
Ketika Santi mau jawab omongan Jaswari, ketiga temannya, Nurul dan Sugeng sama Uus muncul tiba-tiba. Sontak Santi kaget tapi tidak dengan Jaswari. Dia terlihat sangat tenang. "Loh Nur, katanya tadi gak mau pulang, tapi kok tau-tau udah di sini aja," tutur Santi masih sedikit gugup, takut Nurul liat dan dengar apa yang dia dan Jaswari lakukan. "Iya gak jadi, soalnya tadi Susan dipanggil kakaknya disuruh nemenin ke pasar," jawab Nurul bohong. "Ouh," cuma itu yang keluar dari mulut Santi.
"Ya udah yuk kita pulang bareng kalau gitu, tuh angkotnya udah ada," ajak Nurul. "Nih Jas, tasmu aku bawain," ucap Sugeng mengerti ketika Jaswari liat ke arah Sugeng. "Us, kita duluan ya," pamit Santi. Karena Uus memang pulangnya gak searah. Uus lalu mengangguk dan mereka semua sama-sama pulang naik angkot.
Nurul sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang tadi dia liat. Tapi Nurul tahan, karena Santi udah janji akan cerita ke rumahnya nanti abis Maghrib. Lagian Nurul gak tega ketika liat wajah Santi terlihat panik pas tadi di pinggir jalan. Nurul yakin pasti ada sesuatu yang Santi sembunyikan, buktinya adalah wajah dan kegugupan Santi.
# # #
Di teras rumah Nurul....
Abis sholat Maghrib Nurul sengaja duduk santai di teras rumahnya. Ya Nurul sedang menunggu Santi yang udah janji akan datang malam ini. Dan benar saja, gak berapa lama Santi pun datang. "Assalamu'alaikum Nur..." salam Santi. "Waalaikumussalam San, duduk di sini aja ya San," ajak Nurul. "Iya Nur, enak malah di sini adem," jawab Santi.
Setelah Santi duduk dan Nurul ngambil air minum buat Santi. Barulah Nurul ungkapin rasa penasarannya yang udah dia tahan dari tadi sore. "San, sebenarnya apa sih yang terjadi, aku merasa beberapa hari ini liat sikap Jaswari yang gak wajar di sekolah. Dan tadi sore aku liat kalian berdua di pinggir jalan, sikap kalian juga gak seperti biasanya. Apa kamu mau menjelaskan sesuatu sama aku?" akhirnya Nurul menumpahkan rasa penasarannya.
__ADS_1
Santi menghela nafas pelan, dan mulai berbicara. "Maaf ya Nur, aku belum sempet ngomong hal ini ke kamu. Karena memang sebenarnya aku juga masih kaget akan hal ini, jadi beberapa hari ini aku coba menenangkan diriku dulu," tutur Santi. "Ya aku maafkan, tapi jangan diulangi lagi seperti ini, ayo cepat katakan apa yang terjadi," saut Nurul.
"Sebenarnya, kemarin pas Jaswari nganterin aku....." Santi pun menceritakan semuanya kepada Nurul apa yang terjadi. "Begitu ceritanya Nur, kamu gak marah sama aku kan?" tanya Santi melihat ke arah Nurul. "Whaaat, oh ya Tuhaaaan, benarkah Jaswari mengatakan hal itu?" Nurul gak percaya apa yang dikatakan Santi. "Iya Nur, aku juga kaget banget, huuuh malah sampe sekarang kagetnya gak ilang-ilang," ucap Santi sambil menutup wajahnya.
"Dasar bocah nakal, awas aja kamu Jas, besok di sekolah aku interogasi," umpat Nurul. "Nur, aku mohon kamu jangan bilang-bilang dulu sama yang lain ya, aku malu tau Nur," ucap Santi menunduk. "Lagian apa kata dunia coba, kalau seorang Santi yang jadi pengurus rohis ditembak sama cowok, dan pegangan tangan di tempat umum. Ouh ya ampuuun, bisa-bisa aku di sidang sama kakak kelas rohis aku coba, kalau mereka tau hal ini," ucap Santi prustasi.
"Kamu tau Nur, aku juga baru ngasih tau Tila hari ini, dan reaksinya sama seperti kamu, haisssh aku gak tau deh kalau teman-teman rohisku yang lain pada tau hal ini. Mereka pasti akan ceramahin aku habis-habisan," curhat Santi. "Iya, aku gak akan bilang siapa-siapa San. Tapi kalau liat gelagat dan sikap Jaswari kayak gitu di sekolah, ya pasti ketahuanlah San, hehee," saut Nurul terkekeh. "Aku juga bingung kenapa sikap dia seperti itu, punya keberanian dari mana entahlah, padahal itu udah aku tolak, gimana kalau di terima, ya ampuuun!" tutur Santi menutup wajahnya sambil geleng-geleng kepala.
