih ayah mah gitu, kan aku tadi cuma gdain Shiddiq doang Yah," elak Asla. "Iya ya Ayah tahu, nanti kita beli lagi oke," saut Hidayat. Mereka semua pun gembira menikmati kebersamaan dengan kesederhanaan. Santi dan Hidayat sangat bersyukur memiliki anak-anak yang sangat baik dan saling menyayangi satu sama lain. Dan semoga saja selalu seperti itu selamanya.


Bersambung......


__ADS_2