Akhirnya Aku Menyerah.

Akhirnya Aku Menyerah.
Masuk rumah sakit.


__ADS_3

Malam harinya,


Sejak Gunawan meminta Widia untuk tidak lagi tidur di sofa, sejak malam itu pun keduanya mulia tidur seranjang.


Namun yang membuat Widia sedikit bingung sikap Gunawan padanya malam ini, pria itu menidurkan tubuh istrinya dengan berbantal lengannya, dengan tangan yang satu lagi aktif membelai lembut tubuh sang istri.


Sampai mata Widia di buat membulat sempurna, saat tangan terampil suaminya mulai masuk ke dalam piyama wanita itu.


Perlahan tangan pria itu meremas lembut dua gunung kembar milik istrinya, sehingga membuat empunya mengerang.


Bukannya berhenti Gunawan malah mendaratkan sebuah ciuman lembut saat mendengar erang*an sang istri. sampai sebuah ciuman lembut berubah menjadi sebuah ******* yang meminta lebih.


Di sela ciuman panas, pria itu mulai melepas satu persatu kancing piyama yang kini di kenakan istrinya, aktivitas tersebut terus berlanjut sampai dengan Widia tak mengenakan sehelai benangpun begitu pun sebaliknya. keduanya kembali bergelut di balik selimut putih yang menjadi saksi permainan sepasang suami istri tersebut.


Seperti sebelum sebelumnya, Gunawan pasti melakukanya dengan lembut dan penuh kasih, sampai pria itu kembali melepaskan benihnya ke dalam rahim sang istri.


"Cup." hal inilah yang membuat Widia takut tak bisa menahan diri untuk mencintai pria itu, setiap kali melakukan pelepasan suaminya tersebut pasti akan mendaratkan sebuah kecupan sayang sebelum turun dari tub*hnya.


Sejujurnya Widia masih bingung, bukankah beberapa Minggu lalu suaminya tersebut terpaksa menidurinya dengan tujuan hanya ingin istrinya segera mengandung benihnya, agar bisa menjadi penyelamat nyawa putrinya, Arista, namun sekarang tujuan tersebut sudah terwujud, lalu mengapa pria itu masih juga melakukannya. bukannya Widia keberatan, namun wanita itu hanya merasa bingung.


Sampai dengan beberapa saat kemudian Usai berhubung*n suami istri, wajah Widia nampak pucat akibat nyeri di perutnya.


"Kamu kenapa?? Gunawan nampak panik saat melihat wajah istrinya mulai pucat, apalagi raut wajah wanita itu seperti tengah menahan rasa sakit.


"Perut aku sakit mas, sakit banget." ucap Widia meringis kesakitan sembari memegangi perutnya, hal itu sontak membuat Gunawan gelagapan bingung harus berbuat apa. akhirnya pria itu pun segera menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke rumah sakit tempat sahabatnya bertugas.

__ADS_1


Setibanya di rumah sakit, Widia mengatakan semua keluhan pada dr Beni selaku dokter spesialis kandungan.


Dr Beni hanya bisa menghela nafas panjang lalu menghembusnya perlahan setelah mendengar keluhan dari pasien. meski pasien tak mengatakan mengapa sampai bisa mengalami nyeri pada perut seperti ini, namun sebagai dr SpOG pria itu tahu betul penyebab sakit yang di alami oleh istri dari sahabatnya tersebut.


"Gimana Ben, nggak ada masalah serius kan ?? istri dan calon anak saya akan baik baik saja kan??." cecar Gunawan yang nampak begitu panik.


"Syukurlah tidak sampai terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, istri kamu hanya mengalami kontraksi." terang Dr Beni, sementara Gunawan yang berprofesi sebagai pengusaha tentunya tak sepenuhnya mengerti dengan penjelasan dari sahabatnya tersebut.


"Namun untuk sementara istri kamu harus di rawat dulu untuk beberapa hari ke depan, karena saya harus memberikan vitamin melalui injeksi." terang dokter Beni sambil sesekali melirik tajam ke arah sahabatnya, Gunawan, namun yang di tatap hanya bisa memicing bingung karena tak paham.


Usai melakukan semua tugasnya, dr Beni meminta sahabatnya tersebut untuk ikut bersama dengannya, dengan alasan untuk mengambil obat yang akan diresepkan.


"Gun, boleh kamu ikut ke ruangan saya sebentar, ada yang ingin saya bicarakan sekaligus saya ingin membuatkan resep yang harus segera kamu tebus di apotek!!." awalnya Gunawan ingin menolak karena jika hanya ingin meresepkan obat tentu saja pria itu bisa menyuruh salah seorang perawat, apalagi pasien yang di rawat di rumah sakit tersebut merupakan istri dari salah satu pemilik saham terbesar di rumah sakit tersebut.


