
Pagi harinya Widia bangun telat, saat wanita itu mengerjapkan matanya sebelum melihat jam weker di atas nakas.
Namun yang berbeda dari biasanya, di sebelah jam weker ada sebuah nampan yang berisikan sarapan. wanita itu bangkit dari tidurnya kemudian meraih sebuah note.
"Selamat pagi,,,,habiskan sarapannya setelah itu minum Vitaminnya!!." Widia nampak tersenyum usai membaca note yang ternyata di siapkan oleh Gunawan.
"Kenapa hanya dengan perhatian kecil seperti ini dari mas Gunawan sudah membuatku bahagia." gumam Widia yang kini duduk di sisi ranjang.
"Ya Tuhan,,, apa aku berdosa, jika berharap suatu saat nanti mas Gunawan akan mencintaiku seperti aku yang kini mencintainya." lanjut Gumam Widia yang kini meletakkan note pemberian suaminya di dadanya.
Beberapa saat kemudian Widia segera menuju kamar mandi untuk bersih bersih sebelum kemudian menyantap sarapannya.
"Enak banget, rasanya berbeda dari masakan Bi Inah sebelumnya. atau karena aku sedang hamil makanya aku merasa jika nasi goreng ini begitu nikmat??." dalam hati Widia saat mencoba sesendok sarapannya.
Usai sarapan Widia meraih ponselnya kemudian mengirim sebuah pesan pada nomor kontak yang tertera my husband di ponselnya.
Tentunya Gunawan sendiri yang menyimpan nomor kontak tersebut pada ponsel istrinya tempo hari.
"Maaf mas seharusnya aku yang melayani mas sebagai seorang suami ini malah mas yang menyiapkan sarapan untukku. BTW terima kasih atas sarapan paginya mas." usai mengetik pesan tersebut Widia pun segera mengirimnya pada Sang suami, tak lupa Widia pun menambahkan emoji love pada akhir pesannya.
***
Sementara di kantor, Gio di buat kebingungan saat melihat bosnya senyum senyum sendiri saat menatap ke layar ponselnya.
Pria itu nampak begitu fokus ke layar ponselnya sampai sampai ia tak menyadari kedatangan Gio.
__ADS_1
"Maaf tuan jika saya mengganggu waktu anda." ucapan Gio akhirnya menyadarkan Gunawan. pria kemudian beralih menatap ke arah asistennya kemudian meletakkan ponselnya di atas meja.
"Ada apa??." tanpa basa basi Gunawan pun langsung bertanya saat melihat raut wajah raut wajah Gio.
"Maaf tuan, di depan ada ibunya tuan Hardi beliau tetap kekeh ingin bertemu dengan anda, meski security sudah beberapa mengusirnya namun wanita itu tetap terus memaksa." mendengar penjelasan Gio, Gunawan pun mengerti jika Gio tidak mungkin merendahkan reputasi perusahaan dengan berbuat kasar pada seorang wanita.
"Bawa wanita itu kesini!!titah Gunawan seolah sudah bisa menebak apa tujuan wanita itu ingin bertemu dengannya.
"Baik tuan." jawab Gio patuh.
Beberapa saat kemudian Gio kembali dengan membawa serta seorang wanita ke ruangan bosnya.
Setelah mengetuk lebih dulu Gio pun membuka pintu ruangan tersebut.
Mendengar suara pintu ruangan kerjanya terbuka tak membuat pria yang kini berdiri di tepi dinding kaca sembari memandang gedung yang menjulang tinggi tersebut menoleh.
"Apa maksud dan tujuan anda datang ke sini??." tanya Gunawan tanpa basa basi, masih dengan posisi yang sama.
"Apa salah putraku, mengapa anda sampai membuat perusahaan yang baru saja di bangun putraku hampir saja bangkrut??." seperti biasanya, mulut ibunya Hardi yang terbiasa berbicara tanpa filter langsung menuduh Gunawan sebagai biang dari bangkrutnya perusahaan putranya.
Sementara Gunawan langsung tersenyum menyeringai saat mendengar kalimat wanita itu.
"Atas dasar apa anda bisa menuduh saya yang telah melakukan semua itu?? bisa saja rival anak Anda yang melakukan hal itu." ujar Gunawan di sisa senyumnya sambil menoleh ke arah wanita yang kini masih berdiri berdampingan dengan asistennya, Gio.
