Akhir Cinta Pertamaku

Akhir Cinta Pertamaku
104. Bertemu Teman Lama


__ADS_3

Alhamdulillah ilmu hasil kuliah Santi di Insida sangatlah bermanfaat. Santi sangat senang sekali ilmunya bermanfaat, bisa dipakai dan dipraktekan ketika dia membantu mengajar Di TKIT tersebut. Alhamdulillah guru-guru yang ngajar di sana pun, mereka semuanya sangat baik dan membantu Santi dalam mengajar, begitu juga kepala sekolahnya baik sekali.


Selain ngajar, Santi juga masih aktif di pengajian yang selama ini Santi jalani ketika dulu di SMA. Alhamdulillah Santi gak kesulitan bersosialisasi dengan murobi barunya juga teman sepengajiannya. Ketika libur ngajar biasanya Santi pergi kajian di rumah Murobi yang udah ditunjuk sebelumnya. Kadang Mas Hidayat suka mengantar ke tempat kajiannya, tapi kadang juga Santi berangkat sendiri. Hidayat sendiri gak mempermasalahkan itu, karena sebelum nikah Santi udah bicara tentang hal ini. Jadi Santi boleh mengikuti kegiatan nya di pengajian asal bisa membagi waktu.


3 bulan kemudian,


Di suatu pagi di hari Sabtu...


Setelah beberapa lama tak mengikuti kabar teman-temannya di Sukabumi. Kemarin Santi dapat kabar bahwa ada info jika teman-teman Santi yaitu Widi, Lase dan Tila akan ke Jakarta ikut seminar di daerah Jakarta. Santi sangat senang sekali mendengarnya. Dengan antusias Santi minta ijin untuk ikut seminar tersebut dan minta Mas Hidayat untuk mengantarkan Santi ke sana. “Mas, besok teman-teman aku mau ikut seminar, aku boleh ikut seminarnya gak sama teman-temanku di sana?” tanya Santi ke suaminya Mas Hidayat. “Memang seminarnya di mana San,?” Mas Hidayat balik bertanya. “Seminarnya di gedung Balai Sudirman, Mas” jawab Santi antusias. “Ouh iya, boleh nanti mas anter deh ke sana,” ucap Mas Hidayat. “Siiip...makasih ya Mas,” Santi sangat senang ketika mendapat ijin dari suaminya itu.

__ADS_1


###


Pagi ini Santi sudah beres-beres rumah, karena nanti jam 7 Santi sama suaminya mau berangkat ke tempat seminar. Karena seminar hari ini dimulai sekitar jam 9. Kata Mas Hidayat berangkat pagi agar tidak terjebak macet. Setelah jam 7 mereka berdua berangkat menggunakan Taksi. Dan ternyata benar mereka sempat terjebak macet di jalan, tapi alhamdulillah sebelum jam 9 mereka udah sampai di Gedung Sudirman. “Benarkan apa yang Mas bilang, kalau kita terlambat sedikit saja, kita akan terjebak macet lebih lama dan pastinya akan terlambat tiba di sini,” cerosos Hidayat. “Ya Mas, untung kita tadi buru-buru berangkat. Ayo Mas kita langsung masuk ke dalam saja, mudah-mudahan Widi, Lase dan Tila udah pada datang,” ujar Santi penuh semangat. “Memang kamu janjian sama mereka di mana, di luar apa di dalam gedung?” tanya Hidayat gemas melihat istrinya yang semangat bertemu sahabatnya. “Kemarin sih janjiannya di dalam Mas, makanya ayo cepat kita langsung masuk saja ke dalam yuk,!!” ajak Santi sambil menggamit tangan suaminya. Hidayat hanya tersenyum melihat perilaku istrinya. Tanpa protes Hidayat mengikuti apa yang diminta istrinya itu.


Setelah Santi berada di gedung tersebut, dia segera mencari teman-temannya udah sampai atau belum. Setelah beberapa menit celingukan, akhirnya Santi melihat mereka ada di pintu masuk. Mereka baru sampe di gedung Balai Sudirman tempat seminar hari ini. Santi pun melambaikan tangan kepada sahabtnya itu. Mereka pun langsung berpelukan bergantian, melepas rindu satu sama lain.


