Akhir Cinta Pertamaku

Akhir Cinta Pertamaku
98. Memastikan Sesuatu


__ADS_3

Di sisi lain....


Jaswari dan teman-teman kuliahnya terlihat di dekat eskalator tempat Santi dan temannya berada. Jaswari gak menyadari kalau dari tadi ada yang memperhatikan dia, ya siapa lagi kalau Santi yang melihat dari kejauhan. Karena Jaswari sedang asyik ngobrol dengan teman-temannya jadi dia tidak memperhatikan sekelilingnya. Semenjak masuk bangku kuliah Jaswari punya kebiasaan baru yaitu merokok. Sebenarnya Jaswari gak suka dengan aktifitas yang satu ini, tapi karena dia tida bisa melupakan Santi dan setelah pertemuan terakhir Jaswari gak punya keberanian bertemu dan main ke rumah Santi.


"Wah hari ini lumayan cape juga ya tugasnya lumayan menguras tenaga," seloroh Kang Ade. "Iya nih, tapi yang pentingkan tugasnya udah kelar jadi kita bisa santai sejenak deh," saut Kang Dede. "Heh Jas, kamu kok dari tadi bengong saja sih, keliatan gak semangat gitu, ada masalah ya ceritalah sama kita kalau ada," tegur Kang Ade. "Ah gak  cuma lagi keingetan teman lama saja," saut Jaswari. Ya memang Jaswari lagi keingetan dan kangen sama Santi. "Hmm...curiga nih, temen apa teman nih, jangan-jangan teman kita ini lagi kasmaran nih kang," canda Kang Dede. Jaswari hanya nyengir saja ketika Kang Dede menebak seperti itu.


Lagi asyik menggoda Jaswari, gak sengaja Kang Ade melirik ke arah Santi dan merasa dia dan teman-temannya sedang diawasi dan perhatikan dari jauh oleh seorang cewek. "Kenapa aku merasa tuh cewek lagi merhatiin ke arah sini ya, ah perasaanku saja kali," bisik Kang Ade dalam hati. "Noh kan dia malah nunjuk ke arah sini, wah bener nih, tapi siapa yang dia liat dari ketiga diantara kita," gumam Kang Ade dalam hati. Karena Kang Ade merasa penasaran, dia memperhatikan dengan jeli kemana cewek yang disebrang sana melihat. Dan setelah lama memperhatikan, Kang Ade menarik kesimpulan yang dilihat cewek itu adalah Jaswari. "Aku akan tanya nanti ke Jaswari, tapi gak sekarang," gumam Kang Ade lagi.


# # #


Seminggu setelah kejadian di Matahari Store itu, Santi langsung ke rumah nya Nurul untuk menceritakan kejadian yang diliat Santi waktu itu. Santi berharap itu tidak benar. Tapi tidak, Nurul minta maaf sama Santi karena telah menyembunyikan ini dari sahabatnya itu. Sebenarnya Nurul sudah lama tau hal itu, tapi tidak memberi tau Santi karena takut Santi kecewa.


“Nur...aku benar-benar sedih, kecewa, kesal pokoknya campur aduk deh, waktu kemarin liat Jaswari di Matahari” Santi mengadu ke Nurul. “Aku berharap itu bukan dia yang aku liat” ucap Santi lagi. “Maafkan aku ya San...aku tidak terus terang sama kamu” jawab Nurul. “Aku tau kalau aku terus terang sama kamu, pasti akan seperti ini jadinya” ucap Nurul lagi. “Ya Nur...gak apa-apa kamu tidak salah kok, mau gimana lagi memang begitu adanya” Santi mengiyakan. “Tapi apa kamu tau Nur kenapa Jaswari seperti itu? Tanya Santi yang sangat penasaran dari kemarin tentang Jaswari. “Aku juga tak tau persis kenapa dia seperti itu San, dia gak mau bilang sama aku San kalau aku tanya..” tutur Nurul pada Santi.

__ADS_1


“Nasi sudah menjadi bubur tidak bisa diubah lagi jadi nasi kan Nur..!” kata Santi. “Kita doakan saja semoga semuanya akan membaik dan baik-baik saja” ujar Santi lagi pada Nurul. “Iya San Aamiin semoga saja” Nurul mengaminkan doa Santi. “Jujur aku dari kemarin sebenarnya khawatir melihat Jaswari seperti itu Nur” curhat Santi. “Pengen rasanya aku langsung ke rumahnya, tapi rasanya canggung mau ke sana tuh karena dah lama kali ya gak main ke rumahnya” Ucap Santi sambil menghela napas pelan.


