
"Ummii...udah di mulai belum nyembelihnya?" seru Shiddiq ketika sampai di teras rumah. Ya nyembelih kambingnya dilakukan di halaman rumah Santi. "Udah Diq, tuh liat saja, Faiq juga lagi liat tuh," saut Santi. Ya Faiq itu sohibnya Shiddiq anaknya Pak ustadz Rizki. "Ouh iya bener kata ummi, ya udah aku ke sana ya mau liat sama Faiq," ucap Shiddiq. Santi pun menganggukkan kepala.
Setelah beberapa jam, penyembelihan kambing sekaligus memotong jadi bagian-bagian kecil untuk dibagi-bagikan kepada warga sekitar udah selesai. Dan ini udah masuk waktu Dhuhur, jadi pembagian dagingnya nanti sesudah sholat Dhuhur. "Mi, Abah mau ke mesjid dulu ya," ucap Hidayat. Santi mengangguk. "Iya Mas, aku sama Bu Mur sholatnya di rumah saja, sambil beresin daging qurban yang akan dibagikan nanti," jawab Santi. Hidayat pun mengangguk.
Santi dan Bu Murti pun merapikan sambil menghitung daging yang udah dimasukin kedalam kantong plastik untuk dibagikan ke masyarakat sekitar. Setelah selesai, Bu Murti pamit pulang dulu sebentar ke rumah mau sholat Dhuhur. "Bu, saya pulang dulu ya mau sholat," ucap Bu Murti. "Iya Bu silahkan biar yang nungguin daging, saya saja Bu," saut Santi. Bu Murti mengangguk lalu pergi ke rumahnya.
Setelah beberapa saat, Hidayat dan Shiddiq pun terlihat pulang dari mesjid. "Assalamualaikum..." seru keduanya. "Waalaikumussalam, udah selesai sholatnya," ucap Santi. "Udah Mi, tadi aku sholatnya deket Faiq," saut Shiddiq. "Terus sekarang Faiqnya mana kok gak ada," ucap Santi. "Mau pulang dulu ke rumah katanya," saut Shiddiq. "Ouh gitu, ya udah Ummi mau sholat dulu, sekarang Abah sama Shiddiq yah yang ngungguin daging qurbannya," tutur Santi terkekeh. "Iya Ummi bawel, nanti aku yang nungguin," ujar Shiddiq.
__ADS_1
Santi pun masuk ke dalam rumah untuk sholat Dhuhur. Sedangkan di luar rumah, HIdayat dan Shiddiq sedang ngotak-ngatik alat pancing. Ya mereka berdua sepakat sambil nunggu Pak Ustaz Rizki dan yang lainnya datang, mereka akan mancing ikan di kolam depan rumah. "Abah, umpannya mau pake apa kan belum ada," ucap Shiddiq. "Pake cacing saja Diq, kita nyari dulu cacingnya," saut Hidayat. "Ouh ya udah Abah saja ya yang nyari, aku nunggu di teras saja sambil jagain dagingnya," ucap Shiddiq. HIdayat mengangguk dan langsung pergi ke kebun yang berada di belakang rumah untuk mencari cacing.
Setelah beberapa saat, Hidayat pun udah dapat umpan cacingnya dan udah berada di depan rumah sedang siap-siap mancing. "Bah, cacingnya ditusukin dong ke kail pancingnya, aku gak berani geli tau Bah," ucap Shiddiq. "Masa anak laki Abah gak berani sih, ya udah sini pancingannnya biar Abah pasangin umpannya," saut Hidayat. Lagi asyik-asyik mancing, Faiq datang ngajak main Shiddiq. "Diq, kita main yuk!!" ajak Faiq. "Gak ah aku lagi mau mancing Iq, kamu juga ikut mancing saja sini," Shiddiq ngajak Faiq balik. "Ouh kamu mau mancing, hayu deh mau bentar aku ambil alat pancingnya dulu," saut Faiq langsung ngambil alat pancingnya yang ada di lantai teras rumah.
Gak berapa lama, Pak Ustadz Rizki dan beberapa orang yang akan membagikan daging qurban pun datang. "Assalamualaikum, Pak dagingnya mau dibagikan sekarang saja," ucap Pak Rizki. "Iya Pak Ustadz silahkan lagian biar masyarakat yang dapat bisa langsung memasaknya," saut Hidayat. Pak Rizki mengangguk setuju. Lalu Pak Rizki pun memasukkan daging yang udah siap dibagikan ke dalam karung kecil. Agar memudahkan ketika membawanya. Dan ada beberapa orang yang membantu Pak Rizki untuk membagikan daging qurbannya.