“Assalamualaikum....aahh aku kangen banget sama kalian,” ujar Santi pelan, karena nanti kalau suaranya kencang takut mengganggu peserta yang lain. “Waalaikumussalam San...sama kami pun kangen banget sama kamu,” tutur Widi, Lase dan Tila hampir berbarengan menjawab  salamnya. “Gimana tadi di jalan macet gak Las?” tanya Santi penasaran. “Alhamdulillah gak terlalu macet San,” ucap Lase. “Syukur deh, terus tadi dari sana berangkat jam berapa dan berangkat dari mana?” tanya Santi lagi. “Hmmm, kalian mau terus berdiri di sini apa mencari tempat duduk, pegel nih kaki Mas,” protes Hidayat pada Santi. “Astagfirullah maaf Mas, lupa.” Santi nyengir merasa bersalah pada suaminya. “Ayo teman-teman kita cari tempat, biar ngobrolnya lebih nyaman,” ajak Santi pada ketiga sahabatnya. Lalu mereka langsung mencari tempat duduk, dan mereka memutuskan untuk memilih tempat duduk ditengah-tengah. Setelah memilih tempat yang cocok dan nyaman mereka pun duduk dan melanjutkan temu kangennya.


“Aah senengnya kalian mau ke rumah, ouh ya tadi udah bilangkan ke panitia rombongan kalau kalian gak akan pulang bareng,” tanya Santi kepada ke 3 sahabatnya. “Dah Santi cantik, aku udah bilang sama murobiku kebetulan tadi dia satu bis dengan aku,” jelas Widi gemas melihat Santi yang cerewet. “Hehehe...memang aku cantik,” Santi memasang wajah imut. “Iyain saja deh, nanti merajuk bisa repot kita,” ledek Tila. Mereka pun tertawa senang karena bisa kembali bertemu.

__ADS_1


Mereka pun langsung menyetop  dan naik taksi. Untuk sampai ke rumah Santi, mereka harus beberapa kali naik angkot, jadi agar tidak naik turun angkot, makanya Hidayat memilih naik taksi. Tapi sebelum pulang ke rumah Santi, suami Santi mengajak mereka semua ke supermarket untuk membeli beberapa stok  barang yang udah habis di rumah. Dan tentu saja ajakan tersebut langsung disetujui oleh mereka. Mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk minta ditraktir oleh Mas Hidayat suaminya Santi. Tapi tak disangka permintaan mereka diiyakan oleh Mas Hidayat, dan tentu saja itu membuat senang teman-temannya Santi. ”Waah asyiik nih kita ditraktir sama Pak Hidayat, makasih ya Pak.” celoteh Widi. “Iya nih jarang-jarang kita ditraktir Bapak, sering-sering saja ya Pak,” cengir Tila. “Nah betul tuh Pak, sering-sering saja seperti ini sama kita bertiga,” Lase pun tak kalah sibuk memilih apa yang akan diambil. Santi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku ketiga sahabatnya itu.


Setelah puas berbelanja, mereka pun melanjutkan perjalanan ke rumah Santi dengan naik taksi lagi. Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai di rumah Santi. Tepatnya di rumah mertuanya Santi. Karena Santi Setelah menikah memang masih


tinggal bersama mertuanya. “Assalamualikum Bu..Santi pulang,” ucap Santi ketika tiba di depan rumahnya. “Waalaikumussalam San...eh ada tamu ternyata. Siapa ini San, kayaknya belum pernah ke sini ya?” tutur Bu Sumiati. “Iya Bu, ini teman Santi waktu di Sukabumi, mereka tadi ikut seminar juga jadi Santi ajak mampir ke sini saja,” jelas Santi kepada ibu mertuanya.


Santi pun memperkenalkan teman-temannya satu persatu kepada ibu mertuanya. Kebetulan ketika mereka sampai di rumah Santi itu jam makan siang jadi Ibu mertuanya mempersilahkan untuk ikut sama-sama makan siang. “Ayo kebetulan Ibu selesai masak nih, jadi kalian harus mencicipi masakan ibu,” ujar Bu Sumiati. “Waah kita benar-bener beruntung nih San, bisa mencicipi masakan Ibu pasti enak banget nih,” celoteh Lase. “Iya nih, Ibu tau saja kalau kita bertiga belum makan,” canda Tila.


Setelah makan siang mereka pun lanjut ngobrol lagi melepas rindu sebentar. Lalu tak lama kemudian ketiga sahabat Santi pun pamit untuk pulang. Sebenarnya mereka masih kangen tapi karena takut kena macet di jalan akhirnya mereka putuskan untuk pulang. “San, kami bertiga pulang dulu ya,” ucap Widi sedih. “iya San, takutnya nanti kami kesorean dan terkena macet,” sambung Lase. “Betul tuh, insya Allah lain kali kita bertiga main ke sini lagi, boleh kan Pak,” Tila meminta persetujuan Hidayat. “Ya kalian boleh main ke sini lagi, kapan pun kalian mau,” Hidayat mengiyakan.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2