“Iya aku juga gak bisa ngantar kamu ke sana kalau kamu mau jalan ke rumah Jaswari soalnya lagi banyak kerjaan San, maaf yaa” jawab Nurul. “Iya gak apa-apa Nur, aku juga kayaknya belum ada waktu yang pas untuk kesana” ucap Santi pelan tapi masih bisa didengar Nurul. Mereka hanya bisa saling perpandangan dengan pikiran nya masing-masing. Entah apa yang mereka pikirkan tentang sahabatnya itu. Yang jelas mereka berdoa dan berharap mudah-mudahan saja Jaswari di sana baik-baik saja.


# # #


Setahun sudah Santi kuliah di Insida, sebentar lagi mau selesai. Santi sedang melaksanakan PKL sebagai salah satu kegiatan akhir melengkapi nilai akhir kuliahnya. Dia dan teman satu kelompoknya memilih PKL di TK dekat


lapang Merdeka. Agar akses mereka mudah dan adil untuk semua anggota kelompoknya.


Pagi-pagi Santi dan Amel seperti biasa udah sampe ke tempat PKL. “Mel, hari ini abis dari TK kita mampir ke toko ATK yaa...” kata Santi pada Amel. “Ouh ya boleh, memang mau beli apa San..?” tanya Amel. “Kita mau bikin gambar ukuran poster untuk alat peraga, kebetulan crayon aku habis, jadi kita nanti cari crayon sama kertas lipat yaa..!!” jawab Santi. “Oke siap San....SKH nya buat besok aku yang bikin kan..?” ucap Amel. “Ya besok kamu yang nulis...jangan lupa tadi konsepnya yang udah disepakati buat kegiatan besok di tulis di SKH ya Mel..!!” kata Santi. “Oke siiip....” kata Amel.


Hari ini *** di TK tempat mereka PKL berjalan lancar. Dan mereka berdua setelah berpamitan pulang pada guru di sana, mereka pulang menuju toko ATK. Seperti rencana mereka, mereka mampir ke toko ATK untuk membeli Crayon dan perlengkapan mereka yang udah abis.

__ADS_1


Setelah beberapa saat mereka pun sampai di toko tersebut. Dan langsung mencari kebutuhan yang mereka cari. “San...Crayon nya mau beli yang mana...?” tanya Amel. “Aku mau beli Pentel Mel...kualitas nya bagus, nanti hasil akhirnya akan menyerupai cat air klu kita mahir gradasinya..!!” jelas Santi. “Ouh gitu ya...aku baru tau.” ucap Amel. “Ya Mel...aku juga dikasih tau sama Kak Sinta, temen aku..!” kata Santi. “Gimana udah dapat semua yang kita


perlukan belum..?” ucap Amel. “Udah Mel, yuk kita ke kasir...” ajak Santi. Mereka pun membayar belanjaannya, setelah itu pulang menuju rumahnya masing-masing.


# # #


Sebulan kemudian...


Sebulan udah Santi dan teman-teman kuliahnya PKL, mereka menyelesaikan nya dengan baik. Tinggal menunggu hasil pengumumannya. Disela menunggu hasil nilai akhir, Santiseperti biasa membuat kerajinan di rumahnya. Dan ketika Santi lagi mengerjakan kerajinannya, Bapak Santi menghampirinya. “San, Bapak mau ngomong sama


kamu...bolehkan...?” kata Pak Kuswandi. “Boleh silahkan Pak, mau ngomong sajapake minta ijin segala, ada-ada saja Bapak mah...” kata Santi. “Tadi Ada Pak Ustadz Yana kesini, nanyain soal kamu..” kata Pak Kuswandi mulai serius. “Nanyain aku, tumben Pak...ada apa memangnya...?” kata Santi sedikit heran. “Sebelumnya Bapak mau nanya sama kamu?...kalau ada yang mau kenalan sama kamu, mau apa gak..?” ucap Pak Kuswandi. “Ada yang mau kenalan sama aku..?, ya boleh-boleh saja sih Pak...memang siapa yang mau kenalannya Pak?” tanya Santi.


“Syukur deh kalau kamu gak keberatan, kemarin Pak Ustadz kesini...katanya ada yang mau kenalan dan serius, makanya Bapak ngasih fotomu ke Pak Ustadz..!” kata Pak Kuswandi. “Haah...Bapak udah ngasih foto aku....!!!” kata Santi kaget sekaligus lemes. “Ya udah, gak apa-apa Pak...” kata Santi pasrah.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2