"Jika bukan anda, lalu siapa lagi yang mampu membeli sebagian besar saham milik anak saya??" wanita itu masih nampak kekeh menuduh Gunawan di balik semua itu.
__ADS_1
"Bagaimana bisa anda berpikir saya yang telah membeli sebagian besar saham milik perusahaan anak anda Nyonya??." Tanya Gunawan dengan tatapan datar.
"Meski saya belum punya bukti jika yang telah membeli saham tersebut adalah anda, tapi saya yakin semua itu pasti ada hubungannya dengan anda tuan Gunawan Wicaksono. karena seorang pengusaha ternama seperti anda mampu melakukan apapun demi kepuasan anda." Ibunya Hardi sengaja mengatakan semua itu untuk memancing emosi Gunawan, namun harapan tinggal harapan. bukannya terpancing emosi, Gunawan malah tersenyum lebar sebelum berkata.
"Jika anda serta putra anda sudah paham dengan watak saya, lalu mengapa kalian masih berani bermain main dengan saya??. bukankah sudah saya katakan, jangan pernah berani berani mengusik kehidupan saya, apalagi kehidupan istri saya. tapi sepertinya saat itu anda pikir saya sedang bercanda." kata Gunawan dengan nada dingin, sehingga membuat wanita itu seperti membeku tak lagi sanggup menimpali kalimat Gunawan.
"Maaf, saat ini saya sangat sibuk, jika tidak ada lagi yang ingin anda katakan, silahkan keluar dari ruangan saya!!." lanjut Gunawan dengan nada dingin.
Sementara wanita itu yang merasa Gunawan terlalu berlebihan membela istrinya itu pun kembali buka suara, seolah ingin menyadarkan pria itu jika Widia bukanlah perempuan yang pantas untuk menjadi istri seorang pengusaha ternama seperti dirinya.
"Untuk apa anda sampai melakukan hal sebesar ini hanya untuk mempertahankan seorang wanita yang tidak pantas menjadi istri anda, istri dari seorang pengusaha ternama di tanah air. masih banyak wanita cantik yang selevel dengan anda di luar sana tuan Gunawan Wicaksono." Gunawan hampir saja lepas kendali saat wanita itu dengan lantangnya merendahkan status sosial istrinya, yang hanya merupakan wanita biasa.
Namun begitu Gunawan tetap berusaha mengontrol emosinya, karena ia tahu wanita itu sengaja memancing emosinya dengan mengatai istrinya.
"Di luar sana mungkin masih banyak wanita cantik yang memiliki status sosial tinggi, tapi tak ada mampu menyamai istriku, karena istriku begitu spesial. saya tidak ingin menjadi pria bodoh yang rela melepaskan berlian demi sebuah batu kerikil yang tak berharga." meski hatinya merasa panas dengan kalimat ibunya Hardi yang tadi merendahkan Widia, namun Gunawan tetap berusaha bersikap tenang di depan wanita itu.
Sementara Wanita itu merasa jika akhir kalimat pria itu di tujukan pada putranya, sehingga membuat wanita itu segera meninggalkan ruangan tersebut dengan wajah kesal.
Setelah kepergian wanita itu Gunawan nampak menarik napas panjang kemudian menghembusnya perlahan, seolah hari ini paru parunya sedang membutuhkan asupan oksigen lebih usai mengahadapi wanita paruh baya tersebut.
Kini Gunawan duduk dengan bersandar di bahu kursi kebesarannya kemudian memejamkan matanya untuk beberapa saat, sebelum kembali membuka matanya saat Gio kembali memasuki ruangan tersebut.
"Pastikan beberapa bodyguard tetap berjaga jaga di depan rumahku, pastikan beberapa dari mereka untuk mengikuti istriku diam diam jika sampai istriku keluar rumah tanpa sepengetahuan dariku!!." titah Gunawan pada Gio, saat teringat akan seorang mata mata suruhannya yang mengirimkan sebuah Video yang menunjukkan Hardi sedang mabuk berat.
Di dalam Video tersebut Hardi yang tengah di papah oleh seorang wanita nampak terus meracau dengan kalimat "Aku pasti akan mendapatkan dirimu mu kembali Widia, aku mencintaimu sayang." jujur saat melihat Video yang memperlihatkan Hardi tengah meracau seperti itu sempat membuat Gunawan naik pitam, untung saja sebagai asisten sekaligus bodyguard pribadinya Gio segera menenangkan bosnya tersebut.
__ADS_1