
Setelah obrolan Santi dan Pak Kuswandi tentang keluarga yang mau kenalan dengan Santi beberapa bulan yang lalu. Hari ini Santi akan mendengar pengumuman di tempat kuliahnya tentang nilai akhir kuliahnya. Alhamdulillah setelah menunggu setengah jam, hasilnya diumumkan dan lumayan bagus. Santi bersyukur bisa menyelesaikan D1-nya dengan baik. Dan tinggal pelaksanaan wisuda yang akan dilaksanakan 2 bulan ke depan. “Alhamdulillah akhirnya bisa selesai juga,mudah-mudahan ini menjadi langkah awal yang baik untuk hidupku..!” ucap Santi dalam hati. “Dan mudah-mudahan ada rejekinya nanti, aku pengen lanjutin lagi kuliahnya..!” Santi berharap.
Setelah Santi mengetahui nilai kuliahnya lumayan bagus, Santi sedikit lega. Tinggal satu lagi yang harus dia pikirkan dengan serius. Tentang omongan Bapaknya, yaitu ada orang yang mau melamar dia. Jujur Santi sedikit masih bimbang, bukan karena takut orang yang akan kenalan dengan dia itu tidak baik, Santi yakin sama orang tuanya pasti memberikan yang terbaik untuknya. Tapi Santi masih kepikiran temannya Jaswari, walaupun mereka berdua udah tidak pernah bertemu atau komunikasi. Tapi jujur di lubuk hati Santi yang terdalam masih berharap ada keajaiban tentang perasaannya itu. Ya memang dulu Santi menolak untuk pacaran, tapi saat ini mungkin waktu yang tepat untuk memulai dan memastikan rasa itu.
Untuk meminimalisir kebimbangannya, Santi meminta kemantapan hatinya dengan sholat istikhoroh. Entah kenapa walaupun udah sholat istikhoroh, Santi masih belum yakin akan hatinya. Makanya dia sholat istikhoroh selama seminggu tak putus-putus. “Ya Allah mudahkan dan mantapkanlah hatiku untuk masalahku ini...!!” kata Santi disela-sela doanya. “Bismillah....aku yakin ada kebaikan dibalik semua ini..!!” kata Santi lagi.
Setelah sholat istikhoroh selama seminggu, di hari terakhir sholat istikhorohnya Santi bermimpi. Dalam mimpinya Santi bertemu dengan Jaswari, di mesjid dekat rumah dia. Santi bertanya kepada Jaswari tentang kejelasan hubungan mereka berdua. Jujur walaupun mereka berdua gak pernah saling bertemu belakangan ini. Tapi Santi bisa merasakannya, bahwa temannya itu masih punya perasaan yang sama seperti dulu terhadapnya. Makanya selama ini Santi punya harapan yang selalu disimpan dalam hatinya tentang perasaannya. Dan dalam mimpi tersebut..”Jas, aku datang ke sini untuk minta jawaban darimu atas hubungan kita selama ini...bagaimana?’ tanya Santi. “Aku mau dilamar sama orang lain, tapi aku belum menerimanya karena aku menunggu kabar darimu..!” kata Santi lagi.
Jaswari belum berucap masih diam, dia hanya memandang Santi dengan pandangan pasrah. Entah apa yang ada dalam pikiran Jaswari kala itu. “Apa yang akan kamu lakukan Jas..?” Santi menunggu jawaban Jaswari. Jawaban yang ditunggu tak kunjung keluar dari mulut Jaswari, Jaswari hanya memegang tangan Santi, setelah itu pergi meninggalkan Santi sendiri. Melihat hal itu Santi sangat sedih, tapi entah dari mana Santi mendengar suara..”Jangan bersedih nak....cobalah liat ke depan ada seseorang yang akan bertemu denganmu saat ini...!” suara tanpa orang itu berkata. Dan Santi pun terbangun dari tidurnya. Taunya Adzan Shubuh udah terdengar, lalu Santi pun pergi ke kamar mandi setelah itu sholat Shubuh.
Setelah sholat Shubuh, Santi duduk di ruang tamu sambil melamun. Dia masih memikirkan mimpinya yang semalem, apakah itu jawaban dari semua kebimbangan dan masalah Santi selama ini. “San, kamu hari ini jadi gak ke rumah Widi?” tanya Bu Eka sang mamah. Santi tak menjawab mamahnya, dia masih asyik dengan lamunannya. Bu Eka yang melihat anaknya melamun merasa aneh tidak biasanya anaknya itu melamun pagi-pagi seperti sekarang ini. “Hei anak mamah yang cantik, pagi-pagi jangan melamun,” tegur Bu Eka sambil menepuk pundak Santi. “Eh mamah, iya ada apa mah,” ucap Santi kaget. “Tuh kan tadi mamah bilang apa jadi gak dengar,” protes
__ADS_1
Bu Eka. “Heheee maaf mamahku, iya ada apa, Santi gak ngelamun kok cuma lagi memikirkan sesuatu saja kok” elak Santi.
