Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Melamar.


__ADS_3

Sama seperti hari sebelumnya aku pasti menitipkan Farhan pada Putri, namun kali ini tidak seperti biasanya Putri menghubungiku di jam kerja. dengan terbata bata sahabatku meminta maaf sebab kelalaiannya tidak tahu Farhan entah kemana.


Mendengar cerita putri membuat tubuhku lemas seketika, tanpa meminta izin dari bos tempatku bekerja, aku segera mengendarai motorku menuju kantor Putri.


Setibanya di sana kulihat raut wajah bersalah putri, ketika melihatku berjalan ke arahnya yang tengah duduk di sebua sofa yang berada di loby.


"Wid aku sudah mencari Farhan kemana mana, namun sampai sekarang aku belum juga menemukannya." nampak jelas rasa kekhawatiran serta rasa bersalah yang bercampur di wajah sahabatku itu, ketika beranjak dari duduknya untuk menghampiri langkahku.


Seandainya itu bukan putri sahabat yang sudah banyak membantuku, mungkin aku sudah berteriak sekencang kencangnya untuk memarahinya.


"Bagaimana Farhan bisa tidak ada bersamamu put??." tanyaku panik sementara Putri hanya bisa menangis saat aku mulai mengguncang tubuhnya akibat panik.


"Sebaiknya kita segera lapor polisi sekarang, aku khawatir mas Hardi yang sengaja mengambil Farhan diam diam." baru saja aku hendak meraih ponsel di tasku, tiba tiba kudengar suara yang sangat familiar memanggilku, sehingga membuatku menoleh ke sumber suara.


"Mama." Ternyata Farhan, yang baru saja tiba dengan seorang pria dengan stelan jas lengkapnya yang memanggilku.


"Farhan." aku segera berlari ke arah putraku lalu memeluknya dengan erat, tanpa peduli lagi dengan sosok pria yang datang bersama putraku. sementara Putri masih diam di tempat seolah enggan beranjak saat melihat sosok pria yang tadi datang bersama putraku.


"Dari mana saja kamu nak, jangan bikin Mama khawatir seperti ini??." saat berucap tak sadar air mata yang sejak tadi ku tahan meluncur begitu saja. mungkin karena terlalu takut kehilangan putraku, sampai sampai membuatku berpikiran macam macam. bahkan sampai berpikir jika mantan suamiku yang sengaja mengambil Farhan dariku secara diam diam.


Aku yang sedikit merunduk untuk menyesuaikan tubuh dengan putraku tersebut segera mengusap sudut mataku yang kini basah dengan air mata, ketika menyadari ternyata pria itu sejak tadi memperhatikan kami.


"Maaf saya tidak bermaksud membuat anda khawatir, tadinya saya ingin meminta izin untuk mengajak Farhan, namun saat itu putri sedang tidak ada di ruang kerjanya." ucap pria itu kemudian memandang ke arah putri.


"Saya tadi sedang berada di toilet tuan." kini Putri yang menjawab pria itu, sementara aku hanya bisa diam seraya menahan kekesalan pada pria yang sudah seenaknya membawa putraku tanpa izin.


Awalnya aku ingin marah pada pria itu, namun saat mendengar putri memanggilnya dengan sebutan tuan, ku urungkan niatku. karena bisa ku tebak pria itu mungkin adalah atasan Putri, karena jika tidak sudah pasti Putri akan mengamuk atau bahkan sudah melayangkan bogem mentah ke wajah pria itu.


"Sekali lagi saya minta maaf, sudah membuat anda khawatir." sekali lagi pria itu meminta maaf. meski mulutnya berkata demikian namun raut wajahnya nampak begitu datar. tidak menunjukkan ekspresi sama sekali, jujur hal itu membuatku semakin kesal padanya.

__ADS_1


"Iya tuan, tapi sebaiknya lain kali jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi!!." jawabku dengan nada sedikit ketus.


Beberapa saat kemudian, aku merasa seperti pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya, namun aku sendiri tidak ingat di mana.


Tidak ingin terus mencoba mengingat siapa sosok pria itu, aku pun segera pamit pada Putri.


"Putri aku pamit dulu, hari ini Farhan biar ku bawa ke tempatku bekerja." ucapku pada Putri kemudian putri pun mengangguk.


"Iya Wid." jawab Putri merasa tak enak karena sudah merasa lalai dengan amanat.


Baru saja hendak melangkah, tiba tiba pria itu kembali bersuara sehingga membuatku yang kini tengah mengandeng tangan putraku menoleh padanya.


"Nona Widia, Boleh saya mengganggu waktu anda sebentar??." ucapan pria itu membuatku segera menoleh, sebab pria itu dengan jelas menyebutkan namaku. meski aku sendiri bingung kenapa pria itu mengetahui namaku.


"Maaf tuan tapi saat ini aku sedang buru buru." jawabku jujur sebelum kembali melanjutkan langkah. aku sengaja ingin segera kembali mengingat tadi saat meninggalkan restoran aku tidak pamit pada bosku, apalagi waktu persidangan atas gugatan hak asuh yang kembali di layangkan mantan suamiku semakin dekat, aku tidak ingin kehilangan pekerjaanku dengan membuang buang waktu.


"Hanya sepuluh menit." lanjut ucap pria itu, sementara aku segera menatap ke arah sahabatku yang tengah mengangguk padaku, seperti sedang memintaku untuk menuruti permintaan pria itu.


