
Di balkon kamar Gunawan berdiri sembari memijat pelipisnya yang terasa berdenyut mengingat tingkah istrinya yang menurutnya sangat membahayakan diri sendiri dan anak yang ada di dalam kandungannya.
"Tingkahmu selalu membuatku nyaris gila Widia, bagaimana jika saya terlambat sedetik saja sudah pasti kamu akan terjatuh ke lantai." masih dengan memijat pelipisnya Gunawan nampak bergumam.
Sinar matahari yang semakin terik membuat Gunawan segera beranjak dari balkon dan kembali ke kamar.
Saat tiba di kamar nampak Foto dirinya dan mendiang Rahma telah terpajang seperti sedia kala, di sana tak ada lagi foto pernikahannya dengan Widia.
Widia yang baru saja keluar dari kamar mandi segera menundukkan kepalanya saat menyadari suaminya kini telah berada di sana sembari menatap foto dengan ukuran besar yang terpajang di kamar mereka.
"Maaf sudah membuat kamu marah. sungguh aku sama sekali tidak tahu, siapa yang menyingkirkan foto mas dan almarhumah mbak Rahma. tapi aku sudah meminta mang Ujang untuk mengembalikan foto di tempatnya." dengan mengumpulkan semua keberanian Widia mencoba menjelaskan agar pria itu tidak salah paham apalagi marah padanya.
Gunawan segera beralih menatap istrinya saat berbicara. pria itu bisa menebak jika istrinya itu ketakutan, terbukti dari suaranya yang terdengar Bergetar saat berbicara.
"Sebaiknya kamu istirahat, tidak perlu membahas hal itu lagi!!." titah Gunawan dan Widia pun mengangguk patuh.
Widia segera beranjak ke tempat tidur sementara Gunawan segera meraih laptopnya guna mengecek laporan yang di serahkan sekretarisnya pagi tadi. sebab selama Widia di rumah sakit pria itu sama sekali tidak pernah meninggalkan istrinya sedetikpun, bahkan pekerjaan kantor Gio yang membawanya ke rumah sakit.
Mungkin karena lelah Widia pun terlelap meski waktu masih menunjukkan pukul sebelas siang.
Mendengar napas istrinya mulai teratur Gunawan beranjak dari duduknya kemudian duduk di sisi ranjang, sembari mengusap lembut perut Widia yang masih nampak rata.
"Ayah tidak bisa memaafkan diri ayah sendiri nak, jika tadi ayah datang terlambat dan terjadi sesuatu padamu." gumam Gunawan lirih sembari mengusap lembut perut Istrinya.
"Terima kasih sayang telah hadir di waktu yang tepat nak." lanjut Gunawan dengan tatapan sendu, sebelum pria itu hendak beranjak.
Namun sayang pria itu urung meninggalkan sang istri saat menyadari Widia tanpa sadar menahan lengannya.
Menyadari itu Gunawan pun ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri, kemudian mengarahkan kepala istrinya agar tidur dengan berbantalkan lengannya. sebagai laki laki normal, Gunawan bisa merasakan sesuatu yang mulai mengeras pada bagian tubuhnya.
Apalagi sesekali istrinya itu mengerang saat merasa tidurnya terganggu, hal itu semakin membuat Gunawan kepanasan sendiri.
__ADS_1
"Jangan membuat mas lepas kendali Widia, karena itu hanya akan membawa kamu kembali di rawat di rumah sakit nantinya." dalam hati Gunawan sebelum menarik napas dalam lalu menghembusnya perlahan untuk menetralkan pikirannya yang mulai kemana mana.
Karena selama di rumah sakit ia tak tidur dengan nyaman sehingga kini Gunawan pun ikut terlelap dalam tidurnya, sampai suara ponselnya membangunkan pria itu.
Sesaat setelah suaminya terbangun Widia pun ikut terbangun dengan mengeluhkan perutnya yang merasa lapar.
"Kamu sudah bangun sayang??." tanpa sadar pria itu kembali memanggil istrinya dengan sebutan sayang, sehingga membuat Widia tersenyum getir, merasa jika suaminya tersebut mungkin belum tersadar sempurna dari tidurnya sampai sampai memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Hemt." Widia
"Kamu mau kemana??." Gunawan nampak bertanya saat melihat istrinya hendak turun dari tempat tidur.
"Mau ke dapur mas, aku lapar." sahut Widia.
"Kamu tunggu di sini sama tidak perlu turun, mas akan meminta bi Inah untuk membawa makan siang kamu ke kamar!!." Titah Gunawan sebelum turun dari tempat tidur lalu menelpon melalui sambungan paralel untuk menghubungi ART untuk membawakan makan siang untuk sang istri.