"Yah itu mah deritamu San, hihihi," Nurul tertawa geli. "Ck, jahat kamu Nur, teman lagi ada masalah malah diledekin, gak setia kawan kamu mah Nur," ucap Santi cemberut. "Gak pantes cemberut kayak gitu San, jeleek," ledek Nurul lagi. "Iiihh Nuuuurr....!!" seru Santi teriak. "Iya San, hadiiir...." saut Nurul tertawa lepas. "Awas aja ya, nanti kalau kamu punya gebetan, aku ledekin balik," ancam Santi.
"Cie....cie... yang lagi ngambek karena kasmaran. Aku gak takut kamu ledekin ya, kan aku gak punya gebetan San, wee" saut Nurul. "Iiihh...Iya kan aku bilang kalau nanti punya," jawab Santi kesel. "Hihihi, lagian nih ya, harusnya kamu tuh terima saja kenapa San cintanya Jaswari, pasti tambah seru dah," Nurul gak henti-hentinya godain Santi.
"Au aah, kamu mah malah ngasih solusi yang bikin aku nanti disemprot sama teman-teman rohisku, dan yah satu lagi, aku pasti dimarahin sama Bapak aku, kalau tau aku pacaran," tutur Santi. "Tau sendiri kamu Nur, kalau Bapakku tuh gak suka kalau aku lalai dalam pelajaran. Ya dan menurut Bapakku, pacaran itu salah satu alasan yang bikin aku gak fokus dalam belajar," cerocos Santi.
__ADS_1
"Yah jangan sampe ketahuan sama teman-temanmu dan Bapakmu lah San, gampang kan," jawab Nurul enteng. "Iiiihhh Nuruuuullll...!!!" Santi semakin kesel dengan perkataan Nurul. Dan bahu Nurul jadi sasaran kekesalan Santi. "Aaww, sakit tau San, kenapa bahuku yang jadi sasaran sih," Nurul pura-pura kesakitan dan ngambek. "Habis dari tadi kamu ngeselin banget sih," jawab Santi.
"Ya aku kan cuma bantu ngasih solusi San," saut Nurul terkekeh. "Iya kamu bantu aku, tapi bukannya selesaiin masalah, malah akan tambah runyam urusannya," protes Santi. "Ya itu mah resikonya kamulah San," jawab Nurul santai. "Nah itu dia aku belum siap Nur, aku takut," saut Santi menunduk lemas. "Ya udah aku akan tetap pada keputusan awal, Jaswari akan tetap menjadi temanku, aku gak bisa menerima perasaannya," ucap Santi lagi kepada Nurul.
Nurul menepuk bahu Santi. "Aku akan mendukungmu San, apapun yang kamu putuskan," ucap Nurul tersenyum tulus. "Makasih ya Nur, sekali lagi maafin aku baru cerita masalah ini sama kamu. Aku gak ada maksud untuk menutup-nutupi hal ini," tutur Santi memegang tangan Nurul.
Nurul mengangguk cepat, dan tersenyum tulus. "Ya San, aku ngerti kok, kamu gak usah merasa bersalah gitu ya. Tenang aja nanti aku bantu ngomong sama Jaswari deh," tutur Nurul. "Iya Nur, gak ngomong sama Jaswari pun gak apa-apa kok Nur, dia juga udah ngerti kenapa aku gak nerima dia. Tapi mungkin dia masih ingin usaha, aku paham itu, makanya aku jadi sedikit bimbang," jelas Santi.
"Hmmm, jadi seperti itu ya, oke deh. Dan saranku sih jangan terlalu dipikirkan lah, yang jelas sekarang kamu fokus aja sama kegiatan sekolahmu San, nanti juga ada waktunya kamu memikirkan cinta," saran Nurul sok bijak. "Hehee, iya asyiiap temanku yang cantik," puji Santi terkekeh.
"Ya udah Nur, aku pulang ya, udah malam nih, aku juga mau masih ada tugas yang belum aku kerjain, hehehe," ucap Santi nyengir. "Ya San, sama aku juga mau ngerjain PR," saut Nurul. "Ya udah aku pamit ya Nur, Assalamu'alaikum..." ucap Santi. "Waalaikumussalam..." jawab Nurul. Santi pun pulang dengan perasaan yang lega.
bersambung......
__ADS_1