Akhir Cinta Pertamaku

Akhir Cinta Pertamaku
101. Sedih Dan Kecewa


__ADS_3

Di lain tempat, Jaswari berharap surat yang dia kirim ke Santi, akan sampai pada orangnya. Tapi harapan Jaswari tidak terkabul, Jaswari tidak tau kalau suratnya malah di terima oleh bapaknya Santi, malah yang lebih gawat surat itu dibaca Bapaknya Santi dan ditahan. Santi belum tau kalau ada surat untuknya dari Jaswari. “Ya Allah apa yang aku lakukan ini sudah tepat, apa suratnya udah dibaca oleh Santi?” Jaswari ngomong sendiri. “Sungguh aku baru sadar kalau perasaanku selama ini ternyata bukan cinta monyet saja tapi lebih dari itu, aku udah benar-benar cinta sama Santi,” gumam Jaswari dalam hati. “Kenapa selama ini aku tak menyadari hal ini Ya Allah,” ucap Jaswari. Terlihat kesedihan di raut muka Jaswari yang sedang harap-harap cemas menunggu kabar dari temannya yang mengantarkan surat buat Santi.


# # #


Matahari sudah menampakkan sinarnya, tentu saja karena ini sudah jam 9 pagi. Hari ini sangat cerah sekali, terlihat Jaswari sedang duduk di teras rumahnya sambil mengerjakan tugas kuliahnya. Lagi asik bikin tugas, terdengar ucapan salam dari arah pintu rumahnya. “Assalamualaikum..” sapa Firman temannya Jaswari. “Waalaikumussalam, siapa nih jam segini udah ada yang bertamu..” Jaswari beranjak dari duduknya menuju pintu rumah. Sesampainya di depan pintu dan membukanya, Jaswari sangat senang ternyata tamunya adalah orang yang ditungu-tunggu dari kemarin. “Kamu ternyata Fir, kok baru ke sini sih, ayo masuk ke dalam dulu kita ngobrol di dalam saja Fir,” ujar Jaswari sambil menggamit bahu Firman. “Iya maaf Jas, kemarin saya ada kerjaan yang gak bisa ditunda, jadi baru sempet ke sini hari ini, maaf ya” jelas Firman. “Ah iya Fir gak apa-apa, ayo silahkan duduk,” Jaswari mempersilahkan firman. “Ya Jas, makasih” jawab Firman.


Firman pun duduk di sofa dan langsung mendapat pertanyaan dari Jaswari. “Jadi gimana fir, apa suratku udah sampai ke Santi belum,” tanya Jaswari to the point ke Firman. Melihat tingkah Jaswari seperti itu Firman terkekeh geli karena temannya ini udah sangat tidak sabar dengan apa yang akan disampaikan Firman. “Suratnya udah

__ADS_1


sampe Jas, tapi maaf ada kesalahan teknis, tapi itu gak sengaja jas, sungguh itu diluar prediksi” jelas Firman dengan muka khawatir. “Maksud kamu apa Fir?’ tanya Jaswari penasaran. “Kemarin pas aku ke rumah Santi mau ngasih surat itu, tau-tau bapaknya Santi datang dan aku gak bisa apa-apa selain memberikan surat itu ke bapaknya Santi” ucap Firman menjelaskan. “Apaa, kok bisa Fir,” mendadak Jaswari lemas mendengar semua itu. “Maaf Jas aku gak sengaja, padahal aku udah liat tadi bapaknya Santi lagi gak ada di rumah eh tau-tau nongol entah dari mana.” Jelas Firman pasrah kalau Jaswari akan marah padanya. “Terus apa suratnya dibaca oleh bapaknya Santi?” Jaswari bertanya lagi. “Iya Jas, sekali lagi maaf,” Firman tertunduk lesu.


Mendengar hal itu Jaswari menghirup napas panjang dan terdiam sejenak. “Ya udah Fir gak apa-apa, terimakasih udah bantu aku, mungkin aku harus ketemu langsung dengan Santi.” Ujar Jaswari pasrah. “Tapi Jas, aku belum selesai menyampaikan berita Santi, sebenarnya masih ada satu lagi yang ingin aku sampaikan ke kamu Jas,” ucap Firman dengan suara pelan. “Memang ada hal penting apa yang kamu utarakan tentang Santi,” tanya Jaswari penasaran. Firman ragu bicara tentang lamaran Santi tapi kalau gak disampaikan ke Jaswari juga salah. Akhirnya dengan berat hati firman angkat bicara. “Tepatnya kemarin, saya juga baru tau tadi pagi dari mamah, bahwa Santi udah dilamar orang Jas,” akhirnya Firman plong bisa ngomong ini ke Jaswari. Duuaar bagai disambar petir, Jaswari kaget mendengar apa yang disampaikan oleh Firman. Pupus udah harapannya untuk mengutarakan bahwa dia ingin melamar Santi. Karena orang yang Jaswari inginkan udah milik orang lain.