Tidak butuh waktu lama suara bi Inah yang berada di balik pintu terdengar mengetuk.
Setelah meletakkan nampan yang berisikan makan siang untuk majikannya, Bi Inah kembali ke dapur.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Widia secara spontan beralih menatap ke arah suara, wanita itu seperti terpesona melihat suaminya yang kini hanya mengenakan sebuah handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Ehem." sampai dengan deheman Gunawan menyadarkan Widia dari lamunannya, kemudian memalingkan wajahnya ke sembarang arah karena malu.
"Jangan menatapku seperti itu, jika tidak ingin kembali menginap di rumah sakit." sergah Gunawan saat menyadari istrinya terus memandang ke arahnya. Gunawan berkata demikian karena teringat kejadian yang menyebabkan istrinya tersebut sampai harus di larikan ke rumah sakit.
Usai berkata demikian Gunawan menarik sudut bibirnya ke atas, merasa jika tingkat istrinya tersebut begitu menggemaskan.
Widia yang nampak menyembunyikan rasa malu akibat kejadian itu, sontak kembali menghabiskan makan siangnya berharap pria itu segera berlalu dari hadapannya, namun sepertinya harapan Widia tidak terwujud. sebab bukannya berlalu untuk segera mengenakan pakaian, pria itu malah duduk di sisi ranjang di samping istrinya.
Tanpa banyak bicara Gunawan mengelus lembut puncak kepala Widia, sehingga membuat Widia bertanya tanya dengan sikap pria itu.
__ADS_1
"Jangan lupa setelah makan minum Vitamin yang di berikan dr Beni !!." ucap Gunawan sebelum bangkit dari duduknya kemudian berlalu menuju ruang ganti, sementara Widia hanya nampak mengangguk.
Secara bersamaan saat Gunawan kembali dari ruang ganti, suara seseorang mengetuk pintu kamar.
Gunawan pun segera membuka pintu kamar ternyata kedua anak mereka Arista dan Farhan yang baru saja kembali dari sekolah.
Sudah dua hari Arista kembali bersekolah seperti biasanya, meski dokter lebih menyarankan agar gadis itu melakukan home schooling mengingat kondisi kesehatannya. namun karena gadis itu tetap kekeh ingin belajar di sekolah, maka dengan terpaksa Gunawan pun tak bisa menolak permintaan putrinya.
"Kalian sudah pulang nak, maaf ayah tidak sempat menjemput kalian di sekolah." ucap Gunawan pada kedua anaknya.
"Nggak papa ayah." jawab Arista sebelum menyusul langkah Farhan mendekati Widia.
"Mah, adik kangen." pria kecil itu memeluk erat tubuh ibunya begitu pun dengan Arista.
"Kakak juga kangen banget sama mama, maaf ya mah kakak nggak di bolehin ayah buat nengokin bunda di rumah sakit, kata ayah mama harus banyak istirahat jadi nggak boleh ditengokin." Widia hanya tersenyum manis mendengar kedua anaknya, ia tahu betul jika suaminya tersebut sengaja berkata demikian karena tidak ingin putrinya kelelahan.
"Mama juga kangen banget sama kalian." kata Widia sembari menyambut pelukan keduanya.
Gunawan tersenyum melihat kedekatan putrinya dengan sang istri.
Gunawan melangkah mendekati ketiganya.
"Kalau memeluk mamah jangan terlalu kenceng kenceng ya, kasian dedek bayinya entar dedek bayi di perut mama sesak lagi!!." timpal Gunawan khawatir jika kedua anaknya itu malah tak sengaja menindih perut sang istri.
"Dengarkan dek, belum lahir aja ayah sudah sayang banget sama dedek!!." kata Arista sembari mengelus perut Widia yang masih nampak rata.
"Mah, kenapa dedek bayi bisa ada di perut mama, adek jadi penasaran kenapa dedek bayi bisa ada di perut mamah." kedua orang dewasa tersebut di buat bingung dengan pertanyaan sang putra, sehingga keduanya pun saling melempar pandangan, sebelum Gunawan mencoba memberi pengertian pada pria kecil tersebut.
"Dedek bayi bisa ada di perut mama karena ayah dan mama telah menikah makanya dedek bayinya sekarang bisa ada di perut mama kalian." untungnya anak itu nampak percaya begitu saja dengan penjelasan dari Gunawan, terbukti Farhan nampak manggut-manggut.
"Oh begitu ya ayah." sahut Farhan sambil manggut-manggut.
__ADS_1
"Sekarang kalian ganti baju dulu setelah itu kalian makan siang kemudian Bobo siang!!." titah Gunawan pada kedua anaknya dan kedua anak itu pun patuh.
"Baik ayah." jawab Arista dan Farhan hampir bersamaan sebelum keduanya keluar dari kamar itu.