“Hmm, iya deh yang gak ngelamun, terus kamu hari ini jadi gak ke rumah Widi?” tanya Bu Eka sekali lagi. “Ouh iya mah, jadi dong, neng mau ada acara sama Widi ke Perpustakaan kota, bolehkan mah?” ujar Santi. “Ya boleh tapi hati-hati ya jangan pulang terlalu sore oke,!!” Bu Eka mengingatkan Santi. “Siap Mah laksanakan,” jawab Santi semangat. Lalu Santi pun masuk ke kamarnya buat siap-siap ke rumah Widi sahabatnya, kalau kesiangan nanti bisaa-bisa akan terkena macet di jalan. “Ya Allah aku bersandar pada-Mu...walaupun berat memutuskannya, tapi jika ini adalah yang terbaik untukku, maka berilah aku keikhlasan menerima semua ini untuk hidupku..!!” ucap Santi dalam doanya. “Mungkin yang mau dikenalkan sama Pak Ustadz Yana adalah jodohku dan akan menjadi suami ku.” Gumam Santi dalam doanya.
“Jika Jaswari tidak ditakdirkan untukku, maka ikhlaskan hatiku dan jaga selalu dia untukku...Aamiin Ya Allah,,,!” Santi mengakhiri doanya. Santi pun berangkat ke rumah Widi dengan sejuta rasa. Setelah dapat angkot yang kosong Santi pun naik dan duduk disudut angkot. Selang berapa lama Santi pun udah berada di depan rumah Widi. Dan Setelah berada di dalam Santi menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu apa yang udah terjadi. Dengan sabar Widi mendengar cerita Santi dan menguatkan. Akan ada kebaikan disetiap kejadian hidup jadi berbaik
sangkalah.
Hari ini Santi mendapat kabar dari Bapaknya bahwa orang yang kemarin mau kenalan itu, mau datang ke rumah. Sepulang dari mengajar sore ini, Santi yang sedang istirahat dikamarnya langsung keluar setelah Pak Kuswandi memanggilnya. Santi pun menghampiri bapaknya. “San, barusan Pak Ustadz Yana ke sini ngasih kabar, katanya keluarga yang mau kenalan ama kamu mau datang menghitbahmu...bagaimana menurutmu..?” tanya Pak Kuswandi. “Ya Pak, aku ikut saja gimana baiknya, kalau menurut Bapak baik untuk Santi...silahkan saja..!!”
kata Santi mengikhlaskan. “Alhamdulillah, Bapak akan sampaikan hal ini sama Pak Uztadz besok.” Kata Pak Kuswandi. “Bismillah Ya Allah....walau di hati ini masih ada rasa kecewa atas apa yang engkau putuskan di istikhorohku, tapi aku berusaha menerimanya dengan lapang dada..!” ucap Santi dalam hati.
__ADS_1
Seminggu setelah pembicaraan lamaran itu, malem itu pun Santi dapat kabar bahwa besok keluarga dari yang akan melamarnya akan datang ke rumah. Santi udah pasrah menerima apa yang terjadi dan meyakinkan diri sendiri
bahwa semua ini adalah langkah terbaik hidup Santi.
Pagi harinya Santi dan keluarga mempersiapkan segala sesuatunya agar acara hitbah hari ini berjalan lancar. Acaranya akan dimulai sekitar jam 9 pagi, masih ada 3 jam lagi untuk bersiap-siap. Tiba-tiba Pak Kuswandi memanggilnya ke dalam kamar. “San, ke sini sebentar Bapak mau bicara..!!” kata Pak Kuswandi terlihat serius. “Ya Pak, ada apa..?” tanya Santi. “Bapak ingin menyampaikan sesuatu..” kata Pak Kuswandi. “Sebenarnya Bapak beberapa hari yang lalu menerima surat dari seseorang, tapi karena Bapak khawatir ini akan mengganggu proses hitbahmu makanya bapak baru memberikan surat ini ke kamu hari ini..!!”
ucap Pak Kuswandi.
“Ini surat dari temanmu, maaf Bapak udah membacanya kemarin...” kata Pak Kuswandi. Santi pun menerima surat dari Bapaknya itu. Setelah memberikan surat tersebut, Pak Kuswandi langsung keluar kamar Santi. Setelah dibuka ternyata surat itu dari Jaswari, “Ya Allah...apa yang sedang engkau perlihatkan ini...” Santi menjerit dalam hati dan tak sadar menitikkan air mata. Benar-benar hal yang tak terpikirkan oleh Santi akan ada kabar disaat semua udah diputuskan. “Bagaimana aku mau ke sana, sedangkan aku udah mau dilamar orang...” Santi terlihat sedih. “Kenapa Jas, suratmu datang tak tepat waktu..jika suratmu sampai langsung kepadaku mungkin....” ucap Santi dalam hati. “Aku gak mungkin datang ke rumahmu saat ini, karena hari ini aku udah mau dihitbah orang...” kata Santi pasrah dalam sedihnya.
Bersambung.....
__ADS_1