Akhir Cinta Pertamaku

Akhir Cinta Pertamaku
50. Bikin Baju Seragam Syar'i


__ADS_3

Dua bulan kemudian....


Setelah obrolan Santi tentang Jaswari di rumah Nurul, Santi gak pernah ketemu Jaswari lagi. Dan Santi juga jarang ngomongin Jaswari kalau main ke rumah Nurul. Bukan tanpa alasan, ya karena Santi sedang berusaha menata hatinya dari kebimbangan yang tercipta karena Jaswari. Dan salah satu menata hatinya itu, Santi menyibukkan diri dengan kegiatan di sekolahnya.


Seperti hari ini Santi sedang berada di mesjid Cikirey. Dia sedang mengikuti kajian rutin bersama teman-teman rohisnya. Dan udah satu jam mereka ngaji di dalam mesjid itu. Akhirnya Mba Ami pun mengakhiri kajian siang hari ini. "Billahi fisabilil Haq, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.." ucap Mba Ami. dengan kompak mereka jawab salam Mba Ami.


"Alhamdulillah kajian hari ini berjalan dengan lancar. Mba hanya mau ngecek apa semuanya udah buat seragam syar'i-nya?" tanya Mba Ami. Semua menjawab udah kecuali Santi. "Saya belum bikin Mba," ucap Santi pelan. "Kenapa belum San, tentu ada alasannya kan?" selidik Mba Ami. "Ya sebenarnya nanti hari ini baru mau bikin Mba, kemarin ada sedikit kendala. Orang tua saya gak ngijinin saya untuk membuat baju seragamnya. Tapi Alhamdulillah saya minta tolong sama bibi saya untuk membuatnya" tutur Santi.


"Ouh seperti itu, berarti baju kamu belum selesai. Lain kali kalau ada kendala seperti itu, kamu jangan sungkan-sungkan untuk bilang ke Mba ya San," ucap Mba Ami. "Dan Mba senang kalian bisa menjalankan konsekuensi dari apa yang kalian pelajari. Mba ingatkan bahwa menutup aurat dan memakai baju tertutup menurut syariat Islam itu adalah salah satu ciri dan kewajiban dari seorang muslimah. Sebagaimana diterangkan dalam Quran surat Al-Ahjab ayat 59," tutur Mba Ami lagi mengakhiri penjelasannya.


"Iya Mba semoga kami semua selalu Istiqomah dalam menjalankannya, mohon doanya," jawab Lase mewakili kami semua yang hadir. "Iya pasti Mba doakan, semoga kalian bisa selalu Istiqomah. Dan Mba ingatkan lagi, kalau kalian ada masalah seperti Santi tadi, jangan sungkan-sungkan untuk bercerita ya!" tutur Mba Ami. "Iya Mba, pasti kami semua akan meminta bantuan Mba kalau ada kesulitan dan kendala," jawab Santi.


"Kalau begitu, kajian hari ini Mba rasa cukup, insya Allah kita lanjutkan Minggu depan, Mba mau pamit pulang duluan ya," tutur Mba Ami. "Iya, silahkan kami juga mau pulang juga," saut Widi. "Oke, Mba duluan ya, Assalamu'alaikum..." salam Mba Ami. "Waalaikumussalam..." jawab semuanya.

__ADS_1


Mba Ami pun keluar mesjid dan pulang, sedangkan Santi, Lase, Widi dan Tila masih berada di dalam mesjid. "San, kenapa kamu gak cerita soal baju seragam?" tanya Widi. "Maaf, aku belum sempet cerita, lagian kan belakangan ini aku jarang ketemu kalian selain di tempat kajian," tutur Santi. "Eh iya ya, di jam istirahat pun kita selama ini jarang ketemu," keluh Lase. "Iya Las, apalagi kamu San, sekarang ini lagi sibuk paskibra juga," saut Tila. "Nah iya tuh San, apa gak cape tuh!" seru Widi.


"Ya mau gimana lagi, udah resikonya seperti itu," jawab Santi pasrah. "Tapi sebenarnya kalau masalah baju, aku udah cerita sama Tila kok kemarin, dan udah dapat solusinya," tutur Santi. "Ouh gitu ya, syukur deh kalau kamu udah cerita sama salah satu dari kami," saut Lase. "Semoga seragamnya cepat jadi ya," ucap Widi. "Iya Aamiin, makasih semuanya aku lega banget. Yuk pulang udah sore," ajak Santi.


Mereka pun beranjak dari mesjid dan pulang ke rumah masing-masing. Santi, Widi dan Tila satu arah, sedangkan Lase lain. Karena rumah Lase arahnya lain sendiri.