"Ya udah Pak, kami bagikan dulu dagingnya ya," pamit Pak Rizki. "Iya Pak, mudah-mudahan semua yang ada di sekitar rumah kebagian ya Pak," harap Hidayat. "Semoga saja Pak," jawab Pak Rizki. Lalu Pak Rizki dan yang lainnya pun pergi untuk membagikan daging qurbannya. Hidayat pun melanjutkan memancing ikan bersama shiddiq dan Faiq. Santi yang udah selesai sholat gak langsung ke teras rumah, tapi sejenak dia merabahkan badannya yang terasa pegal. "Aah rasanya enak banget bisa rebahan bentar, dari tadi mau istirahat ada saja gangguannya," keluh Santi pada diri sendiri.
__ADS_1
Benar saja pas Bu Murti masuk ke dalam rumah, Santi sedang duduk senderan di sofa. "Wah yang lagi rebahan enak banget kayaknya," celetuk Bu Murti. "Eh ada Bu Mur, hehee iya Bu rebahan bentar nih ngilangin pegel," saut Santi sambil tertawa tipis. "Ayo Bu kita nyatedi luar, saya tadi udah bawa alatnya, soalnya Bapaknya Faiq udah pulang barusan,' tutur Bu Murti. "Ouh ya hayu, bentar saya rapihin kerudung dulu Bu," ucap Santi langsung berdiri dari duduknya dan merapikan kerudungnya.
Di luar rumah, Pak Rizki udah datang, dia sedang memotong daging kambing jadi potongan kecil-kecil untuk dibikin sate. "Tusuk satenya udah ada Pak?" tanya Hidayat sambil merapikan alat pancingnya. "Udah Pak, tadi dibeliin anak saya di warung depan jalan," jawab Pak Rizki. "Ouh, sini saya bantu tusukin satenya," tawar Hidayat. "Ouh ya Pak ini tusuk satenya masih di dalam kantong," ucap Pak Rizki sambil memberikan kantongnya ke Hidayat. Sedangkan Faiq dan Shiddiq masih asyik memancing, ikan hasil pancingannya juga udah lumayan banyak. "Diq, ikan nanti mau digoreng gak," celetuk Santi yang baru keluar dari dalam rumah. "Iya Mi, ikannya digoreng buat makan," saut Shiddiq semangat. "Ouh ya udah kalau mau di goreng, biar abah sini yang bersihin ikannya," celetuk Hidayat yang lagi nusukin daging kambing.
Hidayat pun berhenti dan langsung ngambil ikan di dalam ember, untuk dibersihin biar bisa langsung digoreng sama Santi. Tak berapa lama Hidayat pun selesai membersihkan ikan dan diberikan ke Santi untuk digoreng langsung. "Nih Mi ikannya, tapi belum di bumbui," ucap Hidayat. "Iya Mas, biar nanti aku yang bumbui ikannya di dapur," saut Santi sambi mengambil ember yang berisi ikan dari tangan Hidayat.
Setelah setengah jam semua masakan udah matang dan terhidang di teras rumahnya Santi. Ya mereka akan makan lesehan di teras rumah, ini memang udah menjadi kebiasaan Hidayat jika menginap di Parungkuda. Tadi selagi Santi menggoreng ikan, Hidayat langsung membersihkan teras dan menggelar karpet untuk alas duduk mereka makan siang hari ini. Dan setelah karpetnyaa digelar, Bu Murti langsung menyimpan menu makanan yang udah matang di atas karpet. "Ayo sebelum makan baca dulu ya Diq," Santi mengingatkan. "Iya Ummi," jawab Shiddiq sambil mengambil nasi ke piring.
__ADS_1
Makanan siang hari ini menunya sangatlah komplit, ada ikan goreng, sate kambing, dan Bu Murti tadi juga masak tambahan tumis sayur buncis dan sambal tomat. Mereka semua menikmati makan siang dan kebersamaan hari ini. Santi sangatlah senang hari ini dia bisa menikmati kebersamaan bersama keluarga Pak Rizki. Karena Santi jarang pulang ke Parungkuda karena Hidayat juga gak bisa terus cuti dari pekerjaannya.
Bersambung.........