Melihat raut muka Jaswari yang sangat sedih, Firman jadi gak tega. Tapi mau gimana lagi, mungkin Santi dan Jaswari belum berjodoh. Akhirnya Firman pun pamit pulang, karena tujuannya ke rumah Jaswari udah selesai. “Ya udah aku pulang dulu ya Jas, yang sabar ya,” pamit Firman sambil menepuk bahu jaswari. “Assalamualaikum..” ucap Firman. “Ya Fir, makasih. Waalaikumussalam,” jawab Jaswari sambil mengantar Firman sampai ke depan pintu rumahnya.


Jaswari pun menarik napas yang panjang. “Hmmm...mamah memang gak bisa dibohongin deh, hehehe,” Jaswari tersenyum dipaksakan. “Ya udah aku akan cerita, gini tadi Firman ke sini ngasih tau aku tentang Santi...” Jaswari memulai cerita ke Bu Hindun. Apa yang tadi disampaikan oleh Firman Jaswari ceritakan kembali ke Ibunya. Bu Hindun dengan sabar mendengarkan cerita anaknya itu sampai selesai. “Begitu Mah ceritanya,” Jaswari menghela napas. “Ya udah mungkin Nak Santi bukan jodohmu Jas, kamu harus ikhlas menerima semua ini,” nasehat Bu Hindun. “Dan ingat jika Santi melihat kamu seperti ini dia juga pasti akan sedih. Yang Mamah liat selama ini, dia suka main kesini kayaknya Nak Santi juga suka deh sama kamu, tapi Mamah juga gak tau kenapa hal ini bisa terjadi,” Bu Hindun memberikan pandangannya. “Jadi saran Mamah berhusnudzon saja sama Santi, selama ini kamu juga udah lama gak ketemu Santi, terus Santi juga udah lama gak pernah main ke sini, iya kan?” tutur Bu Hindun panjang lebar menasehati Jaswari. “Ya udah mendingan kamu istirahat saja di kamar daripada berdiri di depan pintu kayak gini,” titah Bu Hindun.

__ADS_1


Tanpa menjawab satu kata pun pada ibunya, Jaswari langsung pergi masuk ke kamar. Jaswari lupa tugas kuliahnya yang tadi dia sedang kerjakan. Setelah berada di kamar, Jaswari langsung menuju laci lemari. Dia mengambil sesuatu dalam laci, lalu benda yang Jaswari ambil itu dia sobek. Dengan perasaan tak menentu dan menahan emosi, Jaswari masih setia merobek benda-benda yang dia keluarkan tadi dalam laci. “Sungguh San, ini sangat menyakitkan, aku kecewa dengan apa yang aku dengar hari ini tentangmu,” Jaswari gak bisa menahan air matanya keluar yang iya tahan dari tadi. “Beberapa bulan ini aku udah sangat yakin kalau kamu akan menerima lamaranku,” Jaswari terus menangis. “Tapi nyatanya semua itu hanyalah mimpiku,” Jaswari duduk bersimpuh dekat ranjang dan masih setia dengan tangisnya.


Setelah beberapa lama, Jaswari pun beranjak keluar dari kamar menuju belakang rumahnya, dengan membawa sobekan tadi. Sesampainya di belakang rumah, Jaswari membakar semua yang dia sobek tadi di kaleng bekas. Dan ternyata semua yang Jaswari sobek tadi itu adalah semua benda yang telah diberikan Santi pada Jaswari. Rasa kecewa, sedih, marah jadi satu, dan itu yang sekarang Jaswari rasakan. Untuk melampiaskan perasaannya itu, tanpa berpikir lagi Jaswari membuang semua kenangan yang berhubungan dengan Santi. Caranya ya dengan membakar semua pemberian Santi.


Semua barang dari Santi udah terbakar habis, dengan langkah gontai Jaswari menuju ke teras rumah untuk mengambil tugasnya yang masih setia berada di sana. Setelah merapikannya, Jaswari membawanya ke kamarnya dan melanjutkan mengerjakan tugas kuliahnya di kamarnya. Dengan perasaan yang tidak menentu, Jaswari tetap


menyelesaikan tugas kuliahnya, karena harus dikumpulkan besok.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2