Lagi lagi aku tak dapat menolak, saat putri melihat wajah Putri seperti sedang memelas.


Setelah setuju,aku pun mengikuti langkah pria itu menuju ruang kerjanya dengan menaiki sebuah lift yang bertuliskan lift khusus petinggi perusahaan.


Beberapa menit kemudian kami pun tiba di lantai dua puluh, aku masih setia mengikuti langkah pria itu, sementara Putri yang mengajak serta Farhan memasuki sebuah ruangan yang tidak jauh dari ruangan yang aku masuki.


Di ruangan itu hanya ada aku dan pria itu. pria itu kini duduk di kursi kebesarannya, sementara aku masih diam mematung di depan pria itu dengan sebuah meja sebagai perantara, sebelum pria itu mempersilahkan aku untuk duduk.


"Silahkan duduk!!." aku pun duduk ketika pria itu mempersilahkan.


"Terimakasih." kataku sebelum duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerjanya.

__ADS_1


"Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya tuan, dan bagaimana anda bisa tahu nama saya??." pertanyaan itu langsung ku lontarkan pada pria yang kini tengah duduk di kursi kebesarannya seraya menatap ke arahku.


"Dari mana saya bisa tahu nama anda saya rasa itu tidaklah penting, yang terpenting sekarang saya ingin mengatakan sesuatu yang penting pada anda." jawabnya datar.


"Sebelumnya kenalkan nama saya Gunawan Wicaksono, saya merupakan pimpinan di perusahaan ini." dengan angkuhnya pria itu memperkenalkan dirinya, meski sebenarnya wajar jika pria itu nampak angkuh sebab beliau memang benar pimpinan di perusahaan itu, terbukti dari papan nama yang tertulis di meja kerjanya.


"Saya rasa siapapun anda itu juga tidak penting bagi saya, yang terpenting saat ini adalah apa maksud dan tujuan anda??, sebab saya tidak punya banyak waktu, masih banyak yang harus saya kerjakan." sahutku.


Pria itu nampak diam sejenak sebelum mengeluarkan kata kata.


"Saya ingin melamar anda, saya ingin anda menjadi istri saya." kalimat pria itu sontak membuatku tersenyum menyeringai sebelum menjawab.


"Maaf tuan, saya tidak punya banyak waktu untuk menanggapi candaan anda, jadi silahkan katakan apa sebenarnya yang ingin anda bicarakan pada saya!!." jawabku seraya sedikit menunduk kikuk, sebab pria itu terus menatap ke arahku.


"Sama sepertimu, aku juga tidak punya waktu untuk bercanda, jadi apa yang aku katakan bukanlah sebuah candaan. aku sungguh ingin menikah denganmu." ucap pria itu dengan tatapan datar di saat aku mulai memberanikan diri menatapnya.


"Bagaimana bisa anda melamar saya sedangkan anda sendiri baru pertama kali bertemu dengan saya, jangan katakan anda jatuh cinta pada pandangan pertama, karena semua itu hanya ada di sebuah dongeng tuan." jawabku tanpa basa basi.


"Baiklah, saya tidak ingin basa basi lagi, tujuan saya ingin melamar anda untuk menjadi istri serta ibu sambung bagi putriku." tak tahan lagi mendengar ucapan pria itu yang menurutku sangat tidak masuk akal, aku pun segera beranjak dari dudukku.


"Jika tidak ada lagi yang ingin anda katakan tuan, saya permisi." ucapku sebelum bangkit dari duduk.


"Tunggu!!." baru selangkah pria itu kembali berujar, sehingga membuatku menghentikan langkahku.


"Kamu benar, cinta pandangan pertama hanya ada di sebuah cerita dongeng, yang tidak akan pernah terjadi di kehidupan nyata, khususnya dalam kehidupanku. aku ingin melamarmu demi putriku, seorang anak gadis yang beberapa waktu lalu baru mengenal anda. dan saya juga tahu saat ini anda sangat membutuhkan uang, untuk menyewa seorang pengacara agar bisa memenangkan kasus hak asuh yang di ajukan mantan suami anda. jika kamu menerima lamaran saya, saya pastikan hak asuh Farhan akan kembali jatuh ke tanganmu." mendengar pria itu mengatakan semua itu, membuat air mata beranak sungai di pelupuk mata, namun sekuat tenaga ku tahan, agar tak nampak menyedihkan di depan pria yang baru saja ku kenal tersebut.


"Saya menikah demi putri saya, dan anda menikah demi mendapatkan hak asuh putra anda. anda tidak perlu terburu-buru menjawab pertanyaan saya sekarang, silahkan jika anda ingin memikirkannya terlebih dulu, jika anda sudah mempunyai keputusan, anda boleh menghubungi saya!!." lanjut ucap pria itu dengan masih dengan raut wajah datar, sampai saya sendiri tidak percaya bisa bertemu dengan sosok pria seperti itu.


Tidak ingin kepalaku tambah berdenyut hebat, aku pun memutuskan melanjutkan langkahku dan pergi dari perusahaan tersebut setelah menjemput Farhan di ruangan Putri.

__ADS_1


Aku meraih tangan Farhan setelah berpamitan pada Putri, sementara Putri yang sangat mengenal kepribadianku hanya bisa bertanya tanya dalam hati, apa yang terjadi di dalam ruangan antara aku dan pimpinan perusahaan tempatnya bekerja.


__ADS_2