"Baiklah." sahut Gunawan.


"Mas ke ruangan Dr Beni sebentar, jangan turun dari tempat tidur!! mas nggak akan lama." pamit Gunawan sebelum keluar dari ruang perawatan istrinya, sementara Widia merasa tersentuh karena ini untuk pertama kalinya pria itu menyebut dirinya dengan sebutan mas, karena biasanya pria itu selalu menggunakan kata, saya, pada dirinya sendiri.


"Iya mas." jawab Widia.


Gunawan pun segera menyusul langkah Sahabatnya.


Baru saja membuka pintu ruangan Dr Beni, Gunawan sudah di suguhkan dengan tatapan tajam dari sahabatnya itu, sehingga membuat Gunawan menjadi semakin Bingung.


"Ada apa, kenapa sejak tadi kamu menatapku seperti itu??." tanya Gunawan dengan wajah bingung, pada sahabatnya yang kini telah duduk di kursi kebesarannya.

__ADS_1


"Apa kamu berniat untuk membunuh calon bayi yang ada di dalam kandungan istrimu??." mendengar kalimat sahabatnya tersebut membuat Gunawan jadi geram sendiri.


"Jaga bicaramu, apa maksudmu dengan bicara seperti itu??." tanya Gunawan geram sebab sama sekali tak paham dengan maksud ucapan sahabatnya tersebut.


"Jika kamu masih melakukan hubungan suami istri dengan melakukan pelepasan di rahim istrimu, itu sama saja kamu ingin membunuh calon bayi yang ada di dalam kandungan istrimu Gun, karena setiap kali kamu melakukan hal itu istri kamu pasti akan mengalami kontraksi. karena zat yang terkandung di dalam sperm* akan membuat rahim wanita yang sedang mengandung akan mengalami kontraksi." mendengar penjelasan sahabatnya selaku dr membuat Gunawan mengusap wajahnya frustasi, menyesali ketidak tahuannya.


"Jika tahu akan berakibat fatal mengapa kamu tidak mengatakannya pagi tadi??." Gunawan malah nampak mempersalahkan sahabatnya tersebut atas kejadian ini.


"Gila kamu Gun, yang berbuat kamu yang enak kamu, sekarang malah menyalahkan saya." cetus Dr Gunawan tak terima saat sahabatnya tersebut malah balik mempersalahkan dirinya.


"Tapi kamu kan dokter, seharusnya kamu jelasin dong, biar saya tahu." lanjut Gunawan kesal dengan dr Beni karena pagi tadi tak menjelaskan tentang hal itu padanya.


"Bukannya saya tidak ingin menjelaskannya sama kamu, tapi saya pikir kamu tidak mungkin melakukannya lagi, karena tujuan kamu sudah terwujud istri kamu sudah mengandung anak kamu." Pagi tadi dr Beni sengaja tak memberi penjelasan tentang hal itu, karena berpikir Sahabatnya tersebut pasti tidak akan pernah melakukannya lagi, mengingat sahabatnya tersebut bahkan sempat ingin melakukan program bayi tabung karena tidak ingin menyentuh istrinya.


Namun ternyata dugaan pria itu salah besar, sehingga membuatnya menyesali dugaannya.


"Katanya nggak cinta, nyatanya istri lagi hamil diembat juga." dr Beni nampak mengumpat lirih, namun sepertinya sahabatnya tersebut masih dapat mendengar umpatan dr Beni.


"Sudahlah dari pada kamu terus mengumpat, sebaiknya lakukan tugasmu rawat istriku dengan baik, jika masih ingin terus bekerja di rumah sakit ini." Gunawan sengaja berkata demikian untuk membuat sahabatnya itu semakin kesal, dan seperti harapan Gunawan sahabatnya tersebut pun kesal sampai mengumpat dalam hati.


"Sialan nih mantan Duda karatan, coba kalau kamu bukan sahabat saya, sudah saya suntik mati kamu Gun." dalam hati Dr Beni, sementara Gunawan hanya bisa tersenyum tipis. dia kenal betul dengan karakter sahabatnya karena mereka bersahabat sejak masih duduk di bangku SMA, jadi Gunawan bisa menebak jika saat ini pria itu tengah mengumpat dirinya dalam hati, sebelum pria itu pamit untuk kembali ke ruang perawatan istrinya.


"Saya pamit dulu, kasian Widia sendirian." Gunawan pun pamit.


"Hemt." sahut dr Beni singkat dengan raut wajah dongkol.

__ADS_1


__ADS_2