# # #


Santi udah berada di rumah bibinya, dia mengeluarkan kain yang akan dibikin untuk baju seragam syar'i. Ya memang hari ini Santi berencana untuk meminta bantuan bibinya untuk membuat baju seragam tersebut. Dan dua hari yang lalu Santi udah menceritakan kepada bibinya bahwa dia gak diijinin bapaknya buat bikin baju seragam syar'i tersebut.


Santi pun mengangguk, lalu bibinya mengukur badan Santi untuk ukuran baju yang akan dibikin nanti, biar pas gak kegedean. "Nah, udah diukirnya, nanti kalau udah selesai pasti bibi kasih tau ke kamu ya San," tutur Bu Nolis. "Iya Bi, makasih ya, maaf udah ngerepotin bibi nih, abis tumben nih Bapak gak mau bikinin baju buat aku," jawab Santi merasa gak enak sama bibinya. Tapi sekaligus senang karena baju seragamnya ada yang bikinin.


"Ya udah kalau gitu aku pulang dulu ya Bi, soalnya udah sore nih," ucap Santi. "Kok langsung pulang, makan dulu gih, bibi baru masak sayur asem tuh," tawar Bu Nolis. "Gak ah Bi makasih, aku pengen cepet-cepet mandi dah gerah banget dari tadi," tolak Santi.

__ADS_1


"Ya udah kalau mau langsung pulang, tapi bibi mau nanya dulu. Kamu baru pulang jam segini kemana dulu memangnya, nih kan udah sore banget," selidik Bu Nolis. "Tadi aku ada kegiatan kajian di mesjid Bi, jadi pulangnya sore deh," jawab Santi. "Ouh pantes, jangan terlalu cape San, Bibi perhatiin akhir-akhir ini kamu sibuk terus. Kalau sakit yang repot kan mamahmu," nasehat Bu Nolis. "Baik Bi, aku juga kalau ngerasa badan gak enak, gak maksain ikut kegiatan kok pasti ijin gak masuk," kilah Santi.


Akhirnya Santi pamit ke bibinya dan pulang ke rumah, dengan perasaan lega. Karena urusan baju udah terselesaikan oleh bibinya. Setelah beberapa saat, Santi akhirnya sampe juga di rumahnya. Dia langsung mandi dan makan, tanpa di suruh oleh mamanya. Karena memang sia udah sangat lapar.


Setelah selesai makan, Santi menuju ke ruang tamu untuk nonton tv. Lagi asik nonton, mamahnya muncul bergabung nonton. "Kamu tadi nyampe rumah jam berapa? hari ini kan gak ada kegiatan sekolah seingat mamah," interogasi Bu Eka. "Nyampe jam setengah lima Mah, tadi ngaji dulu ke Cikirey Mah, aku lupa bilang mamah tadi pagi," jawab Santi nyengir. karena memang dia lupa.


"Kamu tuh ya kebiasaan lupa terus, belum jadi nenek-nenek juga," saut Bu Eka gak abis pikir sama putri bungsunya itu. "Hehee, namanya juga lupa Mah, mau bilang apa coba," bela Santi. "Makanya kalau udah tau suka lupa, dicatat coba di buku, terus tempel tuh dijidat kamu," ledek Bu Eka. "Iihh Mamah kok bilangnya gitu sih, itu juga udah dicatat tau Mah di buku. Itu juga gara-gara mamah tuh tadi pagi aku jadi lupa," cerocos Santi. "Lah kok gara-gara Mamah sih," saut Bu Eka gak ngerti.


"Au ah, Santi mau wudhu bentar lagi udah mau adzan Maghrib tuh," ucap Santi ngelak dari ceramahan mamahnya. "Dasar kamu tuh ya, bilang aja ngindar dari mamah ya kan," saut Bu Eka. Santi langsung kabur ke kamar mandi sambil cekikikan.


Bu Eka hanya geleng-geleng kepala liat kelakuan putri bungsunya itu. Dan Bu Eka pun mematikan tv, dan pergi ke dapur untuk memasak air panas. Karena biasanya nanti abis Maghrib, Pak Kuswandi dan anaknya yang laki-laki yaitu Awan suka minta dibikinin teh dan kopi.


Santi yang selesai wudhu, langsung masuk ke kamarnya. Sambil menunggu adzan Maghrib, dia rebahan di kasur favoritnya. "Apa kabarnya dia ya?" tanya Santi dalam hati. "Eh kenapa aku jadi ingat Jaswari sih, tapi aku lumayan berhasil mengalihkan pikiranku ke hal yang lain," batin Santi